Jelang Pemilu, Tiga Partai Komunis Nepal Bersatu

Oleh: Tony Firman - 18 Oktober 2017
Dibaca Normal 3 menit
Menyambut pemilu provinsi dan parlemen Nepal, tiga partai komunis beraliansi.
tirto.id - Pemilu provinsi dan parlemen di Nepal tinggal hitungan bulan. Partai-partai mempersiapkan rencana dan strategi untuk memenangkan pertarungan, tak terkecuali partai-partai komunis yang ikut berpartisipasi dalam hajatan demokrasi tersebut.

Setidaknya ada dua partai komunis besar yang aktif di Nepal, yaitu Partai Komunis Nepal (Marxis-Leninis Bersatu) dan Partai Komunis Nepal (Sentra Maois). Dua partai terbesar di Nepal ini kemudian sepakat bersama-sama melebur menjadi satu, termasuk dengan Partai Naya Shakti yang lebih kecil, guna membentuk blok komunis tunggal.

Perombakan besar di kubu partai sayap kiri ini dimulai pada 3 Oktober lalu. Para pemimpin partai menyebut langkah ini sebagai kebutuhan bersejarah yang semata-mata ditujukan demi kepentingan Nepal dan rakyatnya.

Pemilu provinsi dan parlemen Nepal sendiri akan berlangsung masing-masing pada tanggal 26 November dan 7 Desember mendatang. Meskipun Partai Naya Shakti tergolong partai kiri kecil dibanding dua partai komunis Nepal, namun peran pemimpinnya Baburam Bhattarai dinilai bakal memberi kekuatan intelektual.

Bhattarai adalah mantan Perdana Menteri Nepal. Memainkan peran penting selama pemberontakan Maois, Bhattarai meyakinkan para pemimpin komunis untuk melucuti senjata dan melebur dalam proses demokrasi.

Pengumuman pembentukan aliansi pan-komunis di Nepal muncul saat Partai Komunis Nepal yang Maois berada dalam sebuah pemerintahan koalisi dengan Partai Kongres Nepal. Akibatnya, Maois kemudian melepaskan diri dengan Partai Kongres Nepal, sebuah partai sosial demokrat yang berkuasa di Nepal saat ini di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Sher Bahadur Deuba.

Baca juga: Memahami Gurkha, Tentara dari Negeri Atap Dunia

Merespons hal ini, Partai Kongres Nepal menyerukan partai-partai sayap kanan untuk membentuk blok tandingan yang dinamakan “aliansi demokratis.” Manuver politik partai kiri ini kemudian mengundang banyak komentar dan spekulasi dari para tokoh partai maupun pengamat.

Mantan Wakil Perdana Menteri Nepal, Bimalendra Nidhi dari Partai Kongres Nepal turut berkomentar tentang bersatunya partai-partai komunis. “Tujuan sebuah partai komunis tunggal di Nepal adalah mendirikan Republik Komunis Nepal sebagai pengganti Republik Demokratik Federal Nepal” kicau Bimalendra di akun Twitternya.

Ketika ditanya adakah kemungkinan kekuatan asing yang turut memengaruhi politik di Nepal terkait penyatuan partai komunis, Nidhi yang kini menjabat sebagai anggota komite pusat Partai Kongres Nepal dalam sebuah wawancaranya dengan The Kathmandu Post mengatakan bahwa ia belum banyak bicara dengan pejabat Cina terkait hal tersebut.

“Tapi Cina memiliki agenda sederhana untuk Nepal: Nepal harus mendukung kebijakan satu Cina, dan sebagai gantinya, Cina tidak akan ikut campur dalam politik lokal.” Kata Nidhi. “Namun, saya tidak yakin bahwa Nepal yang komunis akan stabil. Tapi saya tidak tahu apakah Cina telah melihat situasi sekarang dari perspektif ini.”

Prakash Haran Mahat, anggota Komite Kerja Sentral Kongres Nepal menggambarkan keputusan Partai Komunis Nepal-Maois mengakhiri kemitraan dengan partainya sebagai sebuah kejutan. "Kami pikir aliansi ini seharusnya terus berlanjut, tapi sayangnya, saya tidak tahu apa alasannya," katanya. "Kami akan berjuang sendiri."

Sedangkan Rabindra Adhikari politisi Partai Komunis Nepal (Marxis-Leninis) mengatakan dalam kicauan di akun Twitternya “Biarlah ada polarisasi partai kiri dan demokratik, ini latihan demokratis secara global untuk membentuk sebuah pemerintahan.

Baca juga: Tradisi Chhaupadi: Saat Perempuan Haid Dianggap Membawa Sial

Partai Kongres Nepal tampaknya harus segera memikirkan langkah secepatnya guna mempersiapkan pemilu setelah ditinggal sekutunya, Partai Komunis Nepal-Maois. Bagaimanapun pengaruh tiga partai komunis yang menyatakan tekad melebur menjadi satu sama sekali tidak bisa diremehkan. Semua pemimpin partai tersebut adalah mantan perdana menteri Nepal.

infografik bersatunya partai komunis nepal


Berebut Pengaruh di Nepal

Pramod Jaiswal, seorang peneliti yang yang tengah bertamu di lembaga pemantau perdamaian dan konflik yang berbasis di New Delhi menilai bahwa partai-partai komunis Nepal memiliki hubungan baik dengan Cina. Tentu ini bisa memberi lebih banyak ruang bagi Beijing untuk bekerja sama dengan pemerintah.

