Jika Wanita Lajang Ingin Momongan: Simpan Sel Telur

Embryologis Rick Slifkin memperlihatkan tempat penyimpanan ovum dan sperma yang dibekukan di Reproductive Medicine Associates of New York, New York, AS. AP Photo/Richard Drew
Oleh: Aditya Widya Putri - 6 Agustus 2018
Dibaca Normal 3 menit
Banyak perempuan melakukan prosedur pembekuan telur karena merasa belum memiliki pasangan yang tepat.
tirto.id - Satu lagi terobosan di bidang kesehatan yang menjadi investasi para perempuan untuk menimang anak di masa depan. Setidaknya, begitulah pikiran mereka yang memutuskan menjalani prosedur pembekuan sel telur. Bahkan saking diminati, beberapa perusahaan besar dunia seperti Facebook, Apple, dan Google menyediakan asuransi pembekuan telur untuk para karyawatinya.

Pada 2014, seperti ditulis Bloomberg, Chief Operating Officer Facebook Sheryl Sandberg sempat mendengar kisah yang dituturkan seorang karyawati tentang penyakit yang ia idap. Perempuan tersebut terkena kanker dan terancam tak bisa memiliki keturunan sebagai salah satu risiko pengobatan kanker, kecuali jika ia melakukan prosedur pembekuan telur.

Namun, prosedur itu cukup mahal dan penyedia asuransi menolak menutupi biayanya. Sandberg kemudian mendiskusikan kebijakan pembekuan telur kepada Virgin Group Founder, Richard Branson, dan Emily Chang dari Bloomberg. Mereka membahas kemungkinan prosedur pembekuan telur dimasukkan dalam asuransi kesehatan perusahaan.

“Kemudian kami saling pandang dan berkata, 'Mengapa kita hanya memberikan fasilitas ini untuk perempuan dengan kanker, mengapa tidak membahasnya lebih luas?'” ujar Sandberg kepada Bloomberg.

Dikutip The Guardian, Facebook kemudian menawarkan asuransi pembekuan telur hingga $20 ribu, setara Rp280 juta. Selain pembekuan telur, mereka juga menawarkan layanan kesuburan lain seperti adopsi dan sewa rahim/ibu pengganti (surogasi) untuk seluruh karyawannya. Setelah Facebook menyediakan asuransi pembekuan telur, di belakangnya mengekor perusahaan lain seperti Google dan Apple.

Apple menawarkan program ini hanya untuk para staf yang berbasis di Amerika. Mereka mengambil keputusan tersebut dengan harapan bisa menarik lebih banyak staf perempuan ke dalam perusahaan. Mereka juga mengklaim turut memperpanjang kebijakan cuti melahirkan, penggantian biaya pendidikan karyawan, dan membiayai pinjaman bagi siswa.

“Kami ingin perempuan di Apple melakukan pekerjaan terbaik dalam hidup mereka, merawat orang yang dicintai, dan membangun keluarga,” kata perusahaan seperti ditulis oleh The Guardian.



Keputusan yang diambil perusahaan-perusahaan besar tersebut sekaligus merespons tren umum di Amerika. Para perempuan di sana ramai-ramai membekukan sel telurnya untuk investasi masa depan. Meski tak dibiayai asuransi, mereka tak sungkan menabung dan berhemat-hemat mengumpulkan dana.

Seperti yang dilakukan Nadine, seorang pekerja restoran di New York dalam cerita kepada BBC. Perempuan berumur 36 tahun itu sampai rela bersepeda sejauh 3,2 km setiap hari untuk berhemat. Sebagian uang tabungan sebanyak $5.000 (Rp71 juta) untuk membeli rumah yang dikumpulkan saat usia 20-30 tahun, ia pakai untuk ongkos pengambilan sel telur. Itu pun masih ditambah utang sebanyak $8.000 (Rp115 juta).

“Saya mungkin tak menemukan orang yang tepat dalam waktu dekat,” kata Nadine. “Dan umur 34 tahun adalah batas yang ditetapkan dokter jika ingin melakukan prosedur, jadi saya melakukannya.”

Masih menurut laman yang sama, jumlah perempuan yang membekukan sel telur meningkat tajam beberapa tahun terakhir. Di Amerika pada 2009 hanya ada 564 pembekuan, jumlahnya meroket hingga 8.892 di tahun 2016. Di Inggris, pada 2012 ada 395 pembekuan yang naik jadi 1.170 di tahun 2016.

