Menuju konten utama
11 Agustus 1988

Jejak Pemikiran dan Akar Gerakan Al Qaeda 

Pemikiran Sayyid Qutb dan Abdullah Yusuf Azzam dianggap sebagai inspirasi gerakan Al Qaeda.

Jejak Pemikiran dan Akar Gerakan Al Qaeda 
Header Mozaik Al-Qaeda. tirto.id/Tino

tirto.id - Menara kembar World Trade Center (WTC) di New York diserang pada 11 September 2001. Serangkaian pembajakan maskapai penerbangan dilakukan oleh 19 militan yang sejak awal menargetkan pusat ekonomi Amerika Serikat.

Korban berjatuhan. Di New York menewaskan 2.750 orang, di Pentagon 184, dan 40 di Pennsylvania. Sekitar 400 petugas kepolisian dan pemadam kebakaran kota New York ikut menjadi korban. Para penyerang juga tewas dalam aksi tersebut.

AS langsung bergerak cepat sambil mengevaluasi berbagai kemungkinan yang menyebabkan mereka kebobolan lewat serangan udara. Dalam penyelidikan itu muncul satu aktor utama yang diyakini sebagai penggagas sekaligus otak serangan berdarah: Osama bin Laden.

Osama dan para pengikutnya telah memperhitungkan dengan matang serta mencari titik lemah yang bisa diserang sejak bertahun-tahun sebelumnya. Mereka yakin bahwa AS sedang dalam kondisi lemah secara militer.

Pertama, pada 1970-an AS kalah telak di Vietnam. Lalu pada 1983, pangkalan marinir AS di Beirut porak-poranda akibat serangan bom dan terpaksa angkat kaki dari Lebanon. Selain itu, pasukan AS juga harus mundur dari Somalia pada 1993 setelah 18 prajuritnya tewas di Mogadishu.

Akan tetapi, keyakinan utama Osama terletak pada pasukannya yang diorganisasi secara khusus untuk melakukan serangan. Mereka matang secara perencanaan, pembekalan, dukungan keuangan, serta teknologi persenjataan. Mereka dikumpulkan dalam organisasi yang dikenal dengan nama Al Qaeda.

Sejak lama Osama sudah berencana mendirikan organisasi khusus untuk aktivitas politik-agamanya. Niat itu baru terwujud pada 11 Agustus 1988, tepat hari ini 34 tahun lalu, ketika ia bertemu dengan Ayman al Dhawahiri dan Sayyid Imam al-Sharif di Peshawar, Pakistan.

Pertemuan ini menyatukan faktor-faktor utama kekuatan mereka yaitu kekayaan finansial Saudi, keahlian militer seorang militan Mesir, dan landasan filosofis-intelektual untuk menjalankan jihad.

Dari Abdullah Azzam ke Osama bin Laden

Salah satu tokoh penting dalam perkembangan Al Qaeda di masa awal adalah seorang jihadis Salafi dan intelektual Palestina bernama Abdullah Yusuf Azzam. Namanya mulai dikenal luas ketika mengorganisasi gerakan defensive jihad untuk membantu kelompok mujahidin ketika perang Soviet-Afghanistan pecah.

Ia mengajak Osama bin Laden untuk datang ke Afghanistan dan bergabung dengan para mujahidin. Belakangan keduanya mendirikan Maktab al-Khidamat. Banyak peneliti menganggap organisasi ini adalah cikal bakal Al Qaeda. Maktab al-Khidamat berperan dalam mengusir pasukan Soviet yang angkat kaki dari Afghanistan pada 1989.

“Azzam mendirikan kantor koordinasi logistik untuk urusan Arab Afganistan: Maktab al Khidamat lil Mujahideen al Arab, yang berfungsi sebagai biro internasional dan melayani sekitar 25.000 orang dan berperan sebagai matriks untuk apa yang di kemudian hari dikenal sebagai Al Qaeda,” tulis Mohammad-Mahmoud Ould Mohamedou dalam buku Understanding Al-Qaeda: The Transformation of War (2007:46).

