Inilah Situasi Tubuh Saat Bencana & Bagaimana Menghadapinya

Oleh: Aditya Widya Putri - 5 Oktober 2018
Dibaca Normal 2 menit
Aturan emasnya, usahakan untuk tidak panik!
tirto.id - Tiga hari dua malam telah dilalui Nurul Istikharah dalam reruntuhan bangunan di Perumahan Nasional Balaroa, Palu Barat, Kota Palu. Remaja berusia 15 tahun itu mampu bertahan hidup meski kakinya terjepit reruntuhan bangunan dan tubuhnya tergenang air hingga leher. Selama 48 jam lamanya ia berkejaran dengan maut di depan mata.

Butuh waktu 21 jam bagi Tim SAR untuk mengevakuasi Nurul, ia baru bisa ditarik keluar pada pukul 23.00 WIB, Minggu (30/9/2018) malam. Struktur reruntuhan bangunan bercampur lumpur sempat menyulitkan evakuasi. Remaja putri ini juga sempat beberapa kali tak sadarkan diri. Tim SAR berupaya menepuk leher belakangnya dan memberi olesan minyak kayu putih untuk menjaga kesadaran Nurul. Kini, ia menjalani perawatan di RS Bhayangkara karena mengalami hipotermia.

Nurul adalah satu dari sekian cerita tentang penyintas dalam bencana alam. Laman CNN pernah menampilkan kisah bocah berusia 5 tahun yang selamat dari reruntuhan gempa berkekuatan 7,0 skala Rochter di Port-au-Prince, ibukota Haiti. Bocah tersebut memiliki ketahanan tubuh yang baik dan hanya perlu perawatan intensif untuk memulihkan dehidrasi berat tubuhnya.

Laman Huffington Post juga bercerita tentang seorang pria yang selamat meski menderita patah kaki dan dehidrasi berat setelah tertimpa reruntuhan gempa di Amerika Serikat. Nyatanya, ketahanan manusia dalam waktu lama dan suhu ekstrim pasca bencana bergantung pada kekuatan tubuh, semakin sehat dan muda maka mekanisme tubuh untuk mempertahankan suhu semakin baik.


Saat terkena bencana alam, manusia sehat dapat bertahan hidup sekitar satu minggu, dengan catatan tubuh mereka cukup bergizi, terhidrasi, dan tidak terluka parah. Waktu bertahan mencapai dua minggu jika korban memiliki akses makanan atau minuman. Seperti cerita seorang perempuan berusia 97 tahun yang selamat setelah sembilan hari gempa di Iran pada 2003 karena memiliki akses makanan di sebelahnya, atau seorang pria dari runtuhan hotel Filipina dua minggu setelah gempa tahun 1990 karena memiliki akses harian ke air hujan.

Masih dilansir Huffington Post, Angkatan Udara Amerika mengulas peluang yang membuat seorang bocah 5 tahun dapat hidup pasca tertimbun reruntuhan gempa Haiti. Jawabannya adalah iklim lembab Haiti ternyata dapat memperlambat laju dehidrasi korban, selain juga ketahanan tubuh muda bocah tersebut.

Mereka menyatakan ada aturan yang harus diperhatikan sebagai pedoman keselamatan diri, yakni 3 detik tanpa semangat dan harapan, 3 menit tanpa udara, 3 jam tanpa tempat berlindung dalam kondisi ekstrim, 3 hari tanpa air, dan 3 minggu tanpa makanan.

“Aturan ini membantu Anda fokus pada prioritas kelangsungan hidup, mengatur waktu, dan energi ketika krisis,” begitu laman tersebut menulis.

Infografik Upaya berlindung dari gempa


Bertahan Hidup dari Bencana

Rata-rata korban selamat yang baru bisa dievakuasi beberapa hari pasca-bencana akan mengalami dehidrasi. Dokter Eric Weinstein, seorang dokter darurat di Carolina Selatan berkata pada CNN, para penyintas akan mengalami kelainan elektrolit, disfungsi organ, dan kesulitan untuk memulihkan dehidrasi. Sejauh pengalamannya menangani para korban tawanan perang, proses pemulihan dehidrasi harus dilakukan secara perlahan.

“Proses rehidrasi secara terburu-buru justru akan membuat tubuh semakin kewalahan dan berisiko kesehatan,” terang Weinstein.

Ketiadaan asupan energi dan cairan akan membuat tubuh memecah glikogen dalam hati menjadi glukosa. Tujuannya untuk memasok energi ke organ paling vital, jantung dan otak. Ketika cadangan energi itu telah habis, akhirnya tubuh terpaksa membakar lemak dan otot untuk menggerakkan fungsi-fungsi kritisnya.

Proses tersebut menciptakan aseton dan keton, membuat darah lebih asam, dan menyebabkan detak jantung tidak teratur. Dehidrasi parah juga dapat menyebabkan kerusakan otak. Sementara tubuh yang tak bergerak meningkatkan risiko penggumpalan darah, stroke, atau emboli pulmoner.

“Fungsi ginjal akan melambat, hati dan usus juga akan bermasalah.”


WHO menyusun beberapa langkah yang dapat dijadikan pedoman saat terjadi bencana alam. Khusus gempa dan tsunami, jamaknya getaran atau gelombang pertama merupakan tanda bagi getaran dan gelombang selanjutnya yang bisa lebih dahsyat. Ketika gempa terjadi saat Anda berada di dalam ruangan sebaiknya segera cari perlindungan seperti duduk di bawah meja atau pelindung lainnya yang kokoh.

Jauhi kaca, jendela, pintu luar dan dinding, dan apa pun yang bisa jatuh menimpa Anda. Tetap di dalam sampai getaran berhenti dan aman untuk pergi keluar. Sebagian besar cedera justru terjadi ketika berusaha pindah ke lokasi lain. Terakhir, jangan menggunakan lift. Sementara jika berada di luar ruangan segera menjauh dari bangunan, lampu jalan, kabel listrik, dan cari tempat berdiam yang lapang.

Gelombang laut yang surut tiba-tiba merupakan peringatan tsunami yang harus diperhatikan. Segera jauhi pantai dan cari daratan yang lebih tinggi. Ketika terjebak di bawah puing, ingat untuk tidak menyalakan korek api karena akan membuat pasokan oksigen semakin sedikit. Usahakan tak banyak bergerak, tutup mulut dengan sapu tangan atau pakaian guna menghindari debu atau gas tertentu terhirup. Ketuk pipa atau dinding agar penyelamat dapat menemukan Anda, gunakan peluit jika tersedia.

“Berteriak adalah pilihan terakhir karena menyebabkan debu terhirup dalam jumlah berbahaya.”

CNN menyimpulkan hal terpenting yang harus dimiliki untuk menghadapi bencana, yakni pengendalian diri. Dokter Deborah Ann Mulligan, profesor pediatri di Nova Southeastern University, Florida mengatakan kepanikan dapat mengurangi waktu bertahan hidup dalam situasi apa pun.

Baca juga artikel terkait GEMPA PALU DAN DONGGALA atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Maulida Sri Handayani