Periksa Fakta

Hoaks Lawas: Betulkah Campuran Lemon dan Teh Bisa Obati COVID-19?

Oleh: Irma Garnesia - 27 Mei 2021
Dibaca Normal 3 menit
Tidak ada obat khusus yang terbukti dapat mengobati virus Corona.
tirto.id - Belum lama ini, sebuah informasi tersebar di media sosial Facebook terkait ramuan-ramuan untuk menyembuhkan orang yang terjangkit COVID-19. Menurut unggahan dari akun Facebook bernama 'Gunari Rozet', ramuan tersebut adalah campuran teh panas dan perasaan lemon. Ia mengklaim bahwa campuran ramuan tersebut dapat menghilangkan virus SARS-CoV-2 sepenuhnya dari tubuh.

Akun tersebut juga menyebutkan bahwa itulah sebabnya tidak ada korban meninggal akibat virus ini di Vietnam. Sebab, orang Vietnam rutin mengonsumsi racikan lemon dan teh panas pada malam hari.

Unggahan Facebook Gunari Rozet tersebut dibagikan pada 19 Mei 2021 dan mendapat reaksi yang tidak begitu banyak, yakni 75 likes dan 8 komentar.

Periksa Fakta Hoaks Lama Campuran Lemon dan Teh Obati Covid-19
Periksa Fakta Hoaks Lama Campuran Lemon dan Teh Obati Covid-19. facebook/Gunari Rozet


Lalu, bagaimana fakta dari pernyataan tersebut?


Penelusuran Fakta

Tim riset Tirto berusaha menelusuri apakah informasi ini merupakan informasi baru atau telah lama beredar. Nyatanya, penelusuran di Google menunjukkan bahwa informasi mengenai campuran teh dan lemon yang diklaim dapat menyembuhkan gejala-gejala COVID-19 merupakan hoaks yang telah beredar lama. Klaim ini dibantah oleh beberapa lembaga pemeriksa fakta, di antaranya Factcheck.org pada April 2020, Turnbackhoax pada April 2020, serta juga dimuat pada situs covid19.go.id pada Mei 2020.

Menurut situs Factcheck.org, informasi mengenai khasiat campuran teh dengan lemon untuk menyembuhkan gejala COVID-19 sempat dikaitkan pula dengan pemerintah Israel. Klaim yang beredar pada pada waktu itu menyebut pemerintah Israel memerintahkan kepada masyarakat untuk meminum campuran bahan-bahan tersebut setiap siang.

Mengutip dari situs Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), hingga saat ini tidak ada obat khusus yang digunakan untuk mengobati virus Corona. Pun, saat ini tidak ada arahan untuk mengonsumsi vitamin untuk menyembuhkan COVID-19.

Demikian pula, meskipun hydroxychloroquine, yang banyak digunakan untuk menyembuhkan malaria, lupus erythematosus, dan rheumatoid arthritis, sedang diteliti potensinya untuk digunakan untuk pasien COVID-19, sampai saat ini data menunjukkan bahwa obat ini tidak mengurangi tingkat kematian di antara penderita COVID-19 yang dirawat di rumah sakit.

WHO juga membantah mitos lain yang menyebutkan bahwa konsumsi bawang putih menyebabkan seseorang imun dari infeksi virus Corona.

Kemudian, menurut Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dr Daeng M Faqih, seperti dikutip oleh Liputan6.com, klaim mengenai khasiat teh panas dan lemon tersebut belum terbukti benar dan belum ada penelitian ilmiahnya.

“Belum ada bukti yang membenarkan hal tersebut,” kata Faqih pada Liputan6.com (10/4/2020).

Situs covid-19.go.id juga mengutip pernyataan dari Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisonal dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), DR dr Inggrid Tania MSi. Menurut Inggrid, informasi tersebut adalah informasi palsu atau hoaks.

“Ini (narasi yang beredar) hoaks," katanya melalui pesan singkat, Senin (20/4/2020).

Lebih lanjut Inggrid menjelaskan, lemon dan teh masing-masing memang bersifat antioksidan. Jika dicampur, maka sifat antioksidan dalam campuran tersebut akan lebih tinggi lagi.

“Bahan alam yang bersifat antioksidan, biasanya bersifat meregulasi sistem imun dengan menangkal radikal bebas pada proses peradangan,” ujarnya.

