Jacinda Ardern dan Selandia Baru Melawan Terorisme

Oleh: Ign. L. Adhi Bhaskara - 21 Maret 2019
Dibaca Normal 4 menit
Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern membawa angin segar bagi masyarakat dunia di tengah kebencian yang merajalela.
tirto.id - “Dia teroris. Dia kriminal. Dia ekstremis.”

“Namun, ketika saya berbicara, namanya takkan saya sebut ... Dia mungkin mencari ketenaran. Tapi Selandia Baru tidak akan memberinya apa-apa."

Kalimat singkat, tidak bertele-tele, namun penuh kekuatan itu diucapkan oleh Jacinda Ardern di hadapan parlemen Selandia Baru pada Selasa (19/3). Pernyataan itu adalah bagian dari pidato panjang pertamanya di hadapan parlemen sejak aksi teror di Christchurch, Jumat pekan lalu.

Nama Ardern mungkin tidak banyak terdengar di kancah dunia internasional sebelumnya. Namun, tak butuh waktu lama setelah terjadinya teror di Masjid Christchurch pada Jumat pekan lalu, ia segera menjelma menjadi sosok pemimpin yang didambakan oleh banyak masyarakat di berbagai belahan dunia.

Oleh banyak pihak, ia dinilai berhasil menunjukkan kualitas pemimpin sejati di tengah kesedihan dan krisis teror terburuk sepanjang sejarah Selandia Baru.

Ada yang berbeda dari cara Ardern bersikap terhadap serangan teror jika dibandingkan dengan sejumlah pemimpin negara lainnya, khususnya di Barat: politikus dari Partai Buruh itu fokus pada korban dan pemulihan masyarakat, alih-alih pada pelaku teror.

Seperti dituliskan oleh jurnalis Damien Cave dan Emily Stell dalam laporan di New York Times, sampai hari ini dunia memang masih kesulitan untuk memberikan respons yang tepat untuk menyikapi aksi penembakan di Selandia Baru.

Kebanyakan masih jatuh pada lubang yang sama: membuat pelaku teror dan pesannya terkenal sehingga meneruskan mata rantai kekerasan.

“Dia [Ardern] telah menunjukkan kepemimpinan yang tenang, kuat, dan sangat fokus dalam menjaga orang-orang yang paling terkena dampak langsung. Pembunuhnya hampir tidak disebutkan,” puji Profesor Jennifer Curtin, Direktur Public Policy Institute di Auckland University, seperti dikutip dari Guardian.

“Perbincangan sehari-hari di Selandia Baru sejak serangan [teror Christchurch] bukan tentang kebencian dan kemarahan, namun bagaimana ‘kita bisa melakukan ini’, ‘kita bisa sembuh’, ‘kita bisa melewati [tragedi] ini.”


Tegas dan Inklusif

Beberapa jam setelah tragedi memilukan itu, Ardern langsung memberikan pernyataan tegas menyebut tindakan kaum supremasi kulit putih itu sebagai aksi teroris—sesuatu yang jarang dilakukan oleh pemimpin dunia lainnya di Barat ketika pelaku serangan teror adalah orang kulit putih.

Dalam keterangan resminya kepada pers beberapa jam setelah penembakan, Ardern menyatakan bahwa korban adalah bagian tak terpisahkan dari Selandia Baru beserta masyarakatnya. Pada saat yang bersamaan, ia juga mengutuk para pelaku teror sekeras-kerasnya.

“[Para korban] adalah kita,” sebutnya. “Orang yang melakukan tindak kekerasan terhadap kita bukanlah bagian [dari kita], tidak ada tempat di Selandia Baru untuk aksi kekerasan ekstrem dan tiada taranya.”

Masih dari Guardian, pada Sabtu (17/3) pagi, Ardern mengunjungi Christchurch. Mengenakan kerudung hitam dengan jahitan berwarna emas, ia menemui sejumlah anggota komunitas Muslim yang terdampak oleh tragedi tersebut. Tanpa ragu, ia merangkul mereka dan bersimpati terhadap apa yang telah mereka rasakan.

Pada hari yang sama pula, Ardern menegaskan bahwa undang-undang terkait senjata api di Selandia Baru akan segera mengalami perubahan, berkaca dari tragedi ini.

Kemudian muncullah Senator Australia Fraser Anning dengan komentarnya. Dalam keterangan tertulisnya, Anning menyalahkan kebijakan imigrasi dan Muslim atas terjadinya tragedi. Bagi Anning, langkah para politisi kiri dan media yang mengatakan bahwa tragedi tersebut disebabkan oleh UU Senjata Api dan ideologi ultra-nasionalis sebagai “omong kosong klise.”

Cara komunikasi yang kontras ini disorot oleh masyarakat melalui media sosial dan media. Ardern dan pendekatannya yang simpatik dan humanis pun semakin nampak cemerlang.


Pakar keamanan Paul Buchanan mengatakan bahwa kekuatan dari Ardern adalah empatinya. “Dia seperti ibu bangsa. Dalam kejadian seperti ini, saya pikir sentuhannya sudah mendekati sempurna,” kata Buchanan.

Ia menyoroti bagaimana Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump dan sejumlah pemimpin negara lainnya menggunakan pendekatan yang bertolak belakang dengan Ardern dalam situasi yang serupa. Para pemimpin ini acap kali menggunakan kata-kata yang keras pasca-serangan teror yang menurut Buchanan hanya menunjukkan kepura-puraan.

