Inter vs Barcelona: Tanpa Messi, Barca Bisa Apa?

Oleh: Herdanang Ahmad Fauzan - 10 Desember 2019
Dibaca Normal 3 menit
Lawatan ke markas Inter di laga pamungkas Grup F Liga Champions dini hari nanti akan jadi jawaban atas sebuah pertanyaan: tanpa Lionel Messi, Barcelona bisa apa?
tirto.id - Pertandingan lanjutan Grup F Liga Champions bakal mempertemukan Inter vs Barcelona di Stadion Giuseppe Meazza, Rabu (11/12/2019) dini hari. Kendati berpredikat laga pamungkas fase grup, kedua kesebelasan sedang berada dalam situasi bertolak belakang.

Inter--baru mengoleksi tujuh poin dari lima pertandingan--butuh poin penuh untuk mengunci satu tiket lolos ke 16 besar. Sedangkan Barcelona, dengan capaian 11 poin mereka tidak perlu berepot-repot. Menang atau kalah tak lagi berpengaruh, Barcelona sudah dipastikan lolos dengan status juara grup.

Karena alasan terakhir itu pula, manajer Barcelona, Ernesto Valverde berencana mengistirahatkan sebagian pemain kuncinya, tak terkecuali megabintang Lionel Messi.

Dari 20 nama yang diumumkan Valverde dalam daftar lawatan ke Milan, tak ada nama La Pulga. Tak cukup di situ, dua nama berpengaruh lain: Sergi Roberto dan Gerard Pique juga diistirahatkan. Ditambah dengan cederanya nama-nama macam Arthur, Ousmane Dembele, Jordi Alba hingga Nelson Semedo, hampir dipastikan Blaugrana tidak akan tampil dengan kekuatan terbaiknya.

Menariknya, Valverde berani menggaransi Barca akan tetap kompetitif meski tanpa sosok Messi. Dia berkelakar, “Barcelona bukan cuma Messi.”

“Ketika Messi tak ada, masih ada 11 pemain lain di atas lapangan. Bagi kami, Messi begitu penting, tapi ini bukan kali pertama kami tampil tanpa Messi. Tujuan kami adalah bermain kompetitif dan tetap mempertahankan gaya bermain kami,” kata Valverde.


Ompong Setiap Bermain Tanpa Messi

Klaim Valverde tersebut bisa jadi bakal terbukti di Milan dini hari nanti, mungkin pula cuma akan jadi lelucon. Namun, terlepas dari apapun hasil laga kontra Inter, rapor di atas kertas menunjukkan bahwa Barcelona lebih sering ketiban sial setiap tak diperkuat Messi.

Menurut hitung-hitungan Sportbible, sejak November 2018 hingga saat ini total Barca sembilan kali tak diperkuat La Pulga dalam pertandingan resmi. Hasilnya, cuma dua kali mereka meraih kemenangan, tepatnya saat menghantam Real Betis pada 31 Agustus 2019, serta ketika membungkam Valencia pada pertengahan September.

Sisanya, Barcelona tiga kali imbang dan empat kali menderita kekalahan. Hasil imbang didapat saat melawan Inter (6 November 2018), Huesca (13 April 2019) dan Osasuna (31 Agustus 2019). Sementara kekalahan terjadi tatkala El Barca berjumpa Levante (10 Januari 2019), Sevilla (23 Januari 2019), Celta Vigo (4 Mei 2019) dan Athletic Bilbao (16 Agustus 2019).

Rapor ini bikin Barcelona belakangan kerap dijuluki dengan sebutan Messidependencia [menang atau kalah tergantung pada Messi]. Julukan ini semakin tegas mengingat besarnya kontribusi La Pulga untuk Barca; musim ini dia telah menyumbang 14 gol dari 15 pertandingan saja.

Miguel Rico, jurnalis Mundo Deportivo, menilai ketergantungan Barcelona terhadap Messi sebenarnya hal yang wajar.

“Itu terjadi di semua olahraga. Di basket misal, dominasi juga tak bisa dikesampingkan jika kita melihat Chichago Bulls era Michael Jordan atau LA Lakers era Magic Johnson. Tim selalu bergantung pada pemain-pemain seperti mereka,” ujar Rico seperti dilansir Bleacher Report.


Masalah bagi Barcelona, menurut Rico, adalah sikap rekan-rekan setim Messi. Mereka justru terlampau terbiasa dengan keajaiban-keajaiban yang ditampilkan Messi di atas lapangan; seolah menyerahkan segalanya kepada sang megabintang. Sikap ini, menurut Rico bikin para pemain-pemain itu malas dan mengalami penurunan performa.

Klaim bahwa performa para pemain Barca lain jadi ‘malas’ bukan semata penilaian subjektif Rico. Statistik membuktikan hal tersebut.

