Jalan Mulus Soekeno Menjadi Penguasa Tunggal PSS Sleman

Oleh: Herdanang Ahmad Fauzan - 14 Januari 2020
Dibaca Normal 5 menit
Soekeno menjadi pemegang saham dominan di PSS Sleman.
tirto.id - Menjadi bos sebuah klub sepakbola mulanya tak ada dalam daftar cita-cita Soekeno. Saat membuka usaha mesin fotokopi bekas bernama UD Muncul tahun 1992, pengusaha kelahiran Malang, 18 Februari 1960 itu cuma menginginkan satu hal: bisa hidup mandiri dan menghidupi orang lain.

Nafsu itu mengembang. UD Muncul kini menjelma sebagai Muncul Group, salah satu gurita bisnis kondang di Yogyakarta. Dalam bisnis manufaktur ekspor-impor dan mesin fotokopi, Muncul Group beranak pinak, membawahi PT Usaha Digdaya Muncul, PT Muncul Sukses Abadi, PT Buana Citra Abadi dan PT Digitone Coproration.

Beberapa anak perusahaan Muncul Group juga bergerak di sektor bisnis lain, seperti PT Muncul Digdaya Express di bidang transportasi angkutan kepabeanan atau PT Muncul Boga Makmur sebagai pemegang waralaba sejumlah makanan dan minuman internasional di Indonesia.

Soekeno melebarkan sayap di bidang properti dan operasional hotel, dengan pendirian PT Muncul Properti Makmur serta Hestia Conecting Hotel, perusahaan yang membawahi empat unit hotel dengan klasifikasi bintang 3 dan 4 di Yogyakarta, antara lain Top Malioboro Hotel, D’Salvatore Hotel, D’Senopati Hotel, dan @K Kaliurang Hotel.

Soekeno juga membuat PT Garuda Mitra Sejati, perusahaan pendiri dan pengelola dua pusat perbelanjaan dan satu hotel di Sleman: Sleman City Hall, Jogja City Mall dan The Rich Hotel. Di perusahaan ini Soekeno menggandeng keluarga Keraton sebagai mitra bisnis.

Adik kandung Sri Sultan Hamengkubuwono X, KGPH Hadiwinoto tercatat memiliki saham dan duduk sebagai Komisaris Utama di perusahaan yang dikepalai Soekeno sebagai direktur utama ini. RM Bambang Prastari dan R.AJ Lupitasari, dua putra Hadiwinoto juga punya saham di perusahaan ini meski tak menjabat secara struktural.

Sederet portofolio bisnis di atas bukanlah satu-satunya aspek yang bikin Soekeno kondang. Dalam tujuh tahun terakhir nama Soekeno justru banyak dikenal karena menjadi pemegang saham mayoritas salah satu klub paling seksi di Liga 1, PS Sleman (PSS).

Sejak pertama berkecimpung menjabat sebagai direktur keuangan 2012 lalu, Soekeno selalu menjadi salah satu investor kuat PSS. Mulanya, selain dia, kekuatan modal PSS juga banyak disokong almarhum Supardjiono, yang kini diwakili oleh sang istri, Dwi Retno Sukmawati.

Pardji adalah representasi rezim lama PSS. Dia merupakan adik kandung dari Subardi, salah satu pendiri PSS yang belakangan lebih memilih jadi politikus.

Hingga 2018, kekuatan dua kubu ini relatif berimbang. Secara kepemilikan saham Soekeno punya 44 persen, sedangkan Retno memiliki 42 persen saham.

Sisa persentase saham kala itu jadi bagian kecil-kecil milik Radityo Hermawan, Bambang Soekmonohadi, Yoni Arseto, Antonius Rumadi, Raudi Akmal, Djaka Waluja, Robertus Djoko Handoyo dan Pudji Prasetyo.

Namun, dalam setahun terakhir komposisi pemegang saham PT PSS mengalami pergolakan besar.

Berdasarkan salinan akta PT PSS per 22 Oktober 2019 yang kami unduh dari Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum (Ditjen AHU) Kemenkumham pada 5 Desember 2019, tampak posisi Soekeno mengalami penguatan signifikan.

Dari total 7.270 lembar keseluruhan modal ditempatkan, saham milik pendiri Muncul Group itu menyentuh angka 4.971 lembar alias 68,3 persen.

Kenaikan ini bertolak belakang dengan proporsi saham Retno yang justru menurun, yakni jadi 14,3 persen (1.041 lembar) saja. Bahkan jika angka saham Retno dijumlah dengan saham milik putra kandungnya, Radityo Hermawan (431 lembar/5,9 persen) sekalipun, jumlahnya masih tidak ada apa-apanya dibanding saham Soekeno.

Peta kekuatan yang berubah drastis ini pula yang belakangan membuat keputusan-keputusan Soekeno dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) absolut. Sebab bagaimanapun kekuatan suaranya sudah melampaui setengah proporsi forum.

Pertanyaan yang kemudian muncul: bagaimana ceritanya saham Soekeno bisa naik begitu drastis?


Jurus Itu Bernama Konversi Piutang


Jika Anda berpendapat Soekeno menambah kekuatannya dari pembelian lembar demi lembar saham, maka tebakan Anda salah besar. Alih-alih membeli, peningkatan saham Soekeno di PT PSS lebih banyak terjadi karena adanya kebijakan konversi piutang menjadi saham.

Cerita bermula tatkala pada kompetisi Liga 2 2018 kas PSS habis di tengah jalan. Seolah tampil jadi malaikat penyelamat, Soekeno menomboki kekurangan untuk pembayaran gaji pemain, perjalanan tandang dan keperluan lain hingga hampir Rp5 miliar. Tombokan ini dihitung sebagai utang klub.

Sialnya hingga musim kompetisi 2018 berakhir PSS tak kunjung punya duit untuk membayar utang tersebut. Alhasil, pada RUPS PT PSS tertanggal 10 Januari 2019, Soekeno mengajukan ide agar sebagian utang klub kepadanya dikonversi jadi saham.

Ide ini sempat dikritisi beberapa direksi, tapi karena tidak ada jaminan utang bisa terpangkas dalam waktu cepat, ide tersebut akhirnya diterima. Menurut data yang diperoleh Tirto, pada RUPS itu sekitar setengah dari piutang klub kepada Soekeno (Rp2.382.000.000,-) dikonversi menjadi 2.382 lembar saham.

Sebenarnya, yang dikonversi bukan piutang Soekeno saja. RUPS yang sama juga menyepakati konversi piutang klub terhadap Retno. Pada musim kompetisi 2018, eks manajer PSS itu juga sempat menalangi kebutuhan PSS. Namun, jumlah konversi saham yang didapat Retno hanya Rp225.000.000 alias 225 lembar saja. Angka ini tidak ada apa-apanya dibanding konversi yang didapat Soekeno.

Saat kami konfirmasi perihal konversi saham ini, Soekeno tidak mengelak.

“Loh, kalau enggak dikonversi saham, lebih besar lagi utangnya itu,” ucap dia, Kamis (2/1/2020).

Namun, dia menolak disebut tidak adil.

“Kecuali kalau yang dikonversi cuma piutangnya Soekeno,” ujarnya. “Perlu diketahui, semua dikonversi. Semua ditambah sahamnya.”

Di sisi lain, dikonfirmasi perihal alasannya membiarkan keputusan konversi saham itu terjadi, Retno tutup mulut. Dia juga menolak berkomentar apapun terkait pertanyaan-pertanyaan seputar PSS yang kami ajukan.

“Silakan ditanyakan kepada PT saja,” ujar dia lewat pesan singkat.


Memasukkan Banyak Orang Baru

Tak cuma dengan menambah saham via konversi piutang, kekuatan Soekeno di RUPS PT PSS kian tak tertandingi lantaran kebijakannya memasukkan sejumlah orang baru di tubuh PSS. Khususnya pada struktur pemegang saham.

