Jejak The Flying Gang & Akhir Republik Bajak Laut Nassau

Penulis: R. A. Benjamin - 9 Feb 2022 08:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Republik Bajak Laut pernah eksis di Nassau. Melahirkan wajah-wajah utama era keemasan bajak laut abad ke-18.
tirto.id - Pada 1714, Perang Suksesi Spanyol yang telah berlangsung selama 15 tahun berakhir. Sejak itu, para privateers (bajak laut berlisensi) yang disewa untuk pertempuran-pertempuran di lautan pun kehilangan mata pencahariannya. Pasalnya, tiada lagi izin yang diberikan untuk membajak atau menyerang kapal dari negeri rival.

Para privateer itu sebenarnya bisa saja bergabung dengan angkatan laut atau kapal budak, tapi hal itu tak lantas menjamin mereka bakal hidup layak. Para awak kapal pengangkut budak asal Afrika, misalnya, kerap dihadapkan pada tingginya tingkat kematian selama bekerja.

Sementara para privateer dibikin galau oleh nasib, sebuah kisah sukses menyebar cepat. Seorang perompak bernama Henry Every berhasil membajak kapal Ganj-i-Sawai milik Kerajaan Goa yang penuh harta. Henry Every dan sekondannya lantas kabur ke Karibia untuk menghilang selamanya.

Kisah “inspiratif” Every rupanya tak hanya itu. Every juga dikabarkan sebagai kapten yang mengupah para awaknya dengan pantas. Bahkan dengan hasil jarahannya yang gemuk, beredar mitos Every mampu membangun kerajaannya sendiri dengan mata uang berukir wajahnya.

Tak heran jika para privateer dan pelaut dari generasi berikutnya menganggap Every sebagai teladan. Banyak orang kemudian terdorong untuk jadi bajak laut setelah mendengar kisah sukses Every.

Di masa itu, duo eks-privateer Henry Jennings dan Benjamin Hornigold membangun pemerintahan mereka sendiri, Republik Bajak Laut, di salah satu sudut Karibia, tepatnya di Nassau. Inilah tempat para perompak dan pekerja seks berkuasa, miras mengalir seolah tiada habisnya, dan petualangan dikisahkan dan dirancang setiap malamnya.



The Flying Gang

Di Nassau, bisnis dan kesepakatan tercipta. Selain sebagai pendiri, Henry Jennings dan Benjamin Hornigold juga berlaku laiknya mentor bagi para bajak laut yang kelak jadi jauh lebih populer dan dikenang ketimbang nama mereka sendiri. Nama-nama mereka kemudian menjadi wajah bagi era keemasan perompakan.

Jennings adalah mentor langsung bagi kapten bajak laut Charles Vane yang dikenal keji, juga John “Calico Jack” Rackham—yang berarti sekaligus menjadi mentor tak langsung bagi dua awak perempuan di kapal sang bajak laut flamboyan, Anne Bonny dan Mary Read. Sementara itu, Hornigold “membimbing” tak kurang dari “Robin Hood Lautan” Samuel Bellamy, “Gentleman Pirate” Stede Bonnet, dan Edward Teach alias “Blackbeard”.


Bersama perompak lainnya, seperti Edward England, Palgraves Williams, dan Olivier Levasseur, para “anak didik” Hornigold dan Jennings itu tergabung dalam kolektif The Flying Gang. Sesungguhnya, tak jelas bagaimana asal-usul nama ini tercipta. Entah ia direka oleh Hornigold sebagai pendiri atau bahkan sekadar label informal untuk menyebut kolektif paling berbahaya di Karibia saat itu.

Kendati hidup tanpa pemerintahan resmi dan hukum, The Flying Gang bertindak sesuai code of conduct yang membuat Republik Bajak Laut dinilai jauh lebih demokratis dan egaliter daripada kebanyakan masyarakat sipil pada saat itu.

Dalam buku The Republic of Pirates: Being the True and Surprising Story of the Caribbean Pirates and the Man Who Brought Them Down, Colin Woodard menyebutkan, "The Flying Gang memberi kapten mereka otoritas mutlak saat pertempuran, tapi sebagian besar keputusan lain dibuat secara demokratis melalui dewan kru—termasuk soal tujuan pelayaran, apa yang harus diserang, tahanan mana yang harus dipertahankan atau dibebaskan, dan bagaimana menghukum awak kapal yang melanggar peraturan.”

Hornigold dan kapten bajak laut lainnya juga disebut berbagi menu makanan yang sama dengan para awak, juga berbagi kabin dengan mereka. Otoritas para awak juga berlanjut dalam pemilihan pejabat kapal lainnya seperti quartermaster yang memastikan bahwa makanan, jarahan, dan tugas dibagikan secara adil. Lain itu, kapten biasanya menerima jarahan 50 persen lebih banyak daripada pelaut biasa.

Pada 1717, The Flying Gang telah menjelma menjadi kekuatan yang tak hanya ditakuti para awak kapal dagang trans-Atlantik, tapi juga seluruh koloni Eropa di seputaran Amerika. Aksi-aksi para perompak itu dengan cepat menimbulkan kekhawatiran bagi pihak-pihak berkepentingan di balik perdagangan laut: negara-negara imperial di seberang lautan.

Negara-negara Eropa itu pun melabeli para perompak Karibia sebagai monster durjana lagi berbahaya. Mereka kerap dicitrakan sebagai pemerkosa, membunuh orang karena iseng belaka, dan penyiksa anak-anak untuk kesenangan. Sebagian di antaranya memang benar adanya, terutama jika melihat apa yang dilakukan kru Every terhadap kapal yang mengangkut jemaah haji di Laut Merah.

