Menuju konten utama

Investasi Lewat Asuransi, Amankah untuk Jangka Panjang?

Tom MC Ifle mengatakan, jika asuransi dijadikan instrumen investasi, maka polanya investor akan mengeluarkan premi setiap bulan.

Investasi Lewat Asuransi, Amankah untuk Jangka Panjang?
Chief Executive Officer Top Coach Indonesia (TCI), Tom MC Ifle. (FOTO/Dokumen Akurat)

tirto.id - Asuransi kini bukan hanya berfungsi sebagai perlindungan diri, tetapi juga memiliki manfaat sebagai instrumen investasi patut dipertimbangkan dalam jangka panjang. Hal itu karena nilai digunakan untuk mengambil asuransi bakal setimpal dengan keuntungan yang bisa didapatkan.

Chief Executive Officer Top Coach Indonesia (TCI), Tom MC Ifle mengatakan, jika asuransi dijadikan instrumen investasi, maka polanya investor akan mengeluarkan premi setiap bulan. Dana mengendap itu akan cair dalam waktu batas ditentukan.

"Asuransi kita keluar uang terus, diakhir tahun kita tetap diproteksi ada uang mengendap. Uang bisa diambil 20 tahun kemudian," kata dia dalam Expert Panel Akurat Golden Insurance Awards 2022, di Jakarta, Kamis (13/10/2022).

"Pertanyaannya uang ini dipakai untuk apa? Beli saham, investasi atau apa? Jadi Anda tahu hari ini aman 20 tahun lagi belum tentu aman," kata dia melanjutkan.

Menurutnya, masyarakat atau investor pemula mesti cermat ketika menjadikan asuransi sebagai pilihan instrumen investasi. Karena berkaca dari banyak kejadian, sering kali ditemui kasus gagal bayar untuk asuransi, sehingga perlu membandingkan dengan instrumen investasi lain.

"Maka kita harus bisa bandingkan dengan instrumen lain. Kita bandingkan dengan deposito jika sama sama 11 persen kita bandingkan hasilnya 10 tahun ke depan," jelasnya.

Dia mengatakan, saat ini banyak pilihan investasi bagi pemula cukup aman. Pertama yang paling dasar untuk dipelajari dan rendah risiko yakni lewat reksadana.

"Dalam arti bukan rendah risiko juga tapi hasilnya kelihatan atau deposito hasilnya keliatan," kata Tom.

Dasarnya, reksadana sendiri merupakan produk investasi yang berasal dari kumpulan dana masyarakat pemodal dan diolah menjadi investasi dalam bentuk portofolio efek, seperti saham, obligasi, pasar uang ataupun efek lainnya.

Ada berbagai macam jenis reksadana, yakni Reksadana Pasar Uang, Reksadana Pendapatan Tetap, Reksadana Terproteksi, Reksadana Campuran, Reksadana Index (RDI), dan Reksadana Saham.

Dari berbagai jenis reksadana, reksadana pasar uanglah yang memiliki tingkat risiko yang lebih minim dibandingkan reksa dana lainnya. Dengan memilih berinvestasi menggunakan reksadana pasar uang, dana yang diinvestasikan akan 100 persen diolah menjadi instrumen pasar uang, seperti deposito, Sertifikat Bank Indonesia (SBI) atau Obligasi dengan masa batas waktu tidak lebih dari satu tahun.

Selain reksadana, Tom juga memberikan opsi pilihan jika investor pemula berani untuk bermain saham blue chip. Saham blue chip adalah saham lapis satu di bursa. Saham blue chip adalah jenis saham yang memiliki kapitalisasi pasar yang besar, mencapai di atas Rp 10 triliun.

"Investasi sedikit berani beli saham blue chip yang keliatannya tidak tinggi pergerakannya tapi tiap tahun naik terus. Itu adalah kemampuan kita belajar dengan pergerakan harga," kata dia.

Selain itu, menurut Tom investasi paling aman lainnya adalah emas. Menurutnya secara likuiditas emas masih cukup baik. "Waktu awal investasi saya belinya emas. Punya uang beli emas," pungkas dia.

Baca juga artikel terkait ASURANSI atau tulisan lainnya dari Dwi Aditya Putra

tirto.id - Bisnis
Reporter: Dwi Aditya Putra
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Anggun P Situmorang