Menuju konten utama

Industri Hiburan Tanah Air Lumpuh Digebuk Pandemi COVID-19 Corona

Seiring dengan pandemi COVID-19 (corona) yang semakin meluas penyebarannya di Indonesia, acara konser musik banyak yang dibatalkan dan industri hiburan hampir lumpuh.

Industri Hiburan Tanah Air Lumpuh Digebuk Pandemi COVID-19 Corona
Ilustrasi pertunjukan musik. Getty Images/iStockphoto.

tirto.id - Pada 11 Maret 2020, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus resmi mengumumkan Covid-19 sebagai pandemi. Indonesia kemudian menetapkan status darurat Corona hingga 29 Mei 2020, setelah kasus demi kasus positif Corona semakin meluas.

Pemerintah Indonesia memang tidak secara tegas menerapkan lockdown, sebagaimana diterapkan sejumlah negara. Pemerintah Indonesia hanya mengeluarkan imbauan untuk menjaga jarak atau social distancing guna meredam penyebaran Covid-19. Masyarakat diminta mengurangi kegiatannya di luar, dan menerapkan "work from home". Sementara untuk kegiatan-kegiatan yang sifatnya mengumpulkan massa dilarang.

Kebijakan tersebut memukul berbagai sektor perekonomian Indonesia, tak terkecuali industri hiburan. Sejumlah konser, peluncuran film, pertunjukan terpaksa ditunda untuk mengurangi pengumpulan massa yang bisa berdampak pada perluasan virus Covid-19.

"Saat ini seluruh jadwal kegiatan di bulan Maret dan April hampir semua dijadwalkan ulang," kata Manajer The Adams, Awaludin Syafri, ketika dihubungi Tirto, Minggu (22/3/2020).

Band itu berencana tampil dalam Tur Agterplaas di enam wilayah, dua festival di Jakarta dan beberapa acara dari brand di Jabodetabek. Namun, semua acara itu harus ditunda lantaran pandemi COVID-19 dan disusul dengan imbauan Presiden Joko Widodo ihwal 'kerja dari rumah'.

Beberapa acara mereka dijadwalkan ulang ke Juni dan Juli, hal ini tak terlepas dari pihak penyelenggara yang memutuskan perubahan tanggal. Tak hanya itu, mengakali imbauan pemerintah dan demi keamanan seluruh personel band, The Adams melakukan meeting melalui sambungan video meski sebelumnya sempat sekali bertatap muka guna pembahasan rencana.

Dindin, panggilan Awaludin, mengatakan jika The Adams berkegiatan secara daring semisal konser streaming, bukan berarti tanpa risiko. Ada standar operasional prosedur yang harus dijalankan.

"Karena akan kontak langsung dengan pihak ketiga. Siapa mereka? Kami tidak kenal juga. Kalau pun mau live streaming, lebih aman kalau semua dilakukan sendiri, kami sedang mengarah ke sana," jelas dia.

Pihaknya menunggu situasi pandemi mereda, bagi band yang baru merilis album di Maret 2019 ini, penundaan kegiatan membatasi penampilan mereka. "Kami lebih memilih mengedepankan sisi empati atas situasi ini, saling dukung di lingkungan keluarga Adams, itu yang kami lakukan kini," ucap Dindin.

Ige, salah satu anggota manajemen Didi Kempot, mengaku masih bisa syuting video klip maupun rekaman di studio. "Tapi semua dilakukan berjarak, Mas Didi selalu bawa hand sanitizer," kata dia ketika dihubungi Tirto, Minggu (22/3/2020).

Namun, mereka juga membatalkan penampilan 'Father of Broken Heart' tersebut. Semua acara yang melibatkan pengumpulan massa ditunda hingga waktu yang belum ditentukan.

Ige mengaku penyanyi asal Surakarta mendapatkan tawaran manggung hampir setiap hari, bahkan agendanya penuh hingga akhir April nanti, tapi urung. Semestinya Didi Kempot berkeliling Pulau Jawa untuk menghibur 'Sobat Ambyar' di Jakarta, Semarang, Surabaya, Solo dan Malang.

Pandemi Corona Lumpuhkan Panggung Hiburan

Pemerintah Malaysia menetapkan lockdown selama dua pekan untuk memperlambat penyebaran Covid-19 di sana, Senin (16/3), menyusul lonjakan tajam kasus penyebaran virus itu. Sementara, sembilan hari sebelumnya, band metal Seringai mestinya tampil dalam Nusa Fest 2020 di Kuala Lumpur.

"Karena ada pandemik Covid-19, rencananya diundur pada Agustus nanti. Tapi belum tahu kepastiannya," ucap Wendi Putranto, Manajer Seringai, ketika dihubungi Tirto, Minggu (22/3/2020).

Pelantun 'Adrenaline Merusuh' ini juga tetap berkomunikasi dengan pihak promotor, Shiraz Projects, yakin festival musik itu bisa digelar pada 22 atau 23 Agustus. Bila ancaman virus itu belum hilang, maka bisa jadi acara dua hari itu akan diundur lagi.

Akun Instagram @nusafest.my pun mengonfirmasi penundaan acara dan akan diinformasikan lagi pelaksanaan berikutnya.

Seringai juga harus membatalkan tur bersama The Sigit dan Kelompok Penerbang Roket yang dimulai pada 27 Maret di lima titik. Menurut penghitungan Wendi, sejak akhir Februari hingga akhir April, ada 9-10 acara yang dibatalkan karena Covid-19 mencuat.

Anggota band Seringai pun tetap aktif meski imbauan pembatasan sosial (social distancing) digaungkan pemerintah. Mereka menyusun podcast dan menyiapkan workshop single baru dalam situasi 'stay at home'.

Selain itu, CEO Rajawali Indonesia Communication Anas Syahrul Alimi berpendapat bisnis event organizer lumpuh karena pandemi Covid-19.

"Ada satu konser dunia, Dream Theater, pada 16 April ditunda," kata dia ketika dihubungi Tirto, Minggu (22/3/2020). Meski dijadwalkan ulang pada November mendatang, sekitar enam ribuan calon penonton yang memiliki tiket tak melakukan pengembalian dana, anggapan Anas karena mereka memaklumi kondisi pandemi.

Ia mengeluhkan 15 acara turut dibatalkan oleh kliennya, termasuk Prambanan Jazz Festival pada 3-5 Juli yang mungkin dijadwalkan ulang. "Kondisi ini secara bisnis, memang [membuat] lumpuh. Kami berharap ada stimulus dari pemerintah berkaitan dengan bisnis ini," sambung Anas.

Selama tiga bulan Covid-19 merebak, Rajawali merugi lebih dari Rp10 miliar, padahal biaya operasional perusahaan terus bergulir. Menghadapi situasi yang tidak menentu ini, Anas mengaku telah mengamankan biaya keperluan perusahaan.

"Semua pengeluaran kami tahan, [apalagi] dua bulan lagi kami harus keluarkan tunjangan hari raya," jelas dia.

Baca juga artikel terkait VIRUS CORONA atau tulisan lainnya dari Adi Briantika

tirto.id - Musik
Reporter: Adi Briantika
Penulis: Adi Briantika
Editor: Maya Saputri