Obituari

Jejak Arifin Panigoro Mendorong Upaya Pemberantasan Tuberkulosis

Penulis: Aditya Widya Putri - 9 Apr 2022 10:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Selain bisnis dan politik, Arifin Panigoro juga menaruh perhatian pada isu eradikasi tuberkulosis. Turut mendorong terbitnya Peraturan Presiden tentang TB.
tirto.id - “Isu sosial bukan pekerjaan remah. Tak bisa dikerjakan secara sukarela atau volunter, harus dikelola secara profesional,” demikian perkataan Arifin Panigoro sebagaimana dituturkan kembali oleh rekan seperjuangannya Nurul Nadia.

Dunia mengenal sosok Arifin Panigoro sebagai seorang pengusaha, Raja Minyak Indonesia, pendiri MedcoEnergi yang merupakan perusahaan minyak dan gas bumi swasta terbesar di negara ini. Sepak terjangnya di dunia politik juga moncer. Selain pernah menduduki kursi legislatif, Arifin juga didapuk menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Presiden 2019-2024.

Tapi berbeda dari dua bidang itu, publik agak awam melihat kiprahnya di dunia kesehatan. Padahal, seperti kerja-kerja profesional lainnya, Arifin juga pol-polan mendorong pengentasan beban penyakit bagi negara, terutama yang berkaitan dengan kemiskinan. Tuberkulosis (TB) salah satunya.

Masih segar dalam ingatan Nurul Nadia, kira-kira seminggu sebelum Arifin mendapat diagnosa kanker paru, mereka berbincang mengenai peluang daerah percontohan tanggap TB. Nurul, Ketua Yayasan Stop TB Partnership Indonesia (STPI), adalah rekan kerja lintas generasi yang langsung diminta Arifin untuk berjuang bersama memerangi TB Indonesia.

Arifin sudah mengeluh sakit kala itu, tapi dia masih terlalu bersemangat memberi pidato tentang urgensi pengentasan TB di salah satu fakultas kedokteran di Bandung dengan didampingi dua rekan dari STPI. Saat itu, Arifin menjabat sebagai Dewan Pembina STPI.

Kata Nurul, Arifin tak pernah menjadikan kerja-kerja sosialnya sebagai ritual sampingan. Dia selalu meminta anak-anak muda sebagai roda penggerak organisasi, alih-alih generasi “tua” dengan segudang pengalaman. Bagi Arifin, napas muda membikin kerja-kerja sosial jadi profesional dan maksimal sehingga lebih efektif dan efisien dalam mencapai target pengentasan TB.

Dalam setiap program, dia selalu minta standar yang tinggi kepada tim. Katanya kalau mau maju, harus banyak generasi muda turun tangan. Soal urusan sumber dana nanti bisa dicarikan (oleh Arifin),” ujarnya.

Bagi Nurul, Arifin merupakan sosok mentor yang egaliter dan terbuka pada masukan dari segala kelompok, tanpa memandang umur dan status sosial.

Program Eliminasi TB

Arifin Panigoro pertama kali terjun dalam program eliminasi TB berkat campur tangan sang istri, Raisis Kartiwa atau lebih karib dikenal dengan nama Raisis A. Panigoro. Raisis yang aktif dalam Perkumpulan Pemberantasan Tuberkolosis Indonesia (PPTI) sejak 1995 beberapa kali membawa Arifin ikut dalam kegiatan sosial.

Di samping aktif di PPTI, Raisis juga berkontribusi di Komnas Pengendalian Tembakau, organisasi yang fokus pada pengentasan bahaya rokok. Kedua organisasi itu memiliki isu beririsan karena rokok meningkatkan risiko TB yang pada akhirnya sama-sama membuat beban kesehatan negara.

Singkat cerita, Arifin pun ikut “nyemplung” dalam kedua isu tersebut. Pengalaman panjang mendampingi sang istri membuat Arifin membina sendiri Forum Stop TB Partnership Indonesia sejak tahun 2013. Dia kemudian mendirikan yayasan kemitraan strategis tuberkulosis Indonesia, yakni Stop TB Partnership Indonesia (STPI) pada 2018.