Dalam hal bertahan misalnya, musim ini bek Gerad Pique mendapat sembilan kartu kuning dari 15 pertandingan. Jumlah ini bahkan dua angka lebih banyak ketimbang kartu kuning yang didapat Pique dari 52 pertandingan musim lalu. Peningkatan kartu kuning, menurut Rico, adalah indikasi bahwa seorang bek semakin tersudut ketika menghadapi pemain lawan di daerahnya sendiri.

Penilaian yang sama dengan Rico juga disampaikan analis sepakbola Panenka--sebuah majalah olahraga di Spanyol--, Inaki Llorda. Kini, jalan keluarnya menurut Llorda ada di tangan Valverde.

Di momen tanpa Messi, saatnya Valverde meracik skema yang pas untuk membuktikan kepada publik bahwa Barca bisa tetap garang meski tanpa Messi. Jika hal itu tercapai, bisa jadi para pemain akan kembali menilai keberadaan mereka punya arti dan mengembalikan permainan atraktif Blaugrana, sesuatu yang disebut-sebut mulai jarang terlihat di era Valverde.

Inter Sedang Garang-garangnya

Namun beban Barca dini hari nanti tidak akan ringan. Lawan mereka, Inter baru sekali kalah (dari Juventus) dalam 10 pertandingan kandang yang telah mereka lakoni musim ini.

Rapor tersebut tidak lepas dari pengaruh kehadiran manajer Antonio Conte. Di tangan eks juru taktik Chelsea tersebut, il Nerazzuri seperti bangkit dari tidur panjangnya.

Surat kabar kondang Milan, Corriere della Serra dalam laporan utama mereka bulan Oktober 2019 lalu menyebut Conte merevolusi Inter di luar maupun dalam lapangan.

Kemampuan komunikasinya memungkinkan Conte jadi penghubung sempurna antara manajemen Beppe Marotta dengan para pemain. Sedangkan di dalam lapangan, kejeniusan Conte tak perlu diragukan.

Soal kejeniusan taktik, analis sepakbola Tifo Football, Alex Stewart, menyebut Conte mengaplikasikan skema 3-5-2 andalannya; sesuatu yang baru untuk Inter Milan, dengan sempurna. il Nerrazzuri memiliki sesuatu yang tak banyak dipunyai klub lain: kemampuan menyerang dari segala arah.

“Skema Conte memungkinkan Inter melakukan build-up dari sisi tengah--menggunakan gelandang sebagai jembatan ke lini depan--ketika melawan tim yang mengandalkan pressing. Juga memungkinkan menyerang lewat sayap, mengandalkan kecepatan para wingback untuk membuka ruang,” papar Stewart.

Dua opsi tersebut bisa jadi akan menyulitkan Barcelona dini hari nanti, terlebih mereka tidak akan diperkuat Nelson Semedo dan Jordi Alba; dua pilar penting di lini belakang.

Berposisi sebagai bek kiri, Alba dan Semedo merupakan senjata Barcelona dalam membangun dan menerima serangan. Di partai tandang musim ini tercatat Barca 37 persen (mayoritas) menyalurkan bola dari sisi kiri.


Dengan absennya Alba dan Semedo, sisi ini berpeluang terganggu dan Inter punya senjata berbahaya untuk mengincar sisi tersebut. Senjata itu bernama Antonio Candreva.

Musim ini Candreva menjadi tumpuan Inter. Berposisi sebagai wingback kanan, dia kerap menekan lawan dan membuka ruang untuk dua bomber andalan Inter, Romelu Lukaku dan Lautaro Martinez.

Hal itu pula yang dilakukan Candreva saat terakhir kali berhadapan dengan Barcelona, 2 Oktober 2019 lalu. Di laga itu Inter sangat mengandalkan sisi kanannya (41 persen) untuk membangun serangan, dan Candreva menjadi pemain kunci.

Saat itu, Candreva memang tak tampil mencolok, sebab performa impresif Nelson Semedo menjadi pemain dengan jumlah tekel terbanyak dan menyelamatkan wajah Barcelona yang akhirnya menang 2-1. Namun, dengan absennya penggawa asal Portugal tersebut, bisa jadi hasil bakal berkata lain.

“Sudah dua bulan berlalu sejak laga itu, dan kini tim kami telah berkembang dalam banyak aspek,” ujar Antonio Conte.

Kepercayaan diri Conte juga bertambah menyusul penampilan Romelu Lukaku dan Lautaro Martinez juga sedang hangat-hangatnya. Musim ini Lukaku telah membukukan 11 gol dari 19 penampilan, sedangkan Martinez sudah 13 kali mengoyak jala lawan dalam 20 pertandingan.

“Besok kami hanya akan memikirkan diri kami dan tampil dengan cara yang tepat. Tujuan kami jelas: tampil sebaik mungkin di atas lapangan agar tidak menyesal setelah pertandingan,” pungkas Conte.

Baca juga artikel terkait LIGA CHAMPIONS atau tulisan menarik lainnya Herdanang Ahmad Fauzan
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Herdanang Ahmad Fauzan
Editor: Gilang Ramadhan
DarkLight