Ingin Sehat? Rajin-rajinlah Merajut

Oleh: Nindias Nur Khalika - 5 Mei 2018
Dibaca Normal 2 menit
Tidak hanya berguna untuk mengisi waktu luang, merajut juga mendatangkan manfaat bagi kesehatan.
tirto.id - Rumit tapi menantang. Dua hal itulah yang membuat Siti Munigar (60) jatuh cinta pada aktivitas merajut dan memenuhi hatinya tiap kali melihat gambar panduan teknik merajut (knitting).

Kepada Tirto, Siti Munigar mengungkapkan alasan mengapa ia lebih tertarik pada aktivitas merajut dibandingkan kegiatan lain. “Kenapa tertarik? Karena unik dari benang kok bisa jadi taplak dan gorden. Terus bentuk-bentuknya bagus-bagus,” katanya.

Ia mengaku awalnya hanya suka melihat rajutan perajin yang dijual di toko. Dari sana, minat Siti Munigar perlahan tumbuh. Ia pun belajar merenda (crochet) kepada seorang teman dari Jerman. Sayang, belum selesai Siti Munigar belajar, sang kawan harus kembali ke kampung halaman.

Saat tinggal di kompleks perumahan daerah Pamulang, Siti Munigar mendapati tetangganya pintar merajut. Ia senang melihat rajutan gorden, taplak meja, hingga tutup botol air minum isi ulang ketika berkunjung ke rumah sang tetangga. Siti pun berniat belajar merajut dari tetangganya.

“Saya tanya ‘Ibu beli di mana kok bagus?' terus beliau bilang 'saya buat sendiri.’ Lama-lama saya dekati dia dan saya bilang mau belajar. Ternyata disambut baik,” ujarnya.

Siti Munigar merajut untuk mengisi waktu luang. Ia berhasil membuat rajutan taplak meja serta sandaran kursi dan kini berniat membikin seprai. Ketika merajut sandaran kursi, ia membutuhkan waktu 5 sampai 6 hari, dan sebulan untuk taplak berdiameter 80 cm.


Menurut Yohana Bonita dalam buku Knitting (2014), merajut adalah cara membuat potongan kain (fabric) dengan teknik menggabungkan helaian benang menggunakan sepasang jarum panjang.

Ada perbedaan mendasar antara merajut (knitting) dengan merenda (crochet). Masing-masing menggunakan jarum dan teknik berbeda. Jarum untuk merenda berujung kait dan pendek, sementara jarum rajut lebih panjang serta berujung runcing.

Jenis benang untuk merajut pun beragam, tergantung kandungan serat, pintalan, ukuran helai, dan metode penyelesaian. Hal serupa juga berlaku untuk jarum rajut. Macam jarum rajut dikelompokkan berdasarkan bahan asli dan fungsinya.

Berdasarkan kandungan serat, benang dibedakan menjadi alami, sintetis, atau campuran alami dan sintetis. Contoh benang yang mengandung serat alami antara lain adalah wol, mohair, angora, cashmere, alpaca, silk, pure silk, katun, dan linen.

Benang dengan kandungan serat alami terbuat dari bulu binatang seperti domba (wol), kambing angora (mohair), kelinci angora (angora), kambing Himalaya (cashmere), llama (alpaca), dan kepompong ulat sutra (silk dan pure silk). Ada pula benang yang berasal dari tumbuhan, yakni kapas (katun) serta tanaman flax (linen).

Sementara itu, benang sintetis terdiri dari akrilik, polyamide (termasuk nilon), polyster, dan viskos (termasuk rayon).

Jarum rajut, di sisi lain, terbuat dari berbagai macam bahan seperti bambu, plastik, metal, dan kayu. Yohana menganjurkan agar perajut pemula memakai jarum berbahan plastik dan bambu alih-alih logam. Sebab, sifat bahan kedua jarum itu tidak gampang “meluncur” sehingga merajut terasa lebih mudah.



Metode merajut yang eksis saat ini, menurut Leanne Benner, sebetulnya telah ada sejak ribuan tahun silam. Dalam buku Knitting (2004), ia menjelaskan bahwa aktivitas merajut mulai dilakukan oleh orang Arab 3.000 tahun lalu.

Kala itu, laki-laki dari bangsa pengembara menggunakan wol dari bulu kambing dan domba untuk merajut. Berbeda dengan para pria, perempuan tak diperbolehkan merajut. Mereka cuma boleh mengumpulkan bulu lalu memintalnya.

Keterampilan merajut kemudian ditularkan bangsa Arab ke orang-orang asing yang mereka temui sepanjang perjalanan. Seni merajut pun menyebar ke benua lain, tak terkecuali Eropa dan Amerika. Menurut Benner, masa keemasan merajut terjadi pada tahun 1400an sampai 1600an.

Saat itu, serikat pekerja rajut di Eropa bertugas menjaga kualitas produksi. Walhasil, orang dengan keterampilan merajut sangat dihargai, dicari, dan diperdagangkan. Seorang anak laki-laki bahkan harus menjalani masa belajar selama 6 tahun agar menguasai keterampilan tersebut.


Infografik manfaat merajut



Merajut Bermanfaat bagi Kesehatan

“Saya sering di rumah. Anak perempuan saya di Jogja, terus kakaknya kerja di luar kota. Jadi saya sering bengong,” aku Siti kepada Tirto. Bagi Siti, merajut membuatnya tetap aktif meski kerap tinggal di rumah.

Dari cerita di atas, merajut sepintas lalu hanya menjadi aktivitas yang berguna untuk mengisi waktu luang. Namun, laporan penelitian survei dari Knit for Peace (PDF), sebuah inisiatif dari LSM Charities Advisory Trust asal Inggris, menjelaskan bahwa merajut mendatangkan manfaat bagi kesehatan.

Riset dilakukan dengan menggunakan metode survei daring terhadap 1.053 perajut yang tergabung dalam Knit for Peace, sebuah proyek merajut pakaian untuk korban kekerasan. Dari total jumlah perajut tersebut, 70% responden berumur 60 tahun. Hasil temuan survey itu menyebutkan bahwa 70% responden mengaku aktivitas merajut meningkatkan kesehatan mereka.

Lebih lanjut, sebanyak 86,8% (875 responden) mengatakan merajut membuat pikiran dan badan rileks. 31,4% (317 responden) menilai merajut mampu meminimalisir kecemasan dan mengurangi tekanan darah (26,1% atau 263 responden).

Sebanyak 24,1% (243 responden) mengatakan bahwa merajut dapat meredakan depresi; sementara bagi 21,4% lainnya (216 responden), merajut mampu meredakan peradangan sendi serta meredakan sakit otot (14,3% atau 144 responden). Sebanyak 10,9% (109 responden) mengaku bahwa merajut membantu mereka mengatasi penyakit menahun dan kronis (10,7% atau 108 responden).

Aktivitas merajut juga diketahui bermanfaat meningkatkan suasana hati (mood) dan kesejahteraan hidup, menghambat demensia, serta mengurangi rasa kesepian.

Di sisi lain, kegiatan merajut di Knit for Peace memungkinkan mereka mendapatkan wadah untuk beraktivitas, membuka peluang untuk membantu satu sama lain, serta meningkatkan perasaan bahwa diri mereka berguna untuk orang lain.

Seperti yang dilaporkan Telegraph, Dame Hillay Blume, pendiri sekaligus ketua Charities Advisory Trust and Knit for Peace mengatakan merajut harus dipopulerkan karena manfaatnya bagi kesehatan. “Merajut sering tidak diminati dan diejek karena ketinggalan zaman tapi aktivitas itu harus dipromosikan karena kualitas dari manfaatnya bagi kesehatan,” katanya.

Baca juga artikel terkait MERAJUT atau tulisan menarik lainnya Nindias Nur Khalika
(tirto.id - Kesehatan)


Penulis: Nindias Nur Khalika
Editor: Windu Jusuf