Jerman Diminta Hentikan Bantuan Militer ke Cina Terkait Uighur

Oleh: Anggit Setiani Dayana - 19 November 2019
Dibaca Normal 1 menit
Jerman diminta tak membantu militer Cina terkait pelanggaran HAM yang diduga dilakukan oleh pemerintah Beijing ke Muslim Uighur.
tirto.id - Amnesty Internasional memberikan peringatan terhadap Jerman terkait bantuan militer yang diberikannya secara berkala ke Cina.

"Situasi hak asasi manusia di Cina adalah bencana besar," kata Margarete Bause, juru bicara kelompok parlemen hijau untuk kebijakan hak asasi manusia dan keamanan, dikutip DW.

"Di provinsi Xinjiang, jutaan orang adalah korban dari pengawasan dan penindasan kejam. Ini diduga merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan," lanjutnya.

Sebelumnya New York Times memuat laporan setebal 403 halaman mengungkapkan adanya dugaan tindakan kekerasan pemerintah Cina terhadap kelompok Uighur dan muslim lainnya di Xinjiang, wilayah yang terletak di Cina bagian barat,

Dokumen tersebut juga mengungkapkan Presiden Xi telah memberikan serangkaian pidato internal kepada para pejabat setelah kunjungannya ke Xinjiang pada 2014.

Pidato itu terkait dengan insiden serangan gerilyawan Uighur terhadap pengunjung sebuah stasiun kereta api, yang menewaskan beberapa orang, demikian seperti dilansir oleh Aljazeera.

Mathias John, pakar senjata dan hak asasi manusia Amnesty International mengatakan bahwa tidak ada alasan yang bisa dibenarkan bagi Jerman untuk membantu melatih militer Cina.

John merujuk pada situasi Hong Kong saat ini, dia berkata bahwa pemerintah Jerman harus memberikan sinyal jelas dan berhenti bekerja sama secara militer dengan Cina.

"Ini membuat saya geram bahwa Jerman membantu melatih tentara Cina. Mengingat kerusuhan di Hong Kong, kementerian pertahanan seharusnya mengakhiri program ini sejak lama," ujarnya.

Peringatan Amnesty Internasional diungkapkan setelah makalah Kementerian Pertahanan, yang dikutip oleh koran lokal Jerman Bild pada Minggu (17/11/2019) bahwa 11 orang tentara Cina akan pelatihan unggul atau pelatihan logistik pada 2020 mendatang.

Selain itu, salah satu dari mereka diberikan pelatihan khusus dalam pers dan masyarakat. Juru bicara kementerian mengatakan bahwa tentara Cina secara teratur berpartisipasi dalam acara-acara pendidikan yang diselenggarakan oleh militer Jerman.

Cina juga membuat kursus perwira internasional serta kursus pelatihan yang ditawarkan di sekolah militer, universitas, dan akademi kepemimpinan militer.

"Tujuan kami adalah untuk berbagi nilai-nilai demokrasi kami dengan warga negara dari negara lain," kata juru bicara tersebut.

Amnesty internasional memberi peringatan ke Jerman dengan urgensi keadaan Hong Kong yang saat ini sedang menuntut demokrasi dari Cina, negara induknya.

Warga Hong Kong masih terus berunjuk rasa dipicu oleh RUU Ekstradisi yang berisikan aturan untuk mengadili napi Hong Kong di Cina dengan hukum Cina yang kadang tanpa ampun.

RUU tersebut sebenarnya sudah dicabut, tetapi tuntutan demonstran sudah berkembang jauh lebih daripada itu, salah satunya meminta Carrie Lam untuk mundur sebagai pemimpin Hong Kong.

Aktivis demokrasi Hong Kong, Joshua Wong juga meminta Jerman berhenti memberikan pelatihan kepada militer Cina atau bentuk dukungan apapun, The Strait Times mewartakan.

Sejumlah tentara yang berpakaian preman meninggalkan barak tentara di markas mereka di Kowloon untuk membantu membereskan keributan saat protes berlangsung Sabtu (16/11/2019) lalu.

Wong mengatakan bahwa pasukan keamanan huru-hara Hong Kong menggunakan meriam air buatan Jerman untuk melawan para demonstran.

"Kapan ekspormu akan dihentikan?" tanyanya kepada Jerman, terkait dukungan militernya ke Cina.

Sebelumnya, pada bulan September lalu Wong mengadakan pertemuan dengan menteri luar negeri Jerman dan di depan serangkaian pertemuan, WOng mengimbau agar Jerman menunda negosiasi perdagangan dengan Cina sampai pemerintahan Xi Jinping memasukkan hukum HAM dalam agenda kerjanya, Guardian melaporkan.


Baca juga artikel terkait MILITER CINA atau tulisan menarik lainnya Anggit Setiani Dayana
(tirto.id - Politik)

Kontributor: Anggit Setiani Dayana
Penulis: Anggit Setiani Dayana
Editor: Yantina Debora
DarkLight