Insensitifnya Konten Iklan Shopee terhadap Korban Kekerasan Seksual

Oleh: Restu Diantina Putri - 4 Februari 2021
Dibaca Normal 2 menit
Konten promosi Shopee di akun instagram Lambe Turah mendapat kecaman warganet karena dinilai tak sensitif terhadap korban kekerasan seksual.
tirto.id - Konten marketing aplikasi belanja online Shopee di akun gosip Lambe Turah menjadi perbincangan warganet. Dalam tangkapan layar akun instagram Lambe Turah yang diunggah salah seorang warganet memperlihatkan status instagram seseorang yang ingin mengungkap pelecehan seksual yang terjadi padanya saat menggunakan layanan dating apps.

Dalam kapsinya, Lambe Turah menulis “Yang lagi viral kemarin di dating apps, sekarang ada bukti dari korban yang lain nih, gaes. Ampuuun...agresif banget. Jangan sampe deh kita ketemu yang kayak gini juga.

Slide berikutnya dari unggahan itu memperlihatkan rekaman layar percakapan whatsapp antara dirinya dengan pelaku yang ingin menunjukkan sebuah video. Saat dibuka video tersebut ternyata video konten marketing dari Shopee.

Akun @jxnxt yang mengunggah konten itu di Twitter menyebut endorse Shoppee tersebut “tidak lucu dan tidak sensitif terhadap korban [kekerasan seksual]”. Unggahan itu dicuit kembali sebanyak 9,2 ribu kali dan menjadi viral.



Imbas dari konten tak sensitif itu, muncul tagar ajakan untuk #uninstallshopee pada Selasa, (2/2/2021).



Tak Sensitif

Beberapa hari lalu, publik memang sempat dikejutkan dengan pelaku kekerasan seksual yang mencari korban perempuan di layanan aplikasi kencan online. Salah satu spektrum kekerasan seksual berbasis gender online (KBGO) ialah korban menerima video berkonten pornografi, eksibisionisme, atau rekaman aktivitas seksual dari pelaku.

Dampak dari perilaku tersebut korban akan merasa jijik, gemetar dan trauma jika mendapat video dari pengirim yang tak jelas.

Shopee nampaknya memanfaatkan kasus viral tersebut sebagai ide untuk konten promosinya demi menggaet atensi konsumen, dalam hal ini, follower akun instagram Lambe Turah.

Unggahan konten iklan Shopee tersebut mendapat kecaman dari banyak pihak. Pemilik akun @jxnxt menyebut konten tersebut justru akan semakin merugikan korban kekerasan seksual.

“Dikira orang/korban pada speak up tentang assault/harassment tuh cuma buat nyari klout/viral doang? Tahu gak susahnya cerita apalagi dipercaya orang and you use it for fucking gimmick?”

Pendapat itu diamini Nenden Sekar Arum dari SafeNet. Menurutnya, konten insensitif tersebut seolah menafikan pengalaman korban KBGO yang jumlah terus meningkat hingga saat ini, bahkan sangat mungkin berisiko membangkitkan trauma bagi para penyintas.

Terlebih, lanjut dia, masih banyak korban yang tidak dipercaya. “Dengan adanya konten seperti itu bisa saja membuat masyarakat memiliki persepsi bahwa cerita atau upaya speak up korban seperti hanya untuk mendapat perhatian/klout. Tentu ini bakal jadi sandungan dalam advokasi buat korban,” terang Nenden saat dihubungi Tirto, Rabu (3/2/2021)

Dalam laporan situasi SafeNet bertajuk “Hak Digital Indonesia 2019”, SafeNet menerima 60 aduan kasus Kekerasan Berbasis Gender Siber (KBGS). Sebanyak 44 aduan kasus adalah dari rujukan Komnas Perempuan.

Dari jumlah tersebut, 53 korban yang melakukan pengaduan adalah perempuan dan 7 lainnya tidak mengidentifikasi gendernya.

Bentuk KBGS yang paling banyak dilaporkan adalah penyebaran konten intim tanpa persetujuan (non consensual disemmination of intimate images (NCII) sebanyak 45 kasus, pelanggaran privasi (seperti doksing, pengawasan non konsensual, penyadapan, akses tanpa otorisasi) sebanyak 7 kasus, pembuatan akun peniru (impersonation) sebanyak 2 kasus, pamer alat kelamin di ruang digital secara non konsensual (digital exhibitionism) sebanyak 3 kasus, dan bentuk KBGS lainnya seperti aksi mempermalukan korban di ruang digital publik (online shaming) atau pelanggaran privasi korban di luar dari penjelasan di atas.

SafeNet menegaskan angka ini belum merepresentasikan keseluruhan kejadian KBGS di Indonesia lantaran masih banyak korban yang belum melapor. Catatan Tahunan Komnas Perempuan 2020 berjudul Kekerasan Meningkat: Kebijakan Penghapusan Kekerasan Seksual untuk Membangun Ruang Aman Bagi Perempuan dan Anak Perempuan menyebutkan setidaknya ada 281 kasus di 2019, meningkat 300% dari 97 kasus di tahun sebelumnya.

Banyak dari kasus tersebut tidak berakhir ke pengaduan polisi lantaran korban tak ingin kasusnya diketahui orang lain hingga ketakutan menghadapi victim blaming.


Shopee Minta Maaf

Merespons kecaman warganet tersebut, pihak Shopee akhirnya meminta maaf. Dalam keterangan resmi sepanjang empat paragraf itu, Shopee menyatakan bahwa pelecehan seksual adalah topik yang perlu ditangani dengan penuh perhatian dan keseriusan, bukan dijadikan bahan bercanda ataupun promosi.

“Shopee mendengarkan setiap masukan yang disampaikan para pengguna terkait materi promosi di media sosial gosip beberapa waktu lalu. Untuk itu, kami sepenuh hati meminta maaf atas penggunaan materi yang tidak sepantasnya digunakan untuk bahan pemasaran,” jelas Direktur Shopee Indonesia Handhika Jahja melalui keterangan tertulis yang diterima Tirto, Rabu (3/2/2021).

Pihaknya juga telah meminta akun media sosial gosip yang bersangkutan untuk segera menurunkan materi promosi tersebut.

“Kami berterima kasih atas kritik dan masukan ini agar kami lebih baik dan lebih berhati-hati ke depannya, sehingga kasus serupa tidak terulang kembali,” tandas Handhika.

Saat dimintai konfirmasi lebih lanjut kepada akun Lambe Turah, hingga tulisan dipublikasikan pihak Lambe Turah belum masih belum merespons. Unggahan konten promosi tersebut saat ini sudah tidak bisa diakses di akun instagram Lambe Turah sejak sore kemarin (2/2/2021).

Shopee merupakan aplikasi belanja online yang berbasis di Singapura. Saat ini, aplikasi itu sudah lebih dari 100 juta kali diunduh. Berdasarkan Iprice Insight dalam laporan Peta E-Commerce Indonesia, Shopee menempati urutan pertama dengan total jumlah pengunjung tiap bulan sebanyak 96.532.300.

Sementara itu, dalam laporan keuangan SEA Group 2019, pendapatan Shopee meningkat hingga 224% dari 2018 di angka US$942 juta atau sekitar Rp13,2 triliun.


Baca juga artikel terkait KEKERASAN SEKSUAL atau tulisan menarik lainnya Restu Diantina Putri
(tirto.id - Bisnis)

Penulis: Restu Diantina Putri
Editor: Restu Diantina Putri
DarkLight