Jejak Sejarah Arca Bhairawa: dari Jantung Sumatra hingga Batavia

Kontributor: Omar Mohtar, tirto.id - 28 Sep 2022 00:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Arca Bhairawa merupakan tinggalan kerajaan Malayu-Dharmasraya abad ke-14. Terkait dengan Adityawarman dan aliran Bhairawa yang dianutnya.
tirto.id - Bertandanglah ke Museum Nasional Indonesia dan Anda akan menemui sekira 190.000 koleksi benda bersejarah. Di antara sekian banyak koleksi itu, salah satu yang paling ikonis dari museum ini ada di bagian arkeologi masa klasik Hindu-Buddha. Ialah arca Bhairawa.

Bagi Anda yang belum pernah ke Museum Nasional, tak perlu khawatir bakal kesulitan mencarinya. Arca Bhairawa menjadi ikon bukan hanya karena nilai sejarahnya, tapi juga karena ukurannya yang masif.

Arca yang sering dikaitkan dengan Raja Adityawarman ini tingginya mencapai 4 meter dan beratnya sekira 4 ton. Ia pun terletak di tengah ruangan sehingga orang awam pun mudah sekali mengidentifikasinya dalam sekilas pandang.

Pengunjung museum juga bakal mudah mengenalinya dari fitur-fitur yang melekat pada arca. Sekilas, ia laksana raksasa bertubuh gempal dengan ekspresi wajah penuh amarah. Makin mengerikan lagi karena ia tengah memegang pisau dan sebuah mangkuk dari tengkorak manusia.

Sang Bhairawa sendiri berdiri di atas mayat lelaki yang kakinya tertekuk ke punggung. Fitur lain yang juga menonjolkan kengeriannya adalah tumpukan tengkorak di dasar arca.

“Arca ini berdiri di atas tumpukan tengkorak dan dianggap sebagai manifestasi aktivitas keagamaan aliran Tantra,” tulis Budi Istiawan dan Bambang Budi Utomo dalam Menguak Tabir Dharmasraya (2006, hlm. 22).

Namun, kontras dari semua fitur mengerikan itu, sebuah relief tokoh suci Buddha Aksobhya terukir di mahkotanya. Ia pun memiliki sirascakra alias lingkaran kedewataan yang mengindikasikannya sebagai manifestasi dari dewa.

Merunut sejarah, arca ini ditemukan pada 1935 di daerah yang sekarang menjadi bagian dari Kabupaten Dharmasraya, Sumatra Barat. Arca Bhairawa diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-14.


Sejarah Penemuan

Arca Bhairawa ditemukan oleh rombongan ekspedisi yang dilakukan Oudheidkundige Dienst atau Dinas Purbakala di dekat kompleks Candi Padang Roco di Sungai Langsat. Lokasi geografisnya sendiri berada di sebelah utara aliran Sungai Batanghari.

Ekspedisi arkeologis itu dipimpin oleh konservator Museum Palembang F.M. Schintger. Saat ditemukan, arca ini terkubur tanah dan hanya sedikit bagiannya yang timbul di atas permukaan tanah.

“Di mana lokasi awal arca ini berdiri sukar diperkirakan. Tentu saja, tidak di tepian sungai seperti saat ia ditemukan,” tulis Schnitger dalam Archaeology of Hindoo Sumatra (1937, hlm. 8).

Sebelum ditemukan, seturut deskripsi Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, bagian arca yang timbul itu kerap digunakan masyarakat sekitarnya sebagai pengasah pisau dan penumbuk padi sehingga membuat kondisinya menjadi tidak utuh.

Bagian-bagian yang rusak tersebut sampai sekarang masih dapat dilihat dengan jelas. Sisa bagian untuk mengasah pisau bisa dilihat di kaki kiri arca, sedangkan lubang untuk menumbuk pada berada di lapik sisi kiri. Disebutkan juga bagian-bagian lain yang rusak saat ditemukan, seperti aus pada bagian wajah dan sandaran arca yang tidak lagi utuh.

Setahun kemudian, Schnitger dan Dinas Purbakala mengangkut arca Bhairawa ke Fort de Kock (Bukittinggi).

“Dinas Purbakala kemudian memutuskan untuk memindahkan arca tersebut dari tempat asalnya dengan harapan agar dapat dikaji lebih lanjut,” tulis Deli Courant (4 Juni 1936).