Arifin dan Raisis juga berkolaborasi aktif di Komnas Pengendalian Tembakau. Arifin pada posisi Dewan Penasihat, sementara Raisis memanggul tugas dalam bidang pengembangan dana. Mereka kompak mencurahkan tenaga dan materi untuk membantu orang-orang dengan TB—yang kebanyakan berada di bawah garis kemiskinan.

Kebetulan saya diberikan kelebihan oleh Tuhan dalam hal materi. Dari hal itulah kita bisa berbagi.” kata Raisis seperti dilansir dari Republika.

Memang TB berkaitan erat dengan kemiskinan karena bakteri penyebab TB, Mycobacterium tuberculosis, berkembang di lingkungan lembab, kurang sinar matahari, sanitasi buruk dan tidak higienis.

Saya mengajak Bapak (Arifin Panigoro). Nah, dia serius di sini. ‘Saya mendukung,’ katanya. Dia secara finansial ada dan mau membantu,” tutur Raisis.


Infografik Arifin Panigoro dalam Pengentasan TB
Infografik Arifin Panigoro dalam Pengentasan TB. tirto.id/Quita


Mendorong Terbitnya Peraturan Presiden

Putaran waktu Arifin Panigoro berhenti pada Senin 27 Februari 2022. Dia tutup usia saat menjalani perawatan di Minneapolis, Amerika Serikat. Namun, kepergiannya bukan berarti akhir dari perjuangan pengentasan TB. Napas pergerakan dan semangat Arifin masih diteruskan oleh rekan-rekan mudanya.

Setidaknya selama empat tahun belakangan ini, Arifin bersama STPI telah memberi kontribusi besar pada upaya eliminasi TB di level regional, nasional, dan global. Dia banyak menggunakan relasi bisnis dan politik untuk memperkuat upayapencegahan dan pengendalian TB di Indonesia. Menurut Arifin, pemangku kepentingan harusnya bersinergi untuk menangani masalah ini secara strategis.

Pada 2018, misalnya, STPI bersama Kementerian Kesehatan menyelenggarakan dua acara dalam Sidang Umum PBB tentang Tuberkulosis. Di tahun berikutnya, Arifin menggagas pertemuan multisektor dan lintas kementerian atau lembaga terkait eradikasi TB.

Presiden Jokowi kabarnya mengangkat Arifin menjadi salah anggota Watimpres juga lantaran kiprahnya di isu sosial tersebut, alih-alih sektor pertambangan sebagai bisnis utama miliknya.

Saat baru diangkat, Presiden mengajak Arifin membicarakan TB, sesuatu yang menarik perhatian besar Presiden juga Pak Arifin karena Indonesia menyumbang kasus ketiga terbesar di dunia,” ungkap mantan Direktur Penyakit Menular Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Asia Tenggara Tjandra Yoga Aditama seperti dikutip Liputan6.

Setiap tahun, jumlah kasus TB di Indonesia memang selalu masuk tiga besar di antara negara-negara dengan kuantitas insiden tertinggi. Estimasi kejadiannya mencapai lebih dari 842 ribu kasus dengan angka kematian lebih dari 98 ribu jiwa per tahun—setara 11 nyawa per jam.

Usaha keras Arifin dalam program pengentasan TB mulai berbuah signifikan, ketika pada 2020 bersama Presiden Jokowi, dia membuat Gerakan Bersama Menuju Eliminasi TB di Cimahi, Jawa Barat. Momentum tersebut berhasil mendorong terbitnya Peraturan Presiden Nomor 67/2021 tentang Penanggulangan TB.

Membaca perjalanan hidup Arifin di bidang penguatan kesehatan nasional terasa anomali, memang. Seperti kurang masuk logika, orang yang hidup lebih dari berkecukupan memilih “repot” menangani masalah penyakit yang berhubungan dengan kemiskinan.

Tapi itulah Arifin, sosok “pejuang” yang tidak memanggul senjata di pundaknya, tidak juga berperang di medan tempur. Namun, dia tak pernah mengenal kata puas untuk membantu dan membuat perubahan bagi Indonesia.

Baca juga artikel terkait TUBERKULOSIS atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Fadrik Aziz Firdausi

DarkLight