Jadi Korban Kekerasan, Pejuang Ambon Akhirnya Berpihak ke Belanda

Oleh: Petrik Matanasi - 3 Juni 2021
Dibaca Normal 2 menit
Sepanjang revolusi kemerdekaan, orang-orang Ambon banyak yang menjadi korban kekerasan para pemuda militan pro Republik.
tirto.id - Johannes Dirk de Fretes cukup dekat dengan Latuharhary, gubernur pertama Maluku. Dalam buku Kebenaran Melebihi Persahabatan (2007:91) disebutkan, Fretes menjadi saksi ketika militer kolonial yang bernama Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL) mendarat di Jakarta dari Tarakan. Mereka disambut oleh sejumlah koran pro Republik Indonesia yang berita utamanya ditulis dengan huruf-huruf besar dan berjudul "AMBON ANDJING NICA".

Membaca tulisan itu, Fretes yang merupakan orang Maluku, bersabar dan tetap mantap mendukung Republik Indonesia. Ia bahkan berusaha menenangkan orang-orang Ambon yang marah dengan perundungan yang kerap diikuti pembunuhan oleh para pemuda pro Republik secara membabi buta. Ya, di Masa Bersiap, orang-orang Ambon memang kerap menjadi korban kekerasan. Para pemuda yang sering melakukan penyerangan itu antara lain berasal dari Pemuda Pelopor.


Di Makassar, kebencian terhadap orang Ambon juga terjadi. Mayor Jenderal Andi Mattalatta dalam Meniti Siri dan Harga Diri (2014:173) menyebut orang-orang Ambon menjadi sasaran kemarahan massa. Kemarahan itu tanpa pandang bulu, orang Ambon yang pro Belanda dan yang pro Republik sama-sama punya potensi kena hantam. Pada malam 2 Oktober 1945, puluhan orang Ambon di Makassar terbunuh. Orang-orang di Makassar menyebut peristiwa itu sebagai “pembalasan terhadap kekejaman KNIL Ambon.”


Suatu pagi, Mattalatta bahkan melihat seorang perawat Ambon yang disapa Non Latumahina menjadi korban. Beruntung, perawat pejuang yang ayahnya penasihat Gubernur Sulawesi versi Republik Indonesia, Sam Ratulangi, tidak mati terbunuh.

Lahadjdji Patang dalam Sulawesi dan Pahlawan2nya (1977:174) mencatat, suatu malam para pemuda militan pro Repubik menyantroni perkampungan yang berisi orang-orang Ambon dan melakukan pembunuhan. Seorang pemuda Ambon yang berusaha menenangkan keadaan pun turut menjadi korban.

Setelah kejadian seperti itu, para penyerang biasanya menghilang dan tak tersentuh hukum. Keadaan seperti ini melahirkan dendam di kalangan pemuda Ambon dan tidak heran jika mereka memilih masuk KNIL dan memihak kepada Belanda. Menjadi serdadu yang dilengkapi senjata membuat mereka bisa menjaga diri.

Kisah Nono Tanasale

Pada zaman pendudukan Jepang, Nono Tanasale yang pernah tinggal di Tanah Tinggi, Jakarta, bernasib sama seperti Latuharhary, yakni pernah ditahan oleh Kempeitai (polisi militer Jepang). Fretes mengenal Nono sebagai pendiri organisasi jaga malam zaman Jepang yang berpusat di Jalan Raden Saleh. Organisasi itu mirip gerakan bawah tanah anti-Jepang yang menghimpun informasi serta senjata untuk melawan Jepang. Para pemuda bekas KNIL banyak yang jadi anggotanya.

Di Jawa, orang-orang Manado dan Ambon adalah golongan yang kerap dicurigai oleh militer Jepang. Setelah proklamasi kemerdekaan, organisasi yang bernama Angkatan Pemuda Indonesia (API) berdiri, termasuk API Ambon.

“Nama Ambon dipilih sebagai identifikasi minoritas politik yang dianggap berpihak kepada Belanda. Melalui API Ambon ini, kami akan memperlihatkan identitas suku Ambon yang berhasrat menegakkan kemerdekaan Indonesia dan yang turut membela kemerdekaan Indonesia mati-matian,” tulis Fretes.

Nono Tanasale dipilih menjadi Ketua API Ambon, meski tidak lama. Salah satu anggotanya dari kalangan mahasiswa adalah Frans Pattiasina. Belakangan ia berpangkat Brigadir Jenderal yang merupakan dokter Angkatan Darat yang ikut mengautopsi Pahlawan Revolusi.

API Ambon yang pro Republik ikut melindungi orang-orang Ambon. Jalan Kramat VII menjadi tempat penampungan mereka agar aman dari perundungan dan pembunuhan pemuda yang membabi buta dengan mengatasnamakan revolusi kemerdekaan Indonesia. Fretes menyebut pemuda-pemuda dari Gang Sentiong dan ratusan orang dari Karawang dan Bekasi pernah berusaha mengganggu API Ambon, yang bisa saja membahayakan orang-orang Ambon yang ditampung di sana.

Nono Tanasale kecewa kepada Republik, karena sebagian pendukungnya membuat orang-orang Ambon tanpa dosa jadi terbunuh. Fretes berusaha menenangkannya. Namun, kesabaran Nono telah habis. Kepercayaannya kepada Republik yang tak kunjung bisa melindungi orang-orang Ambon telah tumpas. Menurut OI Nanulaitta dalam Mr. Johanes Latuharhary, Hasil Karya dan Pengabdiannya (1983:147), pada 23 Desember 1945 Nono akhirnya membelot dari API dan bergabung dengan Belanda.

Bagi Nono, itu adalah cara untuk bisa terlindungi dan melindungi orang-orang Ambon. Menurut RZ Leiriza dalam Ir. Martinus Putuhena: Karya dan Pengabdiannya (1985:49), Nono ikut merebut markas pemuda Ambon di Jalan Kramat setelah markas itu digempur tentara Sekutu dari militer Inggris. Nono melucuti API Ambon dan mengajak mereka untuk melindungi orang Ambon.

Dalam buku Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Kodam V/Jaya (1974:188) disebutkan, Nono Tanasale mencapai pangkat ajudant (setara pembantu letnan). Arsip Kabinet Perdana Menteri Republik Indonesia Yogyakarta nomor 155: "Berkas mengenai gerak-gerak gerombolan-gerombolan liar di daerah Bogor dan Karawang Mei-Juli 1950" menyebut: Ajudan Tanasale punya pengikut yang berbuat kekacauan di Jakarta jelang tentara Belanda angkat kaki dan pembubaran KNIL.

Arsip itu juga menyebut bahwa Tanasale adalah Soldadu klas I (prajurit satu) KNIL di Batalion Infanteri ke-10 KNIL di Jakarta. Di awal revolusi, Tanasale disebut ikut membunuh banyak orang Indonesia di Tanah Tinggi, hingha pangkatnya naik, bahkan mencapai ajudan. Namun pada 1950, ada kabar yang menyebut Nono Tanasale masuk TNI dengan pangkat kapten.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight