ISIS Gagal Total Terapkan Mata Uang Dinar dan Dirham

Oleh: Sekar Kinasih - 5 Februari 2021
Dibaca Normal 5 menit
Pada era jayanya, ISIS memberlakukan mata uang dinar dan dirham di wilayah kekuasaannya. Gagal karena berbagai sebab.
tirto.id - Pada 2014, Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) sukses memperluas teritorial dan meneguhkan kekuasaannya. Menurut laporan lembaga think tank Wilson Center, pada bulan Januari, ISIS merebut Kota Raqqa di Suriah yang kemudian dimanfaatkan sebagai basis utamanya. Dari kota itulah ISIS merancang berbagai gerakan terorisme global, termasuk serangan di Paris dan Berlin.

ISIS lalu merebut Mosul, kota terbesar kedua di Irak, pada awal Juni. Tak lama kemudian, sebagaimana dilaporkan Al Jazeera, ISIS mengumumkan berdirinya Islamic State (IS) yang membentang dari Provinsi Diyala di Irak sampai Aleppo di Suriah. Abu Bakr Al-Baghdadi diangkat sebagai khalifah atau pemimpinnya.

Pada November, tersiar kabar bahwa IS akan memproduksi mata uang sendiri sebagai bentuk legitimasi kekuasaannya. Terinspirasi oleh sistem moneter kekhalifahan abad ke-7, IS berencana memproduksi uang logam dinar yang terbuat dari emas dan dirham dari perak.

Merunut sejarahnya, dinar dan dirham sudah diperkenalkan sejak masa Khalifah Umar bin Khattab (634-644). Khalifah Umar juga menetapkan satu koin dinar dibuat dari emas berbobot 4,25 gram—mengikuti satuan mitsqal.

Dinar dan dirham lalu dipatenkan sebagai mata uang pada era Khalifah Abdul Malik bin Marwan (685-705) dari Dinasti Umayyah. Khalifah Abdul Malik juga mereformasi bentuknya agar menjadi lebih “islami” dengan hanya mencetak potongan ayat dari Al-Qur’an pada koin.

Pada era modern, sejumlah negara di Jazirah Arab, seperti Algeria, Bahrain, dan Irak, diketahui menggunakan mata uang yang disebut dinar. Namun, dinar tersebut berbeda dari mata uang yang dibuat dari logam mulia.

The Guardian memberitakan, rencana pembuatan mata uang dinar dan dirham itu diduga adalah kebijakan Al-Baghdadi. Mata uang logam mulia itu bakal diproduksi begitu IS menemukan lokasi pabrik yang sesuai dan mendapatkan stok mineral berharga yang cukup. Sampai berita itu diterbitkan, aktivitas jual-beli minyak dari kilang milik IS masih menggunakan mata uang dolar, euro, maupun dinar Irak.

Laporan Deutsch Welle yang mengutip pernyataan dari pihak IS menyebut, pembuatan mata uang tersebut semata-mata untuk melawan dominasi dolar Amerika dan menggantisistem mata uang tiranis yang dipaksakan kepada kaum Muslim dan menggiring pada penindasan mereka”.

Menurut ilustrasi digital yang disebarluaskan IS, koin-koin tersebut dirancang bertuliskan Daulah Islamiyah dan “Khilafah mengikuti pedoman sang Nabi” dalam bahasa Arab. Gambar juga ditambahkan untuk membedakan nominal koinnya, seperti gambar peta dunia untuk 5 dinar, gandum untuk 1 dinar, Masjid Al-Aqsa untuk 10 dirham perak, dan pohon palem untuk koin tembaga.

Tidak Efektif untuk Transaksi Era Modern

Meski wacana pencetakan uang dinar dan dirham yang tampak matang dan ambisius, perwujudannya diperkirakan bakal rumit. Salah satu penyebab kerumitan itu adalah soal ketersediaan sumber daya mineral dan distribusinya. Selain itu, harga logam mulia senantiasa mengikuti pergerakan pasar dunia. Artinya, sistem moneter IS akan tetap terkait dengan rantai ekonomi global dan visi IS bakal sulit tercapai.

Pakar ekonomi moneter asal Prancis Pascal de Lima menyampaikan kepada France 24, “Untuk melebur emas, misalnya, kelompok IS harus membelinya di pasar gelap. Itu memungkinkan Amerika Serikat dan sekutunya melacak anggota kelompok mereka. Belum lagi harga material ini fluktuatif. Jika harganya tiba-tiba naik, tagihan IS pun bisa meroket.”

