4 Desember 1977

Jalan Kudeta Jean Bedel Bokassa Menuju Kaisar Afrika Tengah

Oleh: Tyson Tirta - 4 Desember 2021
Dibaca Normal 3 menit
Bokassa menjadi pemimpin Afrika Tengah setelah mengudeta sepupunya.
tirto.id - David Dacko menjadi presiden provisional Republik Afrika Tengah sejak negara itu merdeka pada Agustus 1960. Ia terpilih di tengah kekacauan politik. Sejak terpilih, Dacko harus berjuang melawan rivalnya, Abel Goumba, untuk menjadi presiden resmi Republik Afrika Tengah.

Dukungan Prancis membuat Dacko berhasil mengalahkan Goumba dan resmi menjabat penuh sejak Desember tahun itu. Meski demikian, gejolak politik tetap tak berhenti. Di sepanjang masa jabatannya, Dacko harus bekerja keras mengatasi berbagai tekanan dari dalam dan luar negeri. Salah satu serangan politik yang terjadi pada 1965 bahkan memaksanya turun dari jabatan dan harus mengasingkan diri.

Pada malam hari tanggal 31 Desember 1965, sebuah upaya kudeta yang dikenal dengan sebutan Saint-Sylvestre coup d’état, berhasil. Dalam hitungan jam, Jean Bédel Bokassa, pemimpin militer yang memimpin kudeta itu, langsung naik menggantikan Dacko sebagai presiden. Belakangan, pada 4 Desember 1977, tepat hari ini 44 tahun lalu, Bokassa mengangkat dirinya sendiri sebagai Kaisar Afrika Tengah.

Alkisah pada 1958, Prancis mulai menimbang-nimbang rencana untuk memberi kemerdekaan bagi sebagian besar koloninya di wilayah Afrika. Pemimpin nasionalis Barthélemy Boganda bertemu dengan Perdana Menteri Charles de Gaulle untuk membahas persyaratan kemerdekaan Oubangui-Chari, wilayah koloni Prancis yang kemudian menjadi Central African Republic (CAR) alias Republik Afrika Tengah. Rencana itu pun menemui kesepakatan. CAR dibentuk pada 1 Desember 1958 dan sebagai kelanjutan dari rencana itu, Boganda diangkat menjadi perdana menteri pertama dan akan menjadi presiden pertama CAR.

Namun, Boganda keburu tewas dalam kecelakaan pesawat ketika menuju ibu kota Bangui pada 29 Maret 1959. Abel Goumba, tangan kanan Boganda kala itu, menggantikan posisinya sebagai pemimpin CAR. Sebulan kemudian, konstelasi politik membuat David Dacko mengambil alih kepemimpinan.

Dacko adalah mantan anggota kabinet Boganda dan pemimpin partai Movement for the Social Evolution of Black Africa (MESAN). Ia mendapat dukungan dari Roger Barberot, pemimpin kamar dagang Bangui. Dua bulan kemudian, setelah mengambil alih pemerintahan, Dacko lagi-lagi mencopot jabatan menteri keuangan yang diemban Abel Goumba.

Resah dengan keputusan Dacko, Goumba akhirnya sepakat dengan Pierre Maleombho, mantan presiden majelis nasional yang juga digulingkan oleh Dacko, untuk membentuk partai oposisi Democratic Evolution Movement of Central Africa (MEDAC).


Kudeta Militer oleh Sepupu Presiden

Hingga 1965, Afrika Tengah terus berada dalam situasi semrawut. Secara politik, mereka harus menghadapi negara-negara tetangga, sementara sektor ekonomi terus ricuh diganggu korupsi. Di tengah kondisi itu, Dacko sempat menerima bantuan keuangan dari Republik Rakyat Cina. Namun, bantuan itu tidak bisa dimanfaatkan dengan baik. Imbasnya, modal segar dari Cina itu hampir sama sekali tidak mengubah keadaan kacau. Inilah yang mendorong Jean Bédel Bokassa, sepupu presiden Dacko, merencanakan kudeta.

Dacko rupanya sadar betul dengan rencana sepupunya. Ia telah mencium gelagat rencana perlawanan dan bersiap dengan membentuk Gendarmerie, sebuah pasukan militer yang bertugas memastikan kedaulatan hukum di wilayah negara. Gendarmerie dipimpin oleh Jean Izamo, yang kemudian menjadi penasihat sekaligus kawan bagi presiden Dacko yang paling setia.

Tapi kudeta tetap berjalan sesuai rencana. Dengan bantuan Kapten Alexandre Banza, Bokassa memulai kudeta pada malam tahun baru 1965. Ia dan anak buahnya menangkap Izamo kemudian menguncinya di ruang bawah tanah Camp de Roux. Ibu kota Bangui pun jadi sasaran pendudukan. Bokassa dan pasukannya berhasil melumpuhkan Gendarmerie.

Lepas tengah malam, Dacko memutuskan untuk kembali ke ibu kota yang segera ditangkap oleh pasukan Bokassa dan dipenjarakan. Hingga akhir Januari 1966, Izamo disiksa terus-menerus. Nyawanya terselamatkan oleh permintaan Prancis yang terpaksa harus dipenuhi oleh Bokassa.

Kudeta Bokassa ia legitimasi sendiri dengan dalih menyelamatkan negaranya dari pengaruh komunisme. Oleh karena itu ia langsung memutus hubungan diplomatik dengan Cina. Mulusnya upaya kudeta juga sukses mengantarkannya ke kursi pimpinan Republik Afrika Tengah. Di masa-masa awal pemerintahannya Bokassa membubarkan majelis nasional, menghapus konstitusi, dan mengeluarkan sejumlah dekrit.


Menjadi Kaisar Afrika Tengah

Dekrit yang dikeluarkan Bokassa di antaranya adalah larangan mengemis, larangan sunat perempuan, dan larangan poligami. Di samping itu, ia juga terus mengusahakan pengakuan internasional untuk pemerintahannya. Usaha itu cukup sukses seiring pengakuan dari sejumlah negara Afrika dan akhirnya Prancis.

Ketika menjadi presiden, Bokassa sempat dirundung upaya kudeta oleh orang kepercayaannya pada April 1969. Tapi upaya itu gagal karena Bokassa sudah mendapatkan informasi. Banza, pimpinan gerakan kudeta itu, ia hukum mati.

Sementara dari dalam penjara, David Dacko mengirim surat kepada Duta Besar Cina di kota Brazzaville. Namun, surat itu tak sampai ke tujuan karena keburu ketahuan oleh Bokassa. Ia langsung memberi perintah agar Dacko dipindahkan dari tempat pengasingannya di Camp de Reux ke penjara Ngaragba.

Infografik Mozaik Sang Kaisar Afrika Tengah
Infografik Mozaik Sang Kaisar Afrika Tengah. tirto.id/Tino


Bokassa berhasil menghalau segala hal yang mengganggu posisinya dan mengantarkan Afrika Tengah ke dekade 1970-an. Pada 4 Maret 1972, ia bahkan sempat mendeklarasikan dirinya sebagai presiden seumur hidup dan meredam sekali lagi upaya kudeta pada Desember 1974.

Seiring waktu, berbagai keputusan yang diambil Bokassa baik untuk urusan politik dalam negeri maupun luar negeri semakin membingungkan banyak pihak. Upaya kudeta pun berkembang menjadi upaya pembunuhan terhadap dirinya seperti yang terjadi di Bandara Internasional Bangui M’Poko pada Februari 1976.

Beruntung, kala itu Bokassa telah berhasil menggaet dukungan internasional. Muammar Khadafi, pemimpin Libya, adalah salah satu nama besar yang mendukungnya. Pada 1976 Bokassa juga menjalin hubungan baik kembali dengan Cina. Prancis juga mendukung Bokassa dengan suplai alat-alat militer. Sebagai balasannya, Bokassa memberikan uranium pada Prancis yang merupakan bahan vital dalam era Perang Dingin.


Dukungan Prancis rupanya melebihi dugaan banyak pihak. Dukungan itu membuat Bokassa semakin jumawa. Visinya untuk memutus ketergantungan dengan Prancis semakin tidak jelas.

“Kebijakan luar negeri Bokassa semakin tidak konsisten secara ideologi. Makin terlihat bahwa tujuannya adalah meraup keuntungan finansial tanpa menjaga tanggung jawabnya kepada negara pendonor,” kata Brian Titley dalam bukunya Dark Age: The Political Odyssey of Emperor Bokassa (2002:66)

Puncaknya, pada 4 Desember 1977, Bokassa dinobatkan sebagai Kaisar Afrika Tengah dengan seremoni ala Napoleon. Dalam upacara itu, Menteri Pertahanan Prancis bahkan mengirim batalion untuk menjaga keamanan dan meminjamkan 17 pesawat kepada Kekaisaran Afrika Tengah. Penobatan itu berlangsung selama dua hari dengan biaya 10 juta Poundsterling, lebih besar dari anggaran tahunan Republik Afrika Tengah. Claude Bertrand, perancang perhiasan dari Paris, membuat mahkota dengan berlian untuk Bokassa.

Baca juga artikel terkait REPUBLIK AFRIKA TENGAH atau tulisan menarik lainnya Tyson Tirta
(tirto.id - Politik)

Kontributor: Tyson Tirta
Penulis: Tyson Tirta
Editor: Irfan Teguh Pribadi
DarkLight