13 April 1953

James Bond dan Upaya Ian Fleming Mengubah Citra Agen Rahasia

infografik mozaik casino royale james bond
Ilustrasi Ian Fleming dan novel Casino Royale. tirto.id/Sabit
Oleh: M Faisal - 13 April 2018
Dibaca Normal 5 menit
Uap maskulin.
Melaju Aston Martin
membelah cermin.
tirto.id - “Ini merupakan tantangan yang besar. Hidup adalah soal tantangan dan inilah salah satu yang terbesar selama kiprahku sebagai aktor.”

Kalimat di atas keluar dari mulut Daniel Craig ketika ia dipilih jadi pemeran James Bond yang baru pada 2005 silam. Dalam acara konferensi pers yang diadakan di London, Craig—sebelumnya bermain di Layer Cake (2004)—berharap agar ia mampu memainkan sosok Bond yang legendaris itu secara maksimal.

“Kami punya naskah yang luar biasa,” katanya. “Begitu aku membacanya, aku sadar bahwa aku tidak punya pilihan lain. Aku harus menjalaninya.”

Produser Michael Wilson mengaku telah mengaudisi lebih dari 200 aktor di seluruh dunia guna mencari pemain yang tepat dalam memerankan sosok James Bond. Ia akhirnya menjatuhkan pilihan kepada Daniel Craig.

Pemilihan Craig tak luput dari penolakan para penggemar Bond. Mereka menganggap Craig tidak terlampau menawan dan karismatik layaknya pemeran Bond terdahulu macam Roger Moore, Sean Connery, atau Pierce Brosnan.


Namun, Craig tak peduli terhadap kritik dan penolakan itu. Ia tetap fokus memerankan Bond sejak pertama kali ditunjuk. Upaya Craig pun berbuah manis. Selain laris di pasaran, performa Craig dipuji habis-habisan oleh kritikus.

Peter Travers dari Rolling Stone, misalnya, menyatakan Craig memberi penonton kesan lain akan tokoh James Bond. Lewat akting Craig, Bond terlihat tidak teratur, rentan terhadap kekerasan, dan bisa patah hati. Tapi, justru itulah yang membuat Bond lebih memesona.

Kritikus Roger Ebert mengeluarkan pendapat senada. Menurutnya, Craig berhasil menciptakan realitas baru untuk karakter Bond yang pendiam, kurang terobsesi dengan seks, hingga dapat terluka secara fisik dan perasaan.

Kedua pendapat tersebut ada betulnya. Masuknya Craig dalam semesta Bond seolah membuka perspektif baru mengenai agen spionase Inggris ini. Craig menjadikan Bond lebih manusiawi, masuk akal, serta peka secara emosional.

Singkat kata, Bond tak lagi terlihat seperti manusia super yang tak bisa berdarah sedikitpun. Bond versi Craig adalah manusia pada umumnya yang bisa hancur serta merasakan pahitnya asmara.

Dan semua pemandangan itu dapat kita jumpai lewat Casino Royale, film yang diadaptasi dari naskah perdana Ian Fleming tentang Bond dengan judul sama.


Cita-Cita Jadi Agen Rahasia

Karakter James Bond memang tak dapat dilepaskan dari sosok sang penulis, Ian Fleming. Dilahirkan di London pada 28 Mei 1908, Fleming adalah anak kedua dari empat bersaudara. Ia sempat mengenyam pendidikan di Eton College sebelum berkelana ke Jerman dan Austria.

Sepulangnya ke Inggris, ia meniti karier di Reuters dan menjadi pialang saham setelahnya. Saat Perang Dunia II meletus, Fleming jadi asisten Direktur Intelijen Angkatan Laut Inggris, John Godrey. Pekerjaan tersebut membuat Fleming berurusan dengan hal-hal berbau intelijen; menjalin kontak langsung dengan MI6 dan dinas rahasia lainnya sampai membantu menyusun pedoman intelijen Amerika yang kelak jadi cikal bakal berdirinya CIA.

Usai Perang Dunia II berakhir, Fleming direkrut surat kabar London, Sunday Times. Di sana, ia melakoni peran tak jauh berbeda dari pekerjaannya di Angkatan Laut dengan menjadi manajer isu luar negeri dan global yang tugasnya membangun jaringan korespondensi asing.

Pengalaman kerja di dua tempat itu menarik perhatian Fleming terhadap kerja-kerja intelijen. Pikirannya kemudian dipenuhi imajinasi sosok agen rahasia yang menjalankan misi-misi berbahaya; adu tembak, bertarung, hingga menyelamatkan nyawa banyak orang. Dari situlah Fleming menciptakan alter ego-nya sendiri bernama James Bond.


