Dampak Perang Dagang AS-Cina

Huawei Prediksi Pendapatan Perusahaan Turun 30 Miliar Dolar AS

Oleh: Anggit Setiani Dayana - 17 Juni 2019
Dibaca Normal 1 menit
Huawei akan mengurangi kapasitas produksi dan berekspektasi pendapatan perusahan sekitar 100 miliar dolar AS per tahun.
tirto.id - Pendiri dan CEO Huawei Ren Zhengfei mengatakan, dampak pelarangan pemerintah AS terhadap perusahaannya lebih parah dari dugaannya. Dia memprediksi, pendapatan Huawei akan turun sekitar 30 miliar dolar dalam dua tahun ke depan.

“Kami tidak pernah berpikir bahwa niat AS menyerang Huawei akan begitu kuat dan kerasnya,” katanya dalam sebuah diskusi panel di markas Huawei di Shenzen, Cina, dikutip oleh Associated Press, Senin (17/6/2019).

Ren mengatakan bahwa Huawei akan mengurangi kapasitas produksi dan berekspektasi pendapatan perusahaan sekitar 100 miliar AS per tahun untuk dua tahun ke depan.

Sebagai perbandingan, pada tahun 2018, Huawei meraih pendapatan sebesar 105 miliar dolar AS. Pada Februari lalu, perusahaan menargetkan penghasilan sebesar 125 miliar dolar AS untuk tahun ini.

Sejak Trump menandatangani perjanjian melarang penggunaan perangkat Huawei, penjualan global Huawei menurun sebesar 40 persen, kata Ren. Namun, penjualan di Cina melonjak dan perusahaan tidak menghentikan riset serta pengembangan produk.

Bulan lalu, Huawei masuk ke dalam “daftar hitam”, yang membuat perusahaan ini wajib mendapatkan izin dari pemerintah AS jika ingin bertransaksi dengan perusahaan AS, dan berlaku sebaliknya, untuk perusahaan AS ke perusahaan Cina.


Dalam laporan terbarunya, Bloomberg menyerukan hal senada, yaitu perusahaan harus mempersiapkan diri untuk penurunan penjualan ponsel pintar sebesar 40 persen hingga 60 persen tahun ini, dan ekspektasi penghasilan akan turun sebesar 40 hingga 60 miliar dolar AS.

Lebih lagi, perusahaan menarik produk terbaru mereka, Honor 20 dari pasaran karena Google, yang merupakan perusahaan AS, membatasi akses pengguna melalui ponsel Huawei. Ren menyebut penurunan (aktual) perusahaan 40 persen tersebut sangatlah berdampak.

“Kami bahkan tidak bisa melindungi bagian sekunder dari perusahaan,” kata Ren dikutip Forbes.

Tahun lalu, Huawei melanjutkan tahun-tahun keemasan pertumbuhan penjualannya dan mencapai rekor 100 miliar AS. Namun, ketika AS membatasi langkah tersebut, tahun keemasan Huawei seketika berhenti. Ketika AS mengeluarkan langkah pelarangan tersebut.

Tidak hanya di bagian pendapatan, Huawei juga akan mulai kehilangan pelanggan dan rekor sebagai perusahaan ponsel terbesar kedua setelah Apple.

Huawei kini memerlukan pasar Cina untuk tetap mempertahankan performa perusahaan. Sejak diumumkannya pelarangan perangkat Huawei di AS dan negara-negara lainnya, pasar Huawei di Cina meningkat menjadi 45 persen, yang sebelumnya diperkirakan hanya sebesar 30-35 persen saja.


Baca juga artikel terkait PERANG DAGANG atau tulisan menarik lainnya Anggit Setiani Dayana
(tirto.id - Teknologi)


Penulis: Anggit Setiani Dayana
Editor: Ibnu Azis
Kontributor: Anggit Setiani Dayana