IDC AMSI 2020 Gelar Diskusi Macro View Ekonomi Digital Pascapandemi

Oleh: Maria Ulfa - 16 Desember 2020
Dibaca Normal 1 menit
Diskusi IDC yang digelar AMSI kemarin mengambil tema tentang "Macro View: Ekonomi Digital Pascapandemi".
tirto.id - Diskusi Indonesian Digital Conference (IDC) hari pertama yang digelar oleh Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) pada Selasa (15/12/2020) kemarin mengambil tema tentang "Macro View: Ekonomi Digital Pascapandemi".

Diskusi yang dipandu Maria Y. Benyamin, Pemimpin Redaksi Bisnis Indonesia itu menghadirkan narasumber Mohammad Rudy Salahuddin (Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Digital, Ketenagakerjaan, dan UMKM, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian).

Kemudian, ada pula Erwin Haryono (Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia) dan Kaspar Situmorang (Executive Vice President Digital Center of Excellence Bank Rakyat Indonesia).

Dalam disuksi tersebut, para narasumber berbicara tentang transformasi digital selama pandemi Covid-19.

Dalam paparannya, Kaspar mengatakan transformasi digital telah dijalankan BRI sejak 2017, dan menjadi salah satu faktor yang menyelamatkan BRI di masa pandemi. Ia mengatakan digitalisasi yang membuat BRI bertahan di era pandemi.

“Digitalisasi mulai dari kantor pusat hingga cabang di seluruh Indonesia sehingga BRI tidak melakukan PHK, hanya relokasi pekerja contohnya menjadi agen pendamping BRIlink, sehingga bisa menggunakan cash in cash out dan pembayaran lainnya,” kata Kaspar, dikutip pers rilis yang diterima Tirto.

Erwin mengatakan pandemi Covid-19 mempercepat transformasi digital, baik di sisi demand (permintaan) maupun customer (pelanggan). Baginya, kemunculan finance technology (fintech) adalah sesuatu yang positif, dan sudah ada respons di sisi perbankan.

“Transformasi di sektor keuangan bukan sesuatu yang mudah. Membuat sebuah bank baru lebih mudah dibandingkan membuat platform,” katanya.

Tahun 2020, meski masyarakat mengalami kesulitan, digital banking tetap bertahan. Hal ini menjadi pelajaran penting bahwa masyarakat sudah berubah.

Melihat perkembangan teknologi dan dorongan pascapandemi ini merupakan momentum untuk akselerasi ekonomi digital.

Kondisi tersebut tercermin dari perilaku masyarakat yang sebelumnya konvensional kini beralih ke teknologi digital, seperti untuk belanja online dan lain sebagainya.

“Belanja pun yang tadinya hanya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan tersier sekarang ditujukan untuk membeli kebutuhan primer seperti makanan dan lain sebagainya,” kata Rudi.

Rudi menambahkan dampak teknologi terhadap aktivitas perdagangan tercermin dari transaksi e-commerce, dan kenaikan produk 5 hingga 10 kali. Ini suatu prestasi yang baik yang ikut mendorong kontribusi pertumbuhan ekonomi.

Menurut Rudi, yang perlu didorong dan disiasati bersama dengan membuat aplikasi-aplikasi atau ekosistem ekonomi digital yang lebih baik dan nyaman, sehingga masyarakat lebih senang bertransaksi digital.

Rudi juga menambahkan, setiap kementerian dan lembaga memiliki kebijakan terkait ekonomi digital, sehingga perlu dibangun kolaborasi dan dibangun strategi nasional ekonomi digital.

“Saat ini sedang disusun, dan mulai tahun depan bersama-sama dengan seluruh stakeholder dan mengajak AMSI untuk mengikuti pembahasan,” ujar Rudi.

IDC AMSI 2020 dilakukan secara virtual yang diikuti ribuan peserta, baik melalui aplikasi zoom, YouTube dan nonton bersama pengurus dan anggota AMSI di 21 wilayah.

IDC sendiri merupakan acara tahunan AMSI. Kegiatan ini digelar sebagai wadah berkumpulnya para pemimpin bisnis, pembuat kebijakan, pelaku usaha, dan profesional untuk memotret perkembangan terkini dan masa depan Indonesia dari lensa digital.

Tahun ini, IDC digelar selama dua hari, yaitu 15-16 Desember 2020. Dalam acara tersebut, AMSI akan menghadirkan sejumlah ahli yang berkompeten dalam bidang ekonomi, transformasi dan inovasi digital.


Baca juga artikel terkait IDC AMSI 2020 atau tulisan menarik lainnya Maria Ulfa
(tirto.id - Ekonomi)

Penulis: Maria Ulfa
Editor: Agung DH
DarkLight