Istimewanya Jadi Orang Biasa

Kontributor: Eyi Puspita, tirto.id - 16 Agu 2022 10:00 WIB
Dibaca Normal 5 menit
Ada yang luar biasa dari sepak terjang orang-orang biasa.
tirto.id - Dalam sebuah presentasi TedxTalk 2015, Jeroen van Baar – peneliti bidang kesehatan mental dan neuroscience di Trimbos Institut, Belanda — menceritakan pengalamannya.

Suatu Senin siang, Jeroen yang masih berpiyama sedang bersantai di rumahnya, iseng-iseng mengecek Facebook. Matanya menangkap satu video milik seorang teman. Si kawan telah merekam satu detik kehidupannya per hari sepanjang tahun 2013, lalu menggabungkannya dalam video sepanjang enam menit. Menurut Jeroen, video itu keren sekali. Kehidupan si kawan terdiri atas rangkaian perjalanan seru ke berbagai tempat, acara wisuda, kumpul-kumpul dengan teman, serta makan malam hangat bersama keluarga.

Jeroen sendiri mengaku menjalani hidup yang modern, sehat, dan berkecukupan. Ia juga seorang kandidat PhD di Donders Institute for Brain, Cognition and Behavior, Belanda. Namun setelah menyaksikan video si kawan, ia tak bisa menahan perasaan kalau hidupnya ternyata tidak ‘hebat-hebat amat’. Biasa-biasa saja. Medioker.

Cerita semacam ini tentu tidak hanya terjadi pada Jeroen. Bagaimana pun, kita berada pada zaman yang mengagungkan kehidupan luar biasa (extraordinary). Ukuran luar biasa bisa berbeda bagi setiap orang, tapi masyarakat rata-rata menginginkan kesuksesan dalam karier, bidang akademis, materi, relasi, dan status sosial.

Rainesford Stauffer, penulis buku “An Ordinary Age: Finding Your Way in a World that Expects Exceptional” mengatakan ada tekanan terus menerus dari budaya, media dan bahkan orang-orang terdekat – terutama terhadap kelompok dewasa muda — untuk menggapai standar extraordinary dalam setiap aspek kehidupan. Kita didorong untuk menjadi juara kelas, mengejar karier yang sukses, traveling ke berbagai negara, lalu menikah dengan pasangan yang ideal, membeli rumah dan punya anak.

Semua tekanan ini membuat kita tak ingin jadi orang biasa. Kita ingin jadi luar biasa, unik, spesial. Tentu tak ada yang salah dengan keinginan menjadi extraordinary. Bahkan, sebenarnya baik, karena dapat meningkatkan motivasi berprestasi seseorang. Namun keinginan yang tak terkendali dan tanpa disertai kapasitas memadai berisiko membebani diri sendiri, merasa inferior, dan tak menghargai apa yang sudah diraih.

Penyebab Munculnya Tekanan

Ada banyak faktor yang melahirkan tekanan untuk menjadi extraordinary. Menurut Dr. Miwa Patnani, M.Si., Psikolog, Dekan Fakultas Psikologi Universitas YARSI, hasrat untuk menjadi extraordinary didorong oleh keinginan untuk lebih dari orang lain. “Kita mengenal teori perbandingan sosial (social comparison), di mana individu memang cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain, sehingga berujung pada keinginan untuk berkompetisi dan mencapai hal yang lebih daripada orang lain,” tuturnya.

“Kecenderungan ini tumbuh subur terutama dalam masyarakat kolektif, seperti Indonesia, di mana segala sesuatu diukur berdasarkan perbandingan dengan lingkungan sekitar. Misalnya, sistem peringkat di sekolah, yang membandingkan anak dengan teman-teman sekelasnya. Siswa peringkat atas dianggap lebih baik dari siswa peringkat bawah. Ini tentu mendorong munculnya keinginan menjadi extraordinary. Apalagi jika orang tua dalam pengasuhan sehari-hari menanamkan keinginan berkompetisi dan menjadi extraordinary,” tambah Miwa.

Kecenderungan untuk membandingkan diri dengan orang lain semakin berkembang di era informasi saat ini. Penulis Mark Manson yakin bahwa faktor utama yang meningkatkan desakan untuk menjadi extraordinary adalah banjir informasi dari berbagai media.

