Hukum Khitan Perempuan dalam Islam dan Aturannya

Oleh: Beni Jo - 22 Juli 2019
Dibaca Normal 1 menit
Terdapat berbagai pendapat tentang hukum khitan perempuan. MUI sudah mengeluarkan fatwa yang memuat standar tata cara khitan terhadap perempuan.
tirto.id - Khitan adalah ajaran yang sudah dilakukan, terutama sejak zaman Nabi Ibrahim. Dalam tradisi islam, jumhur ulama berpendapat khitan hukumnya wajib untuk laki-laki. Namun, terdapat perbedaan pendapat mengenai khitan untuk perempuan.

Khitan termasuk bagian bersuci. Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi Muhammad bersabda, "Ada lima macam yang termasuk fitrah, yaitu khitan, mencukur rambut yang tumbuh di sekitar kemaluan, menggunting kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak." (H.R. Bukhari, Muslim, dan Ahmad).

Sementara dalam riwayat lain, Nabi Muhammad berkata, "Khitan merupakan sunah (ketetapan Rasul) bagi laki-laki dan makrumah (kemuliaan) bagi perempuan" (H.R. Ahmad)


Terkait hukum khitan bagi perempuan, beberapa kalangan ulama berbeda pendapat. Ada yang mengatakan wajib, sunah, atau mubah.

Ulama dari Mazhab Syafi'iyah berpendapat bahwa khitan wajib dilakukan baik terhadap laki-laki maupun perempuan. Mahzab Hanabilah dan sebagian Malikiyah juga berpendapat demikian. Namun, Imam Ahmad berpendapat bahwa khitan wajib bagi laki-laki, dan keutamaan untuk perempuan.

Sementara itu WHO mengelompokkan Female Genital Mutilation (FGM) ke dalam empat tipe. Dalam keterangannya, WHO menyebut, "FGM tidak memiliki manfaat kesehatan, dan membahayakan dalam banyak hal. Tindakan itu berupa menghilangkan dan merusak jaringan genital wanita yang sehat dan normal, dan mengganggu fungsi alami tubuh perempuan dan anak perempuan."

Dalam Perarutan Menteri Kesehatan (Permenkes) Republik Indonesia Nomor 1636/Menkes/Per/XI/2010 tentang Sunat Perempuan, disebutkan bahwa sunat perempuan adalah tindakan menggores kulit yang menutupi bagian depan klitoris, tanpa melukai klitoris. Sunat ini tidak sama dengan FGM.

Tenaga kesehatan yang dapat memberikan pelayanan sunat perempuan hanya dokter, bidan, dan perawat yang telah memiliki surat izin praktik, atau surat izin kerja. Selain itu, sunat perempuan tidak dapat dilakukan pada perempuan yang sedang menderita infeksi genitalia eksterna atau infeksi umum.

Permenkes di atas sudah dicabut dengan munculnya Permenkes Nomor 6 Tahun 2014 yang menyatakan bahwa Permenkes tersebut dinyatakan tidak berlaku.


Dalam Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada 7 Mei 2008 tentang Hukum Pelarangan Khitan terhadap Perempuan, disebutkan bahwa khitan bagi laki-laki dan perempuan adalah aturan dan syiar Islam. Oleh karenanya, khitan perempuan adalah makrumah, salah satu bentuk ibadah yang dianjurkan.

Dalam fatwa tersebut, juga dicantumkan standar khitan terhadap perempuan, yaitu sebagai berikut.
  1. Khitan perempuan dilakukan cukup dengan hanya menghilangkan selaput (jaldah/colum/praeputium) yang menutupi klitoris.
  2. Khitan perempuan tidak boleh dilakukan secara berlebihan, seperti memotong atau melukai klitoris (insisi dan eksisi) yang mengakibatkan dlarar.
Dalam Keputusan Muktamar ke-32 Nahdatul Ulama (NU) Nomor IV/MNU-32/III/2010, disebutkan bahwa pelarangan khitan bagi perempuan tidak memiliki dalil syar'i. Dalam hal ini, khitan dilakukan dengan cara menghilangkan sebagian kulit ari yang menutupi klitoris, bukan membuangnya.

Putusan sidang menukil riwayat Ummu ‘Athiyah al-Anshariyah, tentang seorang perempuan yang hendak khitan di Madinah. Nabi berkata, "Jangan kamu habiskan dalam memotongnya, sebab sungguh itu lebih menguntungkan wanita dan lebih menyenangkan suami (H.R. Abu Dawud.)”

Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia, Fuad Thohari pada 26 April 2018, menyebutkan, tata cara atau batasan sunat pada perempuan penting karena praktik di masyarakat bisa berbeda.

"Di satu sisi kami mendukung penuh khitan perempuan karena sesuai dengan fitrah Islam. Tapi, di sini kami tidak menutup mata mengenai penyimpangan praktik yang menimbulkan bahaya," ungkap Fuad dikutip Liputan6.com.









Baca juga artikel terkait KHITAN atau tulisan menarik lainnya Beni Jo
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Beni Jo
Penulis: Beni Jo
Editor: Fitra Firdaus
DarkLight