Pada 1945, Fleming pindah ke Jamaika. Tinggal di negeri kepulauan Karibia itu adalah impian yang sudah ia timbun dari lama. Ia jatuh cinta dengan Jamaika sejak menginjakkan kaki untuk kali pertama pada 1942 ketika mengikuti konferensi angkatan laut. Sejak itulah ia bertekad kembali ke sana dan mendirikan rumahnya sendiri.

Impian Fleming berhasil terwujud. Di Jamaika, ia membangun bungalow yang ia sebut dengan “Goldeneye.” Hari-harinya diisi dengan snorkeling, menjelajah laut, dan menjadi tuan rumah untuk teman-temannya yang berlibur di Jamaika.

Jamaika pula yang jadi saksi bagaimana ia menulis novel pertama James Bond, Casino Royale, selepas tertunda sekian lama. Fleming mulai menulis Casino Royale pada 17 Februari 1952 dan selesai satu bulan kemudian, tepatnya pada 18 Maret 1952.

Casino Royale bercerita mengenai misi rahasia Bond melawan Le Chiffre, dewa judi, mafia, dan villain dari Perancis. Namun, yang terjadi lebih kompleks dari apa yang disajikan di permukaan. Di dalamnya ada pengkhianatan, cinta, dan pertarungan antar dinas rahasia yang melibatkan Inggris sampai Uni Soviet.

Ia memilih kasino sebagai latar kejadian karena ia merasa kasino adalah tempat yang tepat untuk memperkenalkan Bond. Sebab di tempat macam ini, segala perilaku, keterampilan, dan pengetahuan akan meja judi menggambarkan atribut seorang pria.


Ketika novel itu jadi, Fleming menyebutnya sebagai “an oafish opus” (karya yang bahlul). Ia lalu menunjukkan Casino Royale kepada Clare Blanchard, mantan pasangannya. Blanchard memberi masukan kepada Fleming agar tidak mempublikasikannya sama sekali atau setidaknya tetap merilis ke publik dengan judul yang berbeda.

Meski demikian, Fleming tetap mempublikasikannya tanpa mengubah judul seperti yang disarankan Blanchard. Cetakan pertama dirilis pada 13 April 1953, tepat hari ini 65 tahun lalu, dan langsung mendapatkan sambutan positif dari para kritikus, di samping terjual cepat di Inggris.

Setahun kemudian, naskah Casino Royale dimainkan di layar kaca untuk pertama kalinya lewat serial Climax! yang tayang di CBS. Serial ini dibintangi Barry Nelson—bukan sebagai James Bond, tapi “Jimmy Bond.” Ia juga bukan agen MI6, melainkan pegawai CIA. Secara total, Casino Royale telah diadaptasi ke layar kaca sebanyak tiga kali. Yang terakhir ialah dalam bentuk film dengan Daniel Craig sebagai bintang utamanya.

Dalam “Casino Royale: 60 Years Old” yang terbit di The Telegraph, Jeremy Duns mengatakan bahwa dari semua buku Bond, Casino Royale merupakan novel Fleming tentang Bond yang paling kuat dan kaya karakterisasi. Di dalamnya, semua adegan dibuat intens dan hampir tergesa-gesa, gelap, brutal, serta berisi dialog-dialog terbaik yang pernah ada.

Fleming pernah mengaku bahwa ia bukan penulis yang jenius dan ambisius. Dalam menulis Bond, yang ia andalkan hanyalah tekad dan kecintaannya kepada dunia intelijen.

“Jika saya menunggu kejeniusan datang, itu tidak akan pernah terjadi,” katanya suatu waktu. “Saya tidak paham Shakespeare dan saya tidak punya ambisi.”


James Bond dan Kritik Gender

Setelah merilis Casino Royale, Fleming meneruskan kiprahnya dengan melepas 13 novel bond lainnya. Dari Live and Let Die (1954), Goldfinger (1959), You Only Live Twice (1964), Dr. No (1958), sampai From Russia, With Love (1957).

Novel-novel Fleming tersebut lantas diadaptasi ke film dengan bintang macam Sean Connery hingga Daniel Craig. Tak sekedar jadi film yang diadaptasi dari novel semata, James Bond karangan Fleming sudah menjadi franchise yang melegenda.

Dalam perkembangannya, James Bond dikenal publik sebagai agen rahasia Inggris dengan tampilan necis, mobil Aston Martin yang keren, hingga perempuan-perempuan yang berada di sekelilingnya (biasa disebut Bond Girl). Singkat kata, menjadi James Bond adalah mimpi basah bagi laki-laki di seluruh dunia.