Ekonom senior dari Peterson Institute for International Economics Edwin M. Truman dalam siaran radio Marketplace menilai, transaksi keuangan berbasis logam mulia tidaklah stabil untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Harga roti dan kebutuhan lainnya akan mengalami naik-turun seiring dengan perubahan harga tembaga, emas, atau perak di pasar dunia. Boleh jadi satu unitnya bisa dipakai beli sepotong roti hari ini, tapi mungkin hanya bisa untuk setengah potong roti besok pagi,” tutur Truman.

Ada pula isu keamanan dan kepraktisan. Perdagangan modern dilakukan dengan berbasis sistem kredit dan perbankan, alih-alih pertukaran koin logam mulia.

Sebagaimana disampaikan dosen Pennsylvania State University sekaligus penasihat senior lembaga riset CSIS Fariborz Ghadar kepada Marketplace, “Seandainya ada seseorang di Damaskus yang ingin membeli gandum dari pedagang di Irak, apakah artinya Anda harus memasukkan emas ke dalam truk, mengirimnya, dan menukarnya untuk gandum? Apa jadinya jika di tengah jalan ada yang mencuri emasnya?”

Pada Februari 2015, dosen ilmu politik Brigham Young University Quinn Mecham mengulas operasional IS dalam artikel berjudul “How much of a state is the Islamic State?” yang tayang di The Washington Post.

Mecham tidak kaget jika IS mengembangkan mata uangnya sendiri karena ia memang punya kecenderungan untuk melakukan kontrol secara terpusat. Sebelumnya, IS sudah mendirikan bank resmi Muslim Financial House untuk membantu perekonomiannya agar lebih terarah.

Namun, menurut Mecham, IS bakal butuh waktu yang sangat lama sampai perekonomiannya stabil seperti mayoritas negara di dunia. Itu karena adanya tendensi otoritarianisme dalam kebijakan ekonominya, seperti tampak dalam besarnya subsidi pangan dan layanan publik, kontrol pengelolaan dan distribusi gandum dan tepung di Raqqa, sampai perampasan rumah dan perabot milik warga setempat.


Lingkup Peredaran Uang Dipertanyakan

Diskursus dinar-dirham IS sempat mereda beberapa waktu. Hingga pada Juni 2015, beredar foto koin emas dinar di kanal media sosial, seperti salah satunya disebarkan oleh akun Twitter milik Abu Ibrahim Raqqawi—aktivis penentang IS sekaligus pendiri gerakan jurnalisme bawah tanah Raqqa Is Being Slaughtered Silently.

Rupa koin dinar itu persis seperti desain digital yang sudah disebarluaskan setahun sebelumnya. Berdasarkan ilustrasi yang disebarkan oleh akun media sosial Terror Monitor, koin 1 dinar (4,25 gram emas 21 karat) dihargai sebesar US$139 dan 5 dinar (21,25 gram emas) dihargai US$694.

Kurs itu mengikuti harga emas kala itu yang satu gramnya senilai US$32,68. Sementara itu, tiga koin dirham harganya berkisar dari US$1 sampai US$9. Lain itu, ada pula dua koin tembaga masing-masing senilai 6,5 sen dan 13 sen. Ketika berita tersebut viral, Al Arabiya masih belum bisa memastikan apakah mata uang itu akan segera berlaku.

Tidak sampai dua bulan kemudian, IS merilis video propaganda berjudul “The Rise of the Khilafah and the Return of the Gold Dinar”. The Independent melaporkan, IS mengklaim bahwa mata uang dinar akan ikut tersebar luas bersama gerakannya sampai ke daratan Eropa.

Terlepas dari klaim itu, menurut The Independent, IS masih membayar pegawainya dengan dolar. IS pun masih menerima dolar dari penjualan minyak, pajak, dan uang sandera. Aktivitas perdagangan di kampung dan perkotaan juga masih dilakukan dengan mata uang lokal.

Karena itulah, hingga Maret 2016, peredaran koin dinar dan dirham IS terus dipertanyakan. IS bahkan diduga semakin tergantung pada dolar Amerika. Berdasarkan informasi dari kelompok aktivis Raqqa is Being Slaughtered Silently, The Independent melaporkan bahwa warga dituntut membayar denda dalam dolar untuk menebus pelanggaram ringan.

