Israel Hands, Perompak Tangan Kanan Blackbeard

Penulis: R. A. Benjamin - 16 Apr 2022 10:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Setiap kapten kelompok bajak laut lazimnya selalu punya tangan kanan. Seperti halnya Blackbeard punya Israel Hands sebagai quartermaster.
tirto.id - Dari sederet bajak laut Zaman Keemasan Perompakan (1690-1730) yang namanya terus dirayakan hingga kini, tidak semuanya berposisi sebagai kapten. Sebagian dari mereka bahkan bisa dibilang lebih mencuat dalam sejarah dan budaya populer ketimbang banyak komandan perompak.

Dalam kolektif bajak laut termasyhur The Flying Gang, misalnya, ada nama-nama nonkapten yang kerap muncul dalam kisahromantisasi bajak laut seperti Anne Bonny dan Mary Read. Mudah saja untuk menyimpulkan, nama mereka masyhur lantaran statusnya sebagai perempuan di dunia yang didominasi laki-laki dan tentu saja berkat kisah-kisah romantisasi tentangnya.

Sementara itu, beberapa perompak kenamaan juga terangkat namanya usai menjabat posisi quartermaster atau first mate di kapal.

Dalam kelompok bajak laut, posisi quartermaster dianggap setara dengan first mate di kapal dagang dan letnan pertama di kapal angkatan laut. Secara de facto, seorang quartermaster adalah pemegang otoritas tertinggi di kapal setelah kapten atau admiral (jika dia memimpin lebih dari satu kapal).

Di samping bertanggung jawab atas persediaan air dan makanan kru, mereka juga punya otoritas menghukum awak yang tak mematuhi perintah. Bukan mustahil kalau mereka yang berada di posisi ini punya andil tak kecil dalam melambungkan nama kapten mereka.

Dalam sejarah garong lautan, terdapat beberapa nama quartermaster yang sohor. Sebutlah misalnya Palgraves Williams yang tercatat pernah menjadi quartermaster untuk dua kapten, "Pangeran Bajak Laut" Samuel Bellamy dan Olivier "La Buse" Levasseur. Dalam kelompok gentleman pirate Stede Bonnet, salah satu awaknya bahkan bersaksi bahwa quartermaster mereka, Robert Tucker, lebih berkuasa ketimbang kaptennya sendiri.

Kemudian, ada nama Edward Teach alias Blackbeard yang pernah menjadi awak kepercayaan Benjamin Hornigold sebelum dia meraih reputasi pribadi sebagai kapten bajak laut paling ditakuti. Lalu, ketika Blackbeard melambung namanya ke seantero lautan, begitu pula dengan tangan kanannya: Israel Hands.

Ditunjuk Menjadi Kapten

"Aku merasa terhormat bekerja untuk Blackbeard yang legendaris, pelaut paling brilian yang pernah kutemui," ujar Izzy Hands, karakter yang berangkat dari sosok Israel Hands dalam serial TV Our Flag Means Death. Ketika sang kapten tampak kehilangan kontrol, adalah tugas dia untuk mengingatkan akan reputasi menakutkan kru bajak laut mereka.

Israel Hands cukup sering diadaptasi ke dalam kisah romantisasi perompak seiring dengan kemunculan Blackbeard. Selain dalam serial tersebut, sosoknya pun muncul dalam kisah-kisah lainnya, seperti Black Sails, Treasure Planet (2002) produksi Disney dan tentunya dalam novel bajak laut kenamaan Treasure Island karya Robert Louis Stevenson.

Kisah Israel Hands sebelum menjadi perompak tak diketahui dengan terang. Kadang, dia disebut Basilica Hands atau Hesikia Hands. Tak jelas kapan dan di mana lahirnya sang perompak ini. Beberapa versi menyebut bahwa dia berposisi sebagai sailing master atau bosun, tapi sebagian besar sepakat kalau dia berlaku sebagai first mate.

Catatan tentang dirinya pun baru muncul seiring kisah petualangan Blackbeard.

Pada 4 atau 5 April 1718, kelompok Blackbeard berhasil menaklukkan Adventure, kapal layar bertipe sloop, yang mengangkut komoditas berharga berupa logwood di sekitar Kepulauan Turneffe di Teluk Honduras. Kapten kapal itu, David Herriot, lantas direkrut ke dalam kelompok, sementara Adventure dijadikan salah satu kapal dalam armada Blackbeard. Untuk mengapteni kapal itu, ditunjuklah Israel Hands.

Bersama armada ini, Israel terlibat banyak perompakan dan aksi-aksi paling terkenal mereka, seperti pemblokadean Charles Town di South Carolina.


Ditembak Kaptennya Sendiri

Suatu waktu seusai aksi memblokade kota, Queen Anne's Revenge—kapal utama armada Blackbeard—dan Adventure pimpinan Israel terdampar di Beaufort Inlet, North Carolina.

Beberapa pihak merasa bahwa kejadian itu sejatinya telah direncanakan keduanya. Awal mulanya adalah Blackbeard yang merasa kelompoknya terlalu gemuk—kelewat banyak kepala yang harus diberi pembagian jarahan. Dia lantas disebut sengaja mengarahkan Queen Anne's Revenge ke dangkalan berpasir.

Demi mempertahankan skenario ini, Blackbeard berpura-pura meminta pertolongan Israel di kapal Adventure. Namun apa daya, kapal itu pun turut kandas.