Aktivitas militan Azzam membuatnya menjadi sasaran tembak musuh-musuh politiknya. Upaya pembunuhan pernah dilakukan di lokasi tempat Azzam biasa memberikan ceramah Jumat. Bom meledak, tapi Azzam selamat.

Namun, sebuah bom lain dipasang di jalur perjalanan mobilnya di Peshawar, Pakistan. Kali ini percobaan pembunuhan itu berhasil. Azzam meninggal di tempat pada 24 November 1989 dalam usia 48 tahun.

Meski telah meninggal, warisan pemikirannya tetap bisa diakses publik. Selama hidupnya, Azzam memublikasikan banyak buku, salah satunya berjudul Defence of the Muslim Lands: The First Obligation After Faith (1979) yang membahas legalitas dan berbagai bentuk perjuangan jihad.

Bagi Osama bin Laden, kematian Azzam merupakan pukulan telak. Maklum, selama era 1980-an, Azzam sudah dianggapnya sebagai mentor dan guru. Kedekatan Osama dan Azzam sudah tercium oleh intelijen AS sebagai sebuah ancaman. Mereka telah melakukan investigasi khusus sejak awal 1990-an.

Namun, potensi ancaman itu tidak pernah benar-benar bisa diukur. Padahal, jika ditelusuri jauh ke belakang, kelompok-kelompok ekstremis jihad sudah mulai muncul sejak kejatuhan Imperium Ottoman pada 1924. Lahirnya negara Israel pada 1948 juga menjadi salah satu pemicu.

Infografik Mozaik Sepak Terjang Al-Qaeda

Infografik Mozaik Sepak Terjang Al-Qaeda. tirto.id/Tino

Sayyid Qutb Sang Inspirator

Guru Osama lainnya adalah Sayyid Qutb, seorang pemikir Mesir yang menginspirasi gerakan jihad global di era setelahnya. Qutb sempat belajar di AS selama dua tahun dan melihat sendiri bagaimana kebudayaan dan kehidupan sosial AS sangat bertentangan dengan ajaran Islam.

Pada 1954, Qutb ditangkap karena menyusun rencana pembunuhan terhadap Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser. Di penjara, ia mengalami kondisi buruk termasuk penyiksaan. Meski demikian, ia berhasil menulis buku untuk menyampaikan gagasan pemikirannya.

Belakangan, salah satu bukunya yang ditulis di penjara, berjudul Ma'alim fi'l-Tariq (Milestone/Tonggak) menjadi inspirasi kelompok Islam-Politik. Qutb dieksekusi mati oleh Pemerintah Mesir pada 1966.

Para pengikutnya, termasuk Ayman al-Dhawahiri, rekan Osama yang ikut mendirikan Al Qaeda, pada 1981 ditangkap karena dianggap terlibat dalam pembunuhan Presiden Mesir Anwar Sadat.

Di masa mudanya, Osama mengikuti ajaran Qutb secara ekstensif. Logika filosofis Qutb itulah yang dibawa oleh Osama dalam memimpin Al Qaeda. Di era Osama, mereka mantap melawan AS secara langsung.

Serangan kemudian terjadi pada peristiwa pengeboman World Trade Center tahun 1993, pengeboman Kedutaan Besar AS di Kenya dan Tanzania pada 1998, serta pengeboman kapal tempur U.S.S. Cole di perairan Yaman pada 2000.

Akan tetapi, serangan 9/11 yang merupakan proyek teror utama justru tidak secara langsung memosisikan Al Qaeda sebagai tersangka utama. Osama dan para pengikutnya telah menyiapkan rencana yang rapi dan tidak tercium oleh dinas intelijen AS.

Di sisi lain, para peneliti menyimpulkan bahwa dunia Barat mempunyai kesalahan hingga serangan itu berhasil. Dinas-dinas intelijen AS justru sibuk melawan sesamanya sehingga tidak cukup berbagi informasi tentang perkembangan terorisme.

Baca juga artikel terkait AL QAEDA atau tulisan lainnya dari Tyson Tirta

tirto.id - Politik
Kontributor: Tyson Tirta
Penulis: Tyson Tirta
Editor: Irfan Teguh Pribadi