Al Arabiya berusaha menelusuri sejauh mana dinar dan dirham IS beredar dan digunakan. Reportase yang dirilisnya pada Juli 2018 mengungkap, IS memaksa warga membeli dirham perak untuk membayar tagihan listrik, air, dan komunikasi.

Di kota Raqqa, pedagang di pasar bercerita bahwa selama ini dia hanya punya mata uang Suriah. Ketika hendak bertransaksi dengan kelompok IS, uangnya ditolak. Dia tak punya pilihan selain menukar uangnya dengan dirham di kantor kota madya.

Selain itu, ada pula badan pengawas yang keluar-masuk pasar untuk memastikan warga menggunakan dinar dan dirham. Al Arabiya juga mendapat kabar bahwa dinar dan dirham IS dicetak di Kota Mosul, meski mereka tidak berhasil menemukan pabriknya.

Infografik Dinar dan Dirham di Negara Islam
Infografik Dinar dan Dirham di Negara Islam. tirto.id/Fuad


Akhir Perjalanan Dinar IS

Pada 2019, jurnalis CoinDesk Rachel-Rose O’Leary mempublikasikan hasil wawancaranya dengan tawanan IS bernama samaran Mohammed Najjar. O’Leary menemui Najjar di penjara milik Syrian Democratic Forces (SDF) di daerah otonomi Rojava, Suriah utara.

Najjar bergabung dengan ISIS pada 2013 dan dipekerjakan di sebuah kilang minyak. O’Leary mencatat, IS memang sempat dapat untung dari penjualan minyak. Pembelinya datang dari Damaskus, Pemerintah Irak, sampai grup-grup pemberontak yang diduga menyelundupkan minyak ke Turki.

Pada puncak kesuksesan bisnis minyak, kata Najjar, IS bisa memperoleh US$60 juta per bulan. Masalahnya, jual-beli minyak itu dilakukan dengan dolar Amerika. Itulah ironi IS: mereka ingin melawan dominasi ekonomi Amerika, tapi perdagangannya justru ikut menopang keperkasaan dolar.

Seturut penelusuran O’Leary, dinar IS pertama kali diberlakukan untuk jual-beli minyak. Maka, ketika IS mulai memberlakukannya, pihak pembeli minyak diharuskan menukar dolarnya dengan dinar. Penggunaan dinar lalu menyebar sampai ke khalayak umum secara perlahan, dimulai dari pasar yang diharuskan memberi kembalian uang dalam dinar.

Sampai akhir 2015, seturut keterangan Najjar, pemakaian dinar diwajibkan dan mata uang selain dinar dilarang. Transaksi penukaran uang pun jadi ramai di pasaran. Harga dinar 4,25 gram di pasaran berkisar US$160, tapi harga ritelnya bisa mencapai US$190. Situasi itu menguntungkan IS karena mereka bisa untung US$30 untuk setiap dinar yang terjual.

Tapi, IS nyatanya takmampu mempertahankan “masa jaya” itu. Pada paruh akhir 2015, koalisi militer pimpinan AS terus membombardir infrastruktur minyak IS. Bisnis minyak IS pun limbung.


Menurut Najjar, dinar memang bagus untuk transaksi di industri minyak, tapi tidak untuk transaksi dagang sipil dan bisnis sehari-hari.

Sebelumnya, kami mendapatkan barang dalam dolar. Kemudian, mereka mengubahnya jadi dinar dan dari situlah masalah muncul. Pedagang takmau lagi menjual produk-produknya karena menurut mereka, dinar tidak berfungsi. Mereka pun mundur dari transaksi dinar,” kata Najjar.

Najjar mencontohkan, rendahnya nilai dirham IS membuat pedagang takmau menerimanya atau malah menaikkan harga dagangannya. Merosotnya nilai dirham itu memang tak terelakkan karena biaya produksinya tinggi, tapi nyaris takada permintaan dari luar kawasan IS.

O’Leary menyebut, dinar memang diburu oleh para pedagang, tapi untuk dilebur atau dijual kembali. Praktik itu membuat peredarannya di pasar pun berangsur-angsur menipis. Sambil nyengir, Najjar berkata kepada O’Leary, “Di IS, mata uang ini adalah suatu kegagalan.”

Baca juga artikel terkait ISIS atau tulisan menarik lainnya Sekar Kinasih
(tirto.id - Ekonomi)

Penulis: Sekar Kinasih
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
DarkLight