Biaya untuk menyelamatkan dan memperbaiki kedua kapal itu terlalu mahal. Maka Blackbeard, Israel, dan sebagian awak meninggalkannya dan bergabung ke kapal lain dalam armada mereka, yaitu Revenge milik Stede Bonnet.

Israel juga termasuk dalam segelintir awak yang mendampingi Blackbeard dan Bonnet menerima pengampunan (Acts of Grace)dari raja Inggris George I di Bath, North Carolina. Seusai menerima pengampunan itu, mereka meninggalkan Bonnet, merampok kapalnya, dan berlayar kembali sebagai bajak laut.

Saat berpisah dengan Bonnet inilah, salah satu kisah paling terkenal dalam sejarah bajak laut terjadi: Blackbeard menembak Israel Hands.


Terdapat beberapa versi mengenai kejadian ini. Salah satunya menyebutkan bahwa Blackbeard sebetulnya sedang bermain kartu dan mabuk berat. Mendapati kartunya tak sesuai harapan, dia pun menembak pemain lainnya. Apa daya, lantaran mabuk, tembakannya meleset dan pelor malah menghantam lutut awak kepercayaannya.

Dalam versi lain yang berasal dari Legends of the Outer Banks (1966) susunan Charles Harry Whedbee, Blackbeard disebut sedang memainkan "tes keberanian". Dia menarik pistol dari ikat pinggangnya dan mengarahkannya di bawah meja. Sang kapten bersumpah untuk menembak siapa pun yang tidak kabur dari meja mereka. Dia lalu mulai menghitung mundur. Para awaknya sontak berhamburan, kecuali Israel yang tetap santai menyesap rum.

Entah versi mana yang lebih mendekati kebenaran, yang jelas ada satu hal yang selalu ajek bahwa tembakan Blackbeard meleset dan justru menghancurkan batok lutut Israel. Karenanya, sang komandan kedua jadi pincang selama sisa hidupnya.

Manakala Israel komplain atas penembakan itu, Blackbeard menjawab, “Jika aku tidak menembak satu atau dua dari kalian,sekarang atau nanti, kalian akan lupa siapa dirimu sebenarnya."

Infografik Tangan Kanan Kapten bajak Laut
Infografik Tangan Kanan Kapten bajak Laut. tirto.id/Sabit


Luput dari Kematian, tapi Tidak Kemiskinan

Penembakan tersebut, terlepas dari akurasinya, lantas mengundang pengkajian lebih lanjut. Beberapa sejarawan menyatakan bahwa ini adalah cara Blackbeard memberikan pelajaran kepada krunya—jika dia tak sungkan menembak awak kepercayaannya sendiri, dia tak akan ragu melakukan hal yang sama atau bahkan lebih buruk lagi terhadap siapa pun.

Sebagian lagi meyakini bahwa penembakan itu terjadi karena intensi Israel yang hendak menumbangkan otoritas sang komandan. Niatan yang boleh jadi dilandasi keengganan atas perintah Blackbeard untuk mengandaskan kapalnya, yang sekaligus membuatnya kehilangan posisi kapten.

Hipotesis yang lebih liar juga diajukan, bahwa Blackbeard sebenarnya telah tahu nasib buruk yang bakal menanti dirinya. Penembak Israel adalah caranya untuk menyelamatkan sang komandan kedua. Kisah ini memang terdengar mengada-ada. Kemungkinan, ia berangkat dari sosok Blackbeard yang memang tak lepas dari hal-hal supranatural.

Hipotesis terakhir pun bisa jadi muncul terkait dengan kelanjutan nasib Israel: sang first mate tak ada di sisi Blackbeard ketika sang kapten meregang nyawa.

Demi memulihkan lukanya, Israel harus meninggalkan kapal dan pergi ke kota Bath. Pada saat yang sama, tepatnya 22 November 1718, Letnan Robert Maynard yang diutus untuk menangkap Blackbeard berhasil menyergap kapal Adventure (kapal yang berbeda dari kapal yang telah mereka kandaskan sebelumnya) yang tertambat di Ocracoke Inlet. Pertempuran tak terelakkan dan kepala sang Iblis Lautan terpenggal pedang anak buah Maynard.

Israel luput dari nasib serupa lantaran dirinya sedang tak berada di kapal. Namun nasib yang lain menantinya: terjaring penangkapan bajak laut besar-besaran di Bath.

Bersama belasan bajak laut lainnya, Israel pada akhirnya ditangkap dan diadili. Dalam persidangan, dia disebut bersaksi melawan rekan-rekan bajak lautnya. Israel kemudian berhasil mendapatkan penangguhan hukuman, bahkan pengampunan, lantaran dia juga bersaksi melawan pejabat North Carolina korup yang pernah bekerja sama dengan kaptennya.

Seusai menjalani tahanan selama beberapa bulan, Israel dilepaskan dan serta-merta menghilang dari catatan sejarah. Satu-satunya catatan datang dari A General History of the Pyrates karya Captain Charles Johnson yang terbit pada 1724. Dalam buku itu, Israel Hands disebutkan mati dalam kemiskinan sebagai pengemis di London.

Baca juga artikel terkait BLACKBEARD atau tulisan menarik lainnya R. A. Benjamin
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: R. A. Benjamin
Editor: Fadrik Aziz Firdausi

DarkLight