Periksa Data

Jejak Kudeta Antikomunis di Berbagai Penjuru Dunia

Penulis: Alfons Yoshio Hartanto, tirto.id - 30 Sep 2022 13:00 WIB
Dibaca Normal 6 menit
Jakarta menjadi kode untuk pemberantasan kaum komunis dan penggulingan pemerintahan kiri populis di beberapa negara.
tirto.id - Kejadian tahun 1965 bukan hanya berdampak secara permanen terhadap Indonesia, tapi juga secara global. Apa yang terjadi di Indonesia beriak ke negara-negara lain dan membentuk strategi untuk menghadapi kelompok sayap kiri di berbagai negara.

Menurut buku Vincent Bevins, The Jakarta Method: Washington's Anticommunist Crusade and the Mass Murder Program that Shaped Our World, Jakarta menjadi metafor dan kode untuk pemberantasan kaum komunis dan penggulingan pemerintahan kiri populis di beberapa negara. Menukil buku itu, "Operasi Jakarta" atau "Operação Jakarta" bahkan disebut di dalam dokumen pemerintah Brazil.

Di Indonesia, 500 ribu orang yang dituduh sebagai pendukung Partai Komunis Indonesia (PKI) dibunuh antara Oktober 1965 sampai Maret 1966, sementara sampai 1 juta orang ditahan, berdasarkan rangkuman data National Security Archive (NSA). Di Brazil, kata "Jakarta" memiliki konotasi yang sama, yaitu penghancuran struktur Partai Komunis Brazil. Operasi Jakarta di Brazil juga mengindikasikan seruan untuk melakukan pembunuhan massal orang-orang komunis, seperti yang terjadi di Indonesia.

Tak hanya di Brazil, menurut buku itu, di Santiago, Chili, dinding-dinding dipenuhi coretan yang menyebut "Jakarta akan datang." Terang, itu adalah ancaman bagi komunis di negara tersebut. Tak lama kemudian, pada 11 September 1973, Salvador Allende, presiden sosialis Chili yang terpilih secara demokratis, digulingkan dalam sebuah kudeta militer sayap kanan. Ribuan pendukungnya dipenjara, dihilangkan, dan dibunuh.

Kode "Jakarta" ini juga mengindikasikan keterlibatan Amerika.

Pada 17 Oktober 2017, tiga lembaga, NSA, National Declassification Center (NDC), dan National Archives and Records Administration (NARA) membuka 39 dokumen rahasia setebal 30 ribu halaman. Dalam dokumen disebut bahwa pemerintah Amerika Serikat (AS) mengetahui secara detail operasi pembunuhan massal terhadap personil PKI oleh Angkatan Darat (AD) dan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI).

Hal ini memperkuat argumen keterlibatan Negeri Paman Sam, secara khusus Badan Intelijen Luar Negeri Amerika Serikat (CIA) terhadap Gerakan 30 September (G30S) di Jakarta. Pada September 2015 lalu, CIA sempat membuka arsip memo singkat untuk presiden periode 1961-1965. Dari ratusan dokumen, beberapa di antaranya berisi laporan soal peristiwa 30 September 1965. Salah satunya President Daily Brief yang bertanggalkan 1 Oktober 1965.

Buku Jakarta Method juga mengeksplorasi hal ini, bagaimana peran Amerika Serikat dalam pembunuhan massal di Indonesia, kudeta militer di Amerika Latin, sebagai konsekuensi dari intervensi Perang Dingin Amerika terkait Soviet dan komunisme.

Memang, perlu dicatat, terkait narasi propaganda antikomunis di seluruh dunia, dan kesamaannya dengan di Indonesia, Bevins menyatakan dalam wawancaranya dengan Tirto, "Kita hanya punya sejumlah teori soal kebetulan dan kemiripan mencolok antara apa yang terjadi di Brasil dan Indonesia—bahwa di kedua negara tersebut ada narasi soal kaum komunis yang berencana menikam para perwira pada tengah malam," katanya.

Terlepas dari pesan Bevins itu, berikut adalah jejak-jejak kudeta antikomunis di seluruh dunia.