Sejauh ini, Bond selalu dikaitkan dengan dunia dan dominasi laki-laki. Tapi, seiring maraknya pembicaraan dan wacana kesetaraan gender, muncul pertanyaan: bisakah James Bond diperankan oleh perempuan?

Dua tahun silam, pembicaraan mengenai hal ini sempat menyeruak ke permukaan. Di tengah pencarian sosok penerus Craig sebagai Bond yang kontraknya bakal berakhir, Gillian Anderson (bintang The Fall dan X-Files) menyatakan kesanggupannya untuk menjadi James Bond.

Melalui akun Twitter-nya, ia mengunggah poster dirinya berpose layaknya Bond dengan keterangan: “Ini Bond, Jane Bond.” Ia lalu melanjutkan, “Maaf, tidak tahu siapa yang membuat poster ini, tapi aku suka!” dan disertai tagar #NextBond.


Unggahan Anderson ditanggapi respons yang beragam. Ada yang setuju dan ada pula yang menolaknya. Dalam “The Name’s Bond, James Bond … or Should It Be Jane?” yang dipublikasikan di The Conversation, James Chapman (profesor film di University of Leicester) dan Shelley Cobb (pengajar di University of Southampton) mengemukakan pendapatnya masing-masing.

Chapman, misalnya, beranggapan jika Bond seharusnya memang diperankan laki-laki. Ia beralasan, mengganti Bond dengan perempuan sama saja menghina konsep puritanisme yang dibuat Fleming melalui James Bond. Chapman menambahkan, Bond adalah ikon budaya populer yang tidak boleh dikacaukan.

“Anda tidak akan mengubah Indiana Jones atau Luke Skywalker menjadi perempuan, sama seperti Anda tidak mengharapkan Bridget Jones diperankan laki-laki,” tulisnya.



Menurut Chapman, publik tidak perlu mengubah Bond menjadi perempuan. Sebagai solusinya, yang diperlukan ialah film-film yang menonjolkan kekuatan dan kepemimpinan perempuan seperti dalam Lara Croft atau Wonder Woman.

Sementara Cobb berpendapat Jane Bond perlu diupayakan karena dengan hal itu, ia setidaknya akan menjawab masalah-masalah seperti marjinalisasi perempuan dalam layar dan bagaimana ketidakhadiran mereka berkontribusi pada marjinalisasi dalam politik.

Alasan bahwa Jane Bond tidak akan mendatangkan banyak uang (box office), catat Cobb, hanyalah penalaran yang sempit karena dewasa ini banyak film yang dibintangi perempuan dan menghasilkan pundi-pundi keuntungan macam The Hunger Games.

“Jadi, mengapa tidak ada Jane Bond? Ia mungkin mampu menghidupkan franchise Bond. Tapi, ia mungkin juga bisa membunuh ikon Bond. Apa pun itu, lebih baik tidak takut dan ingat perkataan Judi Dench, ‘Jika kamu berpikir saya tidak punya keberanian untuk mengirim seseorang agar mati, nalurimu salah,’” tegas Cobb.


Sarah Bayard dalam tesisnya berjudul The Evolution of Female Gender Roles in James Bond Films (2015) mengungkapkan keberadaan perempuan di film-film James Bond seperti menggambarkan realitas yang terjadi saat ini. Penelitian Bayard memperlihatkan, perempuan dalam film James Bond dapat dibagi menjadi dua kategori.

Pertama adalah perempuan dalam semesta Bond yang digambarkan cerdas, cakap, dan punya karier cemerlang. Perempuan-perempuan ini, seperti dicatat Bayard, tak cuma berandil dalam plot Bond tapi juga dipandang publik berpotensi untuk memberikan dampak positif dalam kehidupan sehari-hari.

Di lain sisi, film-film Bond juga kerap menggambarkan perempuan sebagai objek seksual yang dimaksudkan tidak lebih dari aksesori untuk mempertegas maskulinitas James Bond. Perempuan dengan posisi seperti ini sering berakhir dengan tragis (dibunuh) karena dianggap memberikan keuntungan pada Bond. Apabila gambaran semacam ini diteruskan, maka perempuan dapat terkena dampak negatif.

Pada akhirnya, peninggalan Fleming lewat karakter Bond memang mampu memberi warna pada budaya populer. Tapi, di lain sisi, ia juga meninggalkan lubang besar soal posisi perempuan.

Baca juga artikel terkait JAMES BOND atau tulisan menarik lainnya M Faisal
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: M Faisal
Penulis: M Faisal
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight