Ideologi Liberalisme: Sejarah, Ciri-Ciri dan Contoh Penerapannya

Kontributor: Alhidayath Parinduri, tirto.id - 22 Sep 2022 12:40 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Mengenal apa itu ideologi liberalisme, mulai dari pengertian, sejarah hingga pengaruhnya di negara-negara dunia.
tirto.id - Ideologi Liberalisme adalah suatu paham yang menghendaki adanya kebebasan.

Istilah liberalisme berasal dari bahasa Latin, libertas atau dalam bahasa Inggris disebut liberty yang artinya kebebasan.

Kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan untuk bertempat tinggal, kemerdekaan pribadi, hak untuk menentang penindasan, serta hak untuk mendapatkan perlindungan pribadi dan hak milik.

Selain itu, liberalisme juga didefinisikan sebagai suatu paham yang menghendaki adanya kebebasan individu, baik dalam bidang ekonomi, politik, ilmu pengetahuan, kebudayaan, agama, maupun kebebasan sebagai warga Negara dinamakan liberalisme.

Paham liberal maupun sebagai reaksi atas penindasan yang dilakukan oleh kaum bangsawan dan agamawan pada masa perkembangan feodalisme dengan pemerintahan monarki absolute. Pendukung utama paham liberal adalah kaum borjuis dan kaum-kaum terpelajar kota.



Sejarah Ideologi Liberalisme


Mengutip Heru Nugroho dalam penelitiannya pada Jurnal Ilmiah Bestari dengan judul Tinjauan Kritis Liberalisme dan Sosialisme (Vol. 13, 2000: 2), paham liberalisme mulai berkembang di pada abad ke-18 dan 19 di Prancis dan Inggris.

Sebagai suatu gerakan, liberalisme dimulai pada masa renaissance yang memperjuangkan kebebasan manusia dari kungkungan gereja atau agama. Saat itu, kekuasaan raja, bangsawan, dan gereja mendominasi seluruh kehidupan masyarakat.

Rakyat tidak memiliki kebebasan dalam berpendapat dan bertindak. Keadaan tertekan ini menimbulkan kritik dari berbagai kalangan yang menginginkan kebebasan di semua bidang kehidupan.

Mengutip modul Sejarah Kelas XI (2020), konsep kebebasan dalam bidang politik melahirkan pemikiran tentang negara yang demokrasi. Konsep bebas dalam bidang ekonomi membuat masyarakat menentang monopoli dan campur tangan pemerintah, rakyat menginginkan ekonomi bebas.

Dalam bidang moral, liberalisme menjunjung tinggi kebebasan individu dan menentang otoriterisme.

Dalam bidang agama, kaum liberal menginginkan kebebasan memilih agama sesuai dengan keyakinannya, bebas beribadah menurut agamanya, dan juga bebas untuk tidak menganut agama apapun. Yang mana, urusan agama tidak boleh dicampur dengan urusan pemerintahan.

Dwi Siswanto dalam penelitiannya berjudul Konvergensi antara Liberalisme dan Kolektivisme sebagai Dasar Etika Politik di Indonesia dalam Jurnal Filsafat (Vol. 38, 2004: 270), menyebutkan bahwa ada empat unsur yang mendorong lahirnya liberalisme, yaitu perkembangan ilmu pengetahuan, pemanfaatan alat-alat teknologi, perubahan sosial, dan timbulnya kesadaran memperbaharui cara hidup.

Beberapa tokoh yang mengusung terjadinya liberalisme dalam kehidupan saat itu, antara lain Voltaire, Montesquieu, dan Rousseau.

Salah satu peristiwa yang menjadi tanda lahirnya liberalisme di Eropa ialah Revolusi Industri di Inggris (1760-1840) dan Revolusi Perancis (1789-1815).



Ciri-ciri Liberalisme


Mengutip kembali dari Dwi Siswanto (Jurnal Filsafat, Vol. 38, 2004: 271), disebutkannya ada lima ciri liberalisme, yaitu:

  1. Bentuk pemerintahan demokrasi adalah yang terbaik.
  2. Masyarakat memiliki kebebasan intelektual penuh.
  3. Pengaturan yang dilakukan pemerintah hanya terbatas.
  4. Kekuasaan seseorang diartikan sebagai hal buruk dalam kehidupan.
  5. Kebahagiaan individu adalah tujuan utama.
Sementara itu, Heru Susanto membagi ciri-ciri liberalisme dalam beberapa bidang, antara lain sebagai berikut:

  1. Bidang Politik: Munculnya demokratisasi.
  2. Bidang Sosial: Kebebasan berpendapat, kesamaan kesempatan dalam usaha, reformasi sosial, dan perasaan egaliter.
  3. Bidang Seni dan Budaya: Kebebasan dalam berekspresi, seperti lukisan, drama, seni, musik, dan lain-lain.
  4. Bidang Ekonomi: Ekonomi pasar yang demokratis.

Contoh dan Penerapan Liberalisme


Masih dari Heru Susanto, ia menuturkan dalam penelitiannya bahwa pengaruh atau praktik liberalisme yang berjalan dan berdampak bagi kehidupan saat ini adalah munculnya globalisasi.

Secara garis besar, dapat dipahami bahwa globalisasi mengintroduksikan pasar bebas, hiperliberalisasi individu, dan berupaya mengurangi peran pemerintah dalam sektor ekonomi.

Di Indonesia, sistem liberalisme tidak diterapkan dalam kehidupan politik, tetapi diterapkan dalam kehidupan ekonomi.

Berdasarkan pandangan Heru Susanto, pengaruh itu tampak pada berkembangnya gaya hidup penduduk yang mengikuti zaman.

Hal tersebut dapat dilihat dari gaya hidup mewah dan kebebasan dalam hal memilih kebutuhan merupakan ciri-ciri liberalisme dalam sektor ekonomi.

Selain itu, pengaruh liberalisme juga dapat dilihat di beberapa negara besar seperti Amerika Serikat, Perancis, dan Jerman. Di negara-negara tersebut, liberalisme sangat dijunjung tinggi.

Hal tersebut dapat dilihat dari penerapan demokrasi yang membuat rakyat bebas berpendapat dan berekspresi. Kemudian, dapat dilihat dari sektor ekonomi yang menerapkan prinsip sistem ekonomi pasar demokratis.



Pengaruh Liberalisme di Asia Afrika


Penyebaran paham liberalisme begitu pesat, hingga ke benua Asia dan Afrika. Paham ini kemudian memberikan pengaruh terhadap pergerakan masyarakat di kedua benua tersebut.

1. Bidang Ekonomi

Perkembangan liberalisme masuk ke dalam bidang ekonomi Asia-Afrika. Pengaruh liberalisme dalam bidang ekonomi contohnya:
  • Liberalisasi perdagangan meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara-negara Asia Afrika.
  • Perdagangan bebas membuat masyarakat Asia Afrika bebas melakukan perdagangan luar negeri secara sekuler.
  • Negara-negara Asia Afrika mulai mengembangkan produk industri masing-masing.
  • Taraf kehidupan masyarakat Asia Afrika meningkat.

2. Bidang Politik

Selain ekonomi, liberalisme juga memengaruhi politik negara-negara Asia Afrika sebagai berikut:
  • Masyarakat Asia-Afrika dapat memilih pemimpin mereka sendiri.
  • Negara-negara Asia Afrika bebas menentukan sistem politik dan sistem pemerintahan.
  • Masyarakat memiliki hak untuk menyuarakan pendapat.
  • Munculnya kebebasan dan kemerdekaan pers.

3. Bidang Sosial dan Kebudayaan

Pengaruh liberalisme dalam bidang sosial dan kebudayaan di Asia-Afrika antara lain sebagai berikut:
  • Hadirnya sistem pendidikan egaliter di negara-negara Asia Afrika.
  • Berkembangnya budaya populer di negara-negara Asia Afrika.
  • Keikutsertaan negara-negara Asia Afrika dalam kancah fashion, olahraga, dan kesenian internasional (misal: Piala Dunia, Miss Universe, dll).
  • Beragamnya sekolah dan perguruan tinggi yang bebas dipilih oleh masyarakat Asia Afrika.



Baca juga artikel terkait SEJARAH PAHAM LIBERALISME atau tulisan menarik lainnya Alhidayath Parinduri
(tirto.id - Pendidikan)

Kontributor: Alhidayath Parinduri
Penulis: Alhidayath Parinduri
Editor: Maria Ulfa
Penyelaras: Yulaika Ramadhani
DarkLight