"Operasi Jakarta" di Chili
Implementasi kudeta antikomunis yang diterapkan di Indonesia paling jelas direplikasi di Chili. Penyingkiran Presiden Salvatore Allende pada 1973 terinspirasi dari penggulingan Sukarno dan pembantaian massal kaum kiri, antara 1961-1965, sampai nama "Operasi Jakarta" disematkan.

Salvatore Allende adalah seorang sosialis yang terpilih secara demokratis menjadi Presiden Chili pada 1970. Nahasnya pada 11 September 1973, Jenderal Augusto Pinochet menggulingkannya dari tahta.

Pada hari itu, militer Chili meluncurkan aksi kudeta untuk menggulingkan Allende, menukil dari BBC. Barisan pasukan dan deretan tank mengepung istana. Tepat sebelum siang hari, akhirnya serangan udara diluncurkan ke arah istana. Kobaran api menyelimuti sebagian besar sisi La Moneda. Militer masuk ke dalam dan menggeledah seisi ruangan. Allende ditemukan tewas dengan memegang senapan otamatis di tangannya. Selanjutnya, puluhan ribu pendukung Allende dibunuh dan dihilangkan. Tak lama setelah tanggal 11 September itu, 5000 orang dikumpulkan di stadion utama Santiago untuk diinterogasi atau langsung dieksekusi.

Jenderal Pinochet, anggota dari junta militer, kemudian menjadi presiden baru Chili. BBC juga menyebut bahwa kudeta ini didalangi oleh CIA. Memang, kudeta Pinochet tidak bisa dilepaskan dari keterlibatan pemerintah Amerika dan CIA, yang telah lama menjegal Allende bahkan sebelum pemilu yang dimenangkannya.

Dalam konteks Perang Dingin, sosialisme Allende dipropagandakan sebagai ancaman demokrasi di Chili. Ia dianggap mengancam kepentingan AS di Amerika Selatan.

Dokumen CIA yang dipublikasikan NSA misalnya menyebut bahwa CIA telah mengetahui informasi soal kudeta Allende sebelum tanggal 11 September. Ada pula catatan kesepakatan antara Angkatan Darat, Laut, dan Udara Chili untuk menyerang Alende di dokumen Agensi Intelijen Pertahanan (Defense Intelligence Agency).

Selain itu, CIA juga disebut melakukan pendekatan intensif dengan militer Chili. Atase militer AS bahkan ditempatkan di bawah kendali operasional CIA untuk menyampaikan perintah kudeta kepada kontak-kontak militernya. Intel-intel CIA sendiri secara langsung mendorong para perwira militer agar melakukan upaya kudeta di tengah gejolak politik dalam negeri.


Pada 11 September 1973, militer Chili meluncurkan aksi kudeta untuk menggulingkan Allende. Barisan pasukan dan deretan tank mengepung istana. Tepat sebelum siang hari, akhirnya serangan udara diluncurkan ke arah istana. Kobaran api menyelimuti sebagian besar sisi La Moneda. Militer masuk ke dalam dan menggeledah seisi ruangan. Allende ditemukan tewas dengan memegang senapan otamatis di tangannya. Selanjutnya, puluhan ribu pendukung Allende dibunuh dan dihilangkan. Tak lama setelah tanggal 11 September itu, 5000 orang dikumpulkan di stadion utama Santiago untuk diinterogasi atau langsung dieksekusi.

Baca selengkapnya di artikel "11 September 1973: Kudeta Berdarah Chili Tiru Indonesia", https://tirto.id/cwoJ
Kudeta ini dinilai menyerupai kondisi di Indonesia. Arief Budiman dalam Kebebasan, Negara, Pembangunan: Kumpulan Tulisan 1965-2005, mengatakan kesamaan kedua kasus cukup banyak. Berawal dari presiden dengan kecenderungan kiri (nasionalis dan sosialis) yang berkuasa, Soekarno dan Allende. Mereka kemudian menghadapi kudeta militer yang berakhir dengan penggulingan presiden.

"Pinochet mengikuti tindakan Soeharto. Karenanya rencana kudeta terhadap Allende, dia sebut sebagai Operasi Jakarta. Dalam kedua peristiwa itu, keterlibatan Amerika melalui CIA amat besar," tulis Arief dikutip Historia.

