Misbar

In the Realm of the Senses: Pornografi atau Erotika Klasik Jepang?

Poster In the Realm of the Senses. FOTO/Argos Films
Oleh: Indira Ardanareswari - 14 Agustus 2020
Dibaca Normal 3 menit
In the Realm of the Senses mengandung penggambaran seks eksplisit yang berdasarkan kejadian nyata di Jepang 1930-an.
Lebih dari empat puluh tahun sejak dirilis pada 1976, In the Realm of the Senses masih saja menjadi salah satu film erotis paling kontroversial sepanjang masa. Kendati menuai pujian di negara-negara Barat, film hasil arahan sutradara Nagisa Oshima ini tidak pernah bisa bebas dari bayang-bayang gunting sensor di negara asalnya, Jepang.

In the Realm of the Senses (Ai no Koriida) diangkat dari kisah nyata yang terjadi di Jepang pada 1930-an. Sada Abe (Eiko Matsuda) merupakan pelayan penginapan yang dulunya pekerja seks. Meski sudah pensiun dari dunia prostitusi, Sada tidak bisa menutupi hasrat seksnya yang sudah lama tidak terlampiaskan. Maka, ketika majikannya yang bernama Kichizo Ishida (Tatsuya Fuji) menggodanya, Sada tidak bisa menahan diri lagi.

Sada kemudian bersedia dipergundik oleh Kichizo ketika menyadari mantan tuannya itu sangat hebat dalam urusan ranjang. Dia dan Kichizo lantas memilih hidup dalam isolasi dan mulai menenggelamkan diri dalam maraton seks seharian penuh selama beberapa bulan. Keduanya diselimuti gairah menggebu yang akhirnya menghancurkan kehidupan satu sama lain.

Menjebol Tabu

Dasawarsa 1930-an adalah masa ketika Kekaisaran Jepang tengah didominasi militerisme. Dalam kondisi tengah berperang, seluruh warga negara diharapkan berpartisipasi dalam membela negara. Hal ini ternyata tidak berlaku buat Sada maupun Kichizo. Keduanya memilih jalan hidup erotis yang pada dasarnya sudah melanggar norma -norma masyarakat Jepang saat itu.

Dalam Erotism: Death and Sensuality (1986: 11), Georges Bataille, mengemukakan bahwa pada dasarnya “erotisisme bukan aktivitas seksual biasa”. Lebih jauh, sastrawan Perancis yang banyak menulis tentang erotisme, ini mendeksripsikannya sebagai “pencarian psikologis yang tidak bergantung pada tujuan alami: reproduksi dan keinginan untuk beranak-pinak”.

Di buku yang sama, Bataille memaparkan kerja sebagai hal fundamental yang membedakan manusia dengan mamalia lain. Manusia adalah mahluk pekerja yang dalam prosesnya membentuk sikap dan pemikiran logis tentang “bagaimana mereka mati kelak”. Ungkapan “tidak bekerja, tidak makan” yang pernah dipopulerkan Vladimir Lenin selama Revolusi Rusia seratus tahun silam kiranya cukup membuktikan argumen Bataille.

Bataille percaya pekerjaan yang diikuti kehidupan sosial pada akhirnya juga sangat menentukan perilaku seks manusia. Melaluinya, setiap individu menjadi mawas diri akan norma dan tata cara mengekspresikan seksualitas di hadapan orang lain. Aturan-aturan terkait pembatasan seks lantas disahkan oleh para penguasa atau penjaga norma dengan memastikan setiap pelanggarnya mendapatkan sanksi sosial atau bahkan pidana.

In the Realm of the Senses dengan cerdik membawakan tema tentang pantangan itu melalui kondisi kehidupan Sada yang seolah sedang dikekang. Saat masih bekerja sebagai pelayan penginapan, Sada ditampilkan sebagai perempuan pemalu, pasif, dan tunduk pada majikan. Kepercayaan dirinya baru benar-benar muncul tatkala salah seorang mantan pelanggannya dulu muncul dan meminta dirinya membantu melampiaskan hasrat seks.

Ketika sudah menjadi istri simpanan Kichizo, Sada mulai benar-benar membebaskan diri dari sifat pasifnya. Dari seorang pelayan pemalu yang pasrah digoda sang majikan, Sada menjelma pemimpin dalam setiap aktivitas seksual. Saat dicibir dengan julukan cabul oleh salah seorang pelayan, Sada merasa tidak terima dan lekas-lekas melampiaskan kemarahannya.

Pelanggaran atas tabu semakin berani ditunjukan pada babak-babak pertengahan hingga akhir. Sutradara Oshima dengan penuh percaya diri membeberkan bentuk-bentuk penyimpangan seksual untuk menantang norma yang mengatur tabu. Permainan janggal seperti menjadikan makanan sebagai objek seks seolah berhasil melengkapi pemberontakan yang sedang dilakukan Sada dan Kichizo--mengingat budaya Jepang sangat menghargai makanan.

Bagi Sada dan Kichizo, konsep tentang pantangan yang dibeberkan panjang lebar oleh Bataille sebelumnya tidak berlaku. Aksi menarik diri dari dunia sosial mereka lakukan dengan cara mengurung diri di dalam kamar yang berantakan dan berbau tidak sedap. Keduanya bahkan tidak bekerja--kecuali Sada yang kembali ke dunia prostitusi demi mendapatkan sedikit uang--hanya agar bisa bercinta setiap saat.

Seks dalam benak Sada dan Kichizo adalah alat yang bisa membebaskan mereka dari kehidupan sosial. Mereka bisa bercinta dari pagi hingga malam selama beberapa hari berturut-turut. Tak pandang tempat, keduanya bisa melakukannya kapan saja dan di mana saja: di teras, di atas becak, di pelataran rumah orang, bahkan di tengah jamuan makan malam sambil disaksikan gadis-gadis Geisha.

Obsesi seksual Sada makin menjadi-jadi ketika dia mengklaim alat kelamin Kichizo sebagai miliknya dan bersumpah akan memotongnya jika kekasihnya itu pulang ke rumah istri tuanya. Obsesi Sada itu kemudian menular juga kepada Kichizo yang dengan semangat mengajak Sada melakukan permainan sadomasokisme. Kecemburuan dan permainan keduanya yang kelewat batas itu akhirnya mengakhiri hidup Kichizo.

Tidak Sama dengan Film Porno

In the Realm of the Senses dibuat pada masa ketika Jepang tengah menyaksikan kebangkitan film-film seksploitasi. Pinku eiga atau pink film merupakan jenis film yang sengaja mengumbar ketelanjangan dan berupa-rupa aktivitas seksual demi memenuhi hasrat seksual penonton. Demam film seks juga pernah menimpa bioskop Indonesia sepanjang 1970-an dan mencapai puncaknya pada 1980-an.

Donald Richie, jurnalis Amerika dan pemerhati budaya Jepang, jauh-jauh hari telah menelaah In the Realm of the Senses. Menurutnya, film ini tidak sama dengan pinku eiga. Penggambaran seks yang eksplisit tidak bertujuan untuk membuat penontonnya berahi alih-alih memenuhi ambisi estetik.



“Sensorlah yang membuat film Oshima tampak cabul. Ini karena In the Realm of the Senses yang belum disensor sama sekali tidak bersifat pornografis,” terang Richie dalam tulisannya yang diterbitkan The Criterion Collection.

Sepanjang dua setengah jam Oshima sengaja mengajak penonton memikirkan ulang tentang konsep kecabulan. Bagi Oshima, kecabulan sebenarnya merupakan hasil dari rasa ingin tahu atau ingin melihat hal yang dilarang diungkapkan seperti halnya seks. Lebih jauh Oshima berpendapat ketika yang tabu dibawakan apa adanya, perasaan cabul tidak akan muncul lagi.

“Konsep ‘kecabulan’ diuji ketika kita berani melihat sesuatu yang ingin kita lihat tetapi telah melarang diri untuk melihatnya. Ketika kita merasa bahwa segala sesuatu telah diungkapkan, ‘kecabulan’ lenyap dan ada pembebasan tertentu,” tulis Oshima dalam esainya yang berjudul “Theory of Experimental Pornographic Film” (1976).

Dalam membawakan adegan In the Realm of the Senses, Oshima terbukti lebih banyak memanfaatkan sudut kamera yang berdiri diam untuk menghasilkan gambar medium shot. Dia sama sekali tidak tertarik memboyong kamera untuk mengeksplorasi sudut-sudut menantang hanya agar bisa merekam jelas permainan Sada dan Kichizo. Melalui cara ini, Oshima berhasil membawa narasi seks ke dalam batas aman yang membedakannya dari film-film pornografi.

“Ini bukanlah film tentang dua aktor yang mencoba memikat kita, seperti dalam pink film; film hardcore yang diciptakan Oshima adalah tentang dua orang sungguhan yang sedang menggoda satu sama lain,” kata Richie penuh apresiasi.

Baca juga artikel terkait FILM JEPANG atau tulisan menarik lainnya Indira Ardanareswari
(tirto.id - Film)

Penulis: Indira Ardanareswari
Editor: Windu Jusuf
DarkLight