Jangan Mengejek Orang Gendut!

Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 21 November 2016
Dibaca Normal 3 menit
"Fat shaming" adalah budaya mengkritik dengan bumbu ejekan yang awalnya ditujukan bagi pengidap obesitas agar termotivasi menguruskan badannya. Sayang, mereka kerap malah depresi berkepanjangan dan makin menambah asupan kalorinya.
tirto.id - Menjaga tubuh agar tetap langsing adalah kewajiban tiap model. Apalagi untuk model seperti Dani Mathers yang rutin memamerkan kemolekan tubuhnya di majalah Playboy. Sayang, pada pertengahan Juli 2016 ia melakukan tindakan tak pantas. Ia memfoto perempuan lain yang sedang telanjang di ruang ganti LA Fitness, tempat ia biasa berolahraga, dan mempostingnya media sosial Snapchat dengan keterangan, “Jika aku terlanjur melihatnya, begitupun Anda!”

Kebetulan korban foto diam-diam itu bertubuh lebih gemuk ketimbang Mathers, dan ditengarai tujuan Mathers mengunggahnya ke Snapchat memang untuk mem-bully-nya. Sesaat setelah foto itu menjadi viral, Mathers segera dikritik netizen yang menyebut tindakan itu sebagai “fat shaming” alias melecehkan tubuh gemuk seseorang, plus melanggar privasi.

Mathers sadar bahwa tindakannya keliru dan tak lama kemudian ia mengunggah video permintaan maaf di Youtube. Namun kasusnya tak berhenti sampai situ. Departemen Kepolisian Los Angeles (LAPD), Amerika Serikat, tetap mengusutnya sebagai tindakan kriminal dan memburu sang korban untuk dimintai keterangan.

Jum'at (4/11/2016) sang pengacara korban Mike Feuer resmi melaporkan Mathers ke LAPD atas tuduhan pelanggaran privasi. Sabtu (26/11/2016) mendatang sang model harus bersiap menerima dakwaan, Jika bersalah, Mathers akan dikenai hukuman penjara selama enam bulan atau denda sebanyak $1.000.

Meski secara hitam di atas putih Mathers sedang dipermasalahkan atas kasus pelanggaran privasi, namun Feuer mengungkapkan bahwa inti dari proses hukum tersebut adalah soal “fat shaming”, yang baginya “memalukan, dan seringnya menyakitkan, disertai dengan konsekuensi jangka panjang.”

“[Fat shaming] Ini adalah sebuah tindakan mengolok-olok dan stigmatisasi kepada korban, meruntuhkan harga diri dan mengabadikan gagasan berbahaya tentang bagaimana penampilan fisik kita dipaksa untuk serupa dengan tubuh yang dianggap sempurna. Meski 'fat shaming' belum dikategorikan sebagai tindakan kriminal, namun kita mesti mengutamakan perkara karakter dan kemanusiaan,” ungkapnya sebagaimana dikutip National Post.

Kasus Mathers membuka kembali wacana “fat shaming” yang sejak beberapa tahun belakangan muncul ke permukaan. Sebagaimana fenomena yang muncul akibat keriuhan orang-orang di media sosial, tak ada definisi yang baku terkait “fat shaming”. Namun, pada dasarnya “fat shaming” adalah kritik yang dilancarkan kepada para orang-orang gemuk dan para pengidap obesitas agar mereka malu akan kondisinya.

Tujuan awalnya sesungguhnya mulia, yakni agar orang-orang yang kelebihan berat badan itu bisa mengubah gaya hidup serta pola makan “kembali ke jalan yang benar”. Sayang, misi suci ini tak menemukan kanal yang tepat di internet. Budaya bullying di dunia maya yang begitu mengakar membuat “fat shaming” hanya menjadi ajang olok-olok, ejekan, dan pelecehan bagi orang-orang gemuk.

Persoalannya, asal-usul seseorang menyandang status obesitas tak sesederhana netizen mengetik kata-kata menyayat hati Twitter, Facebook, atau Snapchat. Mereka sering digeneralisasi menjadi sekumpulan manusia pemalas yang tak pernah menggerakkan badan, penyuka junkfood, dan mengisi waktu luang dengan mengunyah camilan.

Kenyataannya, menurut Dr. Rebbeca Puhl selaku Wakil Direktur Rudd Center for Food Policy and Obesity di University of Connecticut, kegemukan juga disebabkan oleh faktor lain seperti genetis atau serangan penyakit. Dr. Puhl berkata pada The New York Times bahwa banyak penderita obesitas yang berusaha menguruskan badan, namun sekuat apapun usahanya, mereka tetap gagal. Mereka. Kata Dr. Puhl, tentu saja tak ingin disandera obesitas. Maka, alih-alih pelecehan, sesungguhnya yang mereka butuhkan adalah dukungan moral.

Sebagaimana virus diskriminasi lain, sasaran “fat shaming” kemudian menjadi bias. Sasaran para netizen tak hanya ditujukan pada para penderita obesitas, namun semua orang yang sekiranya terlihat gemuk dan bully-able.

Hal ini terutama dialami oleh perempuan yang dalam penelitian Dr. Puhl akan mendapat “fat shaming” saat kisaran indeks massa tubuh melebihi ambang batas, meskipun belum dikategorikan sebagai penderita obesitas. Sedangkan bagi laki-laki “fat shaming” muncul saat sudah benar-benar masuk kategori penderita obesitas. Lebih parahnya, perempuan mendapat paparan “fat shaming” tiga kali lipat lebih sering ketimbang laki-laki.

Biasnya kasus “fat shaming” kemudian juga menjalar ke lingkaran orang-orang gemuk itu sendiri. Depresi atas olok-olok yang diterimanya di ruang publik, “fat shaming” akhirnya dilakukan orang orang gemuk kepada orang gemuk lain. Kata Dr. Kimberly Gudzune dari John Hopkins University School of Medicine, orang-orang itu menstigmatisasi dirinya sendiri untuk kemudian secara katarsis ia lemparkan ke yang lain—meskipun nasibnya serupa.

“Kebencian atas diri sendiri bisa menjadi ciri-ciri paling menonjol pada diri seorang pengidap obesitas,” kata Dr. Kimberly.

Gagal Total

Jadi, apakah “fat shaming” benar-benar bisa dipakai untuk memotivasi seseorang? Kesimpulan dari para peneliti yang mempublikasikan temuannya di Jurnal National Center for Biotechnology Information (NCBI) mengungkapkan, bahwa alih-alih memotivasi subjek yang dikritik untuk lebih berusaha agar makin kurus, “fat shaming” justru membuat mereka makin gemuk.

Mengapa? Sebab korban “fat shaming” rata-rata akan mengalami depresi, stress, dan penurunan “self esteem” alias harga diri dengan sangat drastis. Di dalam kondisi yang demikian dan dalam jangka waktu yang panjang, orang-orang gemuk yang menjadi responden penelitian NCBI itu justru terdorong untuk menambah asupan kalori. Mereka makin menjerumuskan diri ke dalam pola makan yang keliru (dan yang selama ini berkontribusi terhadap berat badan mereka).

Infografik fat shaming


Dalam studi Angelina R. Sutin yang melibatkan 6.157 responden asal AS, misalnya, menyebutkan bahwa responden yang bukan penderita obesitas namun menjadi korban “fat shaming” memiliki tingkat kemungkinan 2,5 kali lebih besar untuk mengalami obesitas di tahun-tahun setelahnya. Sedangkan responden penderita obesitas yang menjadi korban “fat shaming” memiliki tingkat kemungkinan hingga 3,2 kali lebih besar untuk tetap mengalami obesitas di tahun-tahun setelahnya.

Studi lain dilakukan oleh Natasha Schvey dan kawan-kawan dengan melibatkan 73 responden perempuan yang kelebihan berat badan. Sebagian dari mereka dipertontonkan video yang berisi “fat shaming” dan sebagian lainnya tidak. Di akhir studi, didapat kesimpulan serupa bahwa bagi kelompok yang tak dipertonkan video hanya mengonsumsi makanan dengan kandungan 89 kalori, sedangkan kelompok yang dipertontonkan video “fat shaming” mengonsumsi makanan yang mengandung 302 kalori atau tiga kali lipatnya.

Bahkan ada kemungkinan budaya “fat shaming” ini membuat korbannya meninggal. Dalam penelitian lain yang melibatkan 2.436 orang gemuk, korban “fat shaming” dalam segala bentuk tak hanya menjadi depresi. Ada pula resiko 21 kali lebih tinggi untuk para korban menunjukkan perilaku bunuh diri dan resiko 12 kali lebih besar untuk percobaan bunuh diri. Simpulan ini memang sekedar “lompatan spekulatif”, namun tetap masuk akal.

“Fat shaming” adalah contoh penyimpangan dari pepatah “niat yang baik butuh tindakan yang baik pula.” Misi suci yang dibungkus dengan kata-kata yang menyakiti hati pada akhirnya berbuah kegagalan. Jika memang orang-orang, terutama netizen, benar-benar memiliki kepedulian pada orang-orang gemuk dan pengidap obesitas, maka menghentikan “fat shaming” adalah langkah awal yang baik.

Baca juga artikel terkait FAT SHAMING atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Akhmad Muawal Hasan
Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Maulida Sri Handayani