Inong Balee, Para Pejuang Perempuan dalam Lintasan Sejarah Aceh

Oleh: Reni Nuryanti - 21 April 2021
Dibaca Normal 4 menit
Laksamana Keumala Hayati menjadi representasi kuat inong balee sebagai perempuan pejuang Aceh.
tirto.id - Historiografi perempuan Aceh menempatkan inong balee sebagai ikon perlawanan perempuan. Secara harfiah, ia merujuk pada janda atau perempuan yang kehilangan suaminya akibat konflik. Dalam sejarah Aceh, ia juga merujuk pada tentara perempuan abad ke-17.

Inong balee dinarasikan sebagai simbol kekuatan militer, politik, dan kultural. Pada abad ke-16, simbol militer dan politik diwujudkan dalam aksi perlawanan dan diplomasi melawan Portugis. Sedangkan, simbol kultural mengkristal dalam pewarisan keberanian pejuang perempuan pada masa perang melawan Belanda sepanjang 1873-1912.

Representasi atau personifikasi yang terkenal dari inong balee yang paling terkenal adalah Laksamana Keumalahayati. Gelar Laksamana yang disandangnya menguatkan posisi Keumalahayati, bukan hanya sebagai pejuang, tetapi juga sebagai pemimpin. Masyarakat Aceh menempatkan Keumalahayati sebagai pahlawan—pada November 2017, Presiden Joko Widodo pun menentapkannya secara resmi sebagai pahlawan nasional.

Historiografi tentang Keumalahayati telah banyak ditulis, di antaranya oleh Solichin Salam, Ibrahim Alfian, dan Rusdi Sufi. Meski begitu, eksistensi Keumalahayati sebenarnya masih sumir karena minimnya sumber sejarah.

Sebelum Keumalahayati menjadi subjek penelitian sejarah, nama dan kisahnya lebih dulu tersua dalam karya sastra. Adalah Marie van Zeggelen (1870–1957) yang telah mengabadikan kisah Keumalahayati dalam roman berjudul Oude Glorie (Kemuliaan Masa Lalu). Elsa Clavé-Celik dalam artikel “Silenced Fighters: An Insight into Women Combatants History in Aceh (17th-20th c.)” yang terbit di jurnal Archipel (2014) menyebut, van Zeggelen adalah istri seorang serdadu Belanda yang pernah ditugaskan ke Aceh.

Kemungkinan besar, van Zeggelen mendasarkan romannya pada tradisi lisan tentang sang laksamana. Meski begitu, roman yang terbit pada 1935 ini kemudian menjadi “sumber” pertama dan utama tentang Keumalahayati yang sering dikutip oleh beberapa sejarawan. Jennifer Dudley dan Rusdi Sufi, misalnya, pernah keliru menyebut van Zeggelen sebagai “sejarawan Belanda”.

Pendapat Clave-Celik itu diperkuat oleh catatan peninggalan John Davis, seorang penjelajah asal Inggris yang mengunjungi Aceh pada 1599. Catatan Davis menyebutkan bahwa Kesultanan Aceh memang memiliki seorang laksamana perempuan. Namun, Davis tidak pernah menyebut namanya secara spesifik sehingga sulit dikonfirmasi. Dan lagi, tak ada sumber Belanda dari masa itu yang menyebut nama Keumalahayati.

“Terlepas dari eksistensinya yang masih diperdebatkan, Keumalahayati tetap hidup dalam kesadaran kolektif masyarakat Aceh. Dia tidak diragukan lagi adalah satu-satunya laksamana yang namanya, asli atau bukan, terus hidup dalam ingatan,” tulis Clave-Celik.

Mengakui Keumalahayati

Persoalan ini membuat Laksamana Keumalahayati memiliki posisi yang unik dalam sejarah. Memang agak sulit menyimpulkan eksistensinya dalam sejarah tanpa ada dokumen otentik. Meski begitu, penetapannya sebagai pahlawan nasional dapat dibaca sebagai pengakuan bahwa dia bukanlah tokoh fiktif.

Selain itu, pada akhirnya muncul pula pemakluman. Tradisi lisan dan jejak arkeologis, seperti makam dan Benteng Inong Balee, dapat menjadi alternatif untuk mengisi kekosongan dokumen sebagai sumber sejarah. Yang terpenting, hal itu tidak dipakai untuk kepentingan yang destruktif.

Terlepas dari perdebatan itu, kemunculan Keumalahayati dalam historiografi perempuan Aceh adalah sebuah “kebutuhan” politis dan sosio-kultural terkait posisi perempuan Aceh.

Keumalahayati adalah sosok yang tidak semata-mata menempati hierarki kekuasaan—seperti halnya Sultanah Taju Safiatuddin Shah Alam (1641-1675), Sri Ratu Naqiatuddin Nurul Alam (1675-1678), Sri Ratu Zaqiyatuddin Inayat Syah (1678-1688), dan Sri Ratu Zainatuddin Kamalat Syah (1688-1699), tapi juga berperan sebagai pejuang yang melawan penjajah.


Bagi masyarakat Aceh, sosok Keumalahayati mewakili konsep etika dan tanggung jawab (reusam) sebagai manusia Aceh. Konsep ini bersumber dari sebuah hadih maja atau peribahasa dari abad ke-17.

Adat bak Po Teumeureuhom, hukom bak Syiah Kuala, kanun bak Putroe Phang, reusam bak Laksamana—Adat berasal dari Po Teumeureuhom, hukum berasal dari Syiah Kuala, kanun berasal dari Putroe Phang, reusam berasal dari Laksamana,” demikian peribahasa itu berbunyi.

Menurut Muhammad Umar dalam buku Darah dan Jiwa Aceh Mengungkap Falsafah Hidup Masyarakat Aceh (2003), kata laksamana dalam ungkapan itu merujuk pada Keumalahayati. Oleh sebab itu, Keumalahayati sejajar dengan tiga tokoh lain, yaitu Sultan Iskandar Muda (Po Teumeureuhom) sebagai simbol kepemimpinan, Syekh Abdurrauf Singkili (Syiah Kuala) sebagai simbol religiositas dan kecendekiaan, dan istri Iskandar Muda (Putroe Phang) sebagai simbol keadilan hukum.


Nama Keumalahayati juga sering diasosiasikan pada inong balee. Berawal dari rasa marah atas kematian suaminya dalam perang, Keumalahayati lalu membentuk pasukan yang awalnya terdiri dari para perempuan yang senasib dengannya. Pasukan ini lebih dikenal dengan nama ‘Armada Janda’.

Secara historiografis, langkah Keumalahayati menjadi cara memuliakan janda. Menurut Clave-Celik, dia berhasil menciptakan materi micro history pada saat orang-orang kecil tidak punya tempat dalam sejarah. Terbukti, makna inong balee kemudian bergeser—bukan hanya untuk menyebut perempuan janda, tapi juga perempuan bersuami dan gadis remaja yang ikut berjuang melawan penjajah.

Dan lagi, jiwa patriotisme perempuan Aceh bersumber dari perjuangan pasukan inong balee melawan Portugis. Keumalahayati membuktikan diri bisa menewaskan Cornelis de Houtman dan menangkap adiknya, Frederick de Houtman, pada 1599. Bukan hanya itu, pada 1601, dia juga berperang melawan petualang Belanda lainnya, yaitu Paulus Willemsz van Caerden.

Pejuang Perempuan

Peran perempuan sebagai pejuang kembali bergelora ketika rakyat Aceh melawan Belanda pada abad ke-19. Inong balee kembali jadi bagian penting dalam perlawanan itu. Contoh menarik adalah perjalanan Cut Nyak Dhien bersama suami pertama dan keduanya.

Suami pertama Cut Nyak Dhien adalah Teuku Ibrahim Lamnga. Setahun setelah keduanya menikah, tepatnya pada 1873, Teuku Ibrahim ikut berperang melawan Belanda. Malang, Teuku Ibrahim tewas dalam sebuah peperangan pada 1878.

Beberapa bulan kemudian, Cut Nyak Dhien menikah lagi dengan Teuku Umar yang umurnya lebih muda. Kala itu, Teuku Umar telah mempunyai dua istri, yaitu Cut Nyak Sapiah dan Cut Nyak Meuligoe.

Pertemuan antara Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar digambarkan oleh Magdalena Hermina Szekely-Lulofs dalam roman Tjoet Nja Dhien (1952). Szekely-Lulofs adalah perempuan Belanda yang lahir di Jawa dan tumbuh besar di Sumatra. Clave-Celik menyebut, Szekely-Lulofs mengetahui kisah perlawanan Cut Nyak Dhien melalui dokumen Belanda dan syair Hikayat Prang Gompeuni gubahan pujangga Dokarim.

Szekely-Lulofs menggambarkan bahwa Cut Nyak Dhien melihat Teuku Umar sebagai jalan untuk membalas dendam terhadap Belanda yang telah mengacaukan keluarganya. Hal itu menjadi faktor psikologis yang menumbuhkan keberanian Cut Nyak Dhien untuk menikah lagi.

“Hati Umar bergetar melihat muka wanita yang lusuh oleh geram dan berang itu. Saudara sepupunya ini berdarah bangsawan yang panas. [...] Kata kesetiaan membisikkan Teuku Umar untuk membantu wanita yang menjanda ini,” tulis Szekely-Lulofs.

Narasi Szekely-Lulofs itu cukup menggambarkan bahwa pernikahan Cut Nyak Dhien dengan Teuku Umar dilatari oleh kepentingan politik. Demi melanjutkan perang melawan Belanda, Cut Nyak Dhien mengesampingkan urusan perasaan perempuan dan menjalani poligami. Sepanjang pernikahan keduanya ini, Cut Nyak Dhien menghabiskan waktu bersama Teuku Umar di tengah perang melawan Belanda.

Clavé-Çelik dalam Images of the Past and Realities of the Present: Aceh’s Inong Balee (2008, PDF) menyebut, sejarah terkadang menyebut kepahlawanan Cut Nyak Dhien melebihi suaminya.

Inong Balee di Era DOM

Inong balee kembali muncul dalam historiografi perempuan Aceh sekira 1989, seiring dengan memuncaknya konflik antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah RI. Lalu, pada 1990, Pemerintah RI bahkan menetapkan Aceh dalam status Daerah Operasi Militer (DOM).

Pada masa ini, makna inong balee mengalami pergeseran. Mereka bukan hanya para janda perang, tapi juga para gadis dan perempuan bersuami yang tergabung dalam GAM. Mereka pun turut melawan Pemerintah RI dan ABRI. Tak sekadar mengangkat senjata, mereka pun berperan dalam banyak aspek, mulai dari dapur umum, perawatan, logistik, propaganda, dan intelijen.


Al Chaidar dalam Aceh Bersimbah Darah: Mengungkap Penerapan Status DOM di Aceh 1989-1998 (1998) menyebut, pergesaran makna itu dipengaruhi oleh perubahan perilaku dan mentalitas di saat konflik. Pada saat itu, kekerasan bersenjata antara kelompok GAM dengan ABRI semakin panas.

Seturut Reni Nuryanti dalam Perempuan Berselimut Konflik (2012), perempuan Aceh pun mulai memposisikan diri lebih aktif dalam konflik. Sejak 1990, mereka bukan lagi sekedar objek konflik atau instrumen teror, melainkan terlibat sebagai subjek peristiwa.

Pada masa-masa itulah inong balee digunakan untuk menyebut para tentara perempuan itu. Julukan ini diberikan oleh Panglima GAM Tengku Abdullah Syafei. Secara resmi, penyebutan inong balee sebagai tentara perempuan GAM dinyatakan oleh Juru Bicara GAM Sofyan Dawood pada ulang tahun GAM pada 2000.

Dalam konteks masa DOM, pilihan menjadi inong balee bagi perempuan Aceh adalah sebuah konsekuensi pada pilihan hidup atau mati. Namun, terlepas dari munculnya citra sebagai pendukung GAM, posisi inong balee tetaplah penting dalam sejarah Aceh. Inong balee masa kini adalah pewaris jiwa Laksamana Keumalahayati.


==========

Reni Nuryanti adalah dosen sejarah di Universitas Samudra, Aceh. Buku pertamanya berjudul Perempuan dalam Hidup Sukarno: Biografi Inggit Garnasih terbit pada 2007. Pada 2018, Reni terpilih sebagai salah satu Penulis Emerging Indonesia dalam perhelatan Ubud Writers & Readers Festival.

Baca juga artikel terkait LAKSAMANA MALAHAYATI atau tulisan menarik lainnya Reni Nuryanti
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Reni Nuryanti
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
DarkLight