IHSG Turun ke 5.887 Poin di Sesi I, Lima Saham BUMN Sentuh ARB

Oleh: Vincent Fabian Thomas - 29 Januari 2021
Dibaca Normal 1 menit
Pada penutupan sesi pertama perdagangan, Jumat (29/1/2021), IHSG sudah berada di posisi 5.887,6 poin atau turun 1,54 persen.
tirto.id - IHSG kembali melanjutkan pelemahan menjauhi batas 6.000 poin. Pada penutupan sesi pertama perdagangan, Jumat (29/1/2021), IHSG sudah berada di posisi 5.887,6 poin atau turun 1,54 persen dari penutupan sebelumnya.

Dalam pelemahan ini, sekurang-kurangnya 6 saham emiten menyentuh batas Auto Reject Bawah (ARB) atau pelemahan terendah yang diizinkan otoritas yaitu tak boleh lebih dari 7 persen. Lima dari enam saham itu merupakan saham milik perusahaan pelat merah atau BUMN.

Melansir RTI Business, mereka yang menyentuh ARB per sesi 1 adalah PTPP -6,94%, BRI Agro (AGRO) -6,94%, Waskita Karya (WSKT) -6,91%, PT Timah (TINS) -6,89%, Bank Bukopin (BBKP) -6,88%, dan PT Aneka Tambang (ANTM) -6,72%.

Selain 6 saham itu, BRI Syariah (BRIS) juga sempat menyentuh ARB pada 10.30 WIB dengan pelemahan -6,87% tetapi sudah kembali menguat tipis per 11.30 WIB sehingga hanya melemah -6,49%. Selain BRIS, saham yang sudah melemah di atas 6 persen tetapi belum ARB juga mencakup Bank Mandiri (BMRI) -6,38% dan PT WIKA -6,01%.

Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan pelemahan pada perdagangan dipengaruhi salah satunya oleh tren kasus COVID-19 yang terus meningkat. Di Amerika Serikat, kumulatif kasus COVID-19 telah menyentuh angka 101 juta. Tren serupa juga terjadi di Eropa maupun Indonesia.

Kondisi ini diperburuk dengan tren proses vaksinasi yang berjalan lamban padahal pemulihan ekonomi sangat bergantung pada vaksin. Eropa sendiri sedang menghadapi polemik terlambatnya pasokan vaksin dari Pfizer dan AstraZeneca.

“Indonesia tembus 1 juta membuat pelaku pasar hati-hati,” ucap Hans kepada Tirto dalam pesan singkat, Jumat (29/1/2021).

Sentimen lain juga terkait kebijakan ekonomi AS. Ia menjelaskan pelaku pasar mengantisipasi potensi tertundanya paket stimulus fiskal Presiden Joe Biden 4-6 bulan ke depan. Sementara itu, The FED diperkirakan tak akan mengubah kebijakannya.

Sementara di dalam negeri, pelaku pasar juga mengantisipasi perpanjangan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di DKI Jakarta dan provinsi lain. Hal ini berpotensi mengganggu perekonomian nasional.

Selain itu, pelaku pasar juga masih mencermati penyelidikan Jaksa Agung pada Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan dan perusahaan asuransi Asabri. Hans bilang kasus BPJS-TK menimbulkan kekhawatiran bagi pemegang unit reksadana.


Baca juga artikel terkait IHSG atau tulisan menarik lainnya Vincent Fabian Thomas
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Vincent Fabian Thomas
Penulis: Vincent Fabian Thomas
Editor: Maya Saputri
DarkLight