Periksa Fakta

Homoseksualitas Bukan Pemicu Utama Penyebaran Kasus Cacar Monyet

Penulis: Alfons Yoshio Hartanto - 3 Agu 2022 15:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Penularan dapat terjadi melalui segala jenis kontak fisik dengan orang yang terinfeksi.
tirto.id - Penyebaran penyakit cacar monyet alias monkeypox makin masif dalam beberapa waktu belakangan. Pada tanggal 23 Juli lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan monkeypox sebagai darurat kesehatan internasional.

Sementara itu berdasar catatan media briefing Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus pada 27 Juli 2022, WHO mencatat ada lebih dari 18 ribu kasus dari 78 negara di dunia. Lebih dari 70 persen kasus dilaporkan dari negara-negara Eropa, sementara 25 persennya dari wilayah Amerika. Sampai akhir pekan lalu, menurut Kementerian Kesehatan, Indonesia memang belum mencatat satu pun kasus. Namun, perlu dicatat bahwa penyebaran kasus yang sudah mencapai negara tetangga, yakni Singapura dan Thailand.

Bersamaan dengan menyebarnya virus, pemberitaan tentang bahaya cacar monyet juga tidak kalah ramai di media sosial. Salah satunya sebuah video pendek di Facebook yang menyebut hubungan homoseksual sebagai pemicu utama penyebaran cacar monyet.

Dalam video 50 detik yang disebarkan akun bernama "Suara Muslim", seorang pria menarasikan soal WHO yang menetapkan status wabah cacar monyet sebagai darurat kesehatan global. Dia melanjutkan dengan menyebut hubungan seksual sebagai pemicu utama penyebaran virus monkeypox. Sementara dalam teks berjalan selama video ada penekanan dalam penyebutan hubungan sesama jenis.

Pria ini merujuk ke jurnal dari New England Journal of Medicine (NEJM) sebagai sumbernya. Dia mengatakan kalau riset mengungkap hubungan seksual sesama jenis menjadi pemicu utama penyebaran dan peningkatan kasus di seluruh dunia.

Terakhir dia juga menyebut kalau hasil riset melaporkan 90 persen kasus cacar monyet kemungkinan ditularkan lewat kontak hubungan seksual. Sementara keterangan yang menyertai video mempertegas poin yang ingin digarisbawahi, berbunyi "Hubungan Homoseksual Diduga Pemicu Utama Penyebaran Cacar Monyet".

Periksa Fakta Cacar Monyet Disebarkan Homoseksual
Periksa Fakta Homoseksual Bukan Pemicu Utama Penyebaran Kasus Cacar Monyet. (Screenshot/Facebook/Suara Muslim)


Unggahan tersebut memang tidak menyebar secara masif namun berpotensi menyebar dan menimbulkan prasangka dan diskriminasi ke kelompok Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender dan Queer (LGBTQ).

Lalu benarkah klaim dari narasi yang disampaikan kalau hubungan seksual sesama jenis adalah pemicu utama penyebaran cacar monyet?

Penelusuran Fakta
Tim Riset Tirto mencoba mencari jurnal yang menjadi rujukan informasi dari video tersebut. Melalui penelusuran di Google dengan kata kunci "New England Journal of Medicine monkeypox", Tirto menemukan jurnal yang dimaksud sebagai hasil pencarian teratas.

Laporan berjudul "Monkeypox Virus Infection in Humans across 16 Countries — April–June 2022" tersebut dipublikasikan pada 21 Juli 2022. Sesuai judulnya, riset tersebut meneliti sebanyak 528 kasus cacar monyet yang terjadi antara 27 April 2022 - 24 Juni 2022 di 16 negara.

Dari kasus-kasus yang diteliti dalam laporan ini, mayoritas responden/penderita cacar monyet dalam riset ini, sebanyak 98 persen, mengaku merupakan homoseksual atau lelaki biseksual, 75 persen berkulit putih, dan 41 persen memiliki infeksi HIV. Median kelompok umur responden adalah 38 tahun.

Hasil lain yang diungkapkan laporan ini adalah bahwa 95 persen infeksi monkeypox pada kasus-kasus yang diteliti diduga menular melalui aktivitas seksual.

Namun, tidak ada keterangan yang menyebut kalau kelompok gay menjadi pemicu utama penyebaran dan pemicu kenaikan kasus cacar monyet di dunia, hanya bahwa penyebaran saat ini banyak mempengaruhi laki-laki gay atau biseksual.

Lewat pencarian lebih lanjut, dalam artikel di situs Queen Mary University of London, penulis pertama jurnal tersebut, John Thornhill beranggapan kalau cacar monyet bukan penyakit menular seksual dan penularan lewat hubungan seksual hanya salah satu cara.

“Penting untuk ditekankan bahwa cacar monyet bukanlah infeksi menular seksual dalam pengertian tradisional; penularan dapat terjadi melalui segala jenis kontak fisik yang dekat," ujarnya.

"Namun, riset kami menunjukkan sebagian besar penularan sejauh ini terkait aktivitas seksual -- terutama, tetapi tidak ekslusif, antar sesama pria," tambah John.

Lebih lanjut laporan riset ini juga fokus dengan dampak dari cacar monyet. Seperti ruam yang ditemukan di 95 persen penderita, dengan 64 persen memiliki kurang dari 10 lesi (luka cacar). Selain itu gejala yang dialami mencakup demam (62 persen), lesu (41 persen), mialgia/myeri otot (31 persen), dan sakit kepala (27 persen).

WHO dalam media briefing edisi 27 Juli 2022 juga menekankan hal yang sama. "Meskipun 98 persen kasus sejauh ini adalah di antara laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki, siapa pun yang terpapar bisa terkena cacar monyet," isi salah satu pesan dalam artikel tersebut.

Mereka menegaskan selain penularan melalui kontak seksual, cacar monyet dapat menyebar di rumah tangga melalui kontak dekat antara orang, seperti berpelukan, berciuman, atau lewat handuk dan tempat tidur yang terkontaminasi.

WHO justru menilai kelompok pria yang berhubungan seks dengan pria lain sebagai kelompok yang rentan tertular cacar monyet. Oleh sebab itu imbauan bagi anggota kelompok ini untuk mengurangi jumlah pasangan seksual, mempertimbangkan kembali hubungan seks dengan pasangan baru, dan bertukar detail kontak dengan pasangan baru agar bisa mengambil tindakan follow-up jika diperlukan.

Imbauan lebih lanjut adalah vaksinasi cacar bagi mereka yang berisiko tinggi terpapar, termasuk petugas kesehatan, pekerja laboratorium, dan orang yang kerap berganti pasangan seksual.

"Stigma dan diskriminasi bisa sama berbahayanya dengan virus apa pun, dan dapat memicu wabah," lanjutan isi pesan dari WHO.

Sedikit informasi dasar mengenai cacar monyet yang dirilis WHO, penyakit ini bukan penyakit menular seksual, melainkan penyakit yang disebabkan oleh virus Monkeypox yang masuk genus Orthopoxvirus dari keluarga Poxviridae.

Penyakit ini pertama kali ditemukan pada tahun 1958 di sekelompok monyet. Kasus pertama di manusia terjadi pada seorang anak di Kongo pada 1970.

Virus monkeypox dapat bertransmisi dari satu orang ke yang lainnya dengan kontak jarak dekat dengan lesi, cairan tubuh, droplet dari saluran pernapasan, dan kontaminasi lewat benda yang telah disentuh, seperti kasur misalnya.

Masa inkubasi cacar monyet umumnya 6 sampai 13 hari namun bisa mencapai 5 sampai 21 hari. Namun, cacar monyet masuk kategori penyakit yang bisa sembuh sendiri.


Kesimpulan
Berdasar penelusuran, laporan NEJM yang dirujuk dalam video tidak menyimpulkan kalau hubungan homoseksual sebagai pemicu utama penyebaran dan peningkatan cacar monyet di dunia. Memang menurut penelitian, cacar monyet banyak mempengaruhi kelompok gay dan biseksual. Namun, WHO justru menilai kelompok pria yang berhubungan seks dengan pria lain sebagai kelompok yang rentan tertular cacar monyet.

Meski, kebanyakan infeksi diduga menular melalui aktivitas seksual, para peneliti menegaskan kalau cacar monyet bukanlah infeksi menular seksual. Penularan dapat terjadi melalui segala jenis kontak fisik dengan orang yang terinfeksi.

Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA atau tulisan menarik lainnya Alfons Yoshio Hartanto
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Alfons Yoshio Hartanto
Editor: Farida Susanty

DarkLight