Menuju konten utama

INDEF Minta Pemerintah Waspadai Kenaikan Harga Minyak Mentah Dunia

Peneliti INDEF, Eko Listiyanto menyatakan kenaikan harga minyak mentah tidak otomatis menguntungkan Indonesia.

INDEF Minta Pemerintah Waspadai Kenaikan Harga Minyak Mentah Dunia
Seorang penambang menuangkan timba besi yang berisi minyak mentah di di penambangan minyak tradisional di Kecamatan Kedewan Bojonegoro, Jawa Timur, Minggu (13/8). ANTARA FOTO/Aguk Sudarmojo

tirto.id - Harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan sebesar 70 dolar AS per barel. Angka itu melampaui target pemerintah dalam APBN yang hanya mematok harga minyak mentah (Indonesia Crude Price/ICP) di angka 48 dolar AS per barel.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listiyanto menyatakan kenaikan harga minyak mentah tidak otomatis menguntungkan Indonesia.

Pasalnya, apabila harga minyak mentah naik, maka permintaan barang juga akan naik. Dan hal itu, kata dia, akan membuat daya beli masyarakat semakin menurun karena porsi pengeluaran BBM yang tinggi.

Untuk itu, Eko meminta pemerintah memperhitungkan secara menyeluruh variabel makro ekonomi terkait dengan kenaikan harga minyak dunia ini.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebelumnya memperhitungkan bahwa kenaikan harga minyak dunia dapat memberikan tambahan bagi penerimaan APBN. Pasalnya, kata Menkeu, apabila harga minyak dunia naik 1 Dolar AS per barel, maka pemerintah akan mendapatkan keuntungan bersih sebesar Rp1,1 triliun.

Namun, menurut Eko, pernyataan Sri Mulyani sangat tidak berimbang karena hanya melihat secara sepihak. Ia mengatakan, kenaikan 1 Dolar AS per barel hanya akan meningkatkan penerimaan pajak. "Harga minyak melambung itu dari sisi APBN mungkin untung, tapi dari sisi masyarakat buntung, karena banyak target yang miss," ucap Eko di kantor INDEF Jakarta pada Kamis (25/1/2018).

Ia mengatakan, kenaikan harga minyak dunia memang sangat mungkin menguntungkan bisnis minyak di sisi hulu dan bisa memberikan penambahan penerimaan negara. "Namun, tentunya pemerintah jangan lupa bahwa Indonesia adalah net importir bahan bakar minyak (BBM)," ujar Eko di kantor INDEF Jakarta pada Kamis (25/1/2018).

Eko menyatakan, kenaikan minyak mentah juga akan berdampak pada kemampuan investasi karena pengeluaran biaya operasional yang berbahan bakar minyak akan lebih besar. Padahal, Presiden Joko Widodo tengah mendorong pelaku usaha agar aktif berinvestasi dan tidak hanya wait and see, terutama di sektor pembangunan infrastruktur.

Ia mengatakan kenaikan harga minyak mentah dunia juga akan menggerus laba PT Pertamina (Persero) karena harus menutup gap antara harga minyak yang ditetapkan pemerintah dan harga minyak mentah dunia.

Eko memprediksikan, harga minyak mentah dunia akan terus meningkat hingga tahun 2019. Pasalnya, berdasarkan data International Monetary Fund (IMF) saat ini pertumbuhan ekonomi dunia berada di angka 3,9 persen, sementara sebelumnya berada di 3,7 persen.

"Kalau ini benar, dugaan saya, proyeksinya akan membuat harga minyak jauh lebih tinggi lagi. Kecuali kalau prediksinya salah," kata dia.

Sementara itu, Direktur INDEF, Enny Sri Hartati menambahkan bahwa kenaikan harga minyak mentah dunia ini tidak akan mengerek sampai ke level 100 dolar per barel, seperti yang terjadi pada 5 tahun lalu. Namun, Enny menekankan bahwa pemerintah harus mengambil langkah waspada terhadap potensi kenaikan minyak mentah dunia jika lebih tinggi dari 70 Dolar AS per barel.

Baca juga artikel terkait HARGA MINYAK MENTAH DUNIA atau tulisan lainnya dari Shintaloka Pradita Sicca

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Shintaloka Pradita Sicca
Penulis: Shintaloka Pradita Sicca
Editor: Alexander Haryanto