Jafar Umar Thalib, Pendiri Laskar Jihad, Meninggal Dunia

Oleh: Rio Apinino - 25 Agustus 2019
Pendiri Laskar Jihad Jafar Umar Thalib meninggal dunia karena penyakit jantung.
tirto.id - Pendiri Laskar Jihad Jafar Umar Thalib meninggal dunia karena penyakit jantung, Ahad (25/8/2019). Dia meninggal dalam usia 57 tahun.

Kuasa hukum Jafar, Achmad Michdan, mengatakan kepada reporter Tirto Jafar meninggal "pukul 12.30 WIB di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita." Dia sempat dirawat sejak Rabu (21/8/2019) lalu, tapi kesehatannya tidak kunjung membaik.

"Mudah-mudahan khusnul khotimah," kata Achmad.

Jafar lahir di Malang, Jawa Timur, pada 29 Desember 1961. Dia pernah menempuh studi di Perguruan Al Irsyad dan LIPIA dan Maududi Institute di Lahore, Pakistan.

Jafar tidak menuntaskan studinya pada dua institusi yang terakhir disebut. Dia memilih mengangkat senjata melawat Uni Soviet di Afganistan pada 1987-1989.

Hardin Halidin mencatat di sana Jafar "berkenalan dengan sejumlah kelompok radikal Islam."

Masih menurut sumber yang sama, setelah sempat pulang ke Indonesia, Jafar kembali ke Timur Tengah pada 1991 untuk berguru pada sejumlah ulama besar.

"Tahun 1993 JUT kembali ke Indonesia dan mendirikan pesantren di Yogyakarta dengan nama Ihya’us Sunnah. Di sini dia mengajar melalui dakwah salafiyah, hingga pada tahun 1999 ketika dia memimpin Laskar Jihad di Ambon," tulis Hardin.

Mengutip Liputan6, aksi-aksinya dalam konflik di Ambon pada awal 1999 hingga Februari 2002 membuat Jafar dicap sebagai "Osama Bin Laden-nya Indonesia."

Dia pernah ditangkap berkali-kali, salah satunya karena menghina Megawati Soekarnoputri saat menjabat sebagai Presiden RI pada 26 April 2002 di Ambon.

Kasus terakhir yang menjeratnya terjadi pada tahun ini. Juli lalu dia divonis lima bulan penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Makassar karena kasus perusakan di rumah Henock Niki di Papua pada Februari 2019.

Dia dan santrinya terganggu dengan suara musik dari rumah Henock yang dekat dengan masjid tempatnya tengah berdakwah. Jafar memerintahkan dua santrinya, AJU dan S, memotong kabel dan sound system menggunakan samurai miliknya.


Baca juga artikel terkait TOKOH MENINGGAL atau tulisan menarik lainnya Rio Apinino
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Rio Apinino
Penulis: Rio Apinino
Editor: Rio Apinino
DarkLight