13 November 1980

Ir. Sutami, "Menteri Termiskin" yang Disukai Sukarno & Soeharto

Ir. Sutami. tirto.id/Deadnauval
Oleh: Indira Ardanareswari - 13 November 2019
Dibaca Normal 4 menit
Sebagai menteri di dua rezim, Sutami tidak mau berpolitik. Ia juga tetap hidup sederhana.
tirto.id - Dua orang insinyur terlibat berdebatan sengit di Istana Negara. Di hadapan Presiden Sukarno, mereka sibuk membahas spesifikasi dan metode paling efisien untuk membangun Jembatan Semanggi. Menurut Tjipta Lesmana yang mengutip kesaksian pembantu Sukarno dalam Dari Sukarno Sampai SBY: Intrik Lobi Politik Para Penguasa (2013: 33), dua orang itu bernama Sutami dan David Cheng.

Sutami yang baru saja diangkat menjadi Direktur Utama Perusahaan Negara Hutama Karya mengusulkan agar jembatan dibangun menggunakan konstruksi beton prategang (prestressed concrete) tanpa menggunakan tiang. Usulan itu dianggap sangat aneh karena belum pernah dilakukan di Indonesia. Sukarno yang sudah hilang kesabaran melihat keributan di ruang rapat lantas memarahi Sutami.

“Awas, Sutami! Kamu jangan main-main dengan nama baik bangsa dan negara. Kalau engkau berpetualang, engkau akan digantung!” ucapnya lantang.

Sukarno memang tengah menaruh harapan besar pada Proyek Mercusuar seperti halnya Jembatan Semanggi. Menurutnya, tidak ada ruang untuk eksperimen gagal yang berpotensi membikin malu Indonesia, bakal tuan rumah Asian Games IV 1962.

Menurut kesaksian Staf Ahli Menteri Pekerjaan Umum, Hendropranoto, dalam esai bertajuk “Sutami Sosok Manusia Pembangunan Indonesia” yang dimuat di majalah Prisma (Desember 1991), Sutami sedikitpun tidak gentar mendengar ancaman Sukarno. Seolah sudah tidak peduli dianggap lancang, Sutami menjawab cepat, “Tetapi itu memang pendapat saya, berdasarkan perhitungan yang cermat.”

Keberanian Sutami membuat Sukarno takjub dan akhirnya luluh juga. Ia kemudian mengizinkan Sutami memulai serangkaian penyelenggaraan Proyek Mercusuar menggunakan caranya sendiri. Proyek Jembatan Semanggi secara resmi dimulai pada 1961. Tidak sedikit orang-orang yang awalnya ikut menyanggah, berbalik memuji kepeloporan Sutami di bidang konstruksi Jembatan Semanggi.

“Kalau Pak Sutami kan tidak memakai tiang. Waktu itu, it is something new, inovasi, di Indonesia pertama kali,” kata Suyono Sosrodarsono, Menteri PU zaman Orde Baru, yang kala itu mengikuti pertemuan sebagai insinyur muda.

Terkesan akan hasil kerja Sutami di bidang konstruksi bangunan dalam Proyek Mercusuar, Sukarno mengangkatnya menjadi Menteri Pekerjaan Umum di Kabinet Dwikora pada 1966. Sutami kembali didaulat menjadi menteri tatkala terjadi transisi kekuasaan ke Orde Baru di tahun 1967. Sutami menjadi satu dari sekian menteri dari kabinet Sukarno yang senantiasa diboyong masuk ke dalam lingkaran pemerintahan yang baru karena ia tidak berafiliasi dengan kubu politik manapun.

Menyelamatkan Jawa

Sutami lahir pada 19 Oktober 1928 dari keluarga sederhana di Solo. Ayahnya, Raden Ngabehi Mloyowiguno, adalah pegawai karawitan Keraton Surakarta. Melalui bimbingan sang ayah, Sutami belajar menabuh gamelan dan menari. Selain seni, sang ayah juga mengajari Sutami agar terbiasa hidup dengan mengemban nilai-nilai kejawaan.

Takdir hidup Sutami ternyata tidak membawanya ke jalur seni. Begitu mengenal pelajaran hitung menghitung, Sutami malah lupa kepada hobi lamanya itu. Ia jadi keranjingan pada pelajaran aljabar dan mulai terobsesi mengejar cita menjadi insinyur. Maka dikejarlah impian itu sampai ke Bandung. Pada 1950 Sutami pun resmi menjadi mahasiswa Sekolah Tinggi Teknik Bandung (ITB).

Setelah lulus pada 1956, ia langsung magang menjadi asisten pengajar mata kuliah Beton Bertulang di Akademi Teknik Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga di Bandung. Berkat keuletannya, tidak sampai lima tahun dia sudah ditunjuk menjabat Direktur Utama Perusahaan Negara Hutama Karya yang bertanggung jawab menyelenggarakan sejumlah Proyek Mercusuar Sukarno.

Menjelang Asian Games IV pada 1962 di Jakarta, Sutami sempat diberi tugas memperkuat sejumlah bangunan di Senayan, termasuk Stadion Utama Senayan. Dari sana Sutami menemukan teori perhitungan beton yang lebih baik bernama teori ultimate strength design. Teori ini kembali dipergunakannya untuk membangun Gedung Conefo (Conference of the New Emerging Forces) pada 1965. Di masa Orde Baru gedung berkubah sayap semen ini berubah menjadi Gedung DPR/MPR.

Pada masa Orde Baru Sutami tidak banyak mengurusi proyek-proyek bangunan politik lagi. Hal ini memang sesuai dengan pandangan hidupnya yang menganggap insinyur harus punya sikap netral dan objektif.

“Politikus bisa berbohong, tetapi sangat mustahil bagi teknisi untuk memanipulasi fakta,” kata Sutami.

Barangkali kedekatan Sutami dengan kebudayaan Jawa yang membuatnya cocok dengan Soeharto. Sutami tidak membutuhkan waktu lama untuk menerjemahkan visi pembangunan Orde Baru ke dalam serangkaian proyek.

Sepanjang masa jabatannya sebagai Menteri PU di Kabinet Pembangunan, Sutami banyak memelopori pembangunan waduk besar, pembuatan saluran irigasi tersier, dan pusat-pusat tenaga listrik. George J. Aditjondro melalui makalah “Large Dam Victims and Their Defenders” yang dimuat dalam The Politics of Environment in Southeast Asia (2005: 32) secara spesifik menyebut proyek-proyek Sutami sebagai monumen pembangunan Orde Baru.

Menurut Sutami, sebagaimana dipaparkan Aditjondro, pulau Jawa telah menanggung beban yang sangat berat sehingga sangat rawan terjadi bencana ekologis. Oleh karena itu, Jawa harus diselamatkan dengan jalan membangun lebih banyak waduk dan memindahkan sebagian penduduknya ke tempat pulau lain melalui program transmigrasi.

“Pulau Jawa saat ini sedang menderita penyakit kronis. Hutan lindung sudah sangat berkurang, jauh di bawah presentasi minimal. Erosi terus menerus terjadi. Tanah mulai kritis dan sungai menjadi dangkal. […] oleh karena itu dalam melakukan pembangunan harus diselipkan di dalamnya pengertian tentang konsolidasi wilayah,” kata Sutami seperti dikutip Kompas (15/11/1980).

Proyek untuk Rakyat

Hendropranoto dalam tulisannya di majalah Prisma sempat menyinggung kegemaran Sutami hidup dalam kesederhanaan. Ia acap kali kedapatan menolak fasilitas-fasilitas menteri dan tidak suka merepotkan siapapun. Tidak heran jika pada akhirnya ada yang menjulukinya dengan sebutan “menteri termiskin”.

Sifat Sutami yang tidak suka bermewah-mewah barangkali lahir dari aktivitas yang dikembangkannya semenjak menjadi Menteri PU masa Orde Baru. Sutami kerap berkeliling ke pelosok untuk meninjau lokasi tujuan transmigrasi yang bermasalah. Bahkan pada suatu waktu, Sutami rela berjalan jauh untuk meninjau lokasi setelah mendapat keluhan dari Soeharto yang menyinggung kelayakan lahan transmigrasi di sekitar Jambi.

Begitu besar perhatian Sutami pada pembangunan di tingkat bawah, sebagai menteri ia malah lebih sering mengurusi pembangunan jembatan desa atau irigasi kecil. Baginya, pembangunan sepatutnya langsung bermanfaat bagi rakyat kecil, ketimbang pembangunan-pembangunan raksasa yang menunjang ke arah perluasan industri.

“Gunung berapi, irigasi dan jembatan adalah pacar-pacar saya,” kata Sutami seperti dikutip Tempo (22/11/1980).



Sikap dan ucapan Sutami yang membumi juga diakui oleh hampir semua orang yang dekat dengan sosoknya. Menurut mereka, pria kurus yang kuat berjalan kaki berjam-jam untuk blusukan ini bukan hanya “orang baik,” tetapi juga teknokrat ulung yang belajar nilai-nilai kerakyatan dari alam dan sistem kewilayahan.

“Pak Sutami adalah intelektual yang merakyat. Ia ingin menjadi bagian yang integral dari masyarakat. Dari kehidupannya sehari-hari, ia adalah orang yang sederhana. Dari pemikiran intelektualnya, kerakyatan itu nampak dalam konsep ilmu wilayahnya,” kata Sukadji Ranuwihardjo, rektor Universitas Gadjah Mada masa bakti 1973-1981, seperti dikutip Kompas (15/11/1980).

Di luar predikatnya sebagai “menteri termiskin”, Sutami memang bukan menteri biasa. Ia dikenal sebagai Menteri Pekerjaan Umum dengan masa jabatan paling lama dalam sejarah kabinet di Indonesia. Jabatan ini dipangkunya selama hampir 12 tahun mulai dari 1966 hingga 1978. Di bawah pemerintahan Sukarno, Sutami juga sempat menjabat Menteri Negara urusan penilaian konstruksi pada usia 35 tahun.

Saat terjadi pelimpahan jabatan dalam Kabinent Pembangunan Orde Baru pada 29 Maret 1978, Sutami tidak lagi menerima jabatan menteri. Mundurnya Sutami dari pemerintahan ini terjadi lantaran kondisi kesehatannya yang semakin memburuk sejak awal tahun 1977. Menurut sejumlah pewartaan, penyakitnya ini ditimbulkan akibat kekurangan gizi dan kelelahan.

“Akibat sakitnya inilah yang menyebabkan Sutami meminta pada Presiden agar bisa berhenti menjadi menteri PU,” tulis Tempo (22/11/1980).

Berdasarkan pewartaan Kompas (21/3/1978), Sutami mulai dirawat di rumah sakit sejak 12 Maret 1978 akibat gangguan penyakit lever kronis. Setelah menjalani perawatan intensif dan serangkaian operasi selama hampir dua tahun, Sutami akhirnya kalah dari penyakitnya. Sutami tutup usia pada 13 November 1980, tepat hari ini 39 tahun lalu.

Baca juga artikel terkait MENTERI ORDE BARU atau tulisan menarik lainnya Indira Ardanareswari
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Indira Ardanareswari
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight