28 Mei 1995

Jejak Hidup Arifin C. Noer: Antara Mimpi dan Kekang Negara

Oleh: Indira Ardanareswari - 28 Mei 2019
Dibaca Normal 4 menit
Film G30 S PKI melibatkan 122 pemain dan 10.000 figuran.
tirto.id - Arifin Chairin Noer yang meninggal pada 28 Mei 1995, tepat hari ini tiga windu lalu, dikenal sebagai dramawan sekaligus sutradara film autodidak yang sangat berbakat. Melalui media teater dan film arahannya, Arifin hampir tidak pernah luput menyertakan nilai-nilai humanis sekaligus kritik sosial yang selalu dapat dijadikan bahan renungan.

Arifin sudah tertarik mendalami dunia sastra sejak usia sekolah. Di kota kelahirannya Cirebon, Arifin tidak tamat SMA. Dia malah pamit merantau ke Solo agar dapat pindah ke SMA Jurnalistik dan bergabung ke Lingkaran Drama Rendra dan Himpunan Sastrawan Surakarta.

Perantauan Arifin tidak lantas berhenti di Solo. Arifin kemudian melanjutkan kuliah di Yogyakarta. Di kota pelajar itulah, ia berkesempatan menimba pengalaman di Teater Muslim yang dipimpin oleh Mohammad Diponegoro.

Menurut catatan Jamal D. Rahman dalam 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh (2014), barulah pada usia 27 tahun Arifin hijrah ke Jakarta. Sekitar tahun 1968, ia mendirikan perkumpulan teater eksperimental yang bernuansa kekeluargaan bernama Teater Ketjil. Di sanalah Arifin menjelma menjadi fenomena penting dalam sastra Indonesia (hlm. 505-506).

Arifin memulai debut penyutradaraannya lewat Suci Sang Primadona (1977), setelah belajar memanggul kamera selama satu tahun kepada Wim Umboh. Sebenarnya, film bukan dunia baru bagi Arifin. Sebelumnya, ia sudah pernah terlibat sebagai penata naskah setelah diajak menjadi bagian Sindikat Penulis Script Film yang dibentuk oleh Wahyu Sihombing di tahun 1971.

Di antara seluruh film arahannya, film Penumpasan Pengkhianatan G30 S PKI menjadi filmnya yang paling membekas dalam sejarah. Arifin bisa jadi beruntung, karena dari sekian banyak sutradara berbakat dia yang dipilih pemerintah Orde Baru untuk menggarap film sejarah kolosal paling ambisius yang menghabiskan biaya 800 juta sampai 1 milyar rupiah.

Di lain pihak, Arifin mungkin juga sedang sial. Pekerjaan itu menyita pikiran dan sebagian besar waktunya selama dua tahun penuh. Belum lagi proses pengambilan gambar yang melelahkan dengan melibatkan tidak kurang dari 122 pemain, 10.000 figuran, dan ratusan set film yang menyebar di Jakarta dan Bogor.

Pengalaman Penyutradaraan Paling Edan


Film Pengkhianatan G30 S PKI pertama kali diedarkan di bioskop-bioskop Indonesia pada paruh kedua tahun 1984. Antrian mengular calon penonton seolah menjadi pemandangan biasa di muka pelataran gedung bioskop yang memutar film ke-7 sejak debut penyutradaraan Arifin C. Noer tersebut.

Tak hanya di Jawa saja, antusiasme serupa juga nampak di luar pulau. Pekan pertama pemutarannya saja berhasil menyedot ratusan ribu penonton. Pewartaan Kompas (21/11/1984) menyebutkan sukses komersial film Pengkhianatan G30 S berhasil menghidupkan kembali distributor-distributor film luar daerah yang hampir bangkrut.

“Yah, kerja film memang di situ enaknya. Ada jackpotnya. Dengan hasil ini, semua kerugian produksi saya beberapa waktu lalu sudah lunas,” kata Tirtoyuwono dari Sanggar Film yang membeli hak edar film Pengkhianatan G30 S untuk wilayah Jawa Tengah dan Medan.

Di balik rekor komersialnya, pengalaman sang sutradara selama proses syuting ternyata lebih menakjubkan lagi. Arifin mendeskripsikan pengalamannya ini dengan sebutan “gila” dan “edan”. Arifin mengaku sangat kewalahan menata ribuan casting dan membawahi seluruh proses pengambilan gambar di saat bersamaan.