Kehadiran internet dan ratusan saluran TV tentu luar biasa. Namun rentang perhatian kita terbatas. Hanya informasi terunik atau luar biasa yang tertangkap oleh kita. Sepanjang waktu, kita terpapar oleh segala yang terbaik atau terburuk. Prestasi terbaik, bencana terparah, penemuan tercanggih, golongan terkaya atau termiskin. Media menyajikan segala hal dari ekstrim terbaik dan terburuk karena itulah yang paling menarik perhatian dan laku dijual. Padahal, mayoritas kehidupan justru terjadi di antara dua ekstrim itu.

Menurut Mark Manson, banjir informasi dari dua ekstrim inilah yang membuat kita percaya bahwa menjadi luar biasa adalah standar normal yang baru. Namun, karena rata-rata kehidupan kita biasa saja, kita cemas, insecure, dan merasa perlu menjadi luar biasa setiap saat.

Sementara, filsuf modern Alain de Botton dalam bukunya “Status Anxiety” menyatakan bahwa obsesi menjadi extraordinary dipacu oleh meritokrasi, yaitu sistem sosial yang mengutamakan kemampuan/kecakapan individu untuk menempati posisi tertentu.

Ratusan tahun lalu, dalam sistem masyarakat feodal, setiap individu langsung tahu di mana posisinya dalam tatanan sosial. Jika ia terlahir dari keluarga petani, maka ia adalah petani. Bila ia terlahir dari keluarga bangsawan, ia adalah bangsawan. Dalam sistem feodal, tak ada pergeseran status atau kesempatan. Namun di sisi lain, juga tak ada tekanan untuk maju dan berkembang. Manusia tak punya kuasa dan tak bertanggung jawab atas status sosialnya. Ia cukup menerima takdirnya lalu menjalani hidup.

Sebaliknya, dalam sistem meritokrasi seperti sekarang, jika seseorang miskin, bangkrut atau gagal, itu bukan sekadar takdir. Itu kesalahan dan tanggung jawabnya sendiri. Ia adalah pecundang. Akibatnya, manusia selalu merasa takut akan kekurangan. Bagaimana pun, semakin besar kesempatan yang ada, kita semakin cemas kalau kesempatan itu luput dari tangan. Karena itulah, kita stres. Kita merasa perlu meraih nilai ujian lebih tinggi, pekerjaan lebih baik, penghasilan lebih besar, hobi lebih asyik, juga followers, viewers, dan likes lebih banyak.


Dari Obsesi Menjadi Beban Diri

Terobsesi menjadi extraordinary tanpa memahami kapasitas diri sendiri tentu akan berdampak negatif, antara lain membebani diri serta memacu stres yang berpengaruh buruk pada kondisi kesehatan mental. Selain itu, jika tidak didukung oleh integritas yang tinggi, obsesi menjadi extraordinary dapat mendorong seseorang melakukan hal-hal negatif, melanggar etika atau aturan, serta menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan. Misalnya siswa yang mencontek saat ujian atau remaja yang menghadang truk demi konten media sosial (medsos).

Pada remaja dan kelompok dewasa muda, tekanan menjadi extraordinary terutama datang dari media sosial. Pasalnya, pengguna medsos cenderung mengunggah foto dan video terkurasi yang menampilkan diri mereka dalam kondisi terbaik. Scrolling medsos bisa membuat kita merasa kalau orang lain menjalani hidup yang lebih mewah dan seru, berlibur ke tempat lebih asyik atau menjalani hubungan yang lebih harmonis.

Satu hal lagi yang dipicu oleh obsesi menjadi luar biasa adalah hustle culture. Pada dasarnya, hustle culture adalah gaya hidup yang menjadikan karier sebagai prioritas paling utama dalam hidup, bahkan mengorbankan aspek-aspek manusiawi lainnya seperti kesehatan atau waktu berkualitas bersama keluarga.

Hasil survei ADP Research Insitute 2021 menemukan bahwa 1 dari 10 pegawai di 17 negara mengatakan mereka bekerja 20 jam lebih lama per minggu, sementara rata-rata pekerja bekerja lembur 9,2 jam per minggu (keduanya tanpa tambahan uang lembur). Dalam hustle culture, ada keyakinan bahwa mereka yang bekerja lebih lama berarti lebih bernilai. Lebih sibuk berarti lebih baik, karena akan membawa kita pada lebih banyak uang, prestise, kebahagiaan, dan kepercayaan diri.

