Jejak Politik K-pop dari #ReformasiDikorupsi hingga Kampanye Trump

Ilustrasi. Para pemuda pemudi Korea sedang berlatih tarian K-Pop. Foto/laweekly.com
Oleh: Sekar Kinasih - 3 Juli 2020
Dibaca Normal 8 menit
Para penggemar K-Pop di AS dikabarkan menyabotase kampanye Trump. Apa saja jejak politis penggemar K-Pop lainnya?
Pada akhir September 2019, ribuan mahasiswa di sejumlah kota besar Indonesia turun ke jalan memprotes beberapa isi Rancangan Undang-Undang (RUU) yang dibahas oleh pemerintah dan DPR. Berdasarkan amatan Tirto, demo bertajuk “Reformasi Dikorupsi” ini terutama menyorot revisi UU KPK yang ditakutkan dapat menjegal upaya penanganan korupsi dan Rancangan KUHP yang mengancam demokrasi dan kebebasan sipil. Mahasiswa juga mengungkapkan kekecewaan terhadap kinerja buruk DPR dalam memperjuangankan kebijakan-kebijakan terkait lahan, kesejahteraan buruh, dan penghapusan kekerasan seksual.

Ismail Fahmi dari Drone Emprit memiliki temuan data mengejutkan tentang tren tagar Twitter Indonesia selama 23-24 September ketika aksi demo mulai menyeruak di berbagai daerah. Tagar #ReformasiDikorupsi memiliki volume percakapan tertinggi, diikuti oleh #TurunkanJokowi di peringkat kedua. Menariknya, tweet di posisi tiga besar berasal dari klaster Generasi Y dan akun penggemar musik K-Pop. Kelompok ini mendominasi tagar berjudul #DiperkosaNegara dengan top influencer figur publik @awkarin dan akun pecinta K-pop @beautifulyoongo. Yang menjadi perhatian di sini adalah, pengikut akun @awkarin kala itu berjumlah 372.000 sedangkan akun @beautifulyoongo hanya 133. Namun, akun @beautifulyoongo justru mendapat respons paling banyak, yakni hingga 24.000-an retweet, dibandingkan dengan @awkarin yang hanya separuhnya.

Cuitan dari akun @beautifulyoongo diisi dengan cuplikan video demonstrasi mahasiswa yang menyemut. Pemilik akun menjelaskan kerumunan massa tersebut bukanlah penikmat konser K-pop, tetapi mahasiswa Indonesia yang tengah mendemo pemerintah karena telah membuat undang-undang yang berpotensi merugikan rakyat. Walaupun tweet yang diramaikan oleh akun penggemar K-pop dan pengikutnya ini volumenya lebih sedikit daripada tagar utama #ReformasiDikorupsi, jumlah mereka tetaplah signifikan untuk menunjukkan betapa mengguritanya jangkauan tangan penggemar K-pop di jagat maya.


Pada pertengahan Juni 2020, pecinta K-pop di Indonesia turut menyuarakan dukungan terhadap komika Bintang Emon. Setelah berkomentar jenaka tentang kejanggalan dalam kasus hukum Novel Baswedan, Bintang sempat dituduh oleh buzzer sebagai pengguna narkoba, meskipun tuduhan itu terbantahkan oleh hasil tes lab. Sebagaimana diwartakan oleh CNN Indonesia, sejumlah penggemar K-pop di Twitter meriuhkan tagar #BintangEmonBestBoy, yang volume kicauannya mencapai 9.000-an pada hari ketika tuduhan konsumsi narkoba dilayangkan kepada Bintang. Beberapa contoh kicauan menunjukkan kesadaran pengunggah bahwa semangat militansi pecinta K-pop bisa digunakan untuk menebar kebaikan:

@fangirlmisquen_ POWER ANAK KPOP YANG SELAMA INI DISANGKA NEGATIF :) pdhl kami sering bersih2 utk hal yg positif mangat #BINTANGEMONBESTBOY

@kokinawoah

untuk bang bintang emon semangat ya! untuk yang lain lain kalo ada kebenaran yang harus diangkat, jangan ragu lagi untuk ajak kpop stan

#BINTANGEMONBESTBOY

if you need us, we’ll be here

(agak geli blgnya maaf)


Sementara itu, komunitas penggemar K-pop di Amerika Serikat berpartisipasi dalam gerakan anti-rasisme Black Lives Matter (BLM) dan melawan kebrutalan polisi setelah insiden kematian pria kulit hitam George Floyd di tangan polisi Minneapolis pada pengujung Mei lalu. Aksi K-poppers di sosial media dimulai dengan menyerang aplikasi iWatch milik Departemen Kepolisian Dallas di Texas.

Bersamaan dengan merebaknya aksi demo, pihak kepolisian Dallas meminta bantuan masyarakat untuk mengunggah foto atau rekaman “aktivitas ilegal selama protes berlangsung”. Namun, dilaporkan dalam The Dallas Morning News, beberapa jam kemudian aplikasi iWatch malah macet karena dibanjiri oleh fancam atau video klip penampilan panggung bintang K-pop yang direkam oleh penonton konser. Rupanya, ada ajakan dari akun penggemar K-pop @7soulsmap untuk mengacaukan aplikasi tersebut dengan unggahan-unggahan idola K-pop agar identitas para demonstran BLM terlindungi. Tak berapa lama kemudian, seperti diberitakan oleh Newsweek, serangan video K-pop ikut membanjiri portal-portal milik Departemen Kebakaran Philadelphia serta kepolisian Kirkland dan Grand Rapids yang awalnya, sama seperti polisi Dallas, meminta partisipasi publik untuk melaporkan aksi kriminal yang dilakukan oleh demonstran.

Selain itu, The Verge (a) mengamati bagaimana komunitas pecinta K-pop menyasar tagar #MAGA (slogan kampanye Make America Great Again oleh Presiden Donald J. Trump) dan tagar pembelaan terhadap aparat kepolisian #BlueLivesMatter. Serangan ini dilancarkan seiring Trump mengancam akan mengerahkan militer guna membubarkan demonstrasi BLM. Unggahan-unggahan bertagar haluan kanan itu akhirnya dipenuhi oleh fancam K-pop dan meme-meme yang bermaksud mengejek gerakan-gerakan tersebut. BBC mencatat pula akun-akun K-poppers yang meramaikan tagar #AllLivesMatter dan #WhiteLivesMatter dengan fancam. Akibatnya, walaupun tagar-tagar tersebut jadi populer di Twitter dan Instagram, kontennya tidak mengandung pesan-pesan yang mendukung aparat kepolisian, gerakan MAGA maupun pandangan rasis dan konservatif lainnya.

Sebagai salah satu boy band yang fancam-nya disebar oleh para penggemar selama protes anti-rasisme berlangsung, Bangtan Boys atau dikenal dengan BTS juga menyatakan dukungan terhadap gerakan BLM melalui akun Twitter resmi yang pengikutnya nyaris berjumlah 27 juta. Tak lama setelah kicauan tersebut diunggah, media hiburan Variety mengumumkan bahwa BTS beserta tim manajemen Big Hit Entertainment telah berdonasi sebesar 1 juta USD (kurang lebih 14 miliar rupiah) untuk gerakan BLM. Pernyataan publik ini pun menggerakkan jutaan penggemar BTS yang dikenal sebagai ARMY (Adorable Representative M.C for Youth) untuk ikut menggalang donasi. Seperti dilansir dari The New York Times, salah satu klub penggemar bernama One in an ARMY berhasil menggalang dana lebih dari 1 juta USD selama kurang dari dua hari sejak pemberitaan donasi oleh BTS. Mereka juga mengerahkan penggemar BTS lainnya untuk menyemarakkan tagar #MatchAMillion di sosial media agar target donasi segera tercapai.

Akhir Juni ini, The New York Times melaporkan sejumlah klaim dari penggemar K-pop dan remaja pengguna TikTok yang memesan tiket gratis untuk kampanye Trump namun tidak menghadirinya. Tindakan tersebut dengan cepat terorganisir di jaringan penggemar K-pop dan pengguna Tiktok setelah akun resmi tim kampanye Trump mengumumkan dibukanya pendaftaran tiket kampanye gratis secara daring. CNN juga menemukan unggahan video yang dilihat lebih dari 300.000 kali, khususnya mengajak para penggemar BTS, untuk ikut mempermainkan kampanye Trump. Ketika akhirnya kampanye berlangsung di Tulsa, Oklahoma tanggal 20 Juni lalu, terbukti bahwa acaranya tidak terlalu ramai. Kapasitas stadium 19.000 ribu kursi tidak terpenuhi, terlepas dari pengakuan Trump bahwa terdapat 1 juta konfirmasi kehadiran. Walaupun sulit dipastikan besaran peran K-poppers dan remaja pemain Tiktok dalam prank kampanye tersebut, patut diakui bahwa sedikit-banyak mereka sudah ikut mewarnai konstelasi politik Amerika modern.

Aktivisme pecinta K-pop sebelumnya sudah terekam di negara-negara lain. Tahun 2018 silam, akun-akun K-poppers turut menyemarakkan tagar #WeWantJustice sebagai dukungan terhadap demonstrasi mahasiswa di Bangladesh yang menuntut keamanan di jalanan setelah kasus meninggalnya dua pelajar karena kecelakaan lalu lintas. Selain itu, diberitakan oleh Newsweek bahwa K-poppers pernah dituding oleh pemerintah Chili sebagai biang penyebar komentar-komentar anti-polisi di media sosial ketika pada Oktober 2019 berlangsung protes mahasiswa yang menuntut penyelesaian isu-isu ketimpangan kelas sosial dan upah di Chili. Pada awal tahun ini, The Independent meliput donasi paket sarapan dari komunitas fans BTS untuk Magic Breakfast, badan amal di London yang mendistribusikan sarapan bergizi untuk anak-anak kurang beruntung di Britania Raya. Di Korea Selatan, Reuters mengabarkan para penggemar militan BTS berdonasi untuk menanggulangi COVID-19.


"Fan Activism”

Seperti yang sudah kita saksikan di berbagai negara, komunitas pecinta musik K-pop menunjukkan antusiasme dan solidaritas tinggi terhadap isu-isu sosial dan politik. Sebagian besar memulainya dengan advokasi secara daring dan sebagian lain mewujudkannya melalui donasi. Mobilisasi di komunitas penggemar inilah yang disebut oleh Henry Jenkins sebagai “fan activism” atau aktivisme penggemar, yakni keterlibatan sipil dan partisipasi politik yang tumbuh dari dalam kebudayaan fans itu sendiri. Lazimnya, menurut Jenkins, aksi-aksi tersebut merupakan respons terhadap minat yang sama-sama dimiliki oleh penggemar, yang dilakukan melalui infrastruktur praktik-praktik dan relasi antarpenggemar yang sudah ada, serta dibingkai dengan metafora-metafora yang ditarik dari budaya partisipasi dan budaya populer.


Berpegang pada pandangan Jenkins di atas, menguatnya arus aktivisme K-poppers belakangan ini tidak terlepas dari fanatisme yang tumbuh subur di dalam komunitas penggemar K-pop. Hal ini terutama didukung oleh kemudahan akses digital untuk mengonsumsi, mendistribusikan dan mereproduksi budaya populer. Tirto pernah mengulas militansi pecinta K-pop di Indonesia yang ditunjukkan dengan mengoleksi pernak-pernik resmi, menonton konser di luar negeri, serta meningkatkan popularitas grup idola dengan memperbanyak view video musik mereka.

K-poppers yang didominasi kaum muda ini termasuk generasi melek teknologi yang cepat menguasai beragam teknik untuk mempopulerkan kabar-kabar terbaru tentang idola mereka di jejaring komunikasi daring. Tak jarang, mereka dilabeli oleh orang awam sebagai kelompok yang menyebalkan karena obsesi berlebihan mereka dalam membela idola di media sosial ataupun kesan konsumtif yang diperlihatkan melalui hobi koleksi merchandise mahal dan gaya hidup kekorea-koreaan. Namun, ketika semangat tersebut dikerahkan untuk mendukung aksi kemanusiaan dan gerakan politik, dampaknya sangatlah masif.

Secara historis, dunia kepenggemaran atau fandom K-pop di Korea Selatan cenderung eksklusif pada ekspresi kekaguman penggemar terhadap idolanya. Hal ini disampaikan lebih jauh dalam korespondensi CNN dengan dosen tamu Departemen Bahasa dan Budaya Asia Timur di Indiana University Bloomington, CedarBough Saeji. Umumnya, menurut Saeji, dulu penggemar memberikan hadiah kepada idola K-pop. Namun, sejak dua dekade lalu, para bintang meminta penggemar untuk mulai mengalihkan pemberian tersebut ke badan amal atau mendonasikannya. Ekspresi kekaguman yang awalnya bersifat personal pun bergeser menjadi aksi sosial yang dilakukan secara kolektif atas nama idola kesayangan, yang akhirnya bisa meningkatkan citra positif si artis.

Ketika musik K-pop menjadi fenomena global, politisasi K-pop oleh para penggemarnya menjadi tidak terhindarkan, terutama di kalangan muda yang tengah menumbuhkan rasa peka dan kritis terhadap isu-isu sosial dan politik di sekitarnya. Di Amerika Serikat, Saeji menjelaskan kepada The New York Times bahwa para penggemar K-pop berasal dari kelompok muda yang progresif secara sosial, berpandangan terbuka, serta cakap berinteraksi di platform daring. Saeji menekankan para penggemar K-pop bersedia belajar tentang kebudayaan baru demi menelusuri minat terhadap produk budaya populer. Dengan karakter demikian, ditambah dedikasi tinggi terhadap K-pop, bisa dipahami mengapa K-poppers Amerika sangat menggebu-gebu membela gerakan anti-penindasan terhadap orang kulit hitam dan melawan ideologi rasis sayap kanan yang selama ini kentara dalam kampanye-kampanye Trump.

Selain itu, interpretasi oleh penggemar terhadap konten musik K-pop atau pesan dari idola turut berkontribusi terhadap ekspresi politik mereka. Penulis blog Ask a Korean! bernama pena T.K. Park menyampaikan kepada The New York Times: “Walaupun pesan dari musik K-pop tidak mesti terang-terangan bersifat politis, acapkali isinya adalah tentang pemberdayaan dan kepercayaan diri. Banyak penggemar K-pop baru, misalnya, tertarik dengan boy band BTS karena pesan ‘cintailah dirimu sendiri’ yang beresonansi kuat dengan mereka.” Park menambahkan, pesan tersebut mendorong penggemar untuk lebih ekspresif dalam berbagai aspek kehidupan termasuk politik, terlebih karena kontennya menarik audiens yang kebanyakan terdiri dari perempuan dan orang kulit berwarna.

Pada tahun 2018, UNICEF dan boy band BTS meluncurkan program pendidikan, pelatihan kerja, dan pemberdayaan bagi kaum muda, Generation Unlimited. BTS, diwakili oleh personel Kim Nam-joon atau RM, memberikan pidato di Majelis Umum PBB yang isinya menggugah kaum muda untuk mencintai diri sendiri dan berani berekspresi. RM juga menekankan bahwa selama ini BTS aktif memasukkan pesan-pesan membangun tersebut dalam produk musik mereka. “Siapapun dirimu, dari mana pun asalmu, apapun warna kulit dan identitas gendermu, speak yourself!” seru RM di penghujung pidato.



Menariknya, politisasi K-pop yang disemarakkan oleh para penggemar K-pop di Indonesia, Amerika Serikat dan negara lainnya ini terlihat sangat spontan dan kilat. Contohnya, K-poppers Amerika sudah aktif mengkampanyekan BLM di sosial media bahkan sebelum boy band BTS memberikan dukungan resminya. Seperti dilansir dari The Atlantic, hal ini menunjukkan para penggemar kini lebih tertarik untuk melihat pergerakan massa yang muncul dari dalam fandom sendiri, dan mereka bisa mewujudkannya dengan mudah. Pada saat yang sama, mereka masih menganggap para idola tetap punya kewajiban untuk mendukung tujuan atau gerakan tertentu.

Namun, industri kreatif K-pop yang berhasil melahirkan jutaan fans dari beragam latar sosial budaya ini sebenarnya punya riwayat kontroversial terkait isu rasisme. Pelaku industri K-pop, termasuk BTS, pernah dituduh telah berbuat rasis terhadap orang kulit hitam karena melakukan apropriasi kultural. Di satu sisi, sejumlah produksi musik K-pop berkiblat pada budaya musik hip-hop yang berkembang dari komunitas seniman kulit hitam.

Dilansir dari National Public Radio (NPR), banyak penggemar berkulit hitam yang selama ini merasa tidak dihiraukan oleh K-poppers lainnya ketika mengangkat isu rasisme di dalam komunitas penggemar, sampai-sampai ada yang menganggap bahwa gerakan BLM yang digaungkan oleh sejumlah K-poppers terkesan dangkal atau hanya di permukaan.