Seorang bintang pop seperti Halsey juga ikut melakukan prosedur ini untuk berjaga-jaga di masa depan. Dalam laman People, disebut penyanyi berusia 23 tahun ini pernah mengalami keguguran di tengah konser karena endometriosis yang ia derita, sehingga ia merasa beruntung bisa memilih prosedur pembekuan telur sebagai investasi masa depannya.

“Saya harus melindungi kesuburan saya, melindungi diri sendiri,” katanya seperti ditulis People.



Bertaruh dengan Ketidakpastian


Tiffany Murray berpikir lebih baik memilih prosedur pembekuan telur dibanding harus masuk dalam hubungan yang salah karena keinginan memiliki anak. Kini, ia berusia 40 tahun dan telah memiliki suami, Murray juga telah melahirkan anak pertama secara alami. Namun, ia memutuskan tetap menyimpan 14 sel telur bekunya, berjaga-jaga untuk kehamilan kedua.

“Sedikit kesal soal biayanya, tapi saya punya 30 anak di Upper West Side yang saya biayai $1.000 per tahun,” katanya pada BBC sambil tertawa.

BBC mencatat prosedur pembekuan sel telur dimulai dengan memberi hormon pemicu pertumbuhan sel telur pada pasien. Kemudian, sel telur yang bagus diambil dan dibekukan. Nantinya telur beku itu bisa dicairkan di masa depan, sehingga pemiliknya dapat hamil dengan teknik in vitro vertilisation (IVF) alias bayi tabung. Satu sesi pembekuan telur di Amerika dihargai hingga $17 ribu (atau Rp 244 juta), sementara Inggris mematok harga £2,500 sampai £5,000 (Rp48 juta-Rp100 juta) per sesi.

Sayangnya, laporan yang diterbitkan Human Fertilisation & Embryology Authority mengatakan teknik pembekuan telur tidak menjamin kesuksesan 100 persen. Mereka yang berinvestasi di program ini bertaruh dengan ketidakpastian. Mayoritas siklus IVF berakhir gagal, sel telur bisa saja tak berhasil dicairkan atau memiliki kelainan kromosom. Hanya seperlima prosedur yang berhasil membuahkan embrio.

Selain itu, seperti ditulis Wired, anak-anak yang lahir dari telur beku memiliki risiko komplikasi tinggi. Jangka waktu penyimpanan telur yang panjang membuka celah konsekuensi kesehatan. Kombinasi obat kesuburan juga cenderung menghasilkan jumlah ganda tinggi, tiga bahkan empat kali lipat. Kelahiran ganda rentan berefek panjang bagi kesehatan.

Telur-telur itu berisiko menjadi anak yang mengalami cerebral palsy, memiliki kemampuan belajar rendah, kebutaan, pertumbuhan lambat, keterbelakangan mental, dan kematian bayi. Terutama karena banyak yang lahir prematur dengan berat badan sangat rendah. Angka kematian bayi kembar lebih tinggi empat hingga lima kali lipat dibanding kelahiran tunggal.



Lalu mengapa banyak perusahaan berani bertaruh dengan ketidakpastian?

Bukan tanpa alasan jika ada perusahaan yang memberi fasilitas pembekuan sel telur pada karyawatinya. Beberapa pihak menimbang, keputusan tersebut juga didasari pertimbangan bisnis agar karyawatinya menunda hubungan personal demi bekerja lebih lama. Mereka dianggap berupaya mendorong perempuan menyerah pada kendali perusahaan.

“Mereka melakukannya karena permintaan karyawan dan juga karena itu lebih baik untuk bisnis,” ungkap Mary Ann Mason, profesor hukum di UC Berkeley mengatakan kepada Business Insider.

Idealnya, ia melanjutkan perusahaan harus imbang menawarkan jadwal (kerja) fleksibel dan pembekuan telur. Di samping juga menciptakan iklim kerja seimbang dan memberikan ragam fasilitas ibu dan anak seperti ruang menyusui dan tempat penitipan anak. Dengan begitu, perempuan akan paham bahwa perusahaannya ingin ia memandang pekerjaan dan kehidupan keluarga sama pentingnya.

Baca juga artikel terkait BAYI TABUNG atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Aditya Widya Putri
Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight