Hook & Jab Manny Pacquiao Menghalangi Duterte di Pilpres Filipina

Penulis: Felix Nathaniel - 29 Sep 2021 08:00 WIB
Dibaca Normal 5 menit
Petinju Manny Pacquiao memutuskan maju sebagai calon presiden tahun depan. Keputusan yang menjadi kerikil bagi Duterte untuk bisa menang.
tirto.id - Pernah terbayang meninju muka wakil rakyat? Sebagian orang mungkin punya impian demikian, tapi hanya sedikit yang bisa merealisasikannya. Yordenis Ugás adalah salah satunya. Berkali-kali bogem mentahnya menghantam muka anggota senat Filipina Emmanuel “Manny” Pacquiao pada Agustus lalu.

Ugás tidak menghajar Pacquiao karena dia anggota senat dan kesal karena kebijakan-kebijakan yang dibuat, tentu saja. Pertama, karena Ugás bukanlah warga Filipina melainkan Kuba. Kedua, mereka beradu pukul sebagai petinju profesional.

Tahun depan, bukan tidak mungkin ada yang punya kesempatan membuat bonyok presiden.

Pada September 2021 Pacquiao menyatakan resmi mengundurkan diri dari tinju profesional yang membesarkan namanya untuk fokus mengikuti pemilu presiden. Meski begitu, menilik rekam jejaknya, bukan tidak mungkin ia akan kembali lagi ke ring untuk satu atau dua pertandingan.

Pada Juni 2016, misalnya, Pacquiao yang dianggap akan menggantung sarung tinju karena sebulan sebelumnya terpilih sebagai senator tiba-tiba kembali ke atas ring. Dia menyatakan “bertinju adalah hasratnya” dan belum bisa melepaskan olahraga kesayangannya itu. Dalam pemilu dia mendapatkan 16 juta suara dan menempati posisi tujuh dari 12 senator baru tahun itu.

Pacquiao menjalani perkelahian ganda dalam hidupnya sejak itu. Satu di ruang rapat, yang lainnya tentu baku hantam di atas matras.


Pertandingan terakhir Pacquiao melawan Yordenis Ugás berlangsung pada 21 Agustus 2021 di T-Mobile Arena, Nevada, Amerika Serikat, dalam perebutan gelar juara kelas welter. Pacquiao kalah skor dan memutuskan sepenuhnya fokus ke dunia politik. Namun, ketika diwawancara, ia sekali lagi nampak ragu dengan keputusan itu. Dia sempat meremehkan Ugás dan mengatakan seharusnya bisa menang.

Dia pun mengatakan yakin siap bertanding ulang pada Januari 2022, tapi karena maju sebagai calon presiden, agenda ini tentu batal.

Dengan rekam jejak tersebut, bukan tidak mungkin dia akan kembali bertanding. Inilah kesempatan emas bagi petinju merasakan mendaratkan pukulan ke muka presiden, atau setidaknya calon presiden, yang umumnya sangat dilindungi oleh berbagai protokol keamanan.

"Pukulan" Pacquiao ke Duterte

Presiden Filipina saat ini, Rodrigo Duterte, juga memilih akan maju lagi. Tapi, karena konstitusi membatasi masa jabatan hanya satu periode, ia memilih maju sebagai wakil presiden. Pada awal September 2021 Partido Demokratiko Pilipino-Lakas ng Bayan (PDP-Laban) memilih Duterte untuk mendampingi Senator Christopher Lawrence “Bong” Go sebagai calon presiden.

Tapi Bong yang juga orang kepercayaan Duterte enggan menyanggupi. Sara Duterte, putri Rodrigo Duterte yang menjabat Wali Kota Davao, juga mengklaim tidak akan mau menjadi calon presiden (meski sebagian orang menduga dia akan maju menjelang batas waktu pencalonan seperti ayahnya dahulu).

Selain Bong yang menutup pintu, Duterte juga terhalang perkara lain. Posisinya sebagai pemimpin PDP-Laban digoyang Pacquiao dan kawan-kawannya.

Pada akhir Agustus 2021, Senator Aquilino Pimentel III dari faksi Pacquiao menggantikan Duterte sebagai Ketua Umum PDP-Laban. Tidak hanya itu, posisi presiden partai juga diambil oleh Pacquiao. Pada September 2021, ketika PDP-Laban mengajukan Bong dan Duterte sebagai pasangan capres-cawapres, Duterte sudah diturunkan dari posisi petinggi partai. Pengumuman itu dilakukan oleh loyalis Duterte, Alfonso Cusi. Nama terakhir juga terlibat perebutan posisi presiden partai.

Singkatnya, PDP-Laban dalam status dualisme atau setidaknya dalam masa konflik internal. Dua kubu sama-sama mengklaim sebagai yang asli dan memiliki kuasa.


“Senator Koko Pimentel tidak punya pengaruh di PDP-Laban. Dia tidak penting dan tidak mewakili partai. Kubunya diisi oleh kaum bermuka dua dan pencari perhatian,” kata Melvin Matibag, Sekretaris Jenderal faksi Cusi, dilansir Rappler.

Perselisihan dua kubu ini sebenarnya bukan barang baru. Hubungan mereka sudah rusak dalam satu-dua tahun terakhir. Masalahnya sederhana: Pacquiao memang punya ambisi menjadi presiden dan tidak ingin Duterte ada sebelahnya sebagai wakil.

Pada Maret 2021, Pacquiao mengkritik banyaknya anggota partai yang sudah menandatangani resolusi untuk mendukung Duterte sebagai calon wakil presiden. Cusi sebagai promotor gerakan itu dianggap tidak bertanggung jawab dan bertindak di luar batas. Sebulan kemudian, Pacquiao melancarkan serangan langsung kepada Duterte. Dia menganggap Duterte melunak dalam prahara Laut Filipina Barat yang melibatkan Cina.

Awalnya Duterte mengatakan akan naik kapal dan menancapkan bendera Filipina di pulau buatan Cina yang ada di Laut Filipina Barat--atau Laut Cina Selatan versi Cina. Namun, pada Mei 2021, Duterte mengaku itu hanya guyon belaka. Dia juga mengaku Filipina punya utang budi besar pada Cina terkait penanganan Covid-19. Duterte lantas menyebut siapa yang percaya terhadap ucapannya itu pasti “bodoh.” Sejak awal, merebut Laut Filipina Barat tak pernah ada dalam janji kampanye.

“Ini mengagetkan. Karena sikapnya berbeda dahulu,” kata Pacquiao merespons omongan Duterte. “Saya tahu Presiden punya banyak hal untuk dipikiran, tapi kalau dia melemah, tentu ekspektasi kita juga demikian.”

Namun, tidak lama setelah itu, PDP-Laban merilis video yang berisi pembelaan Pacquiao terhadap Duterte. Pacquiao mempertanyakan kepada warga Filipina, “apa kita akan membiarkan Presiden mengendarai jetski ke sana?” Ketegangan antara Pacquiao dan Duterte seakan sirna, seperti klaim kubu Duterte bahwa keduanya tidak berselisih sama sekali.


Situasi berubah kembali tidak sampai sebulan kemudian. Media mendapatkan informasi bahwa Pacquiao mengatakan pejabat di pemerintahan Duterte korup. Pernyataan ini ditanggapi Duterte dengan menantang Pacquiao untuk tidak asal bicara dan memberikan bukti. Dia bahkan mengancam akan “berkampanye melawan” Pacquiao jika petinju itu tidak bisa membuktikan tudingannya. “Buktikan. Jika tidak, maka aku akan mengajak orang untuk tidak memilih Pacquiao karena dia adalah seorang pembohong,” ucap Duterte.

Pacquiao ciut dan mengklaim “tidak menyerang Presiden.”

Perselisihan mereda kembali ketika pada Juni lalu Pacquiao mulai menjalankan misinya untuk menjadi calon presiden. Koko Pimentel mendesak Pacquiao untuk segera memastikan pencalonannya untuk Pilpres 2022. Manilatimes menduga momen ini bakal kembali membuat panas situasi internal PDP-Laban, apalagi Duterte mengatakan bahwa “Pacquiao sudah punch-drunk.Punch-drunk adalah salah satu vonis terparah dalam tinju tentang kerusakan otak.

Pada 17 Juli 2021, dalam pertemuan nasional dengan anggota PDP-Laban, Pacquiao digulingkan dari kursi presiden partai. Dalam pertemuan yang tidak dihadiri Pacquiao itu Cusi terpilih sebagai Presiden PDP-Laban. Keputusan ini dilakukan setelah Pacquiao memutuskan untuk mencopot Cusi dari jabatan ­Wakil Ketua PDP-Laban.

Duterte menuding Pimentel sebagai biang keladi di balik kekisruhan PDP-Laban, bukan Pacquiao. Alasannya, Pimentel-lah promotor agar Pacquiao bisa menjadi presiden partai hingga akhirnya punya ambisi menjadi Presiden Filipina. “Koko (Pimentel) yang membuat kesalahan. Bukan Pacquiao,” kata Duterte. “Dia yang memulai keributan. Itu bukan cara bagus untuk mengelola partai.”

