Jangan Sampai Peringatan Maulid Nabi Jadi Klaster Baru Corona

Oleh: Riyan Setiawan - 28 Oktober 2020
Dibaca Normal 2 menit
Peringatan Maulid Nabi harus menerapkan protokon kesehatan agar tidak memunculkan klaster baru COVID-19.
tirto.id - Maulid Nabi Muhammad saw biasanya diperingati dengan pengajian bersama, bazar, hingga kadang-kadang pawai oleh umat Islam. Semua dengan suasana riang gembira. Namun tahun ini, yang perayaannya jatuh pada Kamis 29 Oktober besok, nampaknya agak berbeda. Sebab Indonesia, juga seluruh dunia, tengah dilanda pandemi COVID-19.

Pakar epidemiologi dari Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono mengingatkan jika peringatan maulid sama seperti tahun-tahun lalu, maka ia sangat rawan memicu penyebaran COVID-19, bahkan berisiko menjadi klaster baru.

"Kalau penyelenggaraan maulid tidak menggunakan protokol kesehatan, berisiko meningkat penyebaran COVID-19. Itu sudah pasti," kata Pandu kepada reporter Tirto, Selasa (27/10/2020).

Peringatan maulid biasanya diselenggarakan beramai-ramai sehingga menimbulkan kerumunan tanpa jaga jarak. Kemudian para jemaah juga minim yang menggunakan masker dan mencuci tangan. Ditambah lagi jika acara diselenggarakan di dalam ruangan yang minim ventilasi.

Sejumlah kegiatan keagamaan terbukti jadi tempat penyebaran COVID-19. Salah satu yang paling mencolok adalah acara bernama Ijtima Dunia Zona Asia 2020 yang digelar 19 hingga 22 Maret di Gowa, Sulawesi Selatan. Kendati dibatalkan, orang-orang sudah kadung kumpul. Di kemudian hari sejumlah daerah melaporkan kasus positif dari orang-orang yang sempat datang ke acara ini. Penularan bahkan berlanjut ke orang terdekat yang tidak mengikuti kegiatan.

Penyebaran virus dari klaster ini menyeberang laut hingga ke Temanggung, Banyumas, Purbalingga, bahkan Nusa Tenggara Barat.


Seorang pakar kesehatan ketika itu mengatakan nihinya karantina jadi biang keladi penyebaran virus. Ketika itu orang-orang yang datang hanya ditampung 3-4 hari sebelum pulang ke daerah asal, padahal maksimal butuh 14 hari untuk melihat gejala yang muncul dari virus ini.

Terdapat pula beberapa kegiatan keagamaan lain yang menjadi klaster penularan COVID-19 di DKI Jakarta, episentrum penyebaran virus, hingga 23 Oktober 2020. Misalnya Masjid Jami Taman Sari 80 kasus; Masjid Jami Tanjung Priok 32 kasus; tahlilan Kalideres 3 kasus; tahlilan RT 1 dan 2 Wijaya Kusuma 29 kasus; takziah Duren Sawit 14 kasus; takziah Kemayoran 5 kasus; dan takziah Palmerah 5 kasus.

Antisipasi Penyebaran

Atas dasar itu semua, Pandu Riono, juga pengajar di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UI, menyarankan agar umat Islam menerapkan protokol kesehatan jika ingin menyelenggarakan maulid, baik di tempat ibadah atau ruang terbuka. Menjaga diri sendiri berarti turut pula menjaga orang lain.

Selain itu penyelenggara juga wajib mengawasi penerapan protokol kesehatan dan bahkan membentuk tim khusus untuk itu.

Kemudian, mereka wajib juga membersihkan dan menyemprotkan disinfektan di area peringatan; lalu membatasi jumlah jalur keluar masuk tempat pelaksanaan guna memudahkan penerapan dan pengawasan protokol kesehatan; dan menyediakan fasilitas cuci tangan/sabun/hand sanitizer di jalur masuk dan keluar.

Lalu menyediakan alat pengecekan suhu di jalur masuk. Jika ditemukan jemaah dengan suhu lebih dari 37,5 derajat celcius dan tak mengenakan masker, tidak diperkenankan memasuki area peringatan. Selanjutnya membatasi jumlah undangan yang hadir, yakni 50 persen dari kapasitas tempat.

"Hanya jemaah yang mendapatkan undangan saja yang diizinkan mengikuti maulid secara langsung," kata Pandu.

Perlu juga menerapkan pembatasan jarak dengan memberikan tanda khusus minimal per satu meter. Jemaah anak-anak dan lansia, untuk sementara waktu, juga sebaiknya tidak mengikuti penyelenggaraan maulid secara langsung.


Untuk mengakomodasi orang banyak, penyelenggara dapat, misalnya, menyiarkan peringatan maulid secara daring melalui Zoom, media sosial, atau Youtube. "Panitia harus sosialisasi agar jemaah mengikutinya lewat online saja."

Lebih lanjut, Pandu meminta agar panitia tidak menggelar bazar yang berpotensi menimbulkan kerumunan dari luar. Hal ini juga berlaku bagi acara pawai yang biasanya juga jadi rangkaian acara.

"Sebaiknya jangan dilakukan kegiatan yang menimbulkan kerumunan," katanya.

Pemerintah telah mengimbau hal serupa. Menteri Agama Fachrul Razi misalnya meminta warga "jaga jarak, pakai masker, cuci tangan, dan hindari kerumunan" melalui keterangan tertulis, Selasa (27/10/2020). "Mari terus memperbanyak selawat. Di saat pandemi, mari sambut hari kelahiran pembawa risalah Islam rahmatan lil'alamin ini dengan tetap mematuhi protokol kesehatan."

Sementara Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Mahfud MD meminta sebaiknya peringatan "dikurangi dulu." "Ambil hikmahnya saja maulid itu, seperti melakukan refleksi dari kelahiran Nabi Muhammad, agar kita hidup menjadi lebih baik," kata Mahfud, dikutip dari laman Polkam.go.id.

Baca juga artikel terkait HARI MAULID NABI atau tulisan menarik lainnya Riyan Setiawan
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Riyan Setiawan
Penulis: Riyan Setiawan
Editor: Rio Apinino
DarkLight