Pengaturan mengenai pemindahan kemudian dilakukan oleh Dinas Purbakala. Mengingat ukuran dan beratnya yang masif, diperlukan teknik dan keterampilan yang baik untuk memindahkan arca ini.

Kala itu, Dinas Purbakala menunjuk Kontrolir Sijunjung Poutsma untuk mengatur pemindahannya. Dia mengerahkan sekira 300 orang untuk memindahkannya dari lokasi penemuan ke perahu di pinggir sungai.

“Perahu kemudian diarahkan menuju Sungai Dareh yang memakan waktu dua hari. Dari Sungai Dareh, arca dipindahkan ke truk untuk kemudian dibawa ke Sijunjung. Arca itu akhirnya ditempatkan di kebun binatang di Fort de Kock dan menghadap ke arah Gunung Marapi,” tulis Deli Courant lagi.

Sungguh itu bukan pekerjaan yang mudah. Selama perjalanan, tim Poutsma dihadapkan pada beberapa masalah, terutama kondisi cuaca.

“Badai petir menumbangkan satu pohon di perjalanan dan hampir menimpa truk yang membawa arca itu. Untungnya patung (arca) dapat dibawa dengan selamat,” tulis Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indie (6 Agustus 1937).

Pada 1937, arca ini dipindahkan ke Batavia. Ia lantas menghuni bangunan museum milik Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen yang sekarang menjadi Museum Nasional Indonesia.


Infografik Mozaik Arca Bhairawa
Infografik Mozaik Arca Bhairawa. tirto.id/Ecun


Berkaitan dengan Adityawarman

Adityawarman yang dikaitkan dengan arca Bhairawa ini merupakan sosok penting dalam sejarah kebudayaan Hindu-Buddha Sumatra. Dia adalah raja Kerajaan Malayu-Dharmasraya yang bercorak Buddhis. Kerajaan yang berpusat di jantung Swarnadwipa ini diperkirakan berdiri pada abad ke-12.

Semula, kerajaan ini terletak di sekitar tepian Sungai Batanghari di daerah yang sekarang disebut sebagai Kabupaten Dharmasraya, Sumatra Barat. Di era pemerintahan Adityawarman, pusat kerajaan ini berpindah ke daerah Pagaruyung.

Adityawarman sendiri berkuasa sejak 1347 hingga 1375. Seturut studi J.L. Moens yang dikutip Sejarah Nasional Indonesia II: Zaman Kuno (2008, hlm. 108), Adityawarman mengangkat dirinya sebagai maharaja dengan gelar Udayaadityawarman atau Adityawarmodaya setelah meluaskan wilayah kekuasaannya hingga Pagaruyung.

Lantas, mengapa seorang raja Buddhis diwujudkan dalam bentuk arca Bhairawa yang merupakan salah satu manifestasi Dewa Siwa?

Arca Bhairawa adalah tinggalan yang mengindikasikan bahwa Adityawarman merupakan penganut sekte Bhairawa, salah satu aliran dari Buddha Tantrayana, yang bersifat sinkretisme antara Buddha dan Hindu Siwa.

Menurut R. Pitono dalam Adityawarman, Sebuah Studi tentang Tokoh Nasional dari Abad XIV (1966, hlm. 25), sekte ini bermula di Benggala sebelah timur pada abad ke-6. Ia kemudian menyebar hingga ke Nusantara.

Salah satu penguasa di Nusantara yang terkenal sebagai penganut aliran Bhairawa ini adalah Kertanegara, raja terakhir Kerajaan Singasari.

Menurut George Coedes dalam Asia Tenggara Masa Hindu-Buddha (2017), Adityawarman masih berkerabat dengan dinasti Singasari dan Majapahit. Maka besar kemungkinan Adityawarman juga mempraktikkan aliran Buddhisme yang sama.

“Raja ini menghabiskan masa mudanya di istana Modjopait dan berkenalan dengan aliran Bhairawa. Pada 1370, dia ditahbiskan sebagai Bhairawa dengan nama Ksetrajna-wicesadharani,” demikian menurut Schnitger.

Baca juga artikel terkait ADITYAWARMAN atau tulisan menarik lainnya Omar Mohtar
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Omar Mohtar
Penulis: Omar Mohtar
Editor: Fadrik Aziz Firdausi

DarkLight