Ramadan 2019

Hukum Donor Darah Saat Puasa di Bulan Ramadan

Oleh: Beni Jo - 22 Mei 2019
Donor darah yang dilakukan pada saat puasa di bulan Ramadan tidak membatalkan puasa itu sendiri.
tirto.id - Mendonorkan darah memiliki berbagai manfaat, bukan hanya untuk kemanusiaan, tetapi juga untuk diri sendiri. Namun, ketika seorang muslim berpuasa, terutama tengah menjalani puasa Ramadan, apakah hukum donor darah? Mungkinkah pendonoran darah justru merugikan?

Dikutip dari laman resmi Palang Merah Indonesia (PMI), donor darah mempunyai beberapa fungsi bagi sang pendonor. Fungsi-fungsi tersebut adalah menjaga kesehatan jantung, meningkatkan produksi sel darah merah, membantu menurunkan berat badan, mendapatkan kesehatan secara psikologis, dan dapat mendeteksi penyakit serius.

Dalam Islam, mendonorkan darah kepada seseorang yang membutuhkan, dinilai sangat mulia. Ada kemungkinan, dengan darah yang kita sumbangkan, seseorang akan selamat dari ancaman yang bisa berupa kematian.

Dalil donor darah dapat merujuk pada Surah al-Maidah ayat 32, "… dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia seluruhnya."

Jika sedang berpuasa, bagaimana dengan seseorang yang melakukan donor darah? Apakah donor darah tersebut dapat membatalkan puasa di bulan Ramadan?

Dalam "Hukum Donor Darah saat Puasa" oleh M. Mubasysyarum Bih, donor darah yang dilakukan dengan proses injeksi di bagian tangan, tidak dapat membatalkan puasa. Sebab tidak ada benda yang masuk ke anggota tubuh bagian dalam melalui rongga terbuka.

Proses pengambilan darah tersebut, hanya sekedar melukai tubuh pada pengambilan darah dan tidak mempengaruhi keabsahan puasa. Hal ini sama dengan ketika tubuh terluka akibat batu, jarum, pisau, atau benda lainnya.

Syekh Wahbah al-Zuhaili dalam al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu menyebutkan, "Orang yang berpuasa tidak batal dengan hal-hal sebagai berikut; dan mengeluarkan darah sebab mimisan, melukai diri atau dilukai orang lain atas seizinnya dan tidak ada sesuatu dari alatnya yang masuk pada lubang tubuh, meski sebagai ganti dari hijamah, sebab tidak ada nash di dalam hal tersebut dan qiyas tidak menuntutnya”.


Baca juga artikel terkait RAMADAN 2019 atau tulisan menarik lainnya Beni Jo
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Beni Jo
Editor: Fitra Firdaus