Ibadah Karaoke Berjamaah

Oleh: Hafitz Maulana - 8 April 2019
Dibaca Normal 5 menit
Generasi Z, usia 18 sampai 22 tahun, diklaim sebagai generasi paling kesepian dan mengalami masalah kesehatan lebih buruk ketimbang generasi sebelumnya. Solusinya: karaoke saja.
tirto.id - Retsuko adalah panda antrofomorfis, 25 tahun, yang hidup di dunia fabel. Ia bekerja di sebuah firma dagang di Jepang sebagai staf akuntan. Kantornya adalah miniatur kota besar, puncak kematangan kapitalisme: pegawai-pegawai berdandan rapi, bekerja delapan jam sehari, bergosip pada jam istirahat tentang rekan kerja atau sekadar berkeluh kesah, dan memiliki atasan yang menyebalkan tetapi menawarkan gaji bulanan yang tak bisa ditolak. Dunia yang membosankan dan penuh tekanan, dan yang Retsuko bisa cuma menekan ketidakbahagiaan agar tak menguar seenaknya. Sebab ia perlu uang. Untuk menyiasati kehidupan yang seperti itu, Retsuko selalu membawa benda ajaib yaitu sebuah mikrofon. Lepas kerja, ia sendirian mengendap-endap menuju rumah karaoke, menyewa sebuah bilik, dan menyanyikan daftar lagu kesayangannya: lagu-lagu death metal.

Karaoke Massal
Ekspresi seorang audiens dalam acara karaoke massal bertajuk 'Sugar We Going Down' menyanyikan hits dari genre musik emo dan pop punk era 2000-an yang berlangsung di Mondo by the rooftop, Fatmawati, Jakarta Selatan (23/7/19). tirto.id via irockumentary.club/Hafitz Maulana


Cerita di atas, sayangnya, tak cuma terjadi di serial animasi Aggretsuko. Ia merupakan pantulan dari kota-kota besar yang sesungguhnya. Ia terjadi juga di Jakarta, dan barangkali di kota anda.

Kegiatan menyewa bilik karaoke bersama teman-teman untuk berteriak dan berjoget tampak seperti jalan keluar paling masuk akal setelah seharian menghadapi ketidakberuntungan. Lampu utama padam digantikan kelap-kelip bola disko, pancaran sinar laser warna-warni, dan layar televisi yang menampilkan lirik-lirik. Semua berebut memasukkan lagu, semua ingin bernyanyi. Kegiatan ini biasanya dilakukan bersama beberapa teman dekat, berakhir dua atau tiga jam—empat jam kalau akhir pekan.

Tetapi, bagaimana jika kegiatan karaoke itu dilakukan secara berjamaah? Puluhan orang, didorong oleh kesamaan selera musik, sepakat mendatangi suatu tempat dan menjerit-jerit bersama sambil memandangi baris lirik di layar. Serupa kultus yang berupaya mencegah kiamat dengan berteriak-teriak, atau kesurupan massal.

Karaoke Massal
Sejumlah perempuan sing-along menyanyikan lagu-lagu ciptaan Ahmad Dhani dalam sebuah acara karaoke massal bertajuk ADP Night yang berlangsung di Mondo by Rooftop, Fatmawati, Jakarta Selatan (21/3/19). tirto.id/Hafitz Maulana


Karaoke Massal
Ekspresi audiens dalam acara karaoke massal bertajuk 'Sugar We Going Down' menyanyikan hits dari genre musik emo dan pop punk era 2000-an yang berlangsung di Mondo by the rooftop, Fatmawati, Jakarta Selatan (23/7/19). tirto.id via irockumentary.club/Hafitz Maulana


Karaoke Massal
Oomleo bersama rekannya tampil mengisi acara karaoke massal yang berlangsung di Hotel Monopoli, Kemang, Jakarta Selatan (29/3/19). tirto.id/Hafitz Maulana


“Kalo dulu orang abis balik clubbing kan pada teler parah banget kecapean goyang. Nah, sekarang lewat karaoke massal gini beberapa orang gak parah-parah banget sih, soalnya sober pada baca lirik,” ujar Narpati Awangga alias Oomleo yang sedang bersiap tampil saat ditemui tirto.id di The Moon Hotel Monopoli Kemang, Jakarta Selatan.

Lima tahun belakangan muncul fenomena karaoke massal ini. Dalam acara itu, biasanya seorang DJ karaoke, semacam pemandu karaoke tapi mendapat titel disjoki, bertindak sebagai bintang tamu. Tugasnya memutar lagu-lagu yang sudah dikurasi sebelumnya dan menjaga suasana karaoke agar tetap gembira. Sang DJ, dengan cara-cara yang interaktif dan persuasif, mengajak semua orang bernyanyi bersama. Tak peduli anda tidak tahu lagu apa yang diputar, DJ berusaha membuat semua senang.

Karaoke Massal
Ekspresi Oomleo saat memandu jalannya karaoke massal dari lagu-lagu pilihannya yang berlangsung di Hotel Monopoli, Kemang, Jakarta Selatan (29/3/19). tirto.id/Hafitz Maulana


Proyek Oomleo Berkaraoke yang dilakukan Oomleo—seniman visual dan anggota grup musik elektronik Goodnight Electric—menyajikan daftar putar lagu yang dilengkapi video serta lirik lagu dan mengajak pengunjung bernyanyi secara kolektif. Pengunjung juga bisa meminta lagu favoritnya diputar sehingga suasana karaoke menjadi lebih dinamis.

Tak hanya tampil di gigs, Oomleo Berkaraoke juga melayani permintaan pertunjukkan karaoke untuk acara hiburan outing instansi, pernikahan, hingga sunatan. Oomleo menyampaikan bahwa ia ingin menembus sekat-sekat budaya melalui medium karaoke.

Tidak semua lagu populer dapat efektif menggerakkan massa untuk bernyanyi bersama. “Lagu pop seperti Bara Bere yang dinyanyikan Michel Telo, gak akan bisa seru untuk karaoke massal soalnya gak dapet impresi sing-along buat audiens. Terlepas dari permintaan lagu dari audiens, playlist gue juga harus bisa trigger orang buat sing-along,” terang Oomleo.

Karaoke Massal
Pemeriksaan pengunjung di pintu masuk yang ingin ikutan karaoke massal ADP Night menyanyikan lagu ciptaan Ahmad Dhani di Mondo by Rooftop, Fatmawati, Jakarta Selatan (21/3/19). tirto.id/Hafitz Maulana


Karaoke Massal
Tak hanya menampilkan visual lirik, terkadang Oomleo Berkaraoke juga menampilkan visual video yang 'ngawur' saat tampil di Hotel Monopoli, Kemang, Jakarta Selatan (29/3/19). tirto.id/Hafitz Maulana


Karaoke Massal
Seorang audiens dalam acara karaoke massal bertajuk ADP Night membawa bendera fans DEWA 19, grup musik yang dinahkodai Ahmad Dhani di Mondo by rooftop, Fatmawati, Jakarta Selatan (21/3/19). tirto.id/Hafitz Maulana


Penyelenggara karaoke bersama pertama, sejauh ingatan Oomleo, adalah kelab di Jakarta yang bernama Parc pada 2004. Formula Oomleo Berkaraoke kini sering dipakai, kemudian berkembang menjadi karaoke dengan daftar putar yang tematik: emo, disko, K-Pop, dan lainnya. Acara biasanya dilangsungkan secara berkala di bar-bar atau kelab malam di Jakarta Selatan.

Pada Kamis, 21 Maret 2019, Sobat Indie & Kencrotawn menginisiasi karaoke massal bertajuk ADP Night yang menyanyikan bersama lagu-lagu ciptaan Ahmad Dhani Prasetyo di Mondo by The Rooftop, Fatmawati, Jakarta. Pada pertengahan 2016 lalu, di tempat yang sama, Sobat Humming menggelar menggelar karaoke massal lagu-lagu bergenre emo untuk merayakan romantisme masa remaja era 2000-an.

Selain Oomleo Berkaraoke, ada juga Videostarr, Diskopantera, Diskoria juga secara aktif menggelar karaoke bersama. Merayakan musik-musik yang pernah jaya sanggup menggiring orang untuk berkumpul, bernyanyi, dan bergembira. Pada jenis yang lebih spesifik, ada Orutaku Club yang mengundang pemuda-pemudi kejepangan untuk menyanyikan lagu-lagu anime lawas, dan ada pula Dizkorea yang secara rutin memilihkan lagu-lagu pop Korea Selatan terbaik untuk anda bernyanyi dan bergoyang.

Karaoke Massal
Diskoria, kelompok DJ karaoke yang tampil dalam sebuah festival musik tahunan RRRecFest di panggung karaoke massal yang berlangsung di Tanakita, Sukabumi, Jawa Barat (25/9/17). tirto.id via irockumentary.club/Hafitz Maulana


Karaoke Massal
Henryfoundation, seorang DJ karaoke tampil di sebuah festival musik RRRecFest yang berlangsung di Tanakita, Sukabumi, Jawa Barat (23/9/17). tirto.id via irockumentary.club/Hafitz Maulana


Pekerjaan, atau tidak punya pekerjaan, boleh bikin anda murung. Gaji yang tak cukup untuk membeli barang kesukaan bisa bikin frustrasi. Teman kerja dan atasan yang menyebalkan bikin anda tak tahan untuk mengeluh. Kesepian barangkali diidap oleh setiap makhluk yang menetap di kota-kota besar, ia menjadi semacam epidemi. Di Amerika Serikat, menurut riset Cigna dengan total responden sebanyak 20.000 orang berusia di atas 18 tahun, dua dari tiga respondem merasa hubungan antarmanusia tak berarti dan sebanyak 43% merasa terisolasi. Generasi Z, usia 18 sampai 22 tahun, diklaim sebagai generasi paling kesepian dan mengalami masalah kesehatan lebih buruk ketimbang generasi sebelumnya. Ironisnya, saat ini, umat manusia hidup dalam era di mana komunikasi bukan lagi jadi soal: koneksi internet, aplikasi obrolan, dan media sosial, misalnya, mengakomodir kebutuhan manusia untuk berinteraksi.

Karaoke Massal
Dua audiens perempuan berkaraoke lagu-lagu yang diputar Oomleo Berkaraoke di Hotel Monopoli, Kemang, Jakarta Selatan (29/3/19). tirto.id/Hafitz Maulana


Karaoke Massal
Menggunakan microphone wireless, seorang perempuan bebas berkaraoke di sekitar area rooftop tempat Oomleo Berkaraoke berlangsung di Hotel Monopoli, Kemang, Jakarta Selatan (29/3/19). tirto.id/Hafitz Maulana


Barangkali berinteraksi secara maya saja tidak cukup. Barangkali anda membutuhkan sesuatu yang bisa disentuh, bau keringat, dan ekspresi wajah di hadapan anda. Barangkali anda perlu menjerit sekeras-kerasnya, tanpa harus dianggap memiliki masalah mental. Barangkali anda, warga kota besar, sesekali perlu karaoke berjamaah.

Baca juga artikel terkait PHOTO STORY atau tulisan menarik lainnya Hafitz Maulana
(tirto.id - Gaya Hidup)


Penulis: Hafitz Maulana
Editor: Sabda Armandio
Fotografer:Hafitz Maulana