Menuju konten utama
21 September 1629

Jan Pieterszoon Coen dan Orang-Orang Tionghoa dari Selatan

Jan Pieterszoon Coen alias Mur Jangkung mendirikan Batavia dengan bantuan para pekerja Tionghoa.

Jan Pieterszoon Coen dan Orang-Orang Tionghoa dari Selatan
Ilustrasi Mozaik Jan Pieterszoon Coen. tirto.id/Rangga

tirto.id - Jan Pieterszoon Coen lahir di Hoorn, kota pelabuhan penting di Holland Utara, pada 8 Januari 1587. Ia bukan Gubernur Jenderal VOC pertama, namun namanya paling luas diketahui orang Indonesia bahkan masuk dalam legenda tradisional Jawa.

Saat Coen remaja, para pedagang terkemuka Belanda mendirikan persekutuan dagang untuk menjamin nasib mereka dalam perdagangan di Asia. Dunia Asia saat ia remaja bukanlah tanah taklukan atau koloni Belanda, melainkan negeri-negeri merdeka dan bersaing, baik dengan kawan sesama Asia-nya maupun dengan bangsa Eropa yang datang kemudian.

Di Eropa, Republik Belanda (sampai 1795 Belanda berbentuk republik, bukan kerajaan seperti sejak abad ke-19) juga bukan negara maju seperti sekarang. Orang Belanda sedang berusaha lepas dari kungkungan Spanyol, dan kekuatan dagang VOC (Kompeni) yang nantinya merajai Asia masih berkembang dalam tahap yang paling awal. Kelak, remaja yang hidup di zaman ketidakpastian itulah yang menancapkan kuku Kompeni lebih dalam di Nusantara dan menstabilkan kekuatan perusahaan.

Bernard H. M. Vlekke dalam Nusantara: Sejarah Indonesia (2016), mengisahkan bahwa Coen remaja sempat pergi ke Italia dan magang pada seorang pedagang Belanda yang menetap di sana, Joost de Visscher yang punya nama Italia, Pescatore. Negeri-negeri Eropa di selatan memiliki sistem pembukuan yang jauh lebih maju dibanding yang di utara. Di Italia, Coen belajar sistem manajemen perusahaan seperti pembukuan ganda dan sistem pengawasan lewat surat-menyurat antarpos dagang.

Berbekal kemampuan manajerial tersebut, Coen menjadi pegawai pembukuan Kompeni dan bertolak ke Nusantara pada 1607. Persentuhan pertamanya dengan sistem dagang dan konstelasi persaingan Nusantara terjadi di Indonesia Timur. Ia melihat bagaimana negeri-negeri lokal saling bersaing dan kekuatan Eropa tidak hanya memengaruhi konflik, tetapi juga dipengaruhi olehnya. Coen menyaksikan ekspedisi rempah-rempahnya ke Banda gagal, kapten kapalnya dibunuh orang Banda, dan Inggris yang menjadi sekutu Belanda di Eropa, mendukung orang Banda dalam perlawanannya itu. Bagaimanapun, ini adalah masalah dagang dan uang.

Melihat lingkungan penuh persaingan yang tidak menguntungkan bagi kongsi dagang Belanda, Coen mulai menyusun program reformasi politiknya bagi VOC. Ia kemudian dipercaya Gubernur Jenderal VOC yang pertama, Pieter Both (menjabat 1610–1614), untuk menjadi pemegang buku (akuntan) kepala dan direktur dagang di Banten sekitar tahun 1615. Tiga tahun kemudian, Coen menjadi Gubernur Jenderal VOC.

Selain menguasai pengetahuan manajerial, Jurrien van Goor dalam biografinya tentang Coen yang berjudul Jan Pieterszoon Coen (1587–1629): Koopman-koning in Azië [Jan Pieterszoon Coen (1587–1629): Raja Pedagang di Asia] (2015), juga melihatnya sebagai seorang Kristen Calvinis yang sangat legalistik—pandangan yang akan membawanya berbenturan dengan praktik dagang Nusantara. Ia sangat percaya akan kekuatan kontrak dan pada waktu yang sama gagal memahami pola pikir penduduk lokal.

