Jangan Pernah Lupa Memakai Tabir Surya

Oleh: Widia Primastika - 25 Agustus 2018
Dibaca Normal 3 menit
Sinar matahari yang mendarat di kulit Anda bukanlah hal sepele. Pelembap saja tak cukup.
tirto.id - Sinar matahari adalah surga bagi mereka yang terbiasa hidup dalam musim-musim minim surya. Namun, iaa juga bisa membawa masalah. Amyatun (23), misalnya. Ia merasa kulitnya terasa kering jika berada di bawah sinar matahari. Untuk melindungi kulit, ia memakai pelembap, satu kali setelah mandi tanpa takaran yang pasti.

“Aku enggak pernah pakai tabir surya. Aku rasa pelembap sudah cukup, yang penting SPF-nya tinggi,” ujar Amy.

Resla Aknaita Chak (24) berbeda. Ia menggunakan pelembap dan tabir surya setiap hari. Jika hanya menggunakan pelembap, Resla selalu merasakan perih pada kulitnya saat terkena sinar matahari. “Untuk mengurangi dampak dari paparan sinar matahari, misalnya kulit terbakar dan kusam,” kata Resla.


Biasanya, Resla mengawali dengan menggunakan pelembap, kemudian tabir surya. “Setiap aku merasa kulit mulai kering, aku langsung olesin lagi. Jadi barang bawaan wajib,” tutur Resla.

Efektivitas Tabir Surya dan Pelembap

Penggunaan tabir surya sangat penting untuk melindungi kulit dari paparan sinar ultraviolet, baik UV A maupun UV B. Menurut studi berjudul “Sunscreens” yang ditulis oleh Guido Bens (PDF), UV A menembus kulit lebih dalam jika dibandingkan dengan UV B. Bagian utama dari UV B tersebut akan diserap atau disebarkan oleh stratum korneum.

Sebanyak 20 persen dari sinar UV B akan mencapai pada lapisan epidermis spinous dan 10 persen pada demis superfisial. Sementara itu, UV AR dan cahaya tampak sedikit terserap oleh stratum korneum. Namun, setelah penyerapan oleh melanin, 30 persen dari UV A akan menyentuh sel basa epidermis, 20 persen mencapai dermis retikuler, dan 1 persen dari sinar UV A akan menembus hingga batas subkutis.


Bens juga menyebutkan bahaya dari sinar ultraviolet saat masuk ke kulit antara lain kulit terbakar, degenerasi kulit, fotosensitivitas pada kulit yang menyebabkan penyakit porfiria, fototoksisitas, penuaan kulit, hingga kanker kulit.

Bagaimana jika kita hanya menggunakan pelembap dalam keseharian di bawah terik matahari?

Pada Juli 2018 lalu, para peneliti dari New University of Liverpool memaparkan hasil studinya dalam helatan pertemuan tahunan The British Association of Dermatologists di Edinburg. Mereka menunjukkan bahwa pelembap, yang mengandung SPF sekalipun, tidak lebih baik dalam memberikan perlindungan terhadap matahari jika dibandingkan dengan tabir surya.

Dalam penelitian tersebut, para peneliti menggunakan kamera yang telah dimodifikasi agar bisa melihat efektivitas penggunaan tabir surya dan pelembap yang mengandung SPF. Caranya, mereka menggunakan sebuah tabir surya SPF 30 dan sebuah pelembap dengan SPF 30 yang dioleskan pada wajah 60 orang responden (14 pria dan 46 perempuan berusia 18-57 tahun), secara bergantian. Kemudian, mereka diberi sinar ultraviolet intensitas rendah dan difoto dengan kamera khusus.

Hasilnya, mereka melihat jika sinar ultraviolet lebih sedikit diserap oleh pelembap. Saat menggunakan tabir surya, rata-rata responden kehilangan 11 persen wajah mereka. Pada responden yang menggunakan pelembap, mereka bisa kehilangan 16 persen wajah mereka.


Hal yang sama juga terlihat saat kedua pelindung matahari itu dioleskan pada kelopak mata. Penggunaan tabir surya hanya menghilangkan 14 persen kulit mereka, sedangkan pada pelembap mencapai 21 persen. Kelopak mata merupakan salah satu bagian penting selain area di antara kedua mata, dan jembatan hidung. Daerah-daerah tersebut merupakan daerah medial canthus atau area sel basal karsinoma (tumor) terbentuk.

Infografik pelembab vs tabir surya


Cara Menggunakan Tabir Surya

Untuk mendapatkan perlindungan maksimal pada kulit, kita tak bisa asal ketika mengaplikasikan tabir surya. Terry Slevin, Direktur Pendidikan dan Penelitian dari Cancer Council Western Australia, pernah menulis artikel tentang “Bagaimana cara kerja tabir surya, apa itu SPF dan apakah saya masih dapat menghitam meski pakai tabir surya?” yang dimuat The Conversation.

Ia menunjukkan bahwa dalam tabir surya terkandung bahan aktif dan emulsi. Di antara kedua bahan tersebut, bahan aktiflah yang bekerja melindungi kulit, yang terbagi menjadi zat penyerap UV dan zat pemantul UV.

“Penyerap UV adalah zat kimia yang dapat mengurangi radiasi UV dan mengubahnya ke tingkat panas yang rendah. Sebagian kecil orang mengatakan penggunaan tabir surya membuat mereka merasakan panas yang tidak nyaman pada kulit,” kata Slevin pada The Conversation.


Slevin menganjurkan kita untuk memilih tabir surya yang memiliki label “broad spectrum”, karena dapat memantulkan sinar UV A dan sinar UV B yang berisiko terhadap kanker kulit. Berdasarkan data Global Solar UV Index yang ditulis oleh WHO, kita disarankan untuk menggunakan pelindung matahari ketika index UV berada pada angka 3 atau lebih.

Slevin menganjurkan kita untuk mengoleskan tabir surya 20 menit sebelum keluar ruangan, agar tabir surya tersebut dapat meresap ke dalam kulit, dan menempel dengan baik. Namun, setelah berada 20 hingga 30 menit di luar ruangan, kita wajib mengoleskannya lagi agar mendapat hasil yang maksimal. Selain itu, hal tersebut juga bermanfaat untuk menutupi bagian yang mungkin terlewatkan saat penggunaan pertama. Setelahnya, kita bisa melapisi tabir surya setiap dua jam sekali.

Jangan terlalu irit saat mengoleskan tabir surya. Satu sendok teh pada setiap bagian tubuh dan wajah adalah takaran yang disarankan. Jika kita sedang menggunakan bikini atau celana pendek, setidaknya kita membutuhkan 35 ml tabir surya.

Berapakah Kandungan SPF yang Tepat?

Ian Olver, Profesor Onkologi dari Cancer Council Australia, menyampaikan bahwa tidak ada tabir surya yang dapat memberikan perlindungan penuh terhadap matahari. Kita pun disarankan tidak terkecoh pada tingkatan SPF yang tinggi dalam komposisi tabir surya.


“Peningkatan filter UV B antara SPF 30+ dan SPF 50+ kecil, meningkatkan perlindungan dari 96,7% menjadi 98%. Itu artinya hanya terjadi peningkatan sebesar 1,3 persen, atau tidak hampir dua kali lipat,” tulis Olver dalam The Conversation.

Menurut Olver, cara terbaik untuk melindungi tubuh dari sinar matahari dengan kombinasi antara pakaian yang dikenakan, tabir surya, topi, kacamata hitam, atau tidak berada di luar ruangan ketika matahari bersinar terik.

Baca juga artikel terkait KESEHATAN KULIT atau tulisan menarik lainnya Widia Primastika
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Widia Primastika
Penulis: Widia Primastika
Editor: Maulida Sri Handayani