Selain itu, klaim lainnya dari unggahan akun 'Gunari Rozet' yang tidak tepat adalah bahwa tidak adanya korban jiwa di Vietnam. Menurut situs monitoring COVID-19 Worldometers, per 25 Mei 2021, terdapat 44 korban meninggal di Vietnam akibat virus ini.

Meski begitu, memang, Vietnam termasuk negara yang memiliki tingkat kematian akibat COVID-19 yang rendah. Sebagai perbandingan, per 25 Mei 2021, ada 49.267 orang yang meninggal akibat COVID-19 di Indonesia, menurut data Satuan Tugas COVID-19.

Pada 2020 sendiri, Vietnam dinilai sebagai negara di ASEAN yang paling berhasil mengatasi pandemi COVID-19. Pada awal Oktober misalnya, negara tersebut hanya mencatat sekitar 1000 kasus dengan 40 kasus aktif, dan 35 orang meninggal, menurut data Worldometers.

Selain melakukan tes yang agresif, negara ini juga gencar melakukan contact tracing. Di Vietnam, pelacakan dilakukan kepada mereka yang melakukan kontak selama 30 menit atau lebih dengan pasien positif COVID-19.

Pelacakan pun dilakukan dalam tiga tingkatan; pasien positif pertama (disebut Index Case/F0), mereka yang melakukan kontak dengan F0 (First Degree/F1), dan orang-orang yang berkontak dengan F1 (disebut Second Degree/F3).

Vietnam memang memiliki sejarah sukses dalam penanganan pandemi, dan bukan karena teh panas dan lemon. Vietnam menjadi negara kedua setelah China yang harus menghadapi ancaman pandemi severe acute respiratory syndrome atau SARS, yang disebabkan oleh SARS-associated coronavirus (SARS-CoV). Namun, setelah hanya 63 kasus dan 5 kematian, Vietnamlah negara pertama yang dideklarasikan bebas SARS oleh WHO.

Sementara itu, meskipun belum ada obat untuk mengobati COVID-19, WHO menganjutkan untuk melakukan hal-hal berikut ketika seseorang terinfeksi virus Corona:
  • Hubungi fasilitas kesehatan atau hotline COVID-19 untuk mengetahui di mana dan kapan harus menjalani tes (dalam kasus Indonesia, pergilah ke rumah sakit atau klinik yang menyediakan tes PCR atau tes antigen).
  • Bekerja sama dengan Satgas yang melakukan pelacakan kasus untuk menghentikan penyebaran virus.
  • Beristirahat di rumah selama 14 hari.
  • Selama melakukan karantina, jangan pergi bekerja, ke sekolah atau ke tempat umum. Mintalah seseorang untuk membawakan makanan dan kebutuhan sehari-hari.
  • Jaga jarak setidaknya 1 meter dari orang lain, bahkan dari anggota keluarga.
  • Kenakan masker medis untuk melindungi orang lain, termasuk ketika Anda perlu mencari perawatan medis.
  • Bersihkan tangan Anda sesering mungkin.
  • Tinggallah di kamar terpisah dari anggota keluarga lainnya, dan jika tidak memungkinkan, kenakan masker medis.
  • Jagalah agar ruangan berventilasi baik.
  • Jika Anda berbagi kamar, letakkan tempat tidur dengan jarak minimal 1 meter.
  • Pantau diri Anda untuk gejala apa pun selama 14 hari.
  • Tetap positif dengan tetap berhubungan dengan orang yang dicintai melalui telepon atau secara daring, dan dengan berolahraga di rumah.
Namun, jika memiliki gejala penyakit bawaan, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter jika harus dirawat di rumah sakit. Carilah informasi mengenai rumah sakit rujukan COVID-19 di kota Anda.


Kesimpulan

Berdasarkan penelusuran yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa belum ada satu pun obat khusus yang dapat menyembuhkan COVID-19, termasuk teh hangat dan lemon. Vietnam juga masih mencatat adanya kematian penduduk akibat virus Corona, walaupun jumlahnya termasuk rendah dibanding banyak negara lain, termasuk Indonesia. Informasi yang saat ini tersebar di media sosial merupakan hoaks lama.

==============

Tirto mengundang pembaca untuk mengirimkan informasi-informasi yang berpotensi hoaks ke alamat email factcheck@tirto.id. Apabila terdapat sanggahan ataupun masukan terhadap artikel-artikel periksa fakta maupun periksa data, pembaca dapat mengirimkannya ke alamat email tersebut.

Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Irma Garnesia
Editor: Farida Susanty
DarkLight