Seri Kejatuhan Imperium Dunia

Invasi Muslim Arab Mengakhiri Kejayaan Imperium Sasaniyah Persia

Ilustrasi akhir era Kekaisaran Persia. Tirto.id/Sabit
Oleh: Tyson Tirta - 21 November 2020
Dibaca Normal 3 menit
Konflik internal berkepanjangan di lingkaran elite melemahkan posisi politik Dinasti Sasaniyah. Runtuh oleh serangan Khalifah Umar bin Khaththab.
Selain Romawi, bangsa Persia sempat pula menancapkan dominasinya dalam peradaban dunia kuno. Puncak kejayaan politik dan kebudayaan Persia dicapai pada era Dinasti Sasaniyah. Wangsa ini ditegakkan oleh Kaisar Ardashir I pada abad ke-3.

Sama seperti dinasti-dinasti Persia sebelumnya, Sasaniyah juga menganut kepercayaan Zoroastrianisme. Para leluhur dan pemimpin kepercayaan ini sangat berpengaruh dalam menentukan jalannya pemerintahan. Pabag, ayah angkat Kaisar Ardashir I—pendiri Wangsa Sasaniyah, diketahui sebagai penganut Zoroastrianisme yang taat.

Zoroastrianisme berbeda dengan ajaran-ajaran politeistis. Ia hanya mengakui satu Tuhan yang disebut Ahura Mazda. Konon, Zoroastrianisme termasuk kepercayaan pertama yang mengenal pandangan dunia dualistis yang membedakan antar hal baik dan hal buruk juga surga dan neraka. Sebelum munculnya agama Yahudi, Kristen, dan Islam, Zoroastrianisme sudah pula mengenal konsep tentang hari penghakiman.

Dinasti Sasaniyah adalah dinasti terlama yang berkuasa di tanah Persia. Kekuasaan para Shahanshah—Kaisar Agung—Sasaniyah bertahan hingga abad ke-7. Salah satu faktor yang membuat Dinasti Sasaniyah bisa bertahan selama lima abad adalah karena cuma punya satu pesaing utama pada era yang sama, yaitu Kekaisaran Byzantium.

Meski begitu, tanda-tanda meredupnya kedigdayaan Imperium Persia justru mulai tampak di era Sasaniyah ini.

Salah satu tengara yang terlacak adalah krisis kepemimpinan dan konflik internal. Hal semacam itu, misalnya, terlihat pada masa pemerintahan Shahanshah Khosrow II (590-628). Khosrow II sangat royal memberikan jabatan kepada kerabat-kerabat yang membantunya naik takhta. Sementara itu, kerabat kerajaan lain yang tidak kebagian jabatan jadi cemburu dan kemudian memberontak.

Beberapa kelompok pemberontak bahkan mengklaim kekuasaan Khosrow II tidak sah. Mereka lantas mengajukan tokoh lain yang dianggap lebih pantas sehingga memunculkan raja-raja kecil di berbagai wilayah kekuasaan Persia.

Masing-masing raja kecil itu menerapkan aturan sendiri di wilayahnya dan menjalankan kepercayaan lain selain Zoroastrianisme. Imbasnya, rakyat lebih tunduk pada perintah raja-raja lokal ketimbang Khosrow II yang kehilangan wibawa.

Serangan Byzantium

Wilayah kekuasaan Wangsa Sasaniyah yang sangat luas dan makmur sudah sejak lama jadi incaran Byzantium. Selama periode 602-628, Byzantium melancarkan serangkaian serangan besar ke wilayah Persia.

Khosrow II sebenarnya bisa bertahan dan hampir bisa memenangkan perang melawan Byzantium. Pasukan Sasaniyah bahkan sempat mengepung Konstantinopel. Namun, pajak tinggi yang ditariknya dari rakyat selama perang berlangsung justru melemahkan posisinya di dalam negeri.

Friksi internal yang timbul dalam tubuh Sasaniyah lalu dimanfaatkan oleh Kaisar Heraclius dari Byzantium. Heraclius mengumpulkan sisa-sisa kekuatan militernya untuk menyerang dan menduduki Ganzak. Heraclius pun berhasil membalik keadaan dalam perang-perang berikutnya.

Hingga 630, Byzantium sukses merebut wilayah-wilayahnya yang pernah diduduki Sasaniyah secara bertahap. Konflik Sasaniyah-Byzantium ini diceritakan oleh sejarawan Inggris John Haldon dalam bukunya Byzantium at War AD 600-1453 (2003, hlm. 10).

“Meskipun Konstantinopel berhasil dikepung tentara Persia, Heraclius yang ahli strategi perang berhasil mengumpulkan sisa-sisa kekuatan dan melakukan serangan balik. Dia berhasil menghabisi bala tentara Persia dan mengembalikan wilayah otoritas Byzantium dan mengakhiri perang,” tulis Haldon.

Dalam beberapa tahun kemudian, Khosrow II yang semula dicitrakan sebagai kaisar gagah penakluk dunia berubah menjadi kaisar lemah yang tak sanggup mempertahankan wilayahnya sendiri. Shahanshah Dinasti Sasaniyah ke-22 itu kemudian dilengserkan dan dibunuh oleh Kavadh II, anaknya sendiri. Peristiwa yang terjadi pada 628 itu menandai berakhirnya Perang Sasaniyah-Byzantium.