Selain itu, ia juga memasukkan patriotismenya melawan Spanyol sebagai bahan bakar dari rencana reformasi politik yang akan ia ajukan kepada para direktur VOC demi kemajuan perusahaan. Menurutnya, perusahaan perlu melebarkan usahanya di Asia untuk memperkaya sekaligus memperkuat negeri induk, dan pada sisi lain memiskinkan Spanyol yang juga merupakan pesaing di Asia. Pemikiran yang dibangun Coen untuk imperium dagangnya sangat kompleks dan maju. Penaklukan Jayakarta (Batavia) yang terkenal dalam sejarah Indonesia hanyalah langkah paling awal dari reformasi politik Coen.

Membangun Batavia Lewat Orang Tionghoa

Salah satu sejarawan terkemuka yang menguak pemikiran Coen tentang pengembangan Kompeni adalah spesialis sejarah Tionghoa, Leonard Blussé, yang menulisnya dalam The Chinese Annals of Batavia, the Kai Ba Lidai Shiji and Other Stories (1610–1795) (2018).

Setelah berhasil merebut Batavia dari tangan pangeran lokal vasal Banten, Jayakarta, pada tahun 1619, Coen telah punya rencana matang untuk mengembangkan kota ini. Vlekke (2016) menyebut bahwa Coen melihat VOC punya posisi legal yang kuat di Nusantara berkat caranya yang menggunakan kontrak politik, namun posisi politik riilnya sangat goyah. Hal ini karena perdagangan VOC tergantung sekali dengan penduduk bumiputra dan para penguasanya. Dengan kata lain, persediaan barang VOC tergantung pada kemurahan hati orang lokal yang mengatur produksi barang mereka dengan caranya sendiri.

Sebenarnya, selama orang-orang lokal ini menghormati kontrak ala Eropa yang dibawa Coen, tidak ada masalah yang muncul. Masalahnya, alam pikir orang Nusantara beda dengan Eropa. Penguasa lokal yang kuat seperti Sultan Iskandar Muda dari Aceh pernah membatalkan kontrak dengan Belanda begitu saja karena ia merasa sudah tidak membutuhkan bantuan Belanda dan memiliki kuasa atas pembatalan tersebut.

Selain itu, praktik dagang interlokal (dengan daerah sekitar) yang tetap dilakukan orang Banda juga dianggap sebagai pelanggaran kontrak monopoli dengan Belanda. Hal ini pada tahun 1621 menyebabkan pembantaian kepada hampir seluruh rakyat Banda di bawah perintah Coen dan restu Tuan-tuan Tujuh Belas (De Heeren Zeventien, dewan direktur VOC di Belanda). Oleh sebab itu, menurut Coen, Belanda harus membangun permukiman dan mengatur sendiri perdagangan serta mengawasi sendiri produksi komoditas yang ia butuhkan di Asia.

Rencana Coen awalnya sangat ambisius. Ia tidak hanya membidik Batavia, tapi juga Manila dan Makau (Macau) yang menjadi pos penting Spanyol dan Portugis di Asia. Meskipun tidak mustahil, namun rencana ambisius Coen ini tidak pernah terlaksana hingga akhir hidupnya. Hanya Batavia yang ia dibangun secara intensif.

Menurut Blussé (2018), model yang ingin dicapai Coen adalah kota kosmopolis hibrida seperti Manila yang dikuasai Spanyol. Di sini, Spanyol menggunakan premis lama Asia yang menjamin pertumbuhan kota dagang, yaitu dengan mengundang masuk orang-orang Tionghoa. Salah satu pemain terbesar dalam perdagangan antarwilayah Asia adalah orang Tionghoa, utamanya para pedagang dari Tiongkok Selatan yang berpos di Amoy (Xiamen) dan Kanton (Guangzhou).

Infograik Mozaik Jan Pieterszoon Coen

Infograik Mozaik Jan Pieterszoon Coen. tirto.id/Rangga

Di mana-mana di Asia, daerah-daerah yang disinggahi orang-orang Tionghoa lama-kelamaan akan tumbuh sebagai kota dagang maritim. Oleh sebab itu, para penguasa Islam lokal di masa kurun niaga itu banyak menunjuk orang Tionghoa sebagai syahbandar pelabuhan mereka. Tujuannya jelas, syahbandar itu akan “mengundang” kedatangan armada dagang Tiongkok yang lain. Coen juga melakukan hal sama, ia menunjuk seorang Tionghoa, Su Mingguang (Souw Beng Kong) dalam tugas ini.

Dalam “babad” Tionghoa yang diterjemahkan Blussé dan Nie Dening, Kai Ba Lidai Shiji (Babad/Sejarah Tionghoa tentang Batavia), disebutkan bahwa pada bulan ke-9 tahun ke-48 pemerintahan Kaisar Wanli (dari Dinasti Ming) yang setara dengan bulan September 1620, “tidak ada kapal [Tionghoa] yang datang ke Batavia, [kemudian] Su Mingguang [pergi] ke Gunung Tang [di Tiongkok] untuk mengundang kapal Tionghoa ke Batavia. […] Pada akhir tahun, ia pulang dengan jung mengiringinya […].” Babad melanjutkan dengan memuji Mingguang, “[…] sungguh besar jasa dan kebaikannya!”

Berbeda dengan Manila yang meletakkan permukiman Tionghoa di tempat terpisah dari permukiman Eropa, Coen meletakkan permukiman Tionghoa di dalam tembok kota. Pada masa-masa berikutnya, saat orang Tionghoa memberontak kepada VOC tahun 1740, ini akan berakibat buruk bagi kedua belah pihak yang telah berdiam berdampingan dalam kedamaian untuk waktu yang lama. Coen melakukan ini karena ia perlu memberi kestabilan keamanan bagi orang-orang Tionghoa baru yang datang dari selatan Tiongkok dari kemungkinan bentrokan sosial dengan penduduk lokal lainnya. Golongan baru ini jelas berbeda dengan orang Tionghoa yang sudah membaur dalam masyarakat.

Dalam karya lainnya yang berjudul Strange Company: Chinese Settlers, Mestizo Women and Dutch in VOC Batavia (1988), Blussé menunjukkan bagaimana orang Tionghoa dari selatan dan orang Belanda dapat hidup berdampingan dan saling mendukung dalam lingkungan Kota Batavia. Menurutnya, kedua masyarakat itu memiliki kesamaan sosial. Keduanya adalah bangsa pelaut, pedagang, dan hidup di samping kanal-kanal besar tempat kehidupan berputar. Dengan kurangnya tenaga Belanda untuk membangun kota, tidak heran bahwa jalanan, tembok, dan kanal-kanal di Batavia tidak akan berdiri bila bukan karena pekerja, pengrajin, dan tukang pahat Tionghoa.

Sepanjang dua kali masa jabatannya sebagai gubernur jenderal; pertama pada 1618 hingga 1623 dan kemudian pada 1627 sampai kematiannya akibat kolera pada 21 September 1629, tepat hari ini 392 tahun siilam, Coen telah meletakkan fondasi kokoh dan suku cadang kuat bagi mesin ekonomi raksasa Belanda, VOC.

Dari sudut pandang Indonesia kiwari, Coen adalah bapak para penjajah yang membuat kuku VOC menacap lebih dalam di Kepulauan Indonesia. Siasatnya yang “penuh tipu muslihat”, namun selalu resmi dan legalistik menjadi model yang diulang dan dibuat percontohan oleh para penerusnya di VOC.

Riwayat Coen diingat dalam sejarah ala Eropa; babad Jawa—seperti Serat Baron Sekender, Serat Sakondar, Babad Tanah Jawi; babad Tionghoa; dan bahkan rumor-rumor tidak masuk akal yang terus diproduksi hingga saat ini.

Baca juga artikel terkait JAN PIETERSZOON COEN atau tulisan lainnya

tirto.id - Sosial budaya
Kontributor: Christopher Reinhart
Editor: Irfan Teguh