Di sisi lain, hustle culture juga menciptakan lingkungan yang toksik, memicu rasa bersalah, takut dan malu. Ini terjadi jika kita tidak bekerja sebanyak atau secepat rekan-rekan lain. Dalam penelitian yang dilakukan Erin Reid, associate professor di McMaster University’s DeGroote School of Business, Kanada, ia menemukan beberapa pegawai yang berpura-pura bekerja 80 jam per minggu, demi penghargaan dari manajemen. Seorang Elon Musk bahkan pernah berkata, “Manusia takkan bisa mengubah dunia hanya dengan bekerja 40 jam per minggu.”

Infografik Menjadi Orang Biasa
Infografik Menjadi “Orang Biasa”. tirto.id/Fuad


Biasa Bukan Berarti Tak Bermakna

Menerima kondisi diri sendiri yang biasa saja bukan berarti kita bermalas-malasan, tak punya impian atau visi hidup. Justru, menurut Rainesford Stauffer, menerima nilai diri sendiri apa adanya akan membantu kita untuk reorientasi diri tentang apa yang sebenarnya kita butuhkan dan inginkan. Selama ini kita mungkin lebih sering mencari validasi eksternal, padahal seharusnya kita lebih fokus membangun hidup bermakna versi diri kita sendiri. Apalagi, karena akses dan privilese tiap orang berbeda, proses dan hasil akhirnya pasti berbeda.

Lalu bagaimana cara mengejar impian tanpa terjebak dalam ‘balapan’ menjadi extraordinary? Menurut psikolog Miwa Patnani, kita harus memahami bahwa kapasitas setiap individu berbeda. Setiap orang punya kelebihan dan kelemahan. Optimalkan apa yang kita miliki agar mencapai hasil terbaik. Gunakan diri sendiri sebagai standar pencapaian, bukan membandingkan dengan orang lain. Yang terpenting adalah mencapai hasil yang lebih baik dari apa yang telah kita capai sebelumnya. Selain itu, tetapkan tujuan yang tidak terlalu jauh dari kapasitas diri kita. Dengan begitu, tingkat stres kita relatif tidak terlalu tinggi dan kemungkinan keberhasilan juga lebih besar.

“Kita bisa hidup biasa saja, tapi tetap bermakna. Pahamilah bahwa prestasi atau keberhasilan tidak hanya seputar akademis atau karier, tapi juga pada aspek-aspek kehidupan yang tidak terukur, misalnya kehidupan sosial dan spiritual. Aspek-aspek ini juga perlu diperhatikan dan dioptimalkan sehingga dapat menunjang upaya peningkatan well-being seseorang. Terimalah bahwa kita tidak bisa memaksakan prestasi pada individu yang memang tidak punya bakat dan minat di bidang tersebut. Cari dan temukan bakat dan minat kita sebenarnya, lalu optimalkan pencapaiannya,” urai Miwa.

Ada argumen menarik dari Mark Manson. Menurutnya, orang sulit menerima kenyataan bahwa diri mereka biasa-biasa saja, karena dengan begitu, mereka merasa takkan bisa mencapai sesuatu yang besar dan hidup takkan bermakna. Menurut Manson, premis ini berbahaya karena jika hidup hanya bermakna jika kita sudah memiliki pencapaian luar biasa hebat, itu sama saja mengatakan sebagian besar populasi umat manusia tidak berharga.

Selain itu, kata Manson, orang tidak mencapai sesuatu yang luar biasa karena merasa dirinya extraordinary. Sebaliknya, mereka konsisten memperbaiki diri justru karena merasa medioker dan biasa saja. Inilah ironi tentang ambisi: Jika kita terobsesi menjadi lebih hebat dari orang lain, kita malah akan selalu merasa seperti pecundang.

Lagipula, bukankah dunia berputar karena orang-orang biasa setia melakukan hal-hal yang dianggap biasa? Bukankah sudah terbukti selama 2020-2021 lalu, bahwa kumpulan ‘orang biasa’ seperti tenaga kesehatan, penjual makanan, kurir, dan pengemudi ojek online adalah yang meringankan beban kita menempuh badai pandemi Covid-19? Ada perjuangan, cinta dan kemuliaan dalam hal-hal biasa yang mereka kerjakan. Ada yang luar biasa dari sepak terjang orang-orang biasa.

Baca juga artikel terkait MODERN atau tulisan menarik lainnya Eyi Puspita
(tirto.id - Gaya Hidup)

Kontributor: Eyi Puspita
Penulis: Eyi Puspita
Editor: Lilin Rosa Santi

DarkLight