Arifin mendedikasikan hidupnya selama dua tahun penuh hanya untuk memikirkan kesempurnaan film pesanan pemerintah berbiaya fantastis itu. Kendati sudah disodori sumber-sumber dari pemerintah, Arifin tidak ingin sekedar mencerna dengan kepala kosong.

Pokoknya film ini harus sempurna, pikir Arifin. Untuk itu, ia mulai membaca banyak sumber, mencari saksi sejarah, dan mereka properti semirip mungkin dengan aslinya. Arifin juga mengutus kru riset kostum yang juga adalah istrinya, Jajang C. Noer, untuk memberondong Soeharto dengan pertanyaan-pertanyaan detail seputar baju dinas militer yang malah membuat Presiden Indonesia ke-2 itu merasa risih.



Untuk urusan pemain, Arifin pun tidak ingin main-main. Ketimbang memakai bintang-bintang tenar yang berparas ganteng atau ayu, ia lebih memilih mencari pemain-pemain amatir yang memiliki ciri-ciri fisik mendekati tokoh asli.

Arifin ternyata memiliki metode pencarian pemain baru yang cukup efektif, meski menyita waktu. Menurut Jajang, seperti yang dikutip dari Tempo.co, sebelum proses syuting dimulai Arifin menyebar asisten-asisten produksi ke berbagai tempat ramai untuk mencari orang yang mirip dengan tokoh asli.

Saat proses pengambilan gambar dimulai, barulah sang sutradara dengan piawai mengarahkan akting sang pemain baru. Tentu saja ini menjadi pekerjaan berat bagi Arifin agar akting para pemain terlihat meyakinkan, belum lagi tokoh sejarah yang muncul dalam film Pengkhianatan G30 S jumlahnya mencapai ratusan.

Sayangnya, Arifin tidak berhasil menemukan “Soekarno”. Dari sekian banyak kandidat yang ada, Arifin tidak bisa mendapati aura kharismatik Pemimpin Besar Revolusi yang ia cari. Akhirnya, Arifin berpaling kepada Umar Kayam sebagai harapan terbaiknya.

Tempo (7/4/1984) melaporkan, saat didatangi Arifin, Umar Kayam seolah tak bisa mengelak lagi. Kendati menunjukan sikap positif, ahli sosiologi itu tidak serta merta setuju memainkan peranan Bung Karno. Terlebih dahulu, Kayam meminta syarat.

“Soekarno itu orang hebat. Jangan sampai film ini malah mendiskreditkannya,” pinta Kayam, diikuti anggukan Arifin.

Sumber yang sama juga menguraikan perasaan frustrasi Arifin akibat kegagalannya mengumandangkan suara asli Bung Karno dalam pidato 17 Agustus 1965. Sekeras apapun Arifin mencari, ia tetap tidak bisa menemukan rekaman suara pidato bertajuk “Tahun Berdikari” itu. Hanya salinan teksnya saja yang tersisa.

Arifin kemudian mengajak Kusno Sujarwadi, pemain watak berlogat Jawa yang khas untuk melakukan dubbing pidato Soekarno. Arifin merasa logat Jawa Sujarwadi apabila ditekuk sedemikian rupa dengan volume tertentu akan sangat pas mewakili suara asli Bung Karno.

Tidak Suka Dikekang


Berdasarkan buku Yang Datang Telanjang: Surat-surat Ajip Rosidi dari Jepang, 1980-2002 (2008), Arifin C. Noer sempat mengutarakan keinginannya untuk berhenti membuat film dalam surat tertanggal 10 Februari 1984. Keputusan Arifin yang mendadak itu tentu saja mengundang rasa kaget sekaligus penasaran Ajip (hlm. 259).

Seperti yang tersirat dalam surat balasan Rosidi kepada Arifin, nampaknya keputusan Arifin berkaitan dengan kekecewaannya terhadap hubungan kerja dengan Pusat Produksi Film Negara (PPFN). Sejak tahun 1980, Arifin diketahui banyak menggarap film-film pesanan pemerintah yang bertutur tentang heroisme Soeharto, seperti Serangan Fajar (1981), Djakarta 1966 (1982), dan Pengkhianatan G30S PKI (1984).