Berdasarkan salinan akta Ditjen AHU Kemenkumham yang kami akses per 5 Desember 2019, jumlah pemegang saham PT PSS membengkak jadi 16 orang.

Total ada tujuh nama baru yang masuk dalam kepemilikan saham. Mereka adalah Mifta’im An’am alias Gus Miftah (komisaris, 0,69 persen), Teguh Wahono (direktur, 0,69 persen), Hempri Suyatna (direktur, 0,69 persen), Kunto Riyadi (0,34 persen), Pustopo (0,34 persen), Harda Kiswaya (0,34 persen) dan Haris Sutarto (direktur, 0,34 persen).

Secara proporsi saham, tujuh nama tersebut memang tak banyak menjadi penyuntik modal. Namun, nama-nama ini punya kesamaan: mereka sama-sama punya kedekatan dengan Soekeno.

Kehadiran wajah-wajah anyar ini terindikasi sebagai gestur Soekeno menambah dominasinya sebagai pengambil keputusan, sekaligus upaya mengurangi pengaruh rezim lama yang didominasi keluarga Supardjiono.

Kunto Riyadi misal, dia berpredikat Kepala Bappeda Sleman. Kedekatannya dengan Soekeno tampak dari latar belakang keduanya yang sama-sama aktif di Indonesia Marketing Association (IMA) chapter Sleman. Di organisasi ini Kunto menjabat sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen), sedangkan Soekeno berpredikat anggota dewan pembina.

Lain cerita dengan Haris Sutarto, Harda Kiswaya dan Pustopo. Haris adalah mantan anggota DPRD DIY. Harda adalah Kepala BKAD Sleman sekaligus Ketua Panpel PSS, sedangkan Pustopo--selain di PSS--punya jabatan sebagai Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Sleman. Di luar urusan PSS, Pustopo kerap bersinggungan dengan Soekeno. Misalnya keduanya sama-sama aktif di Internasional Council for Small Business (ICSB) Sleman.

Nama berikutnya, Gus Miftah, lebih terbuka lagi menampakkan kedekatan dengan Soekeno. Dia beberapa kali tampak mendampingi Soekeno saat menghadapi demonstrasi Brigata Curva Sud (BCS), suporter PSS, misalnya di SCH pada awal Januari 2019 lalu.

Adapun dua nama sisanya, Hempri Suyatna dan Teguh Wahono punya latar belakang berbeda. Hempri adalah dosen Fisipol Universitas Gadjah Mada sekaligus bekas pengurus Litbang Slemania, sedangkan Teguh merupakan bekas polisi yang kerap jadi dosen tamu di UII. Hempri kini diberi tanggungan sebagai Direktur Operasional PSS, sedangkan Teguh Wahono menjabat Vice-CEO.

Soekeno mengakui bahwa Hempri dan Teguh datang ke struktur pemegang saham PSS atas ajakannya. “Karena saya kepengin, diimbangi. Agar banyak orang Sleman, karena CEO-nya kan terpaksa bukan orang Sleman.”

Soal anggapan bahwa kedatangan orang-orang itu ditujukan untuk mengurangi pengaruh pemegang saham besar lain, Soekeno menampik. Namun, dia tidak membantah ketika disinggung hubungannya dengan keluarga Subardi--dalam hal ini adalah Retno--yang mulai merenggang.

“Ya saya positif thinking saja, beliau dulu cerita sudah didesak kepala sekolahnya karena jarang masuk mengajar,” kata dia.

Ucapan Soekeno itu seolah mengamini pandangan Viola Kurniawati, eks CEO PSS yang sempat tiga bulan masuk ke internal Super Elja atas ajakan Soekeno. Selama bekerja di PSS, Viola mengakui ada jarak antara kubu Soekeno dengan Retno selaku representasi Supardjiono.

“Kerasa banget, mereka sepertinya sudah saling enggak mau kontak. Saya juga jadi bingung karena ketika bekerja rasanya jadi di tengah-tengah,” ujarnya.

Berdasarkan salinan absensi Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang kami dapat dari akta PT PSS, juga tampak semakin minimnya partisipasi keluarga Subardi. Dalam dua RUPS terakhir selama tahun 2019, yakni 16 Agustus 2019 dan 23 September 2019 Retno tidak pernah hadir.

Soekeno membenarkan data absensi ini. Namun, dia seolah tak mau ambil pusing dengan hadir atau tidaknya Retno.

“Itu bukan halangan karena RUPS enggak harus semua datang juga. Kami juga sudah sampaikan undangan ke Bu Retno. Sudah ditunggu juga sampai jam 7-8, umpama memang enggak datang ya sudah.”

Infografik HL Indept Saham Sleman Sembada
Infografik HL Indept Saham Sleman Sembada. tirto.id/Lugas

Campur Aduk Keuangan PSS dan Muncul Group

Kendali PSS yang semakin mutlak di tangan Soekeno bikin kontrol eksternal terhadap kebijakan-kebijakan klub makin minim, termasuk perkara pengawasan keuangan.

Soal rekening klub misalnya, direktur keuangan dan CEO kerap tak dapat akses leluasa terhadap rekening klub. Hal ini dibenarkan oleh Viola Kurniawati, yang menyebut selama dia menjadi CEO rekening PT PSS lebih sering dipegang anak buah Soekeno.

Karena ketakutan transaksi PSS tercampur dengan aliran duit perusahaan Soekeno yang lain, Viola sempat mengambil kebijakan dengan membuat rekening baru yang khusus diperuntukkan transaksi keperluan klub.

“Semua duit sponsor dan kontribusi liga saya taruh ke rekening baru itu, termasuk uang dari tiket. Karena ada sebagian suporter yang mau menyalurkan bantuan, tapi tidak mau mengirim ke rekening PSS yang lama,” ujar Viola.

Kami mencoba menanyakan ke seorang pentolan Brigata Curva Sud (BCS), salah satu basis suporter PSS. Dia membenarkan bahwa sempat mengirim bantuan ke rekening baru PSS yang digagas Viola.

“Iya benar, memang benar Viola bikin rekening baru dan itu agar tidak tercampur dengan uang Muncul Group,” kata perwakilan BCS yang menolak disebut namanya tersebut.

Sayangnya, langkah dengan maksud baik ini justru mendapat kritik keras dari Soekeno. Belakangan dia malah menuding Viola membangkang dan melakukan penggelapan dana. Padahal, saran rekening baru ini sudah dibahas lewat RUPS.

Saat kami konfirmasi, Soekeno menolak berkomentar soal tudingan terhadap Viola. “Ah itu, masa lalu, enggak usah dibahas,” kata dia.

Sedangkan soal karut marut rekening PT PSS yang terpusat ke Muncul Group, Soekeno mengakuinya. Namun, lagi-lagi dia kukuh membela diri.

Soekeno menganggap praktik seperti itu wajar, sebab klub disebutnya masih punya utang milyaran kepada Muncul Group.

“Itu duit perusahaan [Muncul]. Dari mulai saya naik ya kontrolnya memang begitu. Kecuali kalau PSS sudah membuktikan bisa mandiri. Kalau bisa mandiri ya silakan, tapi kenyataannya kita sama-sama tahu sendiri,” kata dia.

“Uang PSS banyak dari Muncul, ya wajar ada orang Muncul di dalamnya. Kenapa? Karena untuk mengawasi dan menjamin agar uang ini dipakai pada tempatnya, tidak sembarangan,” pungkasnya.

Baca juga artikel terkait PSS SLEMAN atau tulisan menarik lainnya Herdanang Ahmad Fauzan
(tirto.id - Indepth)

Reporter: Herdanang Ahmad Fauzan & Irwan Syambudi
Penulis: Herdanang Ahmad Fauzan
Editor: Mawa Kresna
Artikel Lanjutan
DarkLight