IMF: Kondisi Ekonomi Timur Tengah Sedang Alami Gejolak Politik

Oleh: Dina Arristy - 29 April 2019
Dibaca Normal 1 menit
IMF menyatakan, ketidakpastian politik dan harga minyak yang fluktuatif sangat membebani pertumbuhan ekonomi di Timur Tengah tahun ini.
tirto.id - Ketidakpastian politik dan harga minyak yang fluktuatif sangat membebani pertumbuhan ekonomi di Timur Tengah tahun ini, menurut laporan Dana Moneter Internasional (IMF) pada Senin (29/4/2019).

Laporan tersebut membahas ekonomi 23 negara mencakup Afrika Utara, Levant, Teluk Persia, dan juga Djibouti, Somalia, Afghanistan dan Pakistan yang diperkirakan melambat 1,5 persen di tahun 2019, bahkan mengalami penurunan 2 persen di tahun sebelumnya.

Melansir AP News, IMF mengatakan enam negara Dewan Kerja sama Teluk, yaitu Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, Oman dan Qatar perlu menciptakan 1 juta pekerjaan baru setiap tahunnya selama lima tahun kedepan untuk menjaga tingkat kenaikan pengangguran.

Untuk negara-negara ini pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan diperkirakan akan tetap sekitar 2 persen di tahun 2019.

Pertumbuhan ekonomi non-minyak diproyeksikan meningkat sedikit dari tahun lalu mendekati 3 persen pada 2019, meskipun defisit fiskal juga akan sedikit meningkat dari tahun kemarin.

Pertumbuhan ekonomi Arab Saudi diperkirakan akan melambat. Pada tahun lalu, Saudi mengalami pertumbuhan 2,2 persen, namun tahun 2019 mengalami penurunan menjadi 1,8 persen.

Iran diperkirakan akan paling terpukul tahun ini. IMF mengharapkan penarikan 6 persen dalam pertumbuhan ekonomi Iran pada tahun 2019, dan itu tidak menjadi faktor dalam pengumuman Amerika Serikat (AS) baru-baru ini soal keringanan sanksi terhadap ekspor minyak Iran yang akan berakhir minggu depan, dan juga hal ini membawa Iran untuk menghadapi resesi ekonomi.

“Penghapusan pengabaian akan lebih memengaruhi resesi. Pertumbuhan negatif 6 persen berdampak pada kemiskinan, perlindungan sosial dan juga pada pekerjaan,” kata Jihad Azour, Direktur IMF Mideast dan Asia Tengah dilansir laporan AP News.

Sementara itu, protes yang terjadi di Aljazair dan Sudan, konflik di Libya, Suriah dan Yaman, ketegangan antara India dan Pakistan, serta pembicaraan damai di Afghanistan dapat meningkatkan persepsi investor tentang risiko untuk berinvestasi di negara itu dan tekanan nilai tukar uang.

Di negara Aljazair dan Sudan, permasalahan berakar kuat pada ketidakpuasan ekonomi atas pengangguran, korupsi dan layanan publik yang buruk di negara itu.

Untuk negara-negara pengimpor minyak seperti Mesir, Yordania, Lebanon dan wilayah lainnya di kawasan ini, mengalami inflasi secara keseluruhan yang diperkirakan tidak akan berubah sekitar 10 persen.

Pertumbuhan ekonomi di negara-negara ini akan mengalami penurunan yang diperkirakan menjadi 3,6 persen di tahun 2019 yang pada tahun sebelumnya mengalami pertumbuhan di 4 persen.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Pakistan diperkirakan melambat dari 5 persen pada tahun lalu menjadi hampir 3 persen tahun ini.

AP News mewartakan, tingkat pengangguran di kalangan kaum muda di negara-negara pengimpor minyak masih tinggi sebanyak 25 persen.

Harga minyak naik di atas 80 dolar AS per barel pada Oktober tahun lalu, tetapi pada Januari 2019 turun 50 dolar as per barel. Namun IMF memperkirakan kenaikan harga minyak 65 dolar AS per barel di jangka menengah.

IMF mengatakan perubahan harga minyak dipengaruhi oleh ketegangan perdagangan global, sanksi AS terhadap ekspor minyak Iran dan pengurangan produksi minyak oleh OPEC dan bebrapa faktor di negara-negara penghasil minyak lainnya.



Baca juga artikel terkait IMF atau tulisan menarik lainnya Dina Arristy
(tirto.id - Ekonomi)

Penulis: Dina Arristy
Editor: Yandri Daniel Damaledo
DarkLight