Pengakuan Arifin ini juga keluar tidak lama setelah film Pengkhianatan G30S PKI selesai disunting. Sebelum dilepas ke bioskop, sekitar bulan Januari 1984, Presiden Soeharto dikabarkan sempat menyaksikan film buah karya Arifin itu di Istana Negara. Menurut Tempo (7/4/1984), Soeharto tidak banyak berkomentar, hanya saja ia merasa masih banyak yang belum diceritakan.



Sejak akhir periode 1970-an, pemerintah memang semakin tertarik mendorong propaganda rezim lewat film. Orang yang diberikan tanggung jawab mengurus masalah ini ialah Brigadir Jenderal G. Dwipayana yang kala itu mengepalai PPFN.

Menurut Krishna Sen dalam Kuasa dalam Sinema: Negara, Masyarakat dan Sinema Orde Baru (2009), harapan pemerintah tersebut kemudian berkembang menjadi keinginan untuk tidak sekadar membuat film propaganda berbiaya besar, tetapi juga harus baik dan artistik. (hlm. 168). Atas dasar itu, Dwipayana sengaja menarik Arifin untuk dilibatkan dalam percobaan produksi film sejarah yang ceritanya diolah sendiri oleh pemerintah Orde Baru.

Infografik Mozaik Arifin C Noer
Infografik Mozaik Arifin C Noer


Bukan gaya Arifin C. Noer untuk mengikuti arahan orang lain. Kendati merasakan tekanan, ternyata Arifin tetap menerima tawaran Dwipayana. Dalam industri perfilman kala itu, negosiasi antara pemegang kapital dengan sutradara film memang sudah menjadi hal yang lumrah.

Jan van der Putten melalui tulisannya yang dirangkum dalam antologi Traditions Redirecting Contemporary Indonesian Cultural Productions (2017) menuturkan bahwa demi meyakinkan Arifin, Dwipayana mengatakan akan membiayai film Matahari-Matahari buah karya Arifin yang sempat mandek lantaran kekurangan dana. Sebagai gantinya, Arifin harus mau menjadi sutradara film pendidikan Orde Baru (hlm. 107).

Pada akhirnya, biaya produksi film yang bertutur tentang hubungan petani miskin dengan penyanyi dangdut idaman Arifin tidak pernah keluar dari kantong pemerintah. Arifin sendiri terjebak hubungan kerja dengan PPFN dari tahun 1980 sampai 1984. Walhasil, film Matahari-Matahari yang dia cita-citakan baru berhasil dibuat sekitar tahun 1985 atas bantuan Josephus Adisubrata dari Gramedia Film.

Selama membuat film Pengkhianatan G30S PKI, Arifin harus melewati gangguan yang berasal dari idealisme keseniannya sendiri. Jajang C. Noer sempat bilang bahwa suaminya itu rela berkeliling mencari narasumber dari pihak PKI untuk memperkaya referensi, namun hasilnya nihil.



Satu-satunya data yang bisa dipakai adalah naskah yang sudah disusun oleh Nugroho Notosusanto, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kala itu. Arifin merasa apa yang dimiliki sangat terbatas, padahal ia menginginkan lebih.

Hal senada juga pernah dipaparkan Tempo (7/4/1984) yang menyebut waktu dua tahun tidaklah cukup untuk menentukan arah cerita film sejarah sekompleks itu. Disebabkan porsi sejarahnya yang terlalu besar, Arifin sempat merasa kesulitan saat harus menggarap Pengkhianatan G30S PKI menggunakan kaidah perfilman yang biasa.

Selain itu, Arifin juga merasa kreativitasnya telah dipangkas karena ia tidak diperkenankan menciptakan tokoh fiktif, seperti yang pernah dilakukannya dalam Serangan Fajar melalui tokoh Temon. Akibatnya, Arifin merasa gagal lantaran cita-citanya mengubah Pengkhianatan G30S PKI menjadi film pendidikan yang punya nilai humanis tidak pernah tercapai.

Baca juga artikel terkait SEJARAH atau tulisan menarik lainnya Indira Ardanareswari
(tirto.id - )

Penulis: Indira Ardanareswari
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight