Ironi Rapid Tes di Puskesmas DIY: Berdasar Prioritas, Alat Terbatas

Oleh: Irwan Syambudi - 14 Juni 2020
Dibaca Normal 2 menit
Rapid tes COVID-19 di Puskesmas DI Yogyakarta hanya diprioritaskan dengan syarat tertentu karena alat tes terbatas. Lalu apa yang dimaksud langkah tes massal agresif menurut pemerintah?
tirto.id - Rapid tes atau tes cepat Covid-19 di Puskesmas Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) hanya diprioritaskan untuk mereka yang memenuhi syarat dan ketentuan. Padahal pemerintah menggembar-gemborkan rapid tes massal secara agresif dan masif.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DIY Berty Murtiningsih mengatakan terdapat syarat dan ketentuan untuk mereka yang diprioritaskan menjalani rapid test di Puskesmas.

"Prioritas [rapid tes] pada tenaga kesehatan, kontak tracing, kontak kasus positif, pelaku perjalanan luar negeri dan daerah kasus Covid-19," kata Berty yang juga merupakan juru bicara penanganan Covid-19 Pemda DIY, Jumat (12/6/2020).

Sementara di luar prioritas tersebut, bagi mereka yang ingin melakukan rapid tes mandiri maka akan dirujuk ke rumah sakit.

Di Puskesmas Gedongtengen Kota Yogyakarta misalnya, rapid tes dilakukan atas dasar kriteria tersebut. Menurut Kepala Puskesmas Gedongtengen Tri Kusumo Bawono sejak April lalu pihaknya sudah melakukan 93 rapid tes.

"Untuk massal ada sekitar 70. Sisanya untuk pasien yang memang ada indikasi. Dan 20 untuk tenaga kesehatan kami yang terpapar," kata Tri saat dihubungi reporter Tirto, Jumat (12/6/2020).

Selama ini memang rapid tes khususnya diprioritaskan untuk tenaga kesehatan yang memiliki kemungkinan terpapar. Kemudian untuk mereka yang memiliki kontak erat dengan pasien positif atau memiliki riwayat perjalanan luar daerah.

Menurut Tri, memang selama ini banyak di antaranya pasien umum yang datang ke puskesmas untuk minta rapid tes. Namun, jika tidak ada indikasi mengarah ke COVID-19 mereka akan disarankan untuk melakukan rapid tes mandiri ke rumah sakit atau ke PMI.

"Kalau atas permintaan sendiri maka harus rapid tes mandiri. Kami memeriksa pasien berdasarkan indikasi pasien. Kalau ada mengarah ke sana [COVID-19] maka baru kita periksa karena jumlah rapid tes terbatas," ujarnya.

Selama ini persediaan rapid tes di Puskesmas hanya 10 unit per bulan. Baru kemudian jika terdapat kasus atau kontak erat di sekitar Puskesmas yang perlu diperiksa, maka bisa mengajukan tambahan.


Masih Dibatasi Kriteria untuk Rapid Test

Selama dua hari berturut-turut jumlah kasus baru Covid-19 melonjak lebih dari 1.000 kasus. Sejak Rabu (10/6/2020), jumlah kasus baru bertambah 1.241 sehingga total menjadi 34.316 kasus.

Pelonjakan kasus baru ini diklaim akibat tes masif yang dilakukan terhadap spesimen pasien Covid-19.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menjelaskan penambahan kasus ini disebabkan karena tracing kontak dilakukan secara agresif.

“Spesimen lebih banyak dikirim dari puskesmas atau tenaga kesehatan. Tak didominasi spesimen oleh RS,” jelas Yuri dalam konferensi pers, Rabu (10/6/2020).

Faktanya, rapid test yang diupayakan dilakukan sebanyak-banyaknya ini, di wilayah DI Yogyakarta masih belum maksimal.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Yogyakarta Joko Murdiyanto mengatakan bahwa memang pemindaian dengan cara melakukan rapid test itu perlu dilakukan sebanyak-banyaknya. Namun, ia bisa memahami jika kemudian hal itu dilakukan secara terbatas sesuai kriteria.

"Screening itu memang sebaiknya sebanyak-banyaknya tapi uang negara terbatas. Maka pemeriksaan juga terbatas," kata Joko kepada Tirto, Jumat (12/6/2020).

Oleh karena itu, memang rapid test kemudian dilakukan berdasarkan kriteria. Orang yang telah mengisolasi diri di rumah tidak pernah kontak dengan pasien positif Covid-19 tentunya tidak masuk kriteria untuk rapid test.

"Karena memang terbatas maka memang prioritas. Tidak semua orang. Prioritasnya apa tentu pada orang-orang yang pada satu tempat zona merah, pernah kontak dengan positif, termasuk tenaga kesehatan," ujarnya.

Dalam pemeriksaan awal seorang pasien misalnya dokter punya standar tertentu untuk menentukan indikasi Covid-19. Ada tingkatan ringan, moderate dan tinggi.

"Minimal yang moderate itu yang dites. Yang ringan tidak. Dites juga pasti negatif," kata Joko.


Rapid Tes Mandiri hingga Massal


Sejumlah rumah sakit swasta di Yogyakarta menyediakan rapid tes mandiri. RS Panti Rapih misalnya mereka menyediakan layanan rapid tes dengan biaya Rp375.000.

Layanan serupa juga dimilki oleh RS JIH yang mematok harga Rp250.000 hingga Rp360.000 untuk rapid tes. Dan RS Bethesda yang mematok harga Rp375.000 untuk sekali rapid tes.

Sementara itu, untuk rapid tes massal gratis yang dilakukan oleh pemerintah telah dilakukan beberapa kali. Di Sleman dan Kota Yogyakarta misalnya rapid tes massal dilakukan setelah muncul klaster Indogrosir di Sleman.

Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman Joko Hastaryo mengatakan setelah sejumlah karyawan diketahui positif Covid-19, kemudian semua karyawan termasuk pengunjung dalam kurun waktu tertentu dilakukan rapid tes massal.

Untuk pengunjung saja dilakukan rapid tes sebanyak 1.500 orang yang diselenggarakan secara bertahap secara tiga hari pada pertengahan Mei lalu.

Kemudian pada periode Juni ini rapid tes massal mulai dilakukan secara acak seperti di pasar tradisional dan di pusat perbelanjaan.



Di Kota Yogyakarta misalnya rapid test acak ke mal dan sejumlah pusat perbelanjaan dengan target 557 sampel dilakukan pada 10-11 Juni kemarin.

“Sama seperti pelaksanaan rapid test di pasar tradisional, kegiatan rapid test kali ini juga ditujukan untuk kebutuhan survei guna memetakan kondisi persebaran COVID-19 di Yogyakarta. Sehingga, setiap warga yang menjadi sampel hanya akan menjalani tes satu kali saja,” kata Ketua Harian Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Yogyakarta Heroe Poerwadi di Yogyakarta, Rabu (10/6/2020).

Terdapat enam mal yang akan menjadi target rapid test acak, yaitu Galeria Mall, Jogjatronik, Lippo Mall, Ramai Mall, Gardena, dan Malioboro Mall yang diikuti oleh karyawan dari manajemen mal, termasuk petugas kebersihan dan keamanan hingga karyawan dari setiap tenant.

Baca juga artikel terkait PANDEMI COVID-19 atau tulisan menarik lainnya Irwan Syambudi
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Irwan Syambudi
Penulis: Irwan Syambudi
Editor: Maya Saputri
DarkLight