Infografik The Flying Gang
Infografik The Flying Gang. tirto.id/Tino



Woodes Rogers dan Akhir Sebuah Republik

Karena aksi-aksi perompakan semakin marak di West Indies, Inggris pun ambil tindakan. Namun, alih-alih mengirimkan kapal-kapal perang untuk memburu para bajak laut yang masih beroperasi dan berisiko menimbulkan korban, Kerajaan Inggris memilih langkah yang lebih diplomatis. Raja George I menerbitkan titah yang disebut The Proclamation for Suppressing of Pirates (Proklamasi untuk Menekan Bajak Laut).

Titah Kerajaan yang terbit pada 5 September 17171 itu berisi tawaran pengampunan dari sang raja bagi para bandit laut atas kejahatan yang mereka lakukan sebelum 5 Januari 1718. Syaratnya, para bajak laut itu harus menghentikan operasinya. Karena itulah, titah itu kemudian juga disebut Act of Grace.

Raja Goerge I kemudian mengutus seorang mantan privateer bernama Woodes Rogers membawa dan melaksanakan titah kerajaan itu ke Karibia dengan kesepakatan pembagian profit dari daerah koloni Inggris itu.

Tawaran pengampunan itu tentu terlalu bagus untuk dilewatkan begitu saja. Maka ratusan perompak yang tadinya pasrah bakal menjadi penjahat dan buron sampai akhir hayat tiba-tiba bebas dan kembali ke masyarakat. Beberapa kapten tercatat harus membagikan sebagian, jika bukan sepenuhnya, harta mereka kepada pemerintah demi mengembalikan nama baik mereka.

Imbalan besar juga tersedia bagi mereka yang mau "bekerja sama" memburu mantan rekan atau kenalan mereka yang ngotot tetap menjadi bajak laut. Taktik cerdik ini sontak memecah belah The Flying Gang.

Henry Jennings, sebagaimana ratusan perompak lainnya, turut mencari dan menerima amnesti itu. Demikian pula dengan Benjamin Hornigold. Dia bahkan melangkah lebih jauh dengan berbalik menjadi pemburu bajak laut. Nama-nama lain, seperti Calico Jack dan Blackbeard, menerima pengampunan, tapi kemudian kembali beraksi sebagai bajak laut dan menyongsong takdirnya masing-masing. Sedangkan Charles Vane disebut menjadi satu di antara sedikit kapten yang bergeming dari amnesti itu.


Selama beberapa hari, Woodes Rogers memblokade Nassau—strategi pernah diterapkannya saat memulihkan ketertiban di pangkalan bajak laut Madagaskar. Kapten Vane melawan blokade itu dengan mengisi kapalnya dengan bubuk mesiu, membakarnya, dan mengarahkannya melaju menuju kapal-kapal Angkatan Laut Inggris. Saat kapal itu meledak, anak-anak buah Rogers dengan cepat memotong tali jangkar mereka dan menghindar. Blokade pun pecah.

Setelah itu, Vane dan krunya sukses kabur dengan kapal sloop bernama Ranger. Vane bahkan masih sempat menembaki kapal-kapal Royal Navy dalam pelariannya.

Saat sebagian besar rekan Flying Gang-nya tak lagi aktif atau bahkan meyongsong hidup baru, Kapten Vane terus menyerang kapal-kapal yang melewati Bahama dan tetap menjadi duri bagi pihak Inggris selama bertahun-tahun kemudian.


Akhir dan Warisan Republik Bajak Laut

Pada tanggal 6 Januari 1718, Kapten Woodes Rogers diangkat menjadi Kapten Jenderal dan Gubernur Kepala Nassau. Momen itu sekaligus jadi tengara formal runtuhnya Republik Bajak Laut Nassau.

Sekitar 200-an perompak di pulau New Providence mendapatkan pengampunan. Selain Benjamin Hornigold, ada pula nama-nama seperti Josiah Burgess, dan eks quartermaster Bellamy dan Levasseur, Palgraves Williams. Sementara itu, Jennings memutuskan untuk pensiun.

Beda dari para sekondannya itu, Bellamy, Blackbeard, Calico Jack, dan Vane akhirnya tewas dalam petualangannya masing-masing. Kolektif bajak laut The Flying Gang lalu dibinasakan secara penuh pada 1721. Republik Bajak Laut pun praktis hanya tinggal sejarah.

Tiga abad telah berlalu sejak negara para garong lautan itu berakhir. Meski eksistensinya singkat, ia terus menjadi inspirasi. Hikayat para perompak ternama yang bernaung di bawahnya terus direplikasi atau mengilhami karakter-karakter dalam kisah-kisah romantisasi bajak laut kontemporer seperti Pirates of the Caribbean atau One Piece.

Republik Bajak Laut juga hadir kembali dalam gim video seperti Assassin's Creed IV: Black Flag dan digambarkan secara mendetail aktivitasnya dalam serial dokumenter The Lost Pirate Kingdom dan serial Black Sails.

Berbagai peninggalan Republik Bajak Laut di Nassau kini diperlakukan tak ubahnya relik sejarah. Bahama juga merangkul sejarah pirate utopia dengan menjadikan artefak, bangkai kapal, benteng, hingga patung-patung para perompak sebagai objek wisata.

Itinerary liburan keluarga bertema bajak laut bahkan dihadirkan untuk mereka yang ingin merasakan petualangan perompak—atau barangkali berziarah ke republik yang pernah eksis dan merdeka dari kekuatan kolonial.

Baca juga artikel terkait PEROMPAK atau tulisan menarik lainnya R. A. Benjamin
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: R. A. Benjamin
Editor: Fadrik Aziz Firdausi

DarkLight