Selain itu, Arief melanjutkan, ada penangkapan dan pembunuhan massal. Di Chile, lebih dari 3.000 orang dibunuh dan puluhan ribu orang dipenjara. Sekitar setengah juta sampai satu juta orang dibunuh di Indonesia.


Rampasan Kuasa Brasil 1964
Bevins dalam bukunya juga menyebutkan adanya narasi serupa di Brasil pada tahun 1964. Tepatnya bagaimana kaum konservatif Brasil yang pro-Washington berupaya menggulingkan Presiden Joao Goulart.

Menurut dokumen NSA pula, Presiden Lyndon B. Johnson menginstruksikan bawahannya untuk mempersiapkan kudeta di Brazil pada 31 Maret 1964.

"Saya pikir kita harus mengambil setiap langkah yang bisa kita lakukan, mempersiapkan untuk melakukan apapun yang perlu kita lakukan," katanya.

Ia mengotorisasi militer Amerika Serikat untuk secara terbuka dan tertutup menyediakan senjata, amunisi, bahan bakar, dan kalau perlu, pasukan, jika usaha militer di Brazil untuk menurunkan Goulart berusaha dihentikan.

Pemerintahan nasionalis progresif yang dipimpin Goulart kemudian digulingkan para perwira sayap kanan.


Menurut sejarawan Bradley R. Simpson, kesamaan Goulart dan Sukarno dalam memimpin cukup banyak. Mereka sama-sama nasionalis nonblok, membangun perekonomian dengan arahan negara, memobilisasi kaum miskin pedesaan yang jumlahnya besar, dan menentang investor asing.

Kondisi di Brasil dan Indonesia pun kemudian jadi menemukan kesamaan. Menderita karena inflasi, kekacauan sosial dan ekonomi yang kemudian mendorong krisis politik dalam negeri.

"Seperti yang mereka lakukan di Indonesia, operasi rahasia CIA di Brasil bertujuan mendestabilisasi ekonomi, menebar ketidakpastian, dan menawarkan dukungan kepada beragam kekuatan yang menentang Goulart," tulis Simpson dalam buku "Economist with Guns", dikutip dari Historia.


Lebih lanjut, setelah kudeta berhasil, Amerika Serikat juga bergerak cepat mengakui rezim militer, respon yang serupa dengan peristiwa Gerakan 30 September di Indonesia.

Kudeta Guatemala 1954
Pada 1953, Pemerintah Amerika Serikat mengerahkan CIA untuk mengadakan operasi di Guatemala untuk menurunkan Presiden Jacobo Arbenz Guzman yang dianggap berhaluan komunis.

Arbenz yang memenangkan pemilihan presiden pada 1950, meresmikan hukum reformasi agraria yang dikenal sebagai Decree 900, dua tahun setelah menjadi orang nomor satu di negaranya. Tak lama kemudian, pada 17 Juni 1952, Kongres Guatemala 1952, yang merevolusi redistribusi tanah di Guatemala. Pasalnya, saat itu, hanya 2 persen populasi Guatemala yang menguasai 72 persen lahan di negara itu, 88 persen populasi hanya punya 14 persen total lahan, menukil dari artikel jurnal tahun 2002 oleh Douglas W. Trefzger soal reformasi hukum agraria.

Akhirnya, pada 2 tahun diberlakukannya hukum itu, ada lebih dari 600 ribu hektar tanah yang diredistribusikan pada sekitar 100 ribu keluarga di Guatemala, mengutip artikel jurnal tersebut.


Mengacu ke dokumen NSA, redistribusi ini memacu Amerika Serikat ambil tindakan. Kebijakan tersebut memang membawa kesejahteraan bagi masyarakat kelas bawah, namun reformasi agraria dinilai CIA sebagai potensi terbuka untuk radikalisasi. Selain itu redistribusi tanah bisa digunakan komunis untuk memobilisasi massa pekerja pedesaan.