Terlepas dari itu semua, Pacman, julukan Pacquiao, nampaknya tak bakal mundur sebagai calon presiden. Duterte yang posisinya sangat kuat kini terancam baik karena serangan oposisi 1Sambayan atau dari internal partainya sendiri.

Jika Pacquiao menang, ada kemungkinan Duterte tidak bakal aman dari jeratan hukum berkat berbagai kejahatan yang pernah dia lakukan. Beberapa pihak juga menganggap Duterte ngotot maju kembali agar tak berakhir di penjara.

Infografik Manny Pacquiao
Infografik Manny Pacquiao. tirto.id/Fuad


Tidak Lebih Baik dari Duterte?

Dalam usaha menggulingkan Duterte, Pacquiao memakai narasi kemiskinan dan pemerintahan yang korup. Selain berjanji untuk memenjarakan mereka yang korup, apalagi saat pandemi, Pacquiao juga mengaku punya kedekatan dengan kaum miskin karena dia pun demikian. “Manny Pacquiao di depanmu ini ditempa oleh kemiskinan,” katanya beberapa hari lalu.


Namun narasi ini tidak serta-merta bisa meyakinkan masyarakat.

Duterte tetap menjadi favorit, baik sebagai presiden maupun wakil presiden, setidaknya menurut survei PulseAsia kepada 2.400 responden pada Juni kemarin. Sementara Pacquiao berada jauh di belakang. Dia hanya unggul di bagian survei tentang pilihan kedua wakil presiden.

Selain itu, kendati bicara masalah korupsi dan kemiskinan yang menurutnya adalah tanggung jawab pemerintahan sekarang, faktanya Pacquiao sempat menjadi anak emas Duterte. Sampai-sampai pada 2017 lalu sang diktator berharap Pacquiao-lah yang akan menjadi penerusnya.

Hubungan keduanya dimulai 20 tahun lalu ketika Pacquiao beradu jotos di Davao, tempat Duterte berkuasa. Duterte adalah sponsor pertandingan tersebut.

Sebagai imbal balik, Pacquiao selalu berada di belakang Duterte. Misalnya soal proyek “war on drugs”. Pacquiao tidak keberatan dengan itu meski telah menelan banyak korban jiwa.

Pun dengan kondisi demokrasi yang dianggap memburuk di bawah Duterte. The Economist Intelligence Unit (EIU), dalam laporan tahun 2017, menyebut Duterte adalah orang yang paling depan di antara pemimpin Asia lain dalam “melanggar nilai-nilai demokrasi.”

Dalam sebuah wawancara, “Sang Penghancur” menganggap demokrasi tentu perlu dibatasi. Langkah-langkah yang dilakukan Duterte, bagi Pacquiao, tidak lebih dari sekadar aksi mendisiplinkan anak di mana Duterte berperan sebagai orang tua. “Itu logika umum. Bagaimana mendisiplinkan keluarga jika tidak menghukum anak-anak?” ucap Pacquiao.


Terlepas dari hubungan mereka sekarang, pandangan politik Pacquiao, jika dilihat dari sejarahnya, tidak berbeda jauh dengan Duterte terutama dalam hal penting seperti demokrasi dan hak asasi manusia. Pacquiao bahkan punya potensi jadi presiden yang lebih mengerikan.

Contohnya, Duterte pernah menolak pernikahan sesama jenis tapi kemudian meralatnya, sedangkan Pacquiao tetap berkeras menolak itu. Kendati sudah mengklarifikasi, sang petinju sempat mengatakan hubungan sesama jenis “lebih buruk dari binatang.”

Nasib Pacquiao juga ditentukan oleh mereka yang merupakan pendukung pemerintahan sayap kanan Duterte, yang bagaimanapun akan memengaruhi orientasi kepemimpinannya kelak. Dari survei PulseAsia, Duterte setidaknya mendapat dukungan dari 62% masyarakat Mindanao.

Antoni La Viña, analis politik dari Dean of the Ateneo School of Government menilai “kesempatan menang (pilpres) Pacquiao bergantung pada kemampuannya mengambil loyalis Mindanao Duterte.”

Maka, kolumnis Bloomberg, Matthew Brooker, menyimpulkan dengan terang-terangan bahwa Pacquiao “bukanlah presiden yang Filipina butuhkan.”

Baca juga artikel terkait MANNY PACQUIAO atau tulisan menarik lainnya Felix Nathaniel
(tirto.id - Politik)

Penulis: Felix Nathaniel
Editor: Rio Apinino

DarkLight