Jerry Sumendap: Pendiri Bouraq Airlines, Dekat dengan Ali Moertopo

Bouraq Indonesia Airlines Boeing 707-121(B). FOTO/airliners.net/
Oleh: Petrik Matanasi - 13 Februari 2020
Dibaca Normal 2 menit
Jerry Albert Sumendap adalah pendiri Bouraq Indonesia Airlines yang telah tutup pada 2005. Ia pernah bekerjasama dengan Ali Moertopo.
tirto.id - Bouraq Indonesia Airlines adalah salah satu maskapai penerbangan yang didirikan pada era Orde Baru. Konon, nama "Bouraq" diambil dari nama kendaraan Nabi Muhammad dalam peristiwa Isra Mikraj. Pendiri dan pemiliknya adalah Jerry Albert Sumendap yang berasal dari Sulawesi Utara.

Sejak sebelum tahun 1966, Jerry telah menjadi pengusaha pelayaran, yakni Porodisa Lines. Selain itu, ia juga memiliki perusahaan kayu di Kalimantan yang bernama PT Porodisa Trading & Industrial. Perusahaan ini berdiri pada tahun 1959 dan mendapat Hak Pengusahaan Hutan (HPH) pada 1971.

Saat itu, industri kayu lapis cukup berkembang di Kalimantan Timur. Sejumlah perusahaan ikut terjun menggeluti bidang ini. Kondisi tersebut membuat Jerry mampu menangkap peluang bisnis baru, yakni angkutan udara.

Sejak April 1969, seperti dilaporkan Gatra (11/08/2008), Jerry mulai merancang jalur penerbangan yang akan melayani rute dari dan ke Kalimantan. Mulanya, Bouraq hanya bermodal tiga pesawat Dakota jenis DC-3.

Pada 1 April 1970, penerbangan pertama Bouraq dilakukan di lapangan terbang dengan rumput yang cukup tinggi. Lapangan itu adalah Bandara Sepinggan yang kini bernama Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman.


Setelah itu, Bouraq menambah armadanya dengan empat pesawat Vickers Viscount, enam belas pesawat Hawker Siddeley, dan tiga pesawat Casa NC-212 Aviocar. Maskapai penerbangan ini melayani sejumlah jalur penerbangan dari markasnya di Jakarta dan Balikpapan.

Bouraq maju lumayan pesat. Gatra melaporkan bahwa jumlah pesawatnya bertambah, bahkan ada yang harus menyewa. Rutenya bahkan sampai menjangkau Tawau di Malaysia Timur. Pada 1972, Jerry mendirikan lagi perusahaan bernama Bali Air.

Penyelesaian Ganyang Malaysia dan Supersemar

Jerry Sumendap adalah salah seorang tokoh Permesta. Dalam penyelesaian Konfrontasi Ganyang Malaysia, ia dekat jenderal intel Ali Moertopo dan Leonardus Benjamin Moerdani alias Benny Moerdani. Dalam Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya (1989:180), pemimpin Orde Baru itu mengatakan bahwa Jerry Sumendap dan Benny Moerdani adalah bagian dari tim Ali Moertopo.

Tugas tim ini adalah membentuk kantong-kantong infiltrasi yang kemudian dialihkan menjadi pencari kontak dalam rangka penyelesaian Konfrontasi Ganyang Malaysia. Waktu itu, seperti ditulis Jusuf Wanandi dalam memoarnya yang berjudul Shades of Grey: A Political Memoir of Modern Indonesia 1965-1998 (2012:68), Jerry Sumendap dikenal sebagai pengusaha pelayaran yang sering bolak-balik ke luar negeri.

Tahun 1966, Jerry Sumendap tinggal di Jalan Lombok, kawasan elite Menteng, Jakarta. Malam hari tanggal 11 Maret 1966, ia didatangi oleh Mayor Aloysius Sugianto, salah seorang staf andalan Letnan Kolonel Ali Moertopo.

Beberapa waktu sebelumnya, seperti dilansir Tempo (20/10/2013) ada rapat yang dipimpin oleh Panglima Kostrad Mayor Jenderal Soeharto di markas Kostrad di Gambir. Sugianto mendapat perintah dari Ali Moertopo, “Tolong cepat gandakan!” Barang yang mesti digandakan oleh Sugianto itu berupa dua lembar dokumen.

Dikawal oleh Polisi Militer, Sugianto segera mencari tempat stensilan atau studio foto. Namun karena hari sudah malam, ia kesulitan menemukan tempat yang dimaksud. Sugianto pun menuju ke rumah Jerry Sumendap.




Di ruang tamu rumah kawannya itu, kedua lembar dokumen ditempelkan pada dinding dan Jerry pun menggunakan kamera polaroidnya. Dari beberapa kali jepretan, hanya tiga foto yang hasilnya bagus. Setelah itu, dokumen asli dan hasil penggandaannya dimasukan ke dalam map. Tugas Sugianto beres, ia pun kembali ke atasannya.

Apa yang digandakan oleh Jerry dan Sugianto malam itu adalah Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar). Dokumen penting itu kemudian menjadi alat untuk membubarkan PKI, dan Soeharto perlahan menggantikan posisi Presiden Sukarno.

Setelah persitiwa itu, terutama saat Soeharto menjadi presiden, karier Ali Moertopo terus menanjak sampai mencapai pangkat mayor jenderal. Ia tidak hanya sempat menguasai badan intel, tapi juga pernah jadi Menteri Penerangan. Begitu pula dengan Benny Moerdani yang pernah menjadi Panglima ABRI.

Sementara karier Aloysius Sugianto justru macet, yakni sampai pangkat kolonel. Hal ini terkait dengan kasus majalah Pop yang memuat silsilah Soeharto. Dan Jerry Sumendap, tetap menjadi pengusaha.


Pada era Orde Baru, seperti ditulis George Aditjondro dalam Korupsi Kepresidenan (2006:160), melalui perusahaan perkayuan Porodisa, Jerry Sumendap membentuk usaha patungan dengan kerabat Soeharto untuk berbisnis di Suriname.

Jerry Albert Sumendap meninggal dunia pada 6 Juni 1995. Sejumlah bisnisnya, termasuk Bouraq Indonesia Airlines, kemudian dilanjutkan oleh anak-anaknya. Namun, para penerusnya gagal mempertahanan bisnis tersebut. Krisis moneter ikut menghajar perusahaan penerbangan tersebut. Bouraq pun kian redup dan berhenti beroperasi pada tahun 2005.

Baca juga artikel terkait PERUSAHAAN PENERBANGAN atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight