Menuju konten utama

IUCN Klaim Kelapa Sawit Bukan Penyebab Utama Deforestasi

Sekitar 30 persen lahan kelapa sawit di Indonesia ditanam dari hasil deforestasi hutan primer. Namun, sisa 70 persennya diklaim merupakan tindak lanjut dari tanah yang sudah dalam keadaan rusak.

IUCN Klaim Kelapa Sawit Bukan Penyebab Utama Deforestasi
Foto udara kawasan perkebunan kelapa sawit di Batanghari, Jambi, Rabu (28/11/2018). ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/aww.

tirto.id - Kepala Satgas Kelapa Sawit Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN), Erik Meijaard meminta pemahaman mengenai deforestasi di Indonesia tidak hanya terpusat pada kelapa sawit saja.

Ia mengklaim andil penanaman kelapa sawit terhadap deforestasi mencapai 60 persen. Penyebab deforestasi selain kelapa sawit justru memiliki andil mencapai 84 persen.

“Kelapa sawit punya dampak negatif terhadap keanekaragaman, iya. Tapi apakah itu penyebab satu-satunya? Saya pikir tidak,” ucap Erik kepada wartawan usai konferensi pers penyerahan hasil studi IUCN kepada pemerintah Indonesia di Gedung Kemenko Perekonomian, Senin (4/2/2019).

Erik mengatakan, sekitar 30 persen lahan kelapa sawit di Indonesia memang ditanam dari hasil deforestasi hutan primer. Namun, sisa 70 persennya diklaim merupakan tindak lanjut dari tanah yang sudah dalam keadaan rusak.

“Jadi seharusnya lebih sedikit dari yang orang-orang pikirkan,” ucap Erik.

Erik membenarkan, kelapa sawit memang memiliki dampak kerusakan terhadap keanekaragaman hayati yang tidak dapat diabaikan. Namun, saat ini memang belum ada solusi yang untuk mengatasinya.

Kelapa sawit masih dibutuhkan, karena produk kepala sawit masih digunakan untuk masyarakat dunia. Solusi yang perlu dilakukan, kata dia, dengan mendorong produksi kelapa sawit secara berkelanjutan.

Terutama agar pemerintah, produsen, dan pengatur rantai pasok menghargai komitmen terhadap keberlanjutan.

Tidak hanya IUCN, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Joko Supriyono juga menyayangkan hal serupa. Ia tidak sepakat bila kelapa sawit selalu dikaitkan dengan deforestasi.

Joko pun mengamini hasil studi IUCN yang menyatakan, kelapa sawit tidak melulu menjadi penyebab deforestasi.

Menurutnya, studi itu dapat menjadi referensi dunia internasional agar memiliki pemahaman yang lebih baik terkait isu ini.

“Studi ini sangat membantu. Terutama saat kelapa sawit selalu dikaitkan dengan deforestasi. Tuduhan itu semata-mata tidak benar,” ucap Joko.

Sebelumnya, Kepala Kampanye Forest Global untuk Indonesia Greenpeace Kiki Taufik menilai komitmen pemerintah Indonesia dalam mengatasi deforestasi masih belum serius.

Sepanjang 2017 deforestasi mengalami penurunan, tapi luasannya masih signifikan. Pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit pun masih muncul sebagai salah satu penyebab dominan deforestasi.

“Data University of Maryland, tahun 2017 kita kehilangan 355,5 ribu hektar hutan dan 80 ribu hektarnya dari palm oil. Penyebab terbesarnya masih industri kelapa sawit,” ucap Kiki saat dihubungi reporter Tirto pada Senin (28/1/2019).

Kiki mengatakan data Greenpeace menunjukkan besaran hutan yang hilang selama 2 tahun terakhir setara dengan dua kali luas Singapura. Menurutnya, jika pemerintah mengacu pada Paris Agreement terkait penurunan emisi, jumlah bukaan hutan seluas itu tetap tidak dapat dibenarkan.

Baca juga artikel terkait KELAPA SAWIT atau tulisan lainnya dari Vincent Fabian Thomas

tirto.id - Bisnis
Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Zakki Amali