Jadi Posko COVID-19, Gelanggang UGM Dibongkar untuk 'Direnovasi'

Oleh: Irwan Syambudi - 4 Mei 2020
Dibaca Normal 1 menit
Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam FKUKM mengaku kecewa lantaran harus pindah dari Gelanggang Mahasiswa saat pandemi COVID-19.
tirto.id - Gelanggang Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta jadi salah satu simpul solidaritas alumni dan mahasiswa kala pandemi COVID-19. Namun saat ini mereka harus berpindah lantaran gelanggang harus dibongkar karena direnovasi.

Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Forum Komunikasi Unit Kegiatan Mahasiswa (FKUKM) mengaku kecewa lantaran harus pindah, diminta mengemasi barang-barang mereka dalam situasi pandemi COVID-19.

Ketua FKUKM UGM Satria Umbu mengatakan kecewa lantaran tetap diminta pindah oleh kampus di tengah situasi pandemi. Mereka kesulitan untuk memindahkan barang-barang dari kantor UKM di Gelanggang Mahasiswa dengan situasi pandemi yang mengharuskan mereka tetap menjaga jarak dan mengurangi aktivitas.

Selain itu Gelanggang Mahasiswa selama ini juga telah menjadi posko pusat solidaritas yang digalang oleh alumni dan mahasiswa. Di sana mahasiswa dan alumni bahu-membahu membuat hand sanitizer, disinfektan, alat pelindung diri (APD) hingga mengkoordinir sembako untuk dibagikan kepada mahasiswa.

Umbu mengatakan sejak pertengahan Maret 2020 ketika kampus mulai membatasi semua kegiatan akademik karena pandemi COVID-19, Gelanggang Mahasiswa tetap berdetak menjadi posko solidaritas di UGM.

"Di posko itu yang aktif gabungan alumni dan mahasiswa aktif," kata Umbu saat dihubungi reporter Tirto, Senin (4/4/2020).

Mahasiswa aktif yang tergabung dalam posko solidaritas itu, kata Umbu, lebih dari 50 orang. Mereka kebanyakan merupakan mahasiswa yang juga aktif berkegiatan di UKM.

"Awalnya inisiatif alumni kemudian dirembug dengan kami mahasiswa yang masih aktif, dan disepakati posko solidaritas di Gelanggang Mahasiswa pusatnya," ujar Umbu.

Hasil dari posko itu telah dibagikan ratusan botol hand sanitizer dan APD ke sejumlah instansi termasuk rumah sakit dan puskesmas. Sedangan disinfektan yang dibuat sebagian digunakan untuk penyemprotan gedung-gedung di UGM.

Sedangkan untuk distribusi sembako yang dimulai sejak April sudah dibagikan sebanyak 3.288 paket sembako ke mahasiswa UGM yang masih bertahan di kos atau kontrakan.

"Untuk sembako itu dari kampus sendiri dan kami yang mendistribusikan," kata Umbu yang merupakan mahasiswa Fakultas Geografi 2016 tersebut.

Harus pindah


Mahasiswa yang tergabung dalam FKUKUM UGM, kata Umbu, sebetulnya tidak keberatan dengan adanya pembangunan atau renovasi Gelanggang Mahasiswa. Pemberitahuan mengenai pembongkaran kata dia juga telah dikomunikasikan sejak beberapa bulan sebelumnya.

Namun yang menjadi kekecewaannya adalah pembongkaran tetap dilakukan sesuai jadwal meskipun dalam situasi pandemi. Padahal sejumlah mahasiswa belum siap untuk mengemasi barang karena aktivitasnya sedang terbatas.

Karena pembongkaran tetap dilakukan sesuai jadwal, maka saat ini sejumlah barang-barang milik UKM yang berada di gelanggang terpaksa dipindah sekenanya. Posko solidaritas Covid-19 UGM juga terpaksa dipindah.

Jalu, Mahasiswa Jurusan Sosiologi 2016 anggota UKM Perisai Diri menyayangkan karena proses pengosongan gelanggang ini membuat posko solidaritas Covid-19 gelanggang bergerak terpaksa berhenti.

"Banyak pihak yang kecewa karena di tengah kegiatan bantuan COVID-19 yang dilakukan oleh teman-teman UKM bersama alumni di posko gelanggang bergerak harus berhenti disituasi seperti ini karna lebih mementingkan pengosongan dan pembangunan gelanggang," ujarnya.

Pihak kampus UGM saat dikonfirmasi menyatakan bahwa pengosongan gelanggang mahasiswa itu dilakukan lantaran akan dilakukan renovasi.

"Gelanggang mahasiswa tidak hilang tetapi akan direnovasi dan fungsinya tetap untuk kegiatan mahasiswa dan kemahasiswaan," kata Kepala Bagian Humas dan Protokol UGM Iva Ariani, Senin (4/4/2020).

"Selama proses pembangunan, Posko Covid-19 dipindahkan ke Subdit Kreativitas Mahasiswa di Bulaksumur," tambahnya.


Baca juga artikel terkait UGM atau tulisan menarik lainnya Irwan Syambudi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Irwan Syambudi
Penulis: Irwan Syambudi
Editor: Abdul Aziz
DarkLight