Hal ini diperparah dengan perusahaan buah asal Amerika Serikat, United Fruit Company, yang beroperasi di Guatemala. Kebijakan Decree 900 membuat pemerintah menyita lebih dari 100 ribu hektar lahan mereka yang divaluasi 1 juta dolar AS. United Fruit mengklaim valuasinya sebetulnya mencapai 20 juta dolar AS. Mereka lantas meminta pemerintah Amerika Serikat melakukan intervensi.

Kudeta dengan sandi PBSuccess kemudian dilangsungkan dan mencapai puncaknya pada 17 Juni 1954 dengan mengusung aktor militer Carlos Castillo Armas. CIA memberi dukungan lewat serangan udara dan siaran propaganda antipemerintah, serta penyebaran disinformasi untuk menjatuhkan semangat juang militer Guatemala. Strategi yang terakhir terbukti sukses dan mendorong Arbenz lengser dan mengasingkan diri ke Meksiko.

Guatemala kemudian dipimpin oleh Castillo yang menang pemilihan umum 1954 dan langsung menghentikan semua kebijakan Arbenz termasuk Decree 900. Tokoh oposisi ditangkap dan gerakan dan serikat buruh dilarang.

Kemudian, meskipun Arbenz berhasil melarikan diri, kelompok-kelompok hak asasi manusia (HAM) mengestimasi bahwa operasi represif dari rezim militer negara tersebut dari tahun 1954 hingga 1990 telah menewaskan 100.000 orang sipil, menurut catatan NSA.

Operasi Burung Kondor
Operation Condor atau Operasi Burung Kondor adalah sistem intel rahasia dan operasi yang dibentuk pada tahun 1970-an dimana rezim militer Amerika Selatan melakukan koordinasi dan berbagi informasi intelijen dan menyita, menyiksa, serta mengeksekusi lawan-lawan politik di operasi lintas perbatasan, menukil dari artikel jurnal terkait operasi ini oleh J. Patrice McSherry.

Menurut El Centro de Estudios Legales y Sociales (CELS), organisasi HAM Argentina, tujuan dari Operasi Burung Kondor adalah mempersekusi dan mengeliminasi aktivis politik, sosial, organisasi buruh, dan pelajar, termasuk gerakan gerilya dan partai-partai dan kelompok kiri, dari Argentina, Uruguay, Chili, Paraguay, Bolivia dan Brazil.

CELS juga mencatat bahwa Operasi Burung Kondor dimulai pada 28 November 1975 di Santiago, Chili, pada sesi penutupan Pertemuan Pertama Intelijen Nasional, dan ditandatangani oleh perwakilan intelijen dari Argentina, Bolivia, Chili, Uruguay, dan Paraguay.

Menurut catatan CELS juga, dokumen-dokumen yang telah dideklasifikasi menunjukkan bahwa berbagai agensi pemerintah AS telah mengetahui soal koordinasi represif negara-negara Amerika Latin ini.


Operasi Burung Kondor disebut sebagai bagian dari kebijakan trans-Amerika yang luas dan sistematis yang secara aktif dijalankan oleh Amerika Serikat di bawah panji antikomunisme. Operasi ini digelar sebagai respon dari kemenangan gerakan kiri di Amerika Latin pada tahun 1960-1970an lewat pemilu. AS mulai khawatir. Berangkat dari situasi tersebut, AS lantas mengajak, mendanai, dan mendukung terciptanya operasi gabungan beberapa negara Amerika Latin untuk menghalau pengaruh kiri.


Berawal dari sarana tukar informasi intelijen, operasi kemudian berubah menjadi organisasi yang mengidentifikasi, mencari, dan melenyapkan siapapun yang dipandang memusuhi pemerintah sayap kanan maupun kediktatoran militer fasis yang didukung CIA. Operasi Burung Kondor berperan dalam menghilangkan 30 ribu warga Argentina selama Perang Kotor dan menewaskan oposisi Chili Orlando Letelier dalam ledakan bom mobil.

Baca juga artikel terkait PERIKSA DATA atau tulisan menarik lainnya Alfons Yoshio Hartanto
(tirto.id - Mild Report)

Penulis: Alfons Yoshio Hartanto
Editor: Farida Susanty

DarkLight