K-pop Milik Siapa Saja

Menjamurnya aktivisme politik oleh penggemar K-pop menunjukkan betapa suksesnya industri musik Korea Selatan menggebrak pasar dunia. Keberhasilan industri musik K-pop ini tak lepas dari peranan pemerintah Korea Selatan selaku pemangku kebijakan, perusahaan agensi dan para artis sebagai pekerja industri, dan fandom yang mengonsumsi K-pop itu sendiri.

Pada dekade 90-an, tepatnya sejak krisis finansial 1997 melanda Asia, pemerintah Korea Selatan menyadari bahwa negaranya tak bisa bergantung sepenuhnya pada tenaga kerja murah dan industri manufaktur. Kebudayaan pun didudukkan sebagai industri yang potensial dan layak ekspor untuk membantu pertumbuhan ekonomi nasional, sekaligus sebagai alat strategis pembangun citra bangsa di mata dunia. Berdasarkan studi Seung-Ho Kwon dan Joseph Kim berjudul “The cultural industry policies of the Korean government and the Korean Wave” (2012), dukungan pemerintah untuk drama, film, musik, dan permainan daring semakin santer diberikan sejak awal dekade 2000-an melalui bantuan teknologi informasi, penyediaan staf ahli, pendanaan, dan program pendampingan ekspor. Kwon dan Kim mencontohkan keterlibatan pemerintah dalam mempersiapkan pertunjukan musik internasional dan mensubsidi konser-konser yang dikelola oleh agensi-agensi musik besar (SM Entertainment, Cube Entertainment dan Star Kingdom).


Menurut data dari portal statistik Statista, nilai ekspor industri musik Korsel antara rentang tahun 2005 sampai 2017 mencapai 513 juta USD, dengan total pekerja di industri ini mencapai 77.000 orang pada 2017. International Federation of the Phonographic Industry (IFPI) dalam “Global Music Report 2019” (PDF) mencatat naiknya growth revenue atau pertumbuhan pendapatan Korsel dari pasar industri musik sebesar 17,9 %. Dilansir dari IFPI, perwakilan aplikasi musik berbayar Spotify menyatakan adanya 100 juta aktivitas stream artis K-pop di Peru, Kanada, Perancis, dan Turki pada 2018.

Tak mengherankan apabila John Lie dalam “K-Pop: Popular Music, Cultural Amnesia, and Economic Innovation in South Korea” (2014) berkomentar, “Formula musik K-pop didorong oleh pertimbangan pasar, bukan soal artistik; logika K-pop adalah logika kapital.”

Namun, bukan berarti K-pop mengesampingkan kualitas artistik. Justru komponen ini digodok habis-habisan supaya laku dijual. “Sebagai industri berorientasi ekspor,” tulis Lie, industri K-pop “melatih dan mengolah bakat-bakat mentah yang menjanjikan dan melahirkan performer dengan wajah dan tubuh atraktif yang bisa menyanyi, menari, berkolaborasi dengan mulus dan harmonis”. Profesionalisme dan perfeksionisme inilah yang dikapitalisasi, yang tentu membuat konsumen puas karena uang yang mereka bayar setimpal dengan kualitas hiburan K-pop.

K-pop adalah komoditas yang berharga bagi negara, pelaku industri, dan penggemar. Melalui berbagai kebijakan dan pendanaan, pemerintah Korsel menyokong K-pop sebagai bagian dari strategi ekspansi ekonomi nasional. Kemudian, pelaku industri K-pop bekerja keras menghasilkan bakat-bakat baru dan meningkatkan kualitas konten untuk menaikkan angka penjualan. Baru-baru ini konsumen turut memanfaatkan K-pop untuk menyuarakan aspirasi politik mereka. Tak sampai di situ, organisasi PBB pun menggandeng boy band BTS sebagai duta pemberdayaan kaum muda dunia. K-pop menjadi bukti bahwa budaya populer bisa dicintai dan dinikmati oleh berbagai kalangan, mulai dari konsumen, kelompok kapitalis, sampai elite birokrat.

=========

Sekar Kinasih menyelesaikan studi Kajian Asia-Pasifik di Australian National University dan Sastra Jepang di Universitas Gadjah Mada. Mempelajari kebudayaan, gender, dan politik dari perspektif sejarah.

Baca juga artikel terkait K-POP atau tulisan menarik lainnya Sekar Kinasih
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Sekar Kinasih
Editor: Windu Jusuf
DarkLight