Terkadang, lanjut Buchanan, kata-kata keras tersebut bahkan dirancang untuk menutupi kelemahan atau bahkan hasrat balas dendam. “Ardern sama sekali tidak melakukan hal-hal itu,” sebutnya.

“[Gaya Ardern] adalah gaya kepemimpinan yang sangat sesuai dengan Selandia Baru. Selandia Baru memang memiliki sisi gelap terkait rasisme. Tetapi, apa yang Ardern lakukan adalah memberi kita waktu untuk menghadapi iblis-iblis ini, kegelapan ini dan mengubah cara kita.”

Sebagai catatan, Ardern merupakan Perdana Menteri Selandia Baru termuda dalam 150 tahun terakhir. Ia pernah berprofesi sebagai disc jockey (DJ) dan menjabat sebagai presiden Serikat Pemuda Sosialis Internasional (2008-2010).

Ardern tidak sendiri. Masyarakat Selandia Baru pun turut menunjukkan simpati mereka, salah satunya disampaikan melalui Haka, tarian tradisional seremonial khas suku Maori. Haka biasanya dilakukan dalam medan perang, namun tarian ini juga dapat digunakan untuk menandai suatu acara yang sangat penting, seperti peringatan dan perayaan.

Dikutip dari Washington Post, sejumlah kelompok masyarakat mulai dari siswa sekolah hingga orang dewasa melakukan tarian ini sebagai penghormatan bagi korban tragedi Christchurch.


Menyasar Media Sebagai Medium

Pidato Ardern yang menolak untuk menyebutkan nama pelaku teror tersebut memang menyasar inti dari terorisme sendiri: Penyebaran teror dan propaganda agar orang tersita perhatiannya pada agenda yang dimiliki oleh teroris tersebut.

Seperti dikutip dari Vox, penyebutan nama pelaku teror oleh media dan perbincangan publik sebetulnya sangat diinginkan oleh pelaku karena mereka (dan gagasannya) akan semakin terkenal. Selain itu, calon pelaku teror di masa depan juga bisa mendapatkan gambaran situasi pasca-serangan.

Jaclyn Schildkraut, penulis buku Mass Shootings: Media, Myths and Realties (2016) mengatakan bahwa efek riak terorisme memang nyata. Studi berjudul “Contagion in Mass Killings and School Shootings” (2015), misalnya, mengindikasikan sebuah penembakan massal meningkatkan potensi penembakan massal lain dalam dua minggu setelah insiden terjadi.

Studi tahun 2017 berjudul “Mass Killings in the United States from 2006 to 2013: Social Contagion or Random Clusters?” menemukan bahwa peliputan media massa akan aksi penembakan dapat memicu kejadian serupa dalam jangka panjang.

Lebih lanjut, investigasi ABC News menemukan pelaku penembakan massal yang terkenal bisa dijadikan inspirasi oleh orang lain untuk melakukan tindakan serupa.

Teroris Christchurch jelas menanti lampu sorot. Ia menyiarkan aksi kejinya secara langsung di Facebook sembari mengunggah manifesto supremasi kulit putih.

Ardern sendiri sadar akan hal ini. Dalam pidatonya ia juga menyinggung isu media sosial sebagai alat propaganda teroris dan berkomitmen untuk menuntut pertanggungjawaban perusahaan media sosial.




Infografik Jacinda Ardern
undefined


“Mereka penerbit, bukan sekadar tukang pos. Tidak boleh ada kasus di mana [perusahaan media sosial] hanya meraup semua keuntungan tanpa tanggung jawab,” tegas Ardern.

Sejumlah perusahaan penyedia layanan internet terbesar di Selandia Baru—Vodafone NZ, Spark dan 2degrees—juga sepakat dengan Ardern. Mereka telah mengirimkan surat terbuka kepada CEO Facebook, Twitter dan Google soal cara menghentikan akses terhadap konten ciptaan si pelaku teror.

“[Perusahaan media sosial] memiliki kewajiban hukum untuk melindungi penggunanya dan masyarakat luas dengan mencegah pengunggahan dan pembagian konten seperti video ini,” terang perusahaan-perusahaan tersebut, masih dari New York Times.

Facebook sendiri bertindak cepat. Dalam waktu 24 jam, Facebook mengklaim telah mencabut sekitar 1,5 juta kopi video pelaku teror dari platform mereka, selain juga memotong akses pada video-video yang memiliki kemiripan dengan video sang pelaku.

Selandia Baru sesungguhnya tak bebas Islamofobia. Kepala Islamic Women Council Selandia Baru Anjum Rahman mengatakan organisasinya telah mencatat adanya peningkatan sentimen negatif terhadap Muslim dalam beberapa tahun terakhir seiring kian populernya ideologi ultra-kanan di Selandia Baru.

Islamic Women Council bahkan telah menyerahkan laporan lengkap kepada pemerintah sekitar lima tahun lalu. Namun hingga hari ini belum ada tindakan konkret yang diambil oleh Wellington. Inilah salah satu pekerjaan rumah yang harus diselesaikan Ardern.

Baca juga artikel terkait TERORISME atau tulisan menarik lainnya Ign. L. Adhi Bhaskara
(tirto.id - Hukum)


Penulis: Ign. L. Adhi Bhaskara
Editor: Windu Jusuf