Shahanshah Kavadh II mengawali masa pemerintahannya dengan pertumpahan darah. Demi mengamankan kekuasaannya, Dia tanpa ragu menghabisi semua saudara laki-lakinya beserta keturunannya. Banyak saudara laki-lakinya yang berpendidikan tinggi dan ahli dalam bidang-bidang pemerintahan ikut dibunuh.

Alhasil, kekacauan internal di lingkaran elite kekaisaran semakin menjadi-jadi di era Kavadh II. Dia bahkan sempat memberikan perlindungan kepada penganut Kristen karena istrinya Maria adalah seorang priyayi kekaisaran Kristen Byzantium.

Alih-alih memastikan statusnya sebagai penguasa tunggal Imperium Sasaniyah, langkah politik Kavadh II justru memecah-belah kekaisaran. Kekuatan militernya pun ikut melemah. Di akhir masa pemerintahannya, konflik tidak terbendung lagi dan berujung pada pembunuhannya.

Posisi Kavadh II sebagai shahanshah lalu digantikan oleh anaknya Ardashir III. Dia baru berumur delapan tahun kala naik takhta. Era Ardashir III menjadi tonggak kehancuran Dinasti Sasaniyah berikutnya.

Pada 630, Shahrwaraz—jenderal perang loyalis Khosrow II—memutuskan untuk membalas dendam dan merebut kekuasaan. Shahrwaraz membunuh Ardashir III yang baru berkuasa beberapa bulan.

Sejarawan Iran Touraj Daryaee dalam bukunya Sasanian Persia: The Rise and Fall of an Empire (2009, hlm. 35) mencatat, “Shahwaraz yang melihat kesempatan emas langsung bergegas menyerbu ibu kota Cetsiphon dan menghabisi kaisar. Setelah itu, dia mendeklarasikan dirinya sebagai kaisar.”



Babak Akhir

Baru 40 hari menjadi shahanshah, Shahrwaraz tewas dibunuh. Auktor intelektualis dibalik pembunuhan itu adalah Boran, saudara perempuan Kavadh II, dengan bantuan dari seorang komandan militer bernama Farrukh Hormizd. Takhta Sasaniyah pun jatuh ke tangan Boran.

Pada titik ini, rakyat Persia sudah sangat jengah terhadap konflik demi konflik di kalangan elit keluarga kekaisaran. Setahun setelah Boran berkuasa, kisruh politik berkepanjangan dalam Dinasti Sasaniyah mencapai titik kulminasinya. Kekuasaan Boran direbut paksa oleh Shapur-i Sharvaraz, keponakan Khosrow II, yang kemudian digantikan lagi oleh Azarmidokht.

Ratu Boran sempat merebut kekuasaannya lagi berkat bantuan Rostam Farrokhzad, anak dari Farrukh Hormizd. Meski begitu, kekuasaan sebenarnya dikendalikan oleh Rostam yang menjadi orang kepercayaan Boran. Tidak lama kemudian pemberontakan terakhir dalam sejarah Dinasti Sasaniyah pun terjadi.

Orang-orang Parsig memberontak dan mendudukkan Yazdegerd III—masih terhitung keponakan Boran—ke tampuk kekuasaan.

Pada 633, Khalid bin Walid memimpin pasukan muslim Arab menginvasi tanah Persia dan Mesopotamia. Serangan itu mengawali serangkaian penyerbuan lain hingga akhirnya seluruh wilayah teritori Persia jatuh ke tangan muslim Arab.

Posisi politik Dinasti Sasaniyah pun semakin terpuruk gara-gara perang berkepanjangan dan epidemi. Salah satu alasan krusial yang membuat Persia tidak berdaya membendung serangan Arab dijelaskan oleh sejarawan Inggris Albert Hourani dalam buku A History of the Arab Peoples (1991, hlm. 23).

“Perbaikan ekonomi lebih penting daripada urusan politik. Bagi masyarakat luas, siapa pun elite politik yang memimpin kekaisaran bukan lagi soal penting. Yang penting, rakyat bisa hidup tenang, berkecukupan, dan tentu saja dikenakan pajak yang wajar,” tulis Hourani.

Jumlah pengikut Zoroastrianisme pun menurun drastis sejak pasukan Islam menginvasi wilayah tanah Persia. Sebagian dari mereka bermigrasi atau mengganti kepercayaannya. Sebagian elit politik Dinasti Sasaniyah yang tersisa pada akhirnya ikut beralih menjadi muslim.

Pada 642, Khalifah Umar bin Khaththab menyerukan serangan pamungkas ke Persia. Dalam waktu kurang dari dua tahun kemudian, seluruh Persia berhasil duduki tentara kekhalifahan dan mengakhiri kejayaan Wangsa Sasaniyah.

Baca juga artikel terkait DINASTI SASANIYAH atau tulisan menarik lainnya Tyson Tirta
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Tyson Tirta
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
DarkLight