Indonesia, Malaysia dan Thailand Rem Ekspor Karet 240 Ribu Ton

Oleh: Selfie Miftahul Jannah - 1 April 2019
Ketiga negara memangkas ekspor 240.000 ton karet dalam 4 bulan sejak 1 April hingga 31 Juli 2019.
tirto.id - Terhitung mulai hari ini atau 1 April 2019, Indonesia mengerem ekspor karetnya. Langkah ini diambil setelah adanya kesepakatan dalam Dewan Karet Tripartit Internasional (International Tripartite Rubber Council/ITRC).

Negara-negara yang tergabung dalam Dewan Karet Tripartit adalah Indonesia, Malaysia dan Thailand. Tiga negara ini merupakan produsen karet terbesar dunia.

Kesepakatan ini dituangkan dalam Agreed Export Tonnage Scheme (AETS) ke-6 dan bertujuan untuk mengembalikan harga karet alam ke level normal setelah terpuruk sepanjang tahun lalu.

Dengan adanya aksi pembatasan ekspor ini, ketiga negara memangkas ekspor mencapai 240.000 ton karet dalam 4 bulan sejak 1 April hingga 31 Juli 2019 mendatang.

Mengutip data Kementerian Koordinator bidang Perekonomian diketahui, dari total pemangkasan ekspor karet itu, Indonesia bakal memangkas ekspor karet sebanyak 98.160 ton dengan rincian, 24.540 ton setiap bulannya yakni April, Mei, Juni dan Juli.

Dari data itu juga diketahui, Malaysia mencanagkan pembatasan ekspor karet menjadi 15.600 ton dalam 4 bulan.

Negara lainnya yang juga ikut andil dalam pembatasan ini adalah Thailand, meskipun komitmen itu baru bisa dilaksanakan pada 20 Mei mendatang. Pasalnya, Thailand bakal menggelar Pemilu. Thailand telah berkomitmen mengurangi ekspornya sebesar 126.240 ton.

“Thailand sepakat mengurangi ekspor mulai Mei hingga September, salah satunya karena mereka saat ini sedang melangsungkan Pemilu. Tapi mereka sudah berkomitmen bahwa itu tidak akan mengurangi efektivitas AETS,” kata Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BP3) Kemendag, Kasan Muhri di kantornya, Jakarta, Senin (1/4/2019).


Baca juga artikel terkait HARGA KARET DUNIA atau tulisan menarik lainnya Selfie Miftahul Jannah
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Selfie Miftahul Jannah
Penulis: Selfie Miftahul Jannah
Editor: Alexander Haryanto
DarkLight