Sementara bagi India, langkah ini jelas menjadi sebuah kemunduran. India dikenal sebagai sekutu lama Nepal. Banyak kebutuhan pokok dipasok dari India.

Pada 2015 lalu, di bawah kepemimpinan KP Sharma Oli, Nepal diembargo ekonomi oleh India yang tidak senang dengan konstitusi Nepal. Dampaknya, impor bahan bakar, makanan dan kebutuhan lainnya dari India sangat dibatasi. Penduduk Nepal menjadi kesulitan menjalani kehidupan sehari-hari.

Kedekatan antara Nepal dan Cina tumbuh selama bertahun-tahun dan menjadi perhatian India. Mereka menjadi lebih dekat setelah blokade ekonomi. Peran Cina dalam membawa tiga partai Komunis bersama sebagai mitra aliansi tidak bisa dikesampingkan sama sekali.

India telah memboikot pertemuan One Belt One Road Initiative yang diadakan di Beijing pada bulan Mei lalu. Kecuali Bhutan, semua negara tetangga India lainnya termasuk Nepal berpartisipasi dalam program tersebut.

Baca juga: Ritual Gadhimai, Membantai Hewan Atas Nama Agama

"Segala sesuatu yang terjadi [...] semua perkembangan politik di Nepal selalu terhubung ke India dan Cina," katanya. "Pada isu ekonomi, [parta-partai komunis] merasa bahwa Cina dapat memberi mereka lebih banyak." kata Pramod Jaiswal.

Pada Agustus lalu misalnya, Beijing dan Nepal menandatangani kesepakatan di tengah bentrok perbatasan China-India di Nepal. Cina memberikan bantuan kemanusiaan senilai satu juta dollar dan kesepakatan terkait eksplorasi sumber-sumber minyak bumi dan gas alam.

“Cina siap membantu Nepal meningkatkan swasembada energi,” kata Perdana Menteri Cina, Wang Yang saat melawat ke Kathmandu menandatangani kesepakatan.

Selain paket bantuan kemanusiaan, Cina sepakat membantu Nepal memulihkan jembatan perbatasan dan fasilitas di pelabuhan Tapotani yang rusak akibat gempa pada 2015 lalu.

Baca juga: Cina dan Ramalan Bonaparte

Nepal sendiri merespons dengan menyuarakan keinginannya secepat mungkin membuka pelabuhan di perbatasan kedua negara, yaitu di Tataopani dan Zhangmu.

Tak hanya bantuan kemanusiaan dan eksplorasi migas yang diajukan Cina. Pada April lalu kedua negara bahkan menggelar latihan militer gabungan, yang dipandang sebagai langkah Beijing untuk meningkatkan pengaruhnya atas wilayah Nepal.

Latihan sepuluh hari di Kathmandu ini bertajuk "Sagarmatha Friendship 2017," mengacu pada sebutan Nepal untuk Gunung Everest. Latihan gabungan tersebut berfokus pada kontra-terorisme.

Sulit dipungkiri bahwa langkah Beijing untuk mendekati Nepal tergolong agresif dibanding New Delhi. Posisi Nepal sebagai wilayah negara dan ekonomi yang lebih kecil dibanding India dan Cina terjepit sejak beberapa tahun terakhir.

Baca juga: Cara Cina Lumpuhkan Tibet dengan Megaproyek

Maret lalu Cina menawarkan janji investasi sebesar 8.3 miliar dolar. Jumlah yang setara dengan hampir 40 persen keseluruhan PDB Nepal. Nilai investasi tersebut unggul jauh dibanding India yang menawarkan investasi sebesar 317 juta dolar.

Respons Nepal sendiri yang mendapat banyak gelimang tawaran baik dari Cina maupun India masih tampak menjaga posisi netral dan ingin menawarkan diri sebagai jembatan perdamaian antarkedua negara raksasa tersebut.

"Kami akan menjaga hubungan baik dengan kedua negara," kata Perdana Menteri Nepal Gopal Man Shrestha dari Partai Kongres Nepal. "Menjadi jembatan antara dua negara tetangga Nepal dan ingin berkontribusi untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di seluruh wilayah Asia Selatan,"

Bagaimanapun, India memiliki hubungan historis, sosio-ekonomi dan budaya yang lebih dalam dengan Nepal dibanding Cina. Baik Nepal dan India memiliki perbatasan terbuka dan para pejabat tinggi kedua negara punya hubungan dekat.

Sentimen anti-India di Nepal sendiri meningkat akibat dari campur tangan New Delhi dalam blokade perbatasan selama berbulan-bulan pada 2015 lalu.

Baca juga:


India dan Cina sendiri memang memiliki jejak konflik terkait perbatasan di dekat Nepal. Pada 1962, sengketa perbatasan Himalaya memicu perang Cina-India. Namun, rentetan kekerasan telah terjadi di daerah perbatasan, terutama setelah pemberontakan Tibet 1959.

Di Nepal sendiri, peran Partai Komunis Nepal-Maois menonjol sejak meletus aksi pemberontakan yang menggulingkan kekuasaan monarki pada 13 Februari 1996. Setelahnya pecah perang sipil selama sepuluh tahun. Perjuangan Partai Komunis Nepal Maois ini tercapai setelah monarki Nepal dibubarkan pada 2008.

Baca juga artikel terkait PARTAI KOMUNIS atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Politik)

Reporter: Tony Firman
Penulis: Tony